Lelaki dengan Pohon di Kepalanya | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu

Untuk Arsip Selanjutnya, Sila Klik Tautan Laman www.klipingsastra.com/ID

Lelaki dengan Pohon di Kepalanya Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 08:00 Rating: 4,5

Lelaki dengan Pohon di Kepalanya

BAGAIMANA bila seandainya pohon bisa tumbuh di kepala?” tanya seorang lelaki bernama Daruz, bau badannya perengus sebab seharian belum mandi, dan ia baru saja mengurus kambingnya yang tak begitu kurus. Senja mulai menampakkan dirinya dengan dramatis, penuh puitis. Di depan rumahnya, lelaki berperawakan kerempeng itu bisa menikmati senja yang indahnya luar biasa setiap hari karena letak rumahnya yang strategis. 

Sudah setahun ini ia gelisah— bermula dari merenung di bawah pohon yang usia- nya begitu tua, di tengah- tengah kota yang terdiri dari asap kendaraan, setahun yang lalu. Ya, ia gelisah. Andainya muncul karena gelisah itu. Ia gelisah dengan kondisi desanya. 

Orang-orang begitu mudahnya menebang pohon dengan alasan kebutuhan yang semakin hari semakin melambung tinggi. Kebanyakan dari mereka berkata, tak mungkin bila hanya mengandalkan hasil jerih payah dari bekerja untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari yang kian menggila. Rata-rata, penduduk di desa Daruz mengais rezeki dengan menjadi petani. 

Selain itu, ada gelisah lain yang membuat muncul pengandaian itu. Ia prihatin dengan desanya, bangunan-bangunan bermunculan layaknya sebuah jamur. Lahan-lahan kosong secara perlahan ditumbuhi oleh bangunan- bangunan. Selain itu, banyak sawah yang ditutup menggunakan tanah bercampur reruntuhan bangunan, yang entah didapat dari mana. Daruz sungguh rindu dengan keadaan desanya ketika ia masih kecil. Sekarang, anak-anak memang masih bermain layang-layang, namun tentu saja tak leluasa. 

Sawah-sawah yang ditutup oleh tanah ber- campur reruntuhan bangunan, berdampak buruk bagi orang-orang di desanya, banyak dari mereka yang kehilangan pekerjaan—nalar juga jika mereka menebang pohon untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Sebagai rakyat jelata, Daruz tak memiliki kuasa apa-apa. 

Daruz hanya bisa gelisah dan gelisah tanpa bisa melakukan apa-apa. Ia membayangkan ratusan tahun yang akan datang, mungkin tak akan ada sebatang pohon pun di desanya, bahkan di desa- desa lain, bahkan di negeri ini, bisa jadi di dunia tak ada pohon. Manusia akan berevolusi, ia tak lagi bernapas dengan oksigen, melainkan dengan karbon dioksida. Daruz bergidik membayangkan semua itu. 

“Kukira jika pohon dapat tumbuh di kepala, manusia akan sejuk selama hidupnya, tanpa merasa gerah meski udara begitu panasnya,” ucap Daruz serupa gumaman. 

“Dan kukira itu menjadi solusi yang sangat tepat sekali terhadap masalah lahan yang kian sempit. Dan manusia hidup tanpa rumah pun, kukira tak menjadi masalah.” 

Lalu hari-hari berlalu. Daruz masih berkutat d e n g a n a n d a i a n itu. Ia sering tersenyum sendiri. Ia sering ga- ruk-garuk k e p a l a sendiri. Ia m u l a i melakukan hal konyol yang tak biasa, andaiannya telah mendarah daging di dalam jiwanya. Salah satu hal konyol yang ia lakukan adalah ia menjadi sering membeli buah-buahan—mulai dari mangga hingga pepaya—dan mengumpulkan biji-bijinya, lalu biji-biji itu ia letakkan di atas kepala. 

Sebelum ia meletakan biji-biji itu di kepalanya, biji-biji itu dilumuri perekat semacam lem agar tak terlepas bila ia beraktivitas. Meski begitu jika ia mandi, ia akan merontokkan biji-biji itu dari kepalanya, dan diganti dengan yang baru ketika ia selesai mandi. 

Namun seiring berjalannya waktu, ia mulai malas melakukan hal itu. Ia biarkan biji-bijinya di kepala setiap kali ia mandi. Lima tahun kemudian jika dihitung dari pertama kali ia melakukan hal konyol itu, ia merasakan ada yang berbeda dengan kepalanya. Di kepalanya muncul tumbuhan. Daruz sama sekali tak bingung. Ia malah tersenyum-senyum di depan cermin. “Aku sama sekali tak menyangka, andaianku bisa menjadi kenyataan,” katanya sambil meraba-raba kepalanya sendiri. 

Ia pun tak lupa untuk berterima kasih kepada Tuhan. Ia yakin, tanpa kehendak-Nya, hal yang sama sekali tak masuk akal ini tak mungkin terjadi. 

Maka diiringi doa setiap hari, Daruz menyiram kepalanya sendiri setiap hari, setiap pagi dan sore. Pada pagi hari ia akan jalan-jalan keliling kampung dengan perasaan gembira, dengan maksud agar kepalanya terbelai sinar matahari yang hangat. Ia pun menjadi kerap menghabiskan waktu di luar rumah. Dan orang-orang menganggap tumbuhan yang tumbuh di kepala Daruz, bukan sungguhan, termasuk orang tuanya sendiri. Mereka menganggap itu hanya pohon imitasi yang dipasang di kepala Daruz. Ada pula yang menganggap Daruz hanya mencari perhatian. 

“Orang-orang tak bisa membedakan antara sungguhan dan main-main,” ucapnya, lalu Daruz menggeleng-gelengkan kepala, tumbuhan yang di atas kepalanya pun bergoyang. 

Seiring bertambahnya ukuran tumbuhan yang ada di kepala Daruz, orang-orang di desanya tak juga percaya bahwa itu memang sungguhan—orang tuanya mulai percaya. Bahkan tanpa alasan yang jelas, ada yang membencinya. Daruz pun sering menyendiri, ia tak habis dengan orang-orang. Ia tak tahu lagi bagaimana caranya meyakinkan mereka. 

Ia sering tak di rumah, ia sering tidur di sembarang tempat. Ia menjadi kebal dingin. Dan pohon itu semakin hari semakin membesar. Di tengah-tengah masyarakat desanya yang buta terhadap pohon yang tumbuh di kepalanya, ia dihibur oleh rasa sejuk. Orang tuanya sering berteduh di bawah pohonnya manakala merasakan gerah. Daruz pun menjadi sering kerepotan keluar masuk rumah karena ukuran pohonnya. 

Pada suatu hari ia mengambil ke- putusan, ia tak akan pernah lagi masuk rumah. Ia memutuskan untuk tinggal di halaman rumahnya yang lumayan luas. Orang tuanya iba, namun mereka merestui saja keputusan Daruz. 

Lalu tak terasa, waktu telah berjalan begitu jauh. Usia Daruz sudah puluhan tahun entah berapa tepatnya, ia berdiri di halaman rumahnya tanpa dikenali orang-orang—entah sudah berapa kali ia memanggil orang-orang yang lewat di jalan depan rumahnya, namun tak ada satu pun yang mendengar.  

Daruz kini benar-benar hidup sendiri, orang tuanya sudah meninggal dunia, entah kapan, ia tak ingat, begitu lama- nya ia hidup. Ia lupa dengan asal pohon yang tumbuh di kepalanya, dari biji buah apa. Pohonnya tak pernah berbuah. Daruz tak dapat ke mana-mana, yang bisa ia lakukan hanya diam di tempat. Ia sadar, tubuhnya bukan tubuh manusia lagi. Jika malam tiba, atau pada saat ia teringat dengan peristiwa masa lalunya, tanpa diketahui orang-orang, ia menangis. 

Lama ia hidup, ia tak tahu kondisi desanya sendiri. Yang jelas, Daruz merasakan udara yang semakin panas. Ia tak melihat pohon di sekelilingnya, bahkan rerumputan. Ia tak melihat. Pohon yang melekat pada dirinya tak dapat banyak membantu, apa yang dikatakannya dulu telah gugur, bila pohon dapat tumbuh di kepala, manusia akan sejuk selamanya. 

Begitulah. Ia hanya diam, diam dan diam. Diam di tempat dituakan waktu. Hingga pada suatu hari, ia mendengar berita, bahwa sudah tak ada satu pun pohon di desanya. Orang-orang bingung, lucunya mereka baru sadar akan apa yang dilakukan. Sejak berita itu tersiar, halaman rumah Daruz dipenuhi orang-orang, akibatnya banyak orang terluka, bahkan mati sebab berebut berteduh. Daruz yang tak bisa apa-apa, hanya bisa melihat orang-orang sibuk saling menikam. 

 *cerita untuk Daruz Armedian

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Risen Dhawuh Abdullah
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Lampung Post" edisi Minggu, 6 Mei 2018 

0 Response to "Lelaki dengan Pohon di Kepalanya"