Jangan Membenci Nasihat - Sebelum Aku Menjadi Laut - Agama Baru - Pulang ke Rumah Ibu - Sebelum Jatuh ke Tanah - Balada Orang-Orang Penunggu - Tafsir Hujan - Di Depan Cermin | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu

Untuk Arsip Selanjutnya, Sila Klik Tautan Laman www.klipingsastra.com/ID

Jangan Membenci Nasihat - Sebelum Aku Menjadi Laut - Agama Baru - Pulang ke Rumah Ibu - Sebelum Jatuh ke Tanah - Balada Orang-Orang Penunggu - Tafsir Hujan - Di Depan Cermin Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 05:00 Rating: 4,5

Jangan Membenci Nasihat - Sebelum Aku Menjadi Laut - Agama Baru - Pulang ke Rumah Ibu - Sebelum Jatuh ke Tanah - Balada Orang-Orang Penunggu - Tafsir Hujan - Di Depan Cermin

Jangan Membenci Nasihat

Jangan membenci nasihat
Sebab ia terlahir memang untuk menasihati
Betapa pun ia tak ingin menasihati
Dan hanya berniat keluar rumah
jalan-jalan pagi
Nasihat kapan pun tetaplah seorang nasihat
Sebagaimana ketika ia lahir
bersih
Betapa pun kau coba memengaruhi
dengan nafsu manusiamu
Tak ada niat lain dalam diri nasihat
Apalagi menyakiti
Mungkin dirimu memang sedang sakit
sehingga nasihat membuat perih
Atau mungkin dirimu merasa terlalu sehat
sehingga nasihat kau anggap lalat yang hinggap
semenit
Nasihat hanya ingin menjadi nasihat
Seutuhnya seperti fi trah kelahirannya
Jangan curigai nasihat
Agar ia bisa riang berdiri sendiri.

Rejosari – 2016

Sebelum Aku Menjadi Laut

Sebelum menjadi laut
aku adalah seorang sungai yang kerap tersesat
dalam ceruk-ceruk kehidupan
yang penuh gaduh sampahsampah
menyesaki jalanan
terbawa dari banyak kisah
yang belum terselesaikan

Aku sungai yang terus mengalir
tempat semua kelok, arus, batubatu, dan ikan
mengajariku hidup
dan terus mengalir
hingga sampai pada keluasan tak bertepi
di mana batu yang kau lempar takkan pernah bisa
menjangkauku
dan ombakku takkan pernah habis

Rejosari – 2016


Agama Baru

Agama baru itu bernama terorisme
Nafsu adalah tuhannya
Pembunuhan adalah nabinya
Atas nama adalah kitab sucinya.

Rejosari – Mijen 2016

Pulang ke Rumah Ibu

Ibu,
aku rindu bau keringatmu
yang dulu kubenci
kini kenangan yang menguarkan minyak wangi
aku ingin kembali
seperti anak-anak yang belum ingin lepas
lantaran di rumah ada surga

Ibu,
jalan pulang ke rumahmu
masih tersimpan rapi di sudut kenanganku
meski kini segalanya telah berubah
senyum dan sedihku tak lagi milikmu seutuhnya
aku sudah tersesat jauh
di belantara kehidupan kedewasaanku dibentuk
membuatku sadar bahwa di rumah ada surga

Ibu,
kini dapat kurasa
amarahmu tak lebih api dari amarah orang-orang
hutan
jeweranmu lebih lembut dari jeweran kehidupan
kecerewetanmu peta menuju jalan terang dalam
kepala
senyummu obat luka paling manjur untuk kekalahan
sentuhanmu mukjizat penuh kekuatan
maka Ibu,
izinkan aku pulang ke rumahmu yang bertaman
mengambil segala yang tertinggal
sebab aku tahu, kaulah tempat mula segala persiapan.

Sebelum Jatuh ke Tanah

Kenangan demi kenangan yang melindap adalah
pelajaran yang kutanak di permukaan daun
Takkan pernah habis dari akar-akar yang tiap menit
belajar
mencari
dalam gelap dalam terang dalam padas dalam gembur
setiap detik bekerja memilah dan menelaah
mengangkutnya ke daun-daun
untuk kemudian menjadikannya bunga
sebelum menua
sebelum jatuh ke tanah
mengembalikan semua yang telah dipinjam.

Rejosari – 2016

Balada Orang-Orang Penunggu

Pada mulanya adalah yang terusir dari surga
lalu kita menunggu kapan dipanggil kembali ke sana
lantaran bosan dan terdesak kebutuhan
kita pun bekerja, bermain-main, mengumpulkan
harta
kita bangun rumah-rumah fana
kita habiskan waktu dengan aneka kesibukan sia-sia
karena menyangka bahwa semua bisa dibawa

Kita sebenarnya hanya menunggu
tapi bosan membuat kita lupa.

Kalinyamatan-Jepara, 2016

Tafsir Hujan

Hujan malam ini mengingatkan
betapa beragamnya wajah tafsir
Bahwa tempat mampu
memengaruhi makna
Di kamarku hujan bermakna keromantisan
Di luar sana hujan bermakna peringatan alam

Kapan-kapan ingin kutanyakan
kepada hujan
Kamu sebenarnya ada di pihak mana?

Rejosari – Mijen 2016

Di Depan Cermin

kepada Innocento

Aku tersenyum, kau ikut tersenyum
Aku menyipitkan mata, kau pun turut menyipitkan
kelopak mata
Aku tertawa, kau ikut tertawa
Aku berpura-pura, kau ikut berpura-pura

Aku menunjukmu, kau malah menunjukku
Aku meludahimu, tapi ludah itu menempel di tubuhku
jua
Seketika itu aku jadi takut ketika ingin menonjokmu
Sebab pasti kau pun balas akan menonjokku
Apakah kami ini sebenarnya adalah satu?

Apakah kau saudaraku?
Ataukah kau itu aku?
Kalau kau aku, tahukah kau apa isi pikiranku?
Kalau kau bukan aku, kenapa kau bisa serupa dengan
segala gerak-gerikku?
Kau ini sebenarnya siapa?
Aku sudah punya bayangan di sisi kanan.

Rejosari – 2016

Nurhadi yang memiliki nama pena Adi Zamzam lahir di Jepara, 1 Januari 1982. Sejak 2002, ia sering memenangi lomba-lomba menulis cerpen dan puisi. Bukunya yang telah terbit berjudul Laba-Laba yang Terus Merajut Sarangnya--kumpulan cerpen--(UNSA Press, 2016), Persembahan Teruntuk Bapak--novel remaja--(DIVA Press, 2017), dan Melihat—novel--(Bhuana Sastra, Bhuana Ilmu Populer, 2017). Saat ini sedang aktif menyebarkan virus literasi ke sekolah-sekolah di Jepara, Jawa Tengah.


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Adi Zamzam
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Media Indonesia" Minggu 27 Mei 2018

0 Response to "Jangan Membenci Nasihat - Sebelum Aku Menjadi Laut - Agama Baru - Pulang ke Rumah Ibu - Sebelum Jatuh ke Tanah - Balada Orang-Orang Penunggu - Tafsir Hujan - Di Depan Cermin"