Harapan Ibuku | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu

Untuk Arsip Selanjutnya, Sila Klik Tautan Laman www.klipingsastra.com/ID

Harapan Ibuku Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 14:44 Rating: 4,5

Harapan Ibuku

PAGI ini terasa cerah sekali. Terik matahari menguning bagaikan telur dadar yang baru matang. Ah, pagi ini melihat matahari pun seperti melihat makanan. Tidak hanya itu. Aku melihat burung-burung yang berkicau dari atas pohon. Betapa enaknya kalau burung-burung itu disembelih, kemudian dibuat rica-rica pedas dihiasi lalapan segar yang baru saja dipetik dari dahannya. 

Bayanganku tentang makanan semakin liar. Alangkah baiknya aku secepat mungkin menyelesaikan jemuranku agar tersengat sentuhan sinar matahari yang menguning bagaikan telur dadar. Maklum, di sini adalah rumah tahfidz yang menyediakan makanan tiga kali sehari. Pagi, siang, malam. Semalam aku hanya makan sedikit, karena aku takut kekenyangan sehingga aku nanti sulit bangun malam. 

Bangun malam adalah tradisi yang tidak akan tergantikan nikmatnya di rumah tahfidz ini. Setiap pukul tiga dini hari kami semua dibangunkan untuk tahajud, kemudian mengulang hafalan. Setelah salat subuh kita menyetorkan hafalan harian kita. Ada yang satu halaman, ada yang dua halaman. Bahkan ada yang hanya menyetorkan satu ayat. Berbeda-beda memang. Semua santri diciptakan Allah dengan kemampuan menghafal yang berbeda. Terkadang aku merasa malu kepada Allah. Betapa tidak. Bisikan-bisikan setan sering menggangguku setiap aku menyetorkan hafalan sebanyak tiga halaman. 

“Duhai hafidz betapa mulianya dirimu. Setiap hari kamu menyetorkan dua halaman. Bahkan sering juga kamu dapat menyetorkan hafalan sebanyak tiga halaman. Tidak seperti temanmu yang besar badannya itu. Hafalan hanya lima ayat sehari. Bahkan terkadang dia hanya mengulang hafalan lama. Betapa hebatnya dirimu. Lebih muda dari temanmu tetapi hafalan kamu begitu dahsyat.” 

Astagfirullah. Setan memang tidak ada henti-hentinya membisikkan rasa bangga diri kepada manusia. Setan tidak akan pernah berhenti menghasut agar manusia merasa lebih hebat dari yang lainnya. Bukankah dahulu mereka dikutuk oleh Allah, juga karena rasa bangga diri mereka? Ya Allah, ampunilah hafidz ,ya Allah. Kemudahan menghafal ini adalah karunia-Mu ya Allah. Bukan karena ikhtiarku semata. 

Di rumah tahfidz ini aku adalah santri yang tergolong masih muda. Umurku masih 12 tahun. Kebanyakan santri berumur lima belas sampai sembilan belasan. Alumnialumni dari rumah tahfidz ini memiliki jangka waktu yang berbeda-beda dalam menyelesaikan hafalan mereka. Ada yang khatam hafalan hanya dua tahun. Ada juga yang sampai lima tahun baru khatam hafalan. Man jadda wa jadda. 

“Nak, kamu di sana bagaimana kabarmu? Baik-baik saja kan? Ibu khawatir, Nak. Kamu sudah makan? Uang sakumu masih cukup kan? Kalau kurang bilang saja, Nak. Insya Allah Ibu akan mengirimkannya besok pagi,” pesan singkat dari ibuku. Hari ini adalah jadwal diperbolehkan memegang hape. 

“Alhamdulillah, Buk. Kabarku baik-baik saja. Bagaimana kabarnya di kampung sana, Buk? Baik kan? Sudah, Buk. Hafidz sudah makan kok, Buk. Di sini untuk masalah makan, Alhamdulillah terpenuhi, Buk. Jangan khawatir kalau masalah makan. Uang sakuku masih lebih dari cukup. Sudah dua minggu lalu aku ikut jadi tukang bersih-bersih di madrasah sebelah pondokku. Jadi Alhamdulillah, Buk, sekarang aku sudah bisa mempunyai penghasilan sendiri,” balasku melalui ponsel tuaku. 

“Alhamdulillah, Nak. Ibu di kampung sehat wal afiat. Waah, kamu sekarang sudah kerja ya. Tapi, kerjaanmu tidak mengganggu kegiatanmu di pondok kan?” 

“Alhamdulillah kalau sehat wal afiat, Buk. Enggak kok. Justru aku bisa melakukan dua hal sekaligus, sambil menyapu dan mengepel aku bisa mengulang hafalan, Buk” 

“Bagus lah kalau seperti itu, Nak. Ngomong-ngomong kamu kapan khatam hafalan, Nak?” 

“Insya Allah empat bulan lagi, Buk. Tinggal satu setengah juz. Doakan ya, Buk. Semoga hafalanku membawa berkah buat kita. Membawa berkah dunia akhirat, Buk.” 

“Iya, Nak. Ibu selalu mendoakanmu. Semoga upayamu untuk menghafal Alquran selalu diberkahi Allah, Nak” 

Memegang handphone seminggu sekali adalah hal yang biasa bagi kami di rumah tahfidz ini. Selain untuk menghindari hal-hal yang menggangu proses menghafal, kebiasaan ini juga bermaksud agar para santri di tempatku belajar Alquran ini dapat bersilaturahim kepada orangtua dan sanak saudaranya. 

Langit terlihat indah sekali malam ini. Tinggal satu bulan lagi aku akan mengkhatamkan hafalanku. Diiringi dengan titik-titik yang bersinar di langit yang luas ini, titik-titik bercahaya yang selalu menginspirasiku agar tetap istiqomah dengan Alquran. Istiqomah dengan menjalankan perintah Allah dan meninggalkan hal-hal yang tidak diperbolehkan oleh Allah. Berharap kepada Allah agar selalu diberikan titik-titik cahaya sebagaimana bintang di langit malam ini. 

Aku teringat dengan masa-masa laluku di saat baru tiga bulan di rumah tahfidz ini. Aku sangat teringat sekali di saat bulan kedua aku ingin kabur dari pesantren kecil ini. Benar, aku pernah kabur dari pesantren. Aku sangat tidak nyaman dengan kondisi pesantren di sini. Tiap hari harus bangun pagi sekali. Pagi buta sudah harus membaca Alquran, makan pun sehari hanya tiga kali. Itu pun dengan porsi yang pas, tidak bisa makan sekenyang di rumah sampai empat kali. Tidak hanya itu. Di sini aturannya sangat ketat yang membuat keinginanku semakin kuat untuk kabur dari pesantren. Setiap hari harus membaca Alquran minimal satu juz. Padahal dulu waktu di rumah membaca Quran cukup hanya selembar sehari. Itu pun kalau sempat. Aku masuk di sini juga karena dipaksa oleh bapak dan ibu. Waktu masih SD aku memang terkenal bandel dan menyebalkan. Maka dari itu kedua orangtuaku membawaku kemari dengan harapan agar aku menjadi anak yang lebih baik lagi. 

Setelah kabur selama satu bulan, waktu itu aku menginap di rumah pamanku yang kebetulan rumahnya tidak terlalu jauh dari pesantren. Aku tidak tahu harus berbuat apa. Kalau aku pulang pasti akan dikembalikan ke pesantren. Kalau aku kembali ke pesantren, pasti aku akan diikat dan dikekang dengan aturan-aturan yang menyebalkan. 

Dua minggu kemudian aku mendengar paman berbincangbincang melalui ponsel. Sepertinya aku kenal dengan suara yang sedang bertelepon dengan pamanku, seperti suara ibu. Ya, benar. Ibu. Pamanku menerima telepon ibuku dengan ekspresi muka yang terlihat kasihan, sedih. Mungkin pamanku ditanyai ibuku mengenai keberadaanku. 

Dugaanku ternyata benar. Aku teringat dengan kebohonganku di pesantren. Ketika aku hendak kabur, aku menitipkan surat kepada temanku agar disampaikan kepada pengasuh pesantren. Di surat itu ada tulisan, 

“Aku mau pulang, karena orangtuaku akan pindah tugas ke luar pulau.” 

Pamanku mendekatiku. 

“Hafidz, kamu kangen dengan bapakmu tidak?” tanya pamanku dengan ekspresi yang membuatku heran. 

“Lumayan kangen sih, paman. Tapi mau gimana ya? Aku bingung. Mau pulang atau balik pesantren, memangnya kenapa, Paman? Ibuku dapat kabar dari pesantren ya? Aku disuruh kembali ke pesantren?” jawabku dengan muka sedikit pucat disertai gugupnya diriku ini. 

“Kamu akan kangen dengan bapakmu selamanya, Fidz,” terang paman dengan mata berkaca-kaca. 

“Memangnya bapakku kenapa, Paman? Bapakku kenapa?” tanyaku dengan nada yang agak tinggi 

“Kamu jangan kaget ya, Fidz. Bapakmu meninggal. Baru saja ibumu mengabariku,” mata pamanku yang berkaca-kaca itu mulai meneteskan air mata. Baru saja dia mendengar kabar bahwa kakak kandungnya meninggal. 

Seketika itu aku meneteskan air mata pertama kalinya untuk orangtuaku. Selama ini aku menyusahkan mereka. Aku merasa sangat menyesal. Aku merasa menjadi anak yang durhaka. Sedurhaka malin kundang yang dikutuk menjadi batu. Aku membangkang kepada kedua orangtuaku. Aku masih tidak percaya dengan kenyataan ini. Betapa cepatnya bapakku meninggalkanku untuk selamanya. Aku akan sangat rindu sekali dengan bapakku. 

Kerinduan itu akan terobati ketika aku bertemu dengan bapakku di akhirat nanti. Itu pun kalau aku bisa bersama bapakku di surga nanti. Dan segala kemungkinan terjadi untuk masalah akhirat. Bisa jadi aku akan menjadi penghuni neraka selamalamanya, dan aku tidak akan bertemu dengan bapakku di surga nanti. Bapakku adalah sosok bapak teladan. Sejak kecil aku selalu diajak untuk salat berjamaah di musala. Tapi, entah kenapa di masa-masaku SD bisa senakal dan sebadung itu, hingga bapak dan ibuku membawaku ke pesantren yang menurutku sangat menyebalkan ini. Aku semakin tidak percaya kalau bapakku telah tiada. Telah pergi selama-lamanya. Aku mengangis. Menangis sejadijadinya di pelukan pamanku. 

Kemudian setelah prosesi pemakaman dan urusan lain tentang bapak telah selesai, aku kembali ke pesantren rumah tahfidz itu. Peristiwa inilah yang membuatku semangat untuk menjadi manusia yang berakhlak Alquran. Menghafal Quran adalah salah satu jalan supaya kelak aku akan berkumpul dengan bapakku di surga. 

Ingatanku seperti disegarkan kembali di malam ini. Kemudian aku kembali masuk kamar. Malam ini aku sudah menambah hafalanku sembari melihat bintang-bintang di langit. Dihiasi kenanganku bersama bapakku dua tahun lalu. Aku berwudlu kemudian tidur. 

Subuh berkumandang dari masjid di dekat pesantren. Aku bergegas menuju ke masjid untuk subuh berjamaah. Pagi ini aku harus menyetorkan hafalanku kepada abah. Aku teringat dengan janjiku kepada ibu. Setelah khatam nanti aku akan mengajaknya pergi liburan dengan sisa-sisa tabunganku selama menjadi tukang bersih-bersih di madrasah sebelah. Aku kasihan melihat ibu yang kesepian di rumah semenjak bapakku meninggal. 

Pagi yang sedikit mendung telah membawaku pulang menuju asrama kecilku ini, setelah menyetorkan hafalanku yang sudah sampai di surat At-Taubah. Sengaja memang. Hari ini aku hanya menyetorkan sedikit hafalan. Karena aku ingin benar-benar paham dengan pesan Allah di setoran hafalanku di pesantren rumah tahfidz ini. Toh tinggal menghitung hari aku akan khataman hafalan, tiga minggu lagi. 

Aku melihat Bambang berlari terbirit-birit menghampiriku. Seperti setan yang mendengar adzan saja. Candaku dalam hati. 

“Fidz!!!! Penting Fidz!! Penting,” ucap Bambang kepadaku dengan nafas terengah-engah. 

“Iya, Mbam. Memang manusia punya banyak kepentingan, kamu nyebut penting aja banyak banget barusan. Kayak DPR aja kamu. Punya banyak kepentingan. Emangnya ada apa?” jawabku agak sedikit bercanda. 

“Ibumu Fidz! Ibumu!!!! Ibumu anu Fidz!!” ucap Bambang masih dengan muka yang cemas. 

“Ibuku kenapa Mbang?” tanyaku juga dengan muka yang cemas. 

“Sebaiknya kamu datengin rumahnya Abah deh Fidz. Aku tidak sampai hati menyampaikannya.” Aku pun langsung menuju rumah abah. masih dengan kaos oblong dan belum sarapan. 

Sesampainya di rumah abah. 

“Permisi, Bah. Tadi aku mendengar ada kata-kata ibu dari Bambang. Lalu Bambang menyuruhku ke sini. Ada apa ya, Bah? Ibuku kenapa?” tanyaku dengan suara lirih. Abah hanya menatapku. 

“Maaf Bah kalau aku menyela Abah. Memangnya ibuku kenapa, Bah?” tanyaku lagi. Abah masih membatu, bibirnya bagai batu. Hanya terdiam dan menatapku dengan mata yang berkaca-kaca. Rasa khawatirku kepada ibu semakin menjadi-jadi. 

“Bah, tolong Bah. Aku khawatir dengan ibuku. Jangan bercanda, Bah.” 

Kulihat Abah sekarang malah tertunduk. Sepertinya Abah sedang menangis. 

“Bah, ibuku kenapa, Bah!” tanyaku agak sedikit membentak. Aku mulai lupa kalau seorang guru sama saja seperti orang tuaku. Aku tidak boleh membentaknya. 

Kemudian Abah memelukku dan berbisik di telingaku diiringi senggukan tangisnya. 

“Fidz, kamu tahu kan keutamaan penghafal Alquran?” 

“Iya, Bah. Kan memang setiap hari Abah memberitahu saya.” 

“Kamu tau kan Fidz? Kelak kedua orangtua dari anak penghafal Quran akan mendapat keistimewaan di hadapan Allah?” 

“Iya Bah, Hafidz tau. Ibuku kenapa, Bah?” 

Abah semakin erat memelukku diiringi air mata yang menetes deras di pundakku. 

“Aku berharap bapak ibumu kelak di hari kiamat akan mendapatkan keistimewaan itu. Kamu yang istiqomah ya, Fidz. Sekarang ibumu telah memulai kehidupan barunya.” 

“Maksud Abah? Ibuku kenapa, Bah?” Aku masih belum paham maksud, Bah. 

“Ibumu sekarang telah memulai kehidupan barunya di alam barzah, Nak. Aku sangat berharap kepada Allah supaya bapak ibumu mendapatkan keistimewaan itu.” 

Tanpa tanggapan apapun, aku ikut memeluk abah dengan erat. Aku tidak kuasa membendung air mataku. Aku semakin terharu dan juga menyesal. Mengapa aku dulu sempat kabur selama sebulan. Seandainya waktu dapat kembali aku tidak akan kabur dari pesantren. Lengkaplah sudah. Saat ini ibuku dan bapakku tidak sempat menyaksikan khatamanku. Padahal ini adalah momen yang kutunggu-tunggu. (*) 

*Penulis tinggal di Bulu, Bancar, Tuban.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Zahara Shovynnatus Salsabella
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Radar Surabaya" edisi Minggu, 29 April 2018 

0 Response to "Harapan Ibuku"