Menunggu - Pamit - Tentang Perjalanan - Mite | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Menunggu - Pamit - Tentang Perjalanan - Mite Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 04:00 Rating: 4,5

Menunggu - Pamit - Tentang Perjalanan - Mite

Menunggu

dengan cara apalagi langkah ini
menuntunku ke bangku tunggu itu?
bangku di mana kita pernah bersandar
di mana aku asyik mengeja matamu
sementara kamu tergesa-gesa
melihat kereta-kereta melintas di mataku

perjalanan hidupku kini tercatat
                            amat rapat
tapi di stasiun, di mana bangku tunggu
lebih pandai menafsir kegelisahanku
tiba-tiba dirimu pergi bersama laju kereta
yang memberat di dada terdalamku

jarum berdetik dalam arloji
pada semboyan empat satu
akulah jerit peluit itu

aku rela menyerahkan diri
rela melepas segala yang akrab denganku:
                   kenangan misalnya
tapi terkadang aku lupa pamit
atau sekadar menengok sedikit
aku senantiasa tergesa
seperti jerit peluit

yang berulang-ulang
tapi menghilang

Pamit

dalam hidup, kita akan selalu berpamitan
aku menyaksikan dan merasakan kereta melaju
stasiun abu pada pukul tujuh menjadi pilu

stasiun itu seakan mengeja kata

“waktu boleh saja berlalu
tapi pagi, bagiku, adalah lonceng besi
sebab di sana doa-doa dimulai”

kemudian stasiun itu kembali mengeja kata

“perjalanan adalah pergi untuk kembali
bahkan doa-doa, sesunyi apa pun
tak mampu mengembalikan segala yang tiada”

sebab dalam hidup, kita akan selalu berpamitan
sekalipun stasiun akan mempertemukan kita kembali

Tentang Perjalanan

“apa yang kamu tunggu dari barat?
sementara timur adalah jejak ibu”

katamu, di kl sentral, ketika orang-orang sibuk
menjemput antarkan masa depan
sementara gemerincing gelang dari seorang nenek
berjalan di hadapan kita
bolak-balik dengan punggung bungku
kadakah itu diriku nanti?

berjalan jauh tapi tak bisa lepas
dari sebuah alamat lekat dalam kepala
sedang yang asing ini masih saja tabah
mengusap embun kacamataku

di kl sentral, orang-orang sibuk
menjemput antarkan masa depan

aku belajar lagi mengeja nama
dengan hati-hati

Mite

pertemuan adalah jalan singkat menuju pelukan
dan ucapan selamat tinggal
maka kujaga kamu dengan ciuman
janji yang diam-diam mengikat leher kita

lantas, masih adakah kamu sebut cinta
sebagai tempat istirah?

- Anisa Isti lahir di Bandung, Jawa Barat. Puisinya dimuatPikiran Rakyat, Indopos, Sumatra Pos, Sinar Harapan, Jawa Pos, Media Indonesia, Banjarmasin Post, Tanjungpinang Post, Lampung Post serta antologi bersama. Kini, dia sedang menyelesaikan antologi puisi pertama Panina Manina serta menulis kumpulan cerita anak. (44)

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Anisa Isti
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Suara Merdeka" edisi Minggu 6 Mei 2018

0 Response to "Menunggu - Pamit - Tentang Perjalanan - Mite"