Kematian Lelaki yang Selalu Bersyair | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu

Untuk Arsip Selanjutnya, Sila Klik Tautan Laman www.klipingsastra.com/ID

Kematian Lelaki yang Selalu Bersyair Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 17:07 Rating: 4,5

Kematian Lelaki yang Selalu Bersyair

DI suatu desa hiduplah seorang yang setengah baya. Rambutnya sudah beruban, pendengarannya juga sudah tidak normal sebagai mana manusia semestinya. Akan tetapi, jika menjelang Magrib, ia selalu melantunkan syair-syair yang merdu untuk didengarkan. Beberapa tahun terakhir dia juga menjadi orang yang disegani dengan syair-syair indahnya. 

Tidak sedikit dari warga yang mendengarkan lantunan syairnya selalu mengatakan. “Bagus sekali suaramu, bagaimana kau melatihnya, bisakah kau mengajariku.” Seperti itulah kiranya warga memberikan pujian pada laki-laki itu. 

Tapi percayalah ini bukan sekadar pujian. Karena pada kenyataannya anak- anak kampung, yang sebenarnya tidak mempunyai pemahaman bersyair, juga menikmati syair-syair yang dilantun- kan. Sayangnya, Dia tidak pernah mau mengatakan bagaimana memiliki suara yang indah dan merdu itu. Bahkan untuk sekadar mengajari anak-anak kampung, dia enggan melakukannya. Hingga suatu ketika warga pun berhenti untuk memuji- nya. Untuk sekadar menyapa, beberapa warga juga tidak melakukannya. 

“Sejak ia pandai bersyair dan memiliki suara yang indah sekarang dia menjadi sombong,” kata Darman yang sedang asyik duduk bersama dengan beberapa warga. 

“Iya sombong, tidak ingat siapa yang membantu dia dulu,” sahut Sarmadi, dengan wajah geramnya. 

“Ya sudah toh, Kang, mungkin dia lagi menikmati keberhasilannya,” kata Imam, yang mencoba menengahi pembicaraan warga. 

“Keberhasilan, keberhasilan yang mana, Kang, paling juga cuma pujian dari orang kampung,” tutur Sarmadi, yang terlihat tidak setuju dengan perkataan Imam. 

 *** 
MEMANG benar, sebelum ia menjadi seorang penyair dan memiliki suara yang merdu, ia adalah seorang anak jalanan yang dibawa pulang oleh Mbok Sumini. Wanita kaya dan sangat disegani oleh warga setempat. Dengan sikap baik Mbok Sumini kepada warga, akhirnya dia diizinkan untuk tinggal di kampung dan diasuh oleh wanita itu. 

Tapi kejadian itu terjadi dua tahun yang lalu, sebelum Mbok Sumini meninggal dunia. Sekarang dia jadi penghuni rumah itu sendiri. Rumah yang besar, mewah, dan di pelataran ada taman yang luas dipenuhi dengan bunga-bunga yang indah ketika musim semi datang. 

Sesekali anak-anak juga sering main di taman itu. Tapi sebelum Mbok Sumini meninggal. Karena Mbok Sumini sangat suka dengan anak-anak yang bermain di tamannya. Bahkan wanita ini selalu mengatakan kepada anak-anak sebelum pulang. “Besok main lah ke sini lagi, taman ini tidak akan mekar indah tanpa adanya kalian,” seperti itulah ucapan wanita baik itu. 

 *** 
ANGIN senja mulai berbisik di pintu-pintu rumah desa. Warna khas merahnya berusaha membung- kam awan. Meskipun sepenuhnya tidak berhasil. Dan terlihat beberapa warga sedang berjalan menuju ke rumahnya masing-masing. Ada yang berpakaian rapi seperti akan kencan dengan pacarnya, ada juga yang memakai kain sarung yang menunjukkan mau ke masjid, dan ada pula beberapa yang baru pulang dari kebunnya. Seakan ini men jadi tradisi menjelang magrib. 

Seperti biasa, seorang paruh baya itu bernyanyi dengan syair-syairnya. Dia selalu memberikan tawaran merdu pada warga yang berlalu lalang di depan rumah megahnya itu. Rumah yang terlihat gelap sejak kepergian Mbok Sumini. Tamannya sekarang tidak terlihat seperti sebelumnya. Yang penuh keinda- han dan menawarkan rasa tenang bagi yang mengunjungi rumah itu.  

Suatu hari, laki-laki itu memutuskan pergi untuk mengunjungi kerabat Mbok Sumini, yang katanya berada di kota seberang. Sampai musim semi datang, pemuda itu pun tidak juga kembali. Dan jelas saja anak-anak kampung menerobos masuk ke rumahnya dan bermain di taman yang penuh dengan keindahan itu. 

Terlihat dua anak perempuan sedang asyik bermain ayunan dan menikmati kesejukan tamannya. Di sebelah timur juga ada tiga anak laki-laki yang asyik menaiki pohon besar sambil bernyanyi dengan gembira. “Ya inilah taman keindahan yang sebenarnya,” kata salah satu warga yang melewati rumah itu. 

Jika menjelang sore anak-anak pun pulang ke rumahnya masing-masing. Paginya ia akan bermain kembali di taman itu dan bermain dengan teman-teman mereka untuk menikmati keindahannya. Seperti biasa, anak-anak bermain dengan sesuka hati dan sepuasnya. Karena taman ini adalah ketenangan bagi mereka. 

Di tengah-tengah asyiknya bermain, anak-anak dikejutkan dengan kedatangan laki-laki yang suka bersyair itu. Anehnya ia tidak menunjukkan wajah bahagia. Raut wajahnya menunjukkan rasa kesal yang sangat terhadap anak-anak. Dan benar saja, beberapa saat kemudian ia pun mengusir anak- anak yang asyik ber- main di tamannya. 

Keesokan harinya di sekitar rumah didirikan pagar-pagar, tembok yang besar dan menjulang tinggi untuk menghalangi anak-anak untuk bermain di taman. Dan setiap kali anak-anak itu ingin berkunjung ke rumah itu, ia pun kecewa. Anak-anak hanya bisa melihat keindahan taman lewat pintu yang terkunci dengan rapat. 

Setiap pagi anak- anak berkunjung ke tempat itu. Tapi tidak pernah pintu rumah terbuka. Hanya kekecewaan yang didapatkan ketika mengunjungi taman indah itu. Hingga akhirnya anak-anak pun memutuskan untuk tidak mengunjunginya.

Di balik pintu laki-laki itu pun tertawa dengan bahagianya. “Aku menang, sekarang, hanya aku sendiri yang berada di tempat ini. Kan kunikmati kesunyian dan kalian akan mendengarkan syair- syair yang indah. Percayalah tidak ada yang lebih indah dari syair yang kulantunkan ini.” 

 *** 
SENJA mulai membentang di barat dengan indahnya. Beberapa warga juga berlalu lalang di depan rumah yang sudah tertutup rapat itu. Dan laki-laki itu pun melantunkan syair-syairnya. Tapi hari ini sudah tidak ada yang mengagumi syair-syairnya. Semua warga sekarang menganggap dia sudah gila dengan syair-syairnya. 

Keesokan harinya ketika ia terbangun dari tidur. Membuka jendela ia hanya ditawarkan dengan taman yang penuh dengan bunga-bunga yang layu. Tidak ada keindahan di sekitarnya. Rumahnya pun sekarang terasa sunyi, seperti dirinya yang menjadi penyair yang terlupa. 

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Suroso
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Lampung Post" edisi Minggu, 27 Mei 2018 

0 Response to "Kematian Lelaki yang Selalu Bersyair"