Sebuah Tanda | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu

Untuk Arsip Selanjutnya, Sila Klik Tautan Laman www.klipingsastra.com/ID

Sebuah Tanda Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 08:35 Rating: 4,5

Sebuah Tanda

BAGAIMANA perasaanmu jika kau ditumbuhkan oleh cerita-cerita tentang kebiadaban ayahmu? Ya, aku dibesarkan oleh kisah-kisah itu. Orang-orang selalu berkata setiap melihatku, ”ayahmu teroris. Dia mati meledakkan diri di keramaian orang yang tak berdosa.” 

Jangan tanya, bagaimana bentuk hatiku setelah bertahun-tahun tumbuh dengan cerita-cerita itu? Anak teroris! Label itu melekat di keningku. Ini seperti kutukan yang tiada akhir. Bila ada kesempatan memilih, aku tak pernah mau dilahirkan sebagai anak teroris. Bahkan jika aku punya lampu ajaib Aladdin dan diberi satu kesempatan meminta, aku pasti meminta untuk lenyap dari dunia ini. 

Aku bertanya-tanya pada diriku sendiri, ”Apakah ayahku pernah sekali pun memikirkan tentang hidup orang-orang di sekitarnya atas pilihan jalan yang dia ambil?” 

Saat ayahku memilih jalan yang dia yakini akan membawanya ke surga sampai detik ini aku tidak pernah paham, apakah surga sesempit itu sehingga ayahku begitu bergegas untuk menjemputnya?óempat belas tahun lalu, aku baru berumur sepuluh tahun, sedikit banyak aku punya kenangan dengan ayah, yang walau setelah kuingat dengan pasti, aku hanya memiliki sedikit kenangan manis dengannya. Salah satu kenangan manis itu adalah ketika ayah memboncengku untuk pergi latihan sepakbola, dia sempat bertanya padaku, ”bila besar, kau ingin jadi apa?” 

Aku serta merta menjawab, ”jadi tentara, Yah.” 

Seketika ayah mengerem motor secara mendadak, aku yang terkejut dan tak siap menabrak tubuh ayah. Untungnya aku tak terjatuh. 

”Ada apa, Yah?” aku menduga kami hampir saja menabrak sesuatu. Namun tak ada apa pun di depan kami. 

”Kenapa kau ingin jadi tentara?” suara ayah terdengar bergetar, aku bahkan juga bisa melihat jari jemarinya yang mencengkram rem sepeda motor, gemetar. 

”Biar bisa menjaga negara,” jawabku riang, ”juga menjaga ayah dan ibu.” 

”Jangan,” suara ayah masih bergetar, aku dapat merasakannya. 

”Kenapa, Yah?” seketika aku kebingungan. 

”Pokoknya jangan,” ayah tak memberiku kesempatan untuk bertanya lagi, dia menyalakan motor dan aku memeluk pinggangnya erat sekali. Itu kenangan terakhirku di bonceng ayah. 

*** 
JANGAN kau tanya, bagaimana perasaanku yang hidup dan terus menghirup napas di antara cerita orang-orang tentang ayahku yang biadab? Jangan pula kau bertanya, apa kau membenci ayahmu? 

Ya, aku membencinya. Aku tumbuh dan besar dalam kebencian yang mengakar dan perlahan menggerogoti jiwaku. Aku benci dipanggil anak teroris, aku benci mendengar cerita tentang kebiadaban ayahku. Namun aku tak bisa terus menerus berdusta dan menganggap omongan orang-orang itu hanyalah dongeng semata. Aku harus mengakuinya walau sakit; ayahku memang salah. Dia memilih sesuatu yang salah. Dan kesalahannya telah membuatku menderita. 

Aku belajar untuk menerima kenyataan itu. Tersisih dan dijauhi teman-teman karena ayahku seorang teroris. Aku bahkan harus mengubur dalam-dalam impianku menjadi tentara, karena ayahku membubuhkan cap di keningku; anak teroris! Mana ada peluang untuk anak seorang teroris menjaga negara. Jadi, sudah sepatutnya aku membenci ayahku, kan? Aku tidak salah, bukan? Ayahku yang salah. Dia telah meninggalkan tanda dalam hidupku. Tanda yang tak akan bisa kuhapus walau aku mengerat dagingnya hingga mengelupas dan darah memburai. Tanda itu tak akan pernah hilang, apa pun yang telah kulakukan, tak akan ada gunanya. 

Semakin hari, dadaku terasa semakin sakit. Mungkin sebenarnya ayahku sudah menanam juga sebuah bom waktu di antara tulang igaku. Bom yang seiring tahun-tahun melangkah, akan terus berdetak dan pada akhirnya meledak, menghancurkan diriku sendiri. 

Aku hidup dalam kebencian. Dan ayahku yang menyemai serta membesarkan kebencian itu. Oh, Tuhan. Bahkan setelah dia mati bertahun-tahun, aku tetap tak bisa lepas dari kebencian yang menggerogoti jiwanya. Mungkin ayahku saat ini yang menurut keyakinannya dia berada di surga, tapi menurutku lebih pantas di neraka tengah menikmati keputusasaanku yang telah dia sebar di belakangnya. Aku tak tahu, ke mana lagi aku harus berlari, menyembuhkan kebencian dan menghapus tanda warisan dari ayahku ini.

*** 
LAKI-LAKI itu tersentak ketika aku berkata, jika aku adalah putra dari seseorang yang telah merenggut kedua kakinya empat belas tahun silam. Air wajahnya berubah, aku sudah menduganya. Aku sudah terbiasa menghadapi hal seperti ini. Namun perubahan itu hanya sebentar, dia tersenyum. 

”Bukan ayahmu yang merenggut kedua kakiku, tapi Tuhan telah mengambilnya kembali. Karena kedua kaki itu hanya titipan Tuhan. Dia berhak mengambilnya kapan saja.” 

Aku tersentak, ”tapi bom yang diledakkan ayahku yang....” 

”Ayahmu hanya perantara takdir. Bila Tuhan sudah berkehendak, kita bisa apa?” 

”Bapak tidak marah pada ayahku?” 

”Marah?” dia tertawa renyah, ”kemarahan hanya akan melumat kita pelan-pelan. Memaafkan akan membuat kita lebih bahagia.” 

Lalu dia pergi. Dan tanda yang diwariskan ayahku tetap saja melekat di kening dan dadaku. 

Pali, 2018. 

*) Guntur Alam,buku kumpulan cerpen gotiknya Magi Perempuan dan Malam Kunangkunang, Gramedia Pustaka Utama, 2015. Saat ini menetap di Pali.



Rujukan:
[1] Disalin dari karya Guntur Alam
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Kedaulatan Rakyat" edisi Minggu, 27 Mei 2018  

0 Response to "Sebuah Tanda"