Sebentar | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Sebentar Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 17:06 Rating: 4,5

Sebentar

"KITA makan yuk!" ajak Pranast pada Fenita siang itu. Setelah mengerjakan tugas yang cukup banyak, rasa lapar benar-benar menggoda. Dan seperti biasa, setiap selesai mengerjakan tugas, maka mereka pasti akan mencari makan, pelampiasan untuk rasa capek mereka.

Pranast dan Fenita memang sudah lama bersahabat akrab, sehingga kalaupun mengajak keluar, itu bukanlah sebuah kencan. Hanya sekadar melepaskan diri dari kungkungan rutinitas. Namun dari keakraban mereka banyak yang mengira mereka mempunyai hubungan lebih dari sekedar teman. Tapi mereka sendiri tak terlalu mempermasalahkannya. Yang penting mereka enjoy, itu sudah cukup buat mereka.

"Ke mana?" tanya Fenita sambil menyilangkan tas kecilnya seperti biasa yang tak pernah ketinggalan. Salah satu ciri khas Fenita adalah selalu membawa tas kecil dan menyelempangkannya tas itu di samping badannya.

"Tuh, ada kafe baru. Kita coba, yuk!"

Suasana kafe sungguh syahdu. Memang tak terlalu ramai, mungkin karena baru buka hari ini, sehingga belum banyak yang tahu tentang kafe itu. Setelah mereka duduk, seorang pelayan mendekat dan menawarkan menu pada mereka.

Tanpa malu-malu, Fenita langsung memesan makanan dan minuman tanpa mempedulikan Pranast mau pesan apa. Kalau dilihat pilihan menu Fenita tentu semua tahu kalau itu semua tidak bisa membuatnya gendut. Tapi dia tidak peduli. Pranast pun tak pernah punya keinginan untuk melarang gadis di hadapannya itu makan apapun yang dia inginkan. Gendut tidak apa-apa yang penting imut. Daripada kurus tak terurus. Dan karena gemuk itulah Fenita tampak manis. Dan satu lagi meskipun gendut, Fenita tetap menjadi cewek yang lincah dan rajin. 

"Eh, Pran. Sebentar ya. Mau ke toilet dulu, nih!" kata Fenita sebelum meninggalkan mejanya. Tanpa menunggu jawaban dari Pranast, Fenita langsung masuk pergi saja. Tapi Pranast cuek saja. Yah, mungkin dia menerapkan sistem pengerti pada cewek juga.

Pranast masih menunggu. Dia baru akan makan kalau Fenita sudah siap di hadapannya.

Lima menit... sepuluh menit Fenita tidak muncul-muncul.

Lima belas menit... Pranast mulai cemas sekaligus kesal. Akhirnya memutuskan bangkit dan mencari Fenita. Dan tepat pada saat yang bersamaan, Fenita muncul terburu-buru.

"Dari mana saja, sih? Bikin khawatir saja." Pranast langsung mengomel-ngomel. 

"Maaf, tadi ketemu teman." Fenita bertampang polos. "Jadi tadi khawatir ya? Eheemmm...." Fenita justru menggoda Pranast sehingga Pranast urung marah.

San seperti biasa Pranast tidak akan pernah tega marah pada Fenita terlalu lama. Segera dia mengajak Fenita makan dan suasana pun secair seperti biasa. 

Hari Minggu yang cerah, Pranast mengajak Fenita jalan-jalan ke taman kota. Suasana di taman mampu membuat suasana hati adem ayem dan tenang.

"Eh, Fen... sebentar ya.. aku mau beli minum dulu, ya." Pranast beranjak setelah melihat Fenita mengangguk.

Dengan tenang Fenita menunggu sambil menonton anak-anak kecil yang bermain otopet tak jauh darinya.

Lima menit... sepuluh menit... Pranast tak muncul-muncul juga. Dua puluh menit.... masih tak ada tanda-tanda Pranast akan muncul.

Hampir satu jam Fenita menunggu. Tapi Pranast tak muncul-muncul juga. Rupanya waktu sebentarnya Pranast, berbeda dengan waktu sebentarnya Fenita.

Merasa sia-sia menunggu Pranast yang tak muncul-muncul, akhirnya Fenita memutuskan pulang. Dengan kesal, Fenita berjalan pulang.

Sesampai di rumah, Fenita langsung menjatuhkan dirinya di bangku panjang di teras. Dan tak lama kemudian, diapun tertidur, sekadar melupakan kekesalannya.

"Hei... hei... bangun!" Tiba-tiba Fenita dikagetkan goncangan di tubuhnya.

"Uhhhmmm... apa, sih?" Fenita tampak kesal. Rupanya Pranast yang membangunkannya.

"Ngapain kamu tidur di sini Nyamuk banyak tahu! Nanti kamu jadi santapan lezat nyamuk-nyamuk lho!" goda Pranast.

"Huh! Nunggu kamu itu lho. Kamu saja yang nggak pengertian." Fenita ngomel-ngomel.

"Nunggu aku? Ngapain nunggu aku? Emang kita janjian ya?" Pranast justru bengong. Fenita langsung melotot. Kok, bisa Pranast bicara seperti itu, seolah tanpa dosa?

"Oh, jadi kamu lupa? Kamu suruh aku nunggu di taman. Tapi kamu tidak balik-balik juga. Ke mana kamu?" Fenita makin dongkol.

"Lho, emang aku suruh kamu nunggu? Kan aku cuma bilang sebentar. Bukan suruh kamu nunggu. Tapi ternyata kamu nunggu, ya?" Pranast masih berlagak tanpa dosa.

"Hah??? Jadi kamu suruh aku nunggu tapi kamu nggak balik?"

"Ya, aku langsung pulang aja, kupikir kamu juga pasti kalau capek akan pulang juga," jawab Pranast ringan.

"Jadi????? Praaaaaannnnn!!!!" Fenita pengin mencubit Pranast dan tak melepaskan cubitannya. Tapi rupanya Pranast sudah siap menghindar.

"Sebentar, ya!" Pranast langsung ngeloyor pergi. 


Feryy Lorena Yanni 
Bimbel Gladika Salatiga

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Fery Lorena Yanni
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Minggu Pagi" edisi Minggu, 29 April 2018 

0 Response to "Sebentar "