Selendang Bidadari Turun Mandi | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu

Untuk Arsip Selanjutnya, Sila Klik Tautan Laman www.klipingsastra.com/ID

Selendang Bidadari Turun Mandi Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 18:11 Rating: 4,5

Selendang Bidadari Turun Mandi

Gerimis menyerpih dari pelepah kelapa tepi jalan menuju puncak Bukit Bulupitu. Langit barat memancar sinar matahari, mencipta pelangi di langit timur. Melengkung setengah lingkaran. Satu kaki pelangi tepat di puncak bukit

SAYA melewati rel kereta tanpa palang, bertulis di kayu silang: awas kereta, satu sepur. Setengah berlari saya menuju puncak bukit, sebelum matahari turun. Mengintip dari balik semak, mau mencuri selendang bidadari turun mandi.

“Dewi Nawangwulan cantik molek penuh pesona. Hidung mancung pipi halus. Bibir kemerahan. Kerlingnya mampu menghentikan napas laki-laki. Pinggang ramping, pinggul sedikit lebar. Paha dan betis memanjang. Turun dari langit, persis di kolam taman sari.”

Mbah Putri mengisahkan pada senja gerimis. Saya bergegas melompati batu-batu jalan. Melintasi perkebunan singkong dan mangga. Menyusup ke semak pagar kolam.

Ah, mentari meredup. Kaki pelangi lenyap, tinggal seleret di puncak, para bidadari kembali ke langit. Senja meremang. Aroma kemuning menguar di hutan kecil. Azan magrib dari masjid di pinggang bukit. Laron mulai beterbangan. Katak melompat ke kolam hening.

Plung.

***
Kereta senja melintas, suaranya menderu. Peluit melengking. Bus terakhir melaju malas terbatuk. Penggiring melecutkan cambuk, sapi-sapi melangkah gontai menuju pasar hewan. Saya singgah di warung tempat menitip sepeda unta peninggalan Mbah Kakung. Menikmati teh poci, getuk goreng aroma bawang, serta randabalen dari kethek atau blendo.

“Sebaiknya Mas menginap,” kata pemilik warung. “Tujuli tahun lalu, gadis cantik pantai berziarah menginap. Kini sudah berhasil jadi anggota DPRD.”

Di puncak Bukit Bulupitu terdapat pesanggrahan dan makam keramat, dinaungi cungkup besar merah berornamen keemasan. Di kaki makam bisa untuk tidur atau menyepi. Para calon lurah serta tim sukses sering menyepi bersama. Bermalam-malam.

Para calon kepala desa, anggota DPRD, camat, hingga bupati, di bagian selatan Jawa Tengah, sudah akrab pada tempat ziarah Bulupitu. Tapi, peziarah umumnya mengalap berkah rezeki, kekayaan, jabatan, atau naik pangkat. Bukan minta selendang bidadari turun mandi.

Saya tiba di rumah agak malam. Mbah Putri masih duduk luwes di risban kayu jati model lama, mengenakan kebaya batik krem berkutubaru, berkain batik pola sidaluhur. Cantik ayu memancar dari batin, lewat gurat-gurat wajah dan sebagian rambut memutih.

“Ziarahi makam para bupati Arungbinang di Kuwarisan, persis seberang utara Stasiun Kutowinangun. Tanya ke kuncen dulu, kapan waktu tepatnya.”

Duh.

***
Saya berpuasa membersihkan diri, mencuci batin dari berbagai nafsu. Lapar haus terlatih sejak kecil hidup susah. Namun, sulit menahan emosi dan pikiran. Adik-adik sudah menikah melangkahi saya. Ayah-ibu paman-bibi mendesak, tak tahu mencari jodoh itu susah.

Mbah Putri memanggil saya pulang ke desa untuk melakoni prasyarat lama.

“Kau boleh sepuas hati menjalin hubungan dengan para perempuan mana pun. Mbah hanya berpesan cara kampung. Kalau cari istri, pilih masak-masak, karena istrimu jadi ibu anak-anakmu. Kelak sebagai kakak ipar adik-adikmu dan bude para keponakanmu. Melihat perempuan jangan dari dedeg piyadeg dan bleger luar. Lihatlah ke dalam.”

“Caranya, Mbah?”

“Curilah selendang bidadari turun mandi. Tunggu saat mentari menjelang surup. Para bidadari cantik meniti lengkung pelangi, turun mandi di kolam bening.”

Saya mesti menyepi di pesanggrahan Bulupitu serta di makam para bupati Arungbinang di Kuwarisan, Kutowinangun. Selanjutnya, bergantung titah Mbah Putri lagi.

Siaaap

***
Lantai ubin makam dingin senyap. Malam disuarai serangga dan cicak. Desau angin dari belukar sekitar dan pohon kepuh tua. Juru kunci menggumamkan doa panjang, kami mengamini. Ya, kami. Saya berdua gadis berambut panjang yang mendaki usai magrib.

“Silakan Nakmas dan Nakayu menyampaikan hajat kalian, dalam batin saja. Saya sudah mengulang doa pembuka pintu, selanjutnya kalian memohon sendiri.”

Saya menunduk. Ternyata susah terarah pada tujuan mencuri selendang bidadari turun mandi. Makam besar cungkup tinggi, membuat pikiran berkeliaran. Risau pula oleh sosok gadis di sisi saya, hanya berjarak semeter.

“Mbak.”

Menoleh sekilas. Menunduk lagi. Hidung bangir, dahi jenong, berwajah oval pipi agak tembem. Bibir tipis, terkatup. Badan ramping membungkuk, payudara menunduk. Tertutup baju batik coklat, dan selendang! Klasik, gabungan motif sidamukti dan sekar jagat.

Angin dingin menyapu cungkup tak berdinding. Tercium aroma melati, terhirup hingga paru. Aroma cempaka membuat saya mengantuk berat. Leher tertekuk. Menggeser ke sudut nisan besar, menyandar ke tiang. Tak kuat bersila, saya selonjor.

“Maaf.”

Gadis tak bereaksi. Ujung jempol kaki saya dekat pinggul membulat berbalut kain. Aroma cempaka makin berat. Wangi melati mengalasi lantai ubin dingin, saya terpapar dan rebah. Saya menyerah pada sirep aroma kembang, rubuh miring memeluk kaki nisan dingin.

Gadis itu menggeser pinggul bulat, memandang saya. Senyum hangat, mengembang sudut naik, gigi rapi. Mengangkat dada membusung, pinggang ramping. Jemari lentik lembut meraba jemari dan telapak kaki saya. Memandang dalam tatap teduh ramah, anggun ayu.

“Aku Dewi Nawangsih, putri bidadari Dewi Nawangwulan. Ibuku sudah terbang ke langit biru lewat titian pelangi setelah menemukan selendangnya di bawah tumpukan padi di lumbung. Ayahku perwira perkasa yang menurunkan para bupati di perdikan Kebumen. Makamku di depanmu, yang kau peluk ini. Bangunlah, pulanglah.”

Saya tidak mampu bergerak. Tenggorokan tercekat. Tubuh remuk, kaki kaku. Lengan lunglai. Dewi Nawangsih bangkit. Sosok tinggi, dagu meruncing. Jemarinya mengusap wajah saya, lembut. Saya ingin merengkuh, memeluk erat tubuhnya, menarik selendang! Saya tak bisa bergerak. Pelan ia masuk menembus batu nisan, betis sempat tersentuh jari tangan saya.

Nyesss.

***
Deretan nisan tinggi besar terasa dingin. Waktu di Dukuh Beji, Kuwarisan, Kutowinangun, berhenti di titik nol. Gerbang hijau berornamen kuning, kepala pilar depan bentuk kuncup bunga susun tiga. Terpampang nama-nama para bupati dan keturunannya.

Saya bergeser ke makam di tengah bertutup kelambu, nisan Arungbinang 1, berjejer makam-makam para penguasa masa lalu wilayah Kebumen, subbagian Mangkubumen, Mataram. Arungbinang semula sosok muda perkasa dan santun, bernama Jaka Sangkrip.

Dapat amanah dari Mataram agar mengalahkan preman pengganggu keamanan. Berhasil menaklukkan raksasa Kumbang Ali-ali di Karangbolong. Jaka Sangkrip masih harus berjuang lagi. Lalu menikahi bidadari cantik Dewi Nawangwulan turun mandi di Bulupitu.

Senja belum turun ketika saya pulang melapor basil ziarah ke makam para bupati.

“Mbah benar,” saya sungkem dan cium tangan Mbah Putri yang putih bersih. “Kuncen mau mencarikan hari sesuai weton saya Anggoro Kasih untuk nyepi di makam.”

Keloneng bel delman terdengar nyaring diantar desau angin daun kelapa. Kuda gagah melangkah disertai suara berrr. Saya menyambut. Tercium wangi melati dan cempaka. Gadis itu bersampir selendang! Klasik unik, gabungan motif sidamukti dengan sekar jagat.

Sungkem takzim, dia sering sowan Mbah Putri. Tampilan sederhana namun berkelas. Bercelana panjang warna khaki, kaus kasual dibalut jaket tipis. Wajahnya lembut, tatapan mendebarkan. Tersenyum, tampak gigi rapi berikut lesung pipi. Ayu, manis, cantik.

“Ini cucu laki-laki tertua Mbah, sudah berkelana jauh ke semua ujung negeri.”

Tangan meletakkan telepon pintar versi terbaru. Halus dan adem. Rambut tergerai di atas pundak. Leher? Oh, jenjang serta punya daya rangsang. Ada sepasang gurat garis cukup dalam, mirip kalung, pertanda berasal dari keluarga priayi ningrat. Tutur katanya sopan.

“Maaas, datang kapan?”

“Hampir seminggu. Kangen Mbah Putri.”

“Hehe, kalian berniat sama,” sahut Mbah Putri, menyodorkan teh manis. “Sama-sama mencari jodoh. Ayo, silakan berkenalan. Semoga kalian berjodoh.”

Oo ooo. Dug-dug dug-dug.

***
“Kita ke Ambal yuk, menikmati sate ayam. Bumbunya tempe, suka Mbak?”

“Ayo, tapi pelan. Di Yogya, saya biasa bermotor kalau mengajar di kampus UGM. Tapi tak pernah dibonceng. Duduk di belakang ternyata malah takut. Pelan-pelan ya, Maaas.”

“Tenang aja. Bersama saya, Ibu Dosen aman damai sejahtera rahayu slamet lancar.”

“Ah, mulai gombal,” tawanya merajuk. “Itu nama-nama bus, kan?”

Kami berboncengan melewati jalan mulus Desa Lajer arah Desa Pucangan. Sesekali berpapasan bus besar hijau jurusan Yogyakarta-Gombong, ambil rute pantai selatan. Saya mengisahkan legenda daerah pantai Kebumen, sesekali menyelipkan rayuan.

Warung sate ayam ambal berderet di timur Pasar Ambalresmi. Di warung selatan jalan ada sop ayam panas dan bisa pesan sate ayam tanpa kulit. Saya mengamati selendang di lehernya. Inikah selendang bidadari turun mandi? Tinggal rayu baik-baik, atau minta paksa.

Kami meluncur lagi ke Desa Kedungtawon, ke Warung Asli baru. Halaman luas, berderet meja panjang. Menikmati jadah bakar, jenang, dan krasikan. Sih, nama Ibu Dosen ayu lembut berselendang dan mendebarkan ini, minta diantar berziarah ke Bukit Bulupitu.

Kami cepat sampai. Sih ragu melangkah, saya membimbing masuk ke bawah cungkup. Juru kunci terkejut melihat saya menggandeng gadis ayu lembut, namun santun menyapa kami. Juru kunci melantun doa pembuka, kami tepekur di makam besar dingin.

Matahari makin turun, masih bersinar cerah. Ada mendung di sisi timur. Muncul pelangi, satu kaki seolah tepat di pemandian taman sari. Tercium kuat wangi cempaka dan melati. Tiba-tiba Sih bangkit Tubuh bergerak lembut lentur, seolah memanjang jangkung

“Mas, namaku Nawangsih, putrinya Nawangwulan. Maaf, kita belum berjodoh, Mas.”

Aroma kemuning menguar dari hutan kecil pagar pemandian, campur wangi cempaka. Dewi Nawangsih mengibas selendang, kaki menjejak terbang cepat ke lengkung pelangi. Sih lembut tapi cekatan, melesat di lengkung pelangi, untuk pulang kembali ke langit tinggi

Saya diam mematung memandang Sih. Terkesima. Azan magrib berkumandang dari masjid di pinggang perbukitan. Laron mulai beterbangan. Katak melompat ke kolam hening.

Plung.


Prasetyohadi, lahir di Kebumen, Jawa Tengah, 2 November 1954. Sehari-hari pemimpin redaksi majalah komunitas Kicau Bintaro, dan dosen Public Relations di Stikom InterStudi, Kebayoran Baru, Jakarta. Masih setia menulis cerpen dan novelet. Pras kini kembali ke penulisan awal: menulis sajak, haiku, dan dongeng lagi.

I Made Somadita, lahir di Tabanan, Bali, 1982. Menempuh pendidikan seni ISI Denpasar dan sampai kini menetap di Bali. Pernah diundang sebagai seniman residensi di NuArt Sculpture Park (Bandung), The Netherland Amsterdam (Belanda), KIAR 2014 (India), CAP Studio Chiang Mai (Thailand), dan Reuinon Island (Perancis).

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Prasetyohadi
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Koran Kompas" edisi 20 Mei 2018

0 Response to "Selendang Bidadari Turun Mandi"