Duduk Dekat Jendela - Aku Benar-Benar Takut - Apa Yang Lebih Puisi? - Perseteruan dengan Waktu - 00.12 - Seberang Api - Rindu | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu

Untuk Arsip Selanjutnya, Sila Klik Tautan Laman www.klipingsastra.com/ID

Duduk Dekat Jendela - Aku Benar-Benar Takut - Apa Yang Lebih Puisi? - Perseteruan dengan Waktu - 00.12 - Seberang Api - Rindu Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 04:30 Rating: 4,5

Duduk Dekat Jendela - Aku Benar-Benar Takut - Apa Yang Lebih Puisi? - Perseteruan dengan Waktu - 00.12 - Seberang Api - Rindu

Duduk Dekat Jendela

duduk dekat jendela.
di luar giris gerimis.
pecah ke tanah.
pecah kaca jendela.
di kepalaku pecahan kaca.
hambur.
hancur.

(2017)

Aku Benar-Benar Takut

terlalu picik kuakui
hanya sayang padamu.
tapi malam ini,
di tengah malam yang sarat politik
senyummu bagai hantu
menakutkan, wanitaku.
aku benar-benar takut
menyeberangi sepi dan kalah.
angin dingin memberontak
mengoyak-ngoyak masa lalu

angin dingin menikam kesucian
menusuk-nusuk rusukku yang dirimu.
aku benar-benar takut, wanitaku.
terlalu picik kuakui hanya sayang padamu.
tapi di tengah malam yang sarat politik ini,
kau begitu cantik dalam sepiku yang kalah.
merdekakanlah aku dengan cintamu.
merdekalah kamu dengan sayangku yang
picik.

(2018)

Apa Yang Lebih Puisi?

apa yang lebih puisi dari siapa,
perempuan, ketika debur-riak
di tepi pantai mengingatkanku pada
wajahmu yang tak pernah bisa
kutangkap?

laut begitu jauh. wajahmu begitu
hampar di mataku. lamat-lamat
menelusup ke hatiku yang busuk.

apa yang lebih puisi dari dari siapa,
perempuan, ketika debur-riak di
tepi pantai mengingatkanku pada
kegetiran jiwaku bertamu ke
wajahmu yang tak pernah lupa
menutup pintu?

*Hujan, Kutukan, dan Ikatan-Ikatan
setiap langit tumpah
adalah kutukan waktu, cintaku.
ia mengikat dalam temu dan jemu
pada tiap-tiap belokan sepi
antara pecah dan tanah
dan kutukan-kutukan yang telah.
rambutmu basah waktu itu,
waktu murung kutukan bertalu-talu
jadi satu, jadi ikatan-ikatan yang bertamu
ke tubuhmu yang ceruk dan maruk.

kau tahu, kelak rambut basahmu
jadi ikatan-ikatan kutukan
di hujan-hujan lain,
kelak, aku selalu jadi tanah
dan kau maruk pecah
ke cerukku.

(2018)

Perseteruan dengan Waktu

saya sering dibuang-buang waktu.
sesekali membuang waktu.

bukankah waktu yang
membuang saya kemarin,
seusai saya dibuang waktu yang lain?

waktu melepas saya ke jeruji bui keluarga.
waktu menikam saya dengan sangkur
tutur yang tak teratur.
apakah waktu akan memanggil saya kembali
setelah saya membuang waktu yang
membuang saya?

waktu, bebaskanlah saya dari kulturmu.
bebaskanlah saya.

(2017)

00.12

malam yang muram,
aku bertamu ke rumahmu, perempuan.

kau menjamuku jemu
sedang di luar bendera lebih dulu lara.

dari kisi-kisi
kita sama tunggu ucap

degupmu dan degupku
degup satu-satu

-perempuan, apa yang lebih bunyi
dari suara kaca jendela?

(Sumenep, 2017)

Seberang Api

pintu miring.
kaki-kaki yang mengejar mimpi.
tak ada.
seperti permainan cahaya.

lampu-lampu kuning tua.
seorang lelaki mati
di pangkuan seorang lelaki.
aku melihat lelaki itu
seperti sebuah korek api
dibakar hidup-hidup.

(2017)

Rindu

di lembar usang kita berbilang
tentang rindu yang menggerutu

di antara buku-buku harian
yang penuh penantian

namamu beku
jadi kutu

dan kau tahu,
cinta lebih pekat dari tinta
dan lebih laknat dari derita.

(2018)

*Penulis adalah mahasiswa Ilmu Hukum Universitas Trunojoyo Madura

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Disda Hendri Yosuki
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Radar Surabaya" edisi Minggu 20 Mei 2018

0 Response to "Duduk Dekat Jendela - Aku Benar-Benar Takut - Apa Yang Lebih Puisi? - Perseteruan dengan Waktu - 00.12 - Seberang Api - Rindu"