Ruing - Di Bukit Banjaran selepas Hujan - Asap - Gaok - Pagi Kesekian - Tepi Jalan | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu

Untuk Arsip Selanjutnya, Sila Klik Tautan Laman www.klipingsastra.com/ID

Ruing - Di Bukit Banjaran selepas Hujan - Asap - Gaok - Pagi Kesekian - Tepi Jalan Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 02:30 Rating: 4,5

Ruing - Di Bukit Banjaran selepas Hujan - Asap - Gaok - Pagi Kesekian - Tepi Jalan

Ruing

Malam mewariskan kata-kata
Kisah pariwara berlalu-lalang
Jualan mimpi berulang-ulang
Di ruang televisi dan nyalak gawai
Menjadi kitab suci pemuja syahwat

Sunyi tempatmu meracik puisi
Berlari menepi tak bermuara
Terhempas laku muslihat manusia

Kaki Gunung Slamet, Purbalingga 2018

Di Bukit Banjaran selepas Hujan

Aku menemukanmu. Terkulai. Suatu pagi. Di labirinmembusuk. Selepas hujan. Di bukit sampah. Di jantungBanjaran. Menggoreng otak. Membasuh mata. Nanarberpayung sendu. Mengingat pada suatu janji.Memuntah dari mulut-mulut yang merasa sakti. Tentangbahagia dan sejahtera. Di koreng kulitmu tumbuh sejutaimplisit. Ketidakberdayaan.  Keterpaksaan. Bulan takpernah berhenti berlari. Matari mati lahir mati dan lahirlagi. Sampah orang-orang kota megalomaniak terussaja menggunung. Kau yang terkepung aroma surga.Seperti halimun. Diam-diam membunuhmu. Lalu kauyang meronta. Mungkin bisa didiamkan dengan sarapanjanji-janji manis lagi?

Kaki Gunung Slamet, Purbalingga, 2018

Asap

Aku curiga. Kau itu yang pernah datang. Lewat renyahasap ban bekas yang terbakar. Aromanya lezat mem-bakar hasrat. Mengetuk daun malam. Kaca nako berde-bu tebal. Saat pohonan terkulai di kursi malas. Tik tok.Kukira peri tidur bersayap duri. Nongol clingak-clingukbagai kepala burung onta. Membawa segenggam api.Menjadi pelita di gelap gelora. Aku yang terjaga. Klik.Kucoba membuka pintu buruk. Dengan kunci doa yangtelah patah oleh samirana yang purba. Mengajakmumasuk ke bait rumbia. Kau aku duduk berhadapan.Mengeja putaran bola matamu. Pesan samsara yangmenyalak penuh dendam. Ngengat dan lalat berkelin-dan di labirin tatapmu. Kriyip-kriyip berkedip sepertilampu lalu lintas. Menggoda mengajak dansa. Laikpenyanyi koplo meratap saweran. Aku berharap kupu-kupu yang lahir di lapang hidungmu. Hidung yang ter-bakar sambal bakso pojok pasar hewan. Kembang kempis menjadi sayap yang rapuh. Terbang dan meluncur.Bagai dahak beraroma serapah yang kau lempar darimulutmu. Terbang bagai salju yang  kau goyang darikelam rambutmu. Oh. Minumlah dengan kegetiranbunga. Biar luruh segala kolesterol di otakmu. Dan masalalu tentangku. Yang pernah kau catat di kelopakberkarat kulitmu, gugur ke haribaan tanah.

Kaki Gunung Slamet, Purbalingga 2018

Gaok

Membelah pagi
Pesawat memburu langit
Matamu nakal berkeliaran
Anak ayam beraroma wortel

Kaki Gunung Slamet, Purbalingga 2018

Pagi Kesekian

Pada gugur kelopak mawar
Embun lupa menitip salam
Pada tangkainya yang letih

Kaki Gunung Slamet, Purbalingga 2018

Tepi Jalan

Lalu aku bersembunyi
Di penyok gelas plastik
Jahanamnya perburuan
Menggilas waktu dan pilu

Roda selalu bergeming
Aroma asap knalpot
Mengirim tanda pada telinga
: Lahir dan berlari lagi !

Kaki Gunung Slamet, Purbalingga 2018

Ryan Rachman, tinggal di kaki Gunung Slamet Purbalingga, bergiat di Komunitas Teater dan Sastra Perwira (Katasapa) Purbalingga. (44)

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Ryan Rachman
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Suara Merdeka" edisi Minggu 20 Mei 2018

0 Response to "Ruing - Di Bukit Banjaran selepas Hujan - Asap - Gaok - Pagi Kesekian - Tepi Jalan"