Brerong | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Brerong Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 12:47 Rating: 4,5

Brerong

DESAS-desus itu merebak di Pasar Kulon, bergulir dari mulut ke mulut para pedagang, menjadi hujat jahat yang berbahaya. Kata mereka, Jarek memelihara Brerong. Konon, makhluk itu dibelinya dari seorang Balian di Banjar Penataran untuk syarat pesugihan. Dalam sebulan ini, paling tidak sudah empat atau lima orang pedagang yang mengeluh kehilangan uang. Mereka percaya betul, makhluk gaib itulah pelakunya. 

“Siapa lagi kalau bukan dia?” Jengki, pedagang ikan meletupkan api gunjing pertama kali. “Ada orang yang pernah melihatnya mendatangi rumah Balian Pogog sebulan lalu. Buat apa dia ke sana kalau bukan membeli Brerong?” 

“Jangan asal bicara kau, Jengki. Kau tahu dari mana?” sambar Ni Komang dari lapak buahnya. 

Jengki menggaruk kepala, “Kau tak percaya?” tanyanya dengan nada sinis. 

“Aku baru percaya kalau sudah ada buktinya,” cetus Ni Komang membuat Jengki terdiam. 

“Tapi aku sependapat dengan Jengki,” timpal Bu Desak penjual sayur di sebelah lapak Jengki. “Sejak Jarek mangkal di pasar ini kejadian aneh itu terjadi.” 

“Tapi apa buktinya? Tidak ada,” seloroh Ni Komang sambil tertawa. 

“Tak mungkin pula ada buktinya, Komang. Brerong itu makhluk iblis, wujudnya tak lebih dari seekor ular licin yang gampang menghilang. Maling Brerong, tak mungkin sama dengan maling ayam. Jangan gila kau, Komang,” sergah Bu Desak lalu tertawa terbahak-bahak. 

“Tapi kalau tak ada bukti, kita tak bisa menuduh Jarek,” sahut Ni Komang mengingatkan. Sambil bicara mata sipitnya melebar. “Tak baik menuduh orang kalau tak punya bukti. Itu fi tnah namanya. Dosa.” 

“Tak mungkin temanku itu silap mata. Dia yakin sekali kalau orang yang dilihatnya datang ke rumah Balian Pogog itu adalah Jarek,” tukas Jengki sungguh-sungguh. 

Ni Komang memandang lelaki itu keheranan. “Setahuku Balian Pogog itu ahli urut patah tulang, bukan pesugihan.” 

“Jangan salah sangka kau, Komang.” Jengki mengebut lalat yang merubungi bangkai ikanikannya, lalu kembali berkata, “Balian Pogog itu dulunya Leak.” 

“Kau pernah melihatnya sendiri?” 

“Ehmm... tidak, aku dapat cerita ini dari temanku.” 

Ni Komang tertawa pelan, “Lagi-lagi kau mengandalkan temanmu. Percaya betul kau rupanya.” 

“Tentu saja. Temanku itu pernah jadi korban cetik kiriman Balian Pogog,” jawab Jengki tak mau kalah. Lelaki setengah baya itu menggaruk hidungnya yang besar sebentar, lalu kembali menyambung ucapannya, “beruntung dia diobati Mangku Kadek, kalau tidak, mungkin sudah lama dia mati terkena racun cetik Balian Pogog.” 

“Selain itu,” susul Bu Kadek melengkapi keterangan Jengki. “Kita sama tahu, Jarek itu cuma tukang ojek. Berapa penghasilan tukang ojek kirakira? Kenapa dia bisa punya rumah semegah istana dan sawah luas di Banjarsari? Ayo kenapa?” 

“Aha! Itulah dia!” seru Jengki selayaknya mendapat angin untuk menguatkan tudingannya. “Tak akan salah lagi, pasti Brerong yang mengumpulkan uang untuknya. Dasar haram jadah! Kalau sampai aku yang jadi korbannya, kupatahkan batang lehernya!” 

Ni Komang tertawa pendek sambil menggelengkan kepala. Mendengar ucapan kasar Jengki, hilanglah minatnya untuk melanjutkan percakapan tentang Jarek dan Brerong-nya. Tak ada faedahnya, pikir Ni Komang. Seorang pembeli datang menawar buah semangka, perhatiannya ditumpahkan sepenuhnya kepada pembelinya itu. Pergunjingan tentang Jarek dilanjutkan Jengki dan Bu Desak. Ni Komang diam saja. 

*** 
MATAHARI sedang berada di puncak kepala ketika kehebohan itu meletus. Bukan karena kedatangan pejabat atau artis ke Pasar Kulon melainkan karena jerit Ni Lasmi— wanita paruh baya pedagang pecah belah. Musababnya, wanita paruh baya itu menemukan seekor ular di dalam dompetnya saat hendak mengambil uang kembalian untuk pembelinya. Ni Lasmi mungkin tak akan pingsan andai kata itu ular biasa, tapi menurut Jengki, ular itu baru saja menelan uang Ni Lasmi dan mematuk jari kelingkingnya. 

“Makhluk jejadian itu hampir kutangkap, kalau tidak lekas menghilang di bawah sana!” lolong Jengki sambil menunjuk goronggorong di dekat kios Ni Lasmi. 

Nahas betul nasib Jarek, saat kehebohan itu terjadi, dirinya kebetulan sedang berada tak jauh dari lokasi. 

“Orang ini pelakunya!” bentak Jengki sambil menuding tepat ke muka Jarek. “Dia memelihara Brerong!” 

Orang-orang yang terhasut mulut lelaki itu, menatap Jarek dengan sorot mata penuh benci. Kehebohan itu betul-betul menjadi-jadi, ketika Jengki melayangkan tinju ke muka Jarek. 

Dengan raut pucat pasi, Jarek membela diri. “Apa salahku, Jengki? Bukan aku pelakunya!” Dia berusaha menjauh dari jangkauan pukulan Jengki. 

“Siapa lagi pelakunya kalau bukan kau?” tuduh Jengki percaya diri. “Kau cuma tukang ojek. Mana mungkin tukang ojek punya harta banyak seperti dirimu!” 

“Benar itu,” timpal Bu Desak yang mengaku turut melihat ular di dalam tas Ni Lasmi sesaat sebelum perempuan itu jatuh pingsan. “Kerjamu itu kalau sedang tidak ada penumpang, cuma nongkrong-nongkrong saja di bale Banjar.” 

“Aku bersumpah demi Emek-ku! Aku tidak melakukan apa pun yang kalian tuduhkan!” kata Jarek putus asa. Suaranya nyaris tak terdengar ditindih suara orang-orang sepasar Kulon yang lantang berebutan mencaci makinya. Jarek yang merasa situasi sama sekali tidak menguntungkan, mencoba melarikan diri. Namun niat itu tidak kesampaian, sebab ratusan orang beramai-ramai mengepungnya. Jengki menyerbu ke depan dengan sepotong kayu. Potongan kayu melayang dan ditangkis dengan tangan kanan. Jarek mengeluh pendek. Tangannya bengkak dan mengucurkan darah. Selanjutnya, menjadi tidak lagi terkendali. Meskipun Jarek sudah berteriak-teriak minta ampun, tetap saja satu dua pukulan menghantami sekujur tubuhnya. 

“Mana ada maling mengaku!” seru suara di kerumunan. 

“Bawa saja ke kantor polisi!” seru suara lain menyusulnya. 

“Polisi tak akan bisa membuktikan kasus seperti ini!” hardik suara perempuan menimpali. 

“Habisi saja dia!” susul suara lain menimpali lagi. 

“Bakar!” 

“Iya! Biar jadi pelajaran!” seru seorang perempuan yang berdiri paling depan di antara kerumunan orang-orang yang berjejalan. 

Tanpa bisa dicegah, ratusan orang yang mengepung Jarek memukulkan apa saja ke tubuhnya yang sudah tak berdaya. Puncaknya, dan entah dari mana datangnya, sebuah ban mobil bekas dilingkarkan ke lehernya. Bensin diguyurkan, api pun berkobar. Nyawa lelaki itu melayang bersama kepulan asap hitam dan seringai puas di bibir orang-orang. 

Seminggu usai peristiwa menghebohkan itu, Pasar Kulon tiba-tiba ramai kembali. Di bawah gorong-gorong kios para pedagang, keluar puluhan ular sebesar ibu jari. Ular-ular itu sepertinya terusik oleh mesin pemadat aspal yang menggedorgedor sarangnya. Para pedagang di Pasar Kulon sontak terdiam, terutama Jengki dan Bu Desak. Jengki termangu di lapak ikan miliknya. Bu Desak bergegas pulang usai menutup lapak sayurnya. Mata lelaki itu menerawang. Dia teringat Jarek, yang mati sia-sia akibat tuduhan keji dari mulutnya. (*) 

Catatan: 
* Brerong, dalam kepercayaan masyarakat Bal, ialah makhluk gaib yang gemar mencuri uang. Bentuknya kadang seperti ular sebesar jempol tangan. 
* Balian, dukun dalam bahasa Bali. 
* Cetik, guna-guna. 
* Emek, ibu. 
* Leak, jenis ilmu hitam di Bali. 

Adam Yudhistira, penulis asal Muara Enim, Sumatra Selatan, ini punya karya sejumlah Cerita pendek, Cerita Anak, esai, puisi, dan ulasan bukunya sudah dimuat di berbagai media massa. Pada 2014 dan 2015 ia menjadi pemenang lomba Menulis Kompas Klasika Dongeng Anak Nusantara Bertutur. 

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Adam Yudhistira
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Media Indonesia" edisi Minggu, 6 Mei 2018

0 Response to "Brerong "