Monolog Rindu - Diskon Puisi - Tersesat dalam Puisi Plath - Di Sebuah Sore | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Monolog Rindu - Diskon Puisi - Tersesat dalam Puisi Plath - Di Sebuah Sore Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 03:00 Rating: 4,5

Monolog Rindu - Diskon Puisi - Tersesat dalam Puisi Plath - Di Sebuah Sore

Monolog Rindu

kangen itu tak pernah punya usia. dan
aku selalu ingin lengan lembutmu
terus merengkuh,
sementara hari terkayuh. barangkali
kita telah hilang rasa pada ciuman
yang utuh,
namun cerlang matamu menjadi pintu.
pintu yang tak lagi memiliki cadangan
kunci, sebab hanya untukku sendiri.
dan kita akan mengembara lagi, me-
masuki riuh kota,
menyimpan demam perjalanan atau
kerumunan kendaraan dan orang yang
selalu gagal menghitung langkah.
kangen itu akan utuh.
meski senyummu terasa hambar dan
dadaku tak kunjung berdebar setiap
memandangmu.

2017

Diskon Puisi

hari ini, puisi menggelar diskon besar-
besaran. tapi orang-orang tak juga
memungutnya dari hamparan rak.
meskipun di luar, hujan telah jadi
gerimis. tak lagi dikisahkan olehnya:
kemiskinan, kesunyian, atau penindas-
an.semua boleh bahagia, batinnya. dan
penyair melenggang dengan pakaian
modis juga wangi. ditambah kaca mata
hitam. lebih trendi begini,
ujarnya.tapi orang-orang tak kunjung
beranjak, untuk membeli puisi dan
membawanya pulang. hanya ada satu-
dua saja yang memungutnya. selebih-
nya sepi.
di jalanan yang masih basah. sunyi
meringkuk sendirian, makin mengerut.
melupakan kata-kata. mungkin,
mendadak kaget menerima infor-
masi tentang puisi yang banting harga.
semoga sunyi tak punya riwayat sakit
jantung setelahnya!

2017

Tersesat dalam Puisi Plath

kata-kata menendang, mengerubungi
aliran darah hingga menjadi bangkai di
kepala. dalam sebuah sketsa,
kau merebut murung kota, jejak
langkah para serdadu. dan kesedihan
tak lagi menjadi senja,
menggumpal genangan darah dan
luka yang dicabik, berulang kali. dan
berjalanlah aku, dari sepanjang dinding
rumah yang telah rubuh.
menjadi bercak ketakutan di kedua
kornea. lupa amsal atau arah pulang.
setiap doa kehilangan tanya.
kata-kata menjadi letusan peluru
yang lesap di samping telinga. me-
mancar dari sumur duka, tak pernah
usai kautimba. tapi dari mana nyeri
maut akan berebut? sebelum suara-
suara berkerumun bagai denting
lonceng besar. tanpa peta, aku ter-
sesat dalam pagi yang kaubuat. pagi
dengan matahari rendah. memasuki
segenap relung tanya, sebelum hujan
tiba.

2017

Di Sebuah Sore

di sebuah sore yang teduh, aku me-
nyemai tanaman di beranda.
mencuci motor dan mobil. menikmati
waktu yang makin rindang.
anak-anak berlarian, kesedihan seperti
melepaskan bebannya. aku mendapati
wajah ayah di muka orang. dan ia
bermain air menyirami tubuhnya, me-
nyeka kenangan muram di tengkukku.
tiba-tiba, ada sedikit dosa melintas-
semacam bekas hujan, jika aku jarang
menghabiskan waktu bersamanya.
“ayah ada capung di gigir asoka,”
mulut kecilnya menampung rahasia.
seperti tenung yang bersenandung.
sore yang lembab.hingga lengkung
langit menjadi gelap. magrib yang
tandang.

2017

Alexander Robert Nainggolan, lahir di Jakarta, 16 Januari 1982. Bukunya yang telah terbit Rumah Malam di Mata Ibu (kumpulan cerpen, Penerbit Pensil 324 Jakarta, 2012), Sajak yang Tak Selesai (kumpulan puisi, Nulis Buku, 2012),

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Alexander Robert Nainggolan
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Lampung Post" edisi Minggu, 6 Mei 2018

0 Response to "Monolog Rindu - Diskon Puisi - Tersesat dalam Puisi Plath - Di Sebuah Sore"