Pencuri Kotak Amal | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu

Untuk Arsip Selanjutnya, Sila Klik Tautan Laman www.klipingsastra.com/ID

Pencuri Kotak Amal Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 08:00 Rating: 4,5

Pencuri Kotak Amal

AKU merasakan tubuhku ada di suatu tempat yang sangat luas. Kira-kira berukuran empat kali stadion sepak bola. Tidak ada rumput di sana. Apalagi gawang. Tempat itu dikelilingi tribun yang digunakan oleh para malaikat untuk berdiskusi. Tribun hanya berupa kursi-kursi yang ditata sedemikian rupa. Anehnya, kursi itu tidak memiliki kaki pada umumnya. Kursi-kursi itu dibiarkan mengambang dan bisa bergerak kesana kemari. 

Di lapangan itu—demikian aku menyebut tempat aneh itu, panas sekali. Dibandingkan di gurun pasir, lapangan ini lebih panas. Aku hampir mati merasakan suhu udara di lapangan itu. Aku tidak bisa keluar dengan alasan apapun. Seseorang berbadan tinggi dan tegap mencegahku untuk keluar dari tempat ini. 

Seorang malaikat memanggil satu persatu orang yang ada di lapangan itu. Malaikat itu tidak memiliki telinga dan kaki. Tatapannya sinis seakan bola matanya ingin menelan orang bulatbulat. Dia memegang godam yang siap melayang jika ada seseorang yang melarikan diri. Godam yang dipegangnya terbuat dari besi seukuran tongkat bola bisbol. 

Aku tidak tahu maksud malaikat itu membawaku ke lapangan ini. Mungkin untuk diadili. Aku tahu pencuri kotak amal itu. Namun, malaikat itu membawaku tanpa alasan yang jelas. Mungkin mengira bahwa aku yang mencuri uang di kotak amal. Semenjak kejadian itu, aku berpendapat bahwa malaikat tidak memiliki otak. 

Berbicara tentang makhluk tak berotak, pikiranku tertuju pada Sagiman. Pemuda lulusan sarjana yang selalu beristirahat di dalam masjid. Orang kaya sinting itu selalu tiduran di sana. Dia tidak pernah pulang ke rumahnya. Dia menjadikan masjid sebagai tempat tinggal. 

“Anda tahu, anak-anak di sekitar sini tidak ada yang bekerja. Mereka selalu merepotkan orangtuanya. Hidup dari harta orangtuanya dan bergaya sesuka hatinya. Apa mereka tidak malu berbuat seperti itu?” 

Dasar sarjana songong. Aku tidak mengerti apa yang dia katakan. Sepertinya, penjual narkoba ini tidak sadar kalau dirinya juga menyusahkan orang tuanya. Lihat saja kuliahnya, dia harus menyelesaikannya dalam waktu 7 tahun. Belum lagi, setiap semester usai, dia selalu dipanggil dekan karena terlibat kasus peredaran obat-obatan terlarang. 

Aku pernah memergoki Sagiman membawa kotak amal ke dalam rumahnya. Dengan cekatan, dia membuka gembok kotak amal tanpa menggunakan alat. Aku merasa, ada kekuatan gaib yang membantunya berbuat kejahatan. 

Setelah membuka gembok dan menguras isinya, dia mengembalikan gembok seperti semula. Lalu, diam-diam dia mengembalikan kotak amal itu ke tempat semula. Tentunya, ketika orang-orang sibuk dengan dunianya. 

Sepertinya, setan dan Sagiman sudah bekerja sama dalam waktu yang lama. Mereka sudah tahu cara yang paling ampuh membobol kotak amal tanpa ketahuan dan membukanya tanpa ada kerusakan dan jejak. Persis seperti seorang profesional yang melakukan aksinya tanpa ada kecacatan sedikitpun. 

Pengurus masjid tentu bingung dengan peristiwa ini. Uang di kotak tidak ada, namun kotak amal masih utuh dan tidak mengalami kerusakan. Mereka saling pandang dan saling menyalahkan. Seorang di antaranya menuduh yang lain bahwa ada yang mencuri kunci dengan sembunyi-sembunyi. Lalu, membawanya hingga beberapa hari. Setelah itu, aksi dijalankan saat situasi lengang dan tidak ada orang. 

Sagiman tertawa terbahak-bahak mendengar ceritaku. Semua saling kebingungan lantaran uang di masjid selalu hilang. Sedangkan, tidak ada yang tahu hilangnya uang itu. Kecuali Sagiman sendiri. 

Sekarang dia sedang memanjakan setan yang membantunya melakukan aksi tercela itu. Tanpa peduli pengurus masjid yang saling menyalahkan akibat hilangnya uang yang ada di kotak amal. 

Sagiman selalu muncul di saat siang. Dengan menenteng tas layaknya seorang kantoran, dia memasuki masjid untuk berbaring di sana. Tak ada hal yang mencurigakan pada diri Sagiman. Semuanya tampak baik-baik saja. Prinsip air tenang menghanyutkan selalu dipakainya dalam setiap kehidupan. 

Sagiman tidak punya pacar. Setiap perempuan yang didekatinya selalu menghindar. Sugiman bau. Tidak bisa berpenampilan rapi layaknya pemuda keren masa kini. Rambutnya awut-awutan, membuat siapapun tidak kerasan berada di dekatnya. 

Sagiman tidak pernah berbicara dengan orang lan kecuali denganku. Baginya, orang lain adalah hantu. Tidak terlihat, namun bisa dirasakan keberadaannya. Sagiman takut hantu. Makanya, setiap bertemu orang, dia selalu menghindar. 

Aku mengetahui kebiasaan tetap Sagiman yang selalu pergi ke masjid tiap tengah hari. Tidak ada aktivitas lain selama di dalam masjid selain tiduran. Aku berpikir, kasur Sagiman terbakar karena kebiasaannya merokok di tempat tidur. Jika di dalam masjid hanya tiduran, lalu kenapa di saat malam tidak pernah pergi ke masjid? 

Sagiman pernah didatangi dua orang malaikat. Dia menyebutnya demikian, karena wajah dua makhluk itu bercahaya, sehingga menyilaukan penglihatannya. Lalu, dia menyamakan dua makhluk itu dengan makhluk pembawa godam yang sering ditayangkan dalam film drama televisi. 

Sagiman ketakutan. Dia belum pernah bertemu lelaki macam itu. Membawa godam dengan wajah menyeramkan. Malaikat memberi kabar bahwa Sagiman akan dibawa ke langit untuk diadili. Kedoknya tiduran di masjid untuk mencuri kotak amal telah diketahui oleh malaikat yang merupakan suruhan Tuhan. Bukankah masjid adalah rumah Tuhan? 

Malaikat itu membawa kotak amal masjid sebagai barang bukti untuk diserahkan kepada Tuhan. Lalu memerintahkan kepada dua orang berjubah hitam dan wajahnya bercahaya untuk memukul dan menyiksa Sagiman menggunakan godam berkali-kali. 

Kali ini Sagiman tidak bisa tertawa dan nyalinya mulai ciut. Ternyata, pembalasan terhadap seluruh amal memang nyata. Kebetulan, Sagiman tertangkap malaikat saat menenteng kotak amal bersama setan yang menguntitnya dari belakang. 

Ke mana setan itu? Sagiman bercerita kepada malaikat bahwa setan lari terbirit-birit saat dirinya tertangkap oleh malaikat. Setan sudah tahu bahwa dirinya juga bakal terseret dalam kasus pencurian kotak amal. 

“Setan itu berwujud manusia. Aku hanya disuruh untuk mengambil kotak amal. Hasilnya dibagi dua. Aku hanya mendapat bagian kecil dari uang yang ada di dalamnya.” 

“Kalau begitu. Ayo tunjukkan di mana setan itu berada. Kau sangat senang jika setan itu tinggal bersamamu di neraka, iya kan?” 

Sagiman mengangguk. Dia tidak ingin tinggal di neraka sendirian. Dia membutuhkan seorang teman. Hidup menyendiri tidak mengenakkan, apalagi di neraka yang panasnya sanggup membakar tubuh hanya dalam waktu hitungan detik. Belum lagi hantaman godam dari malaikat tadi yang tiada habisnya, membuat Sagiman kesakitan dan tidak kuat menahan siksaan. 

Kedua malaikat turun ke bumi bersama Sagiman yang tiada henti memohon untuk dilepaskan. Tibalah ketiganya di sebuah rumah megah yang ada di ujung gang sempit Perumahan Cendana. Segera saja Sagiman memasuki rumah tanpa permisi. Setelah itu, dia keluar dengan membawa seorang lelaki paro baya yang sedang mengenakan baju tidur. 

Malaikat langsung memegang tangan lelaki itu dan membawanya pergi menuju suatu tempat. Di sana terdapat anjing dan seriggala yang siap menghabisi tubuh lelaki itu—yang belakangan diketahui sebagai suruhanku. Lelaki itu menyebut bahwa aksi pencurian kotak amal diotaki oleh diriku. Malaikat tidak percaya, karena mereka mengenalku rajin ke masjid. 

Tak lama setelah kejadian itu, seluruh warga bumi gempar mendengar kabar bahwa aku disiksa oleh malaikat. Mereka tidak menyangka bahwa seorang ketua pengurus masjid menjadi otak pencurian kotak amal. Tidak pernah terlintas di benak mereka kalau orang yang telah dipercaya mengurus masjid, malah berbuat layaknya setan yang haus akan harta dan kemewahan 

*** 
DI tempat lain, aku menahan sakit akibat luka lebam yang diakibatkan dari pukulan dan hantaman benda tumpul warga karena tepergok menenteng kotak amal masjid. Aku tidak pernah menyangka kalau perbuatan jahat yang telah tersusun secara rapi akan ketahuan juga pada saatnya. 

Oleh: Angga Eko Ardianto, tinggal di Probolinggo, anggaekoardianto07@yahoo.com 

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Angga Eko Ardianto
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Radar Bromo" edisi Minggu, 6 Mei 2018 

0 Response to "Pencuri Kotak Amal"