Cerita Burung, Hujan dan Petrichor - Berlayar di Samudera, Layar Terkembang Surut Berpantang - Zinnia, di Langit Senja Kuhamburkan Kata-Kata Rindu | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu

Untuk Arsip Selanjutnya, Sila Klik Tautan Laman www.klipingsastra.com/ID

Cerita Burung, Hujan dan Petrichor - Berlayar di Samudera, Layar Terkembang Surut Berpantang - Zinnia, di Langit Senja Kuhamburkan Kata-Kata Rindu Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 05:00 Rating: 4,5

Cerita Burung, Hujan dan Petrichor - Berlayar di Samudera, Layar Terkembang Surut Berpantang - Zinnia, di Langit Senja Kuhamburkan Kata-Kata Rindu

Cerita Burung, Hujan dan Petrichor

/1/ Kapan turun hujan
daun-daun jatuh di tanah merah
pohon-pohon kehidupan gerah
ilalang-ilalang kering kerontang
rumput-rumput memilih tidur
bunga-bunga enggan tersenyum
burung-burung lelah berkicau
udara bercampur debu
anak-anak berkeringat
dewasa tak bersemangat
orang tua makin keriput
hari terasa panas
terkulai pasrah
menanti curah
lirih dan tertatih
“Kapan turun hujan?” katanya.

/2/ Burung pembawa kabar gembira
anak-anak menunjuk-nunjuk kawanan
burung bangau di angkasa
“burung banyak sekali ayah,” ucapnya
kepada lelaki bercaping lebar
tersenyum bibirnya bergetar
matanya bercahaya penuh bahagia
“mereka akan memanggil hujan,
membawa kabar gembira,” jawabnya
tanpa keraguan.

/3/ Petrichor
awan hitam berarak-arak,
kilat dan guruh menggoda
di atap rumah bunyi air bergemeratak
kecil, berinai-rinai
malu-malu, berderap dan melenyap
nyanyian-nyanyian turun hujan di dendangkan
tauge, tauge, udane tambah gede
hujan jatuh di pegunungan
turun di pemukiman
di pelataran bocah-bocah bergembira
orang-orang menghambur
semusim di panasi
dibalas hujan sehari
tanah meresap
mengeluarkan bau sedap
petrichor hujan pertama
bumi jadi lebih muda.

Indramayu, 2018


Berlayar di Samudera, Layar Terkembang Surut Berpantang

/1/ Dari batangan itu
orang-orang mengolah kayu
membelah batang, merakit perahu
memasang tali temali
tiang layar, kemudi
dan juga pukat
dirajahnya bagai tangan-tangan Nuh
membangunkan bahtera-bahtera handal
jung jawa, pinisi, pencalang, perahu cadik
dilungsurkan ke tengah lautan
berlayar di samudera
layar terkembang
surut berpantang
awak kapal tak akan pulang
nahkoda memimpin pelayaran
menafsir ombak dan gelombang
membaca bintang gemintang
mengetahui gerombolan ikan
membawa perniagaan
rempah-rempah, kopra, padi
lada, pala, kayu
emas, sutra, gaharu
menandakan negeri bahari
memajukan ibu pertiwi.

/2// Jalesveva Jayamahe
armada-armada menjaga
pulau-pulau, kekayaan alam laut
dari perompak, dari bajak laut
juga kapal-kapal asing
melindungi pelaut-pelautnya
nelayan-nelayan kecil
mengarungi lautan
berpeluk angin dan gelombang
melawan amuk badai
katanya, “Jalesveva jayamahe.”
lihatlah kemudian
bandar-bandar ramai
dermaga-dermaga kemilau
lampu-lampu benderang
tiang-tiang kukuh terpancang
pelabuhan bergairah
kapal-kapal berlabuh
melempar sauh
datang pergi
naik turunkan barang
dan penumpang
anak-anak bermain di ujung pelabuhan
juga sepasang kekasih mengadu kasih.

/3/// Kejayaan negeri bahari
nusantara dalam gugusan
pulau-pulaunya
bahtera bersiar silang ke tanah
daratannya
menuju sungai yang berjeram
muara dengan air yang dalam
dermaga dengan lelaki-lelaki perkasa
pelabuhan dengan keringat berpeluh
entah kurun kapan
kembalinya Sriwijaya
kembalinya Majapahit
kembalinya Demak
membesarkan bandar-bandar
menguatkan armada-armada
lautku hidup dan matiku
mimpi negeri bahari
di lautmu segala hidup ditabalkan
di ombakmu peristiwa-peristiwa mengalir
peradaban demi peradaban lahir
bergelora membawa arus perubahan
nusantara berjaya.

Indramayu, 2018

Zinnia, di Langit Senja Kuhamburkan Kata-Kata Rindu

/1/
Zinnia, bunga kertasku di dalam kelas
pernah kutuliskan pada lembaranmu
puisi-puisi, surat-surat dan pesan yang kutitipkan
melalui kawan
di bawah pohon akasia, di belakang halaman sekolah
itu
aku menunggu.
kicau burung menyenandungkan siul rindu
katamu, “Aku akan datang.”

/2//
Dalam awan-gemawan yang berarak-arak
angin menjatuhkan daun-daun
bahkan harapanku. peluh, kelu
meringkus ruang dadaku, menyesakkan.
daun berjarum, ranting menikam, pokok batang
menghantam
seorang kawan melayangkan nota balasan
“Ini surat zinnia, ia telah pindah.”

/3///
Kubaca, kudekap suratmu. Ribuan hari sudah
tintanya telah menguap, tulisannya meleleh
bekas tetes kesedihan di sana–di sini
suratmu zinnia, lusuh penuh lipatan
aku menyimpannya entah berapa lama
kata-katanya menjadi batu rindu,
kalimat-kalimatnya mengandung batu pilu. Bisu.

/4////
Jangan kau kira aku tak membalasmu
sudahkah kau terima?
sebab setelah itu kawat pun terputus
dinding-dinding menebal, tak tahu kau di mana?
untuk bicara rindu sepatah kata pun,
tak jua kutemukan teman bicara
kecuali suratmu itu.

/5/////
Zinnia, di langit senja itu
kata-kata rindu kuhamburkan
meski tak jua langit menurunkan hujan rindu darimu.

Indramayu, 2018

Faris Al Faisal, lahir dan tinggal di Indramayu, Jawa Barat. Ia bergiat di Dewan Kesenian Indramayu. Karya fiksinya ialah novel Bunga Narsis Mazaya di Publishing House (2017), Antologi Puisi Bunga Kata di Karyapedia Publisher (2017), dan Kumpulan Cerpen Bunga Rampai Senja di Taman Tjimanoek Karyapedia Publisher (2017).

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Faris Al Faisal
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Media Indonesia" Minggu 6 Mei 2018

0 Response to "Cerita Burung, Hujan dan Petrichor - Berlayar di Samudera, Layar Terkembang Surut Berpantang - Zinnia, di Langit Senja Kuhamburkan Kata-Kata Rindu "