Senja di Zaman Now | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Senja di Zaman Now Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 17:00 Rating: 4,5

Senja di Zaman Now

LANGIT masih  seperti  dulu.  Burung-burung masih siap berkicau merdu. Bunga pukul empat, bunga matahari masih riang bertengger diatas dahannya. Harum melati merasuk di hati.  Anggrek yang mengangguk-angguk sesekali ditiup angin sepoi kekiri dan kekanan seolah mengikuti tarian maumere. Meski suasana  alam  tetap  indah  dan  sahdu,  namun  udara panas musim pancaroba menjadikan manusia atau beberapa diantara kita menjadi sedikit bertemperamen tinggi dalam menghadapi persoalan kehidupan jaman now . 

Mila masuk rumah. Ia baru saja pulang sekolah ketika matahari sudah condong ke barat, bahkan tak jarang juga pulang malam. Alasannya, ada ekstrakurikuler, ada kerja kelompok, atau sekedar refresing di warnet, movie box atau di gedung bioskop. Macam-macam saja  alasan  mereka.  Tapi  begitulah  kenyataannya. Ayah-ibunya pun pulang menjelang matahari terbenam. Karena lalu lintas padat dan macet, sehingga harus menunggu longgarnya jalan. 

Mila meletakkan tas sekolah dan mengganti baju, telpon selulernya sudah bolak-balik berbunyi line- thung, line-thung, line-thung tak henti-hentinya memanggil minta diperhatikan yang punya. Mila diam saja  seolah  tak  menanggapi  panggilan  HP-nya. Namun  begitu  selesai  ganti  baju,  Mila  langsung bersanding dengan telponnya, memencet tuts dengan jari-jari  kedua  tangannya,  membaca  setiap  pesan yang tertulis di layar HP. Ada tugas sekolah yang dikirim via WhatsApp oleh gurunya sudah menunggu. Mila pun mulai membuat jawabannya yang harus dikirim  ditempat  yang  sama  sampai  batas  waktu pukul 00. Sementara di line ada kabar Dino terserempet motor, tak seberapa lukanya, tapi sempat di cek ke  rumah  sakit  terdekat.  Kawan-kawannya  pun memberikan empati di kolom komentar line grup. Mila pun ikut mengucapkan rasa empatinya. 

“Dino, ikut prihatin. Semoga lekas sembuh ya.” 

“Halo, Dino. Lain kali lebih hati-hati mengendarai motornya. Sekarang istirahat dulu, Din.” Kata yang lain di layar line. 

“Dino, semangat ya.” Dan masih banyak lainnya. Mila tak membaca semua tulisan di grupnya. Ia kem- bali   pada   tugas   sekolah yang   harus   segera dikumpulkan.  Apalagi Dino yang masih menjalani pera- watan tentu belum membuka HP . 

Senja  sudah  mulai  benar-benar  tenggelam  ketika Adin, kakak Mila pulang. Ia letakkan tasnya di pojok meja keluarga lalu ia mengeluarkan HP-nya, asyik dengan kiriman-kiriman grup dan  Adin sibuk memberikan komentar balasan.  Adin tak melihat Mila ada di satu meja dengannya, begitu juga Mila masih sibuk dengan tugas sekolahnya. 

Udara malam mulai terasa dingin, tapi mereka berdua belum membuka pembicaraan atau bahkan mereka tak sempat untuk bicara. Keduanya masih sibuk dengan alat komunikasinya masing-masing.  Adin sibuk mengomentari teman-teman grupnya di HP, Mila sibuk dengan tugas sekolahnya yang harus segera dikumpulkan sebelum tengah malam. Mereka kakak beradik, tapi tak bercengkrama seperti layaknya keluarga tempo dulu. Mereka  lebih  intens  bercengkrama  dengan  kawan- kawannya  yang  jauh,  bahkan  mungkin  kawan  yang teramat  jauh  tempatnya.  Mereka  bisa  sedekat  dan seakrab seperti keluarga meski jarak tempat mereka berjauhan.  Tapi  dengan  saudara  yang  dekat  justru mereka hanya bertatapan saja, bahkan jika ada keperluan  bersama  mereka  hanya  saling  kontak  lewat  HP layaknya kawan jauh. Ungkapan bahwa tempat dan jarak tak menjadikan persoalan dalam persaudaraan ternyata mungkin akan segera berubah, bahwa yang jauh akan terasa dekat dan yang dekat akan terasa jauh karena persoalan komunikasi. Bagaimana tidak, persoalan komunikasi sudah beralih pada teknologi.  Atau kita sudah diperbudaknya?    

Pagi kembali beranjak. Kesibukan kami masing-masing menata keperluan masing-masing. Mila sudah berangkat lebih awal.  Adin menunggu HPnya dicas.  Ayah-Ibu sudah siap berangkat kerja. 

“Mila, aku pinjam tasmu ya.” Tulis  Adin di WhatsApp Mila. 

“Pinjam terus. Kapan punya?” Jawab Mila di WhatsApp. 

“Nanti  aku  beli.  Sekarang  pinjam  dulu.Ok!”  balas Adin. 

“Huh, dasar tukang pinjam.” Balas Mila.  Adin pun be- rangkat dengan menenteng tas Mila ketika jarum jam sudah menunjuk angka delapan. Ia buka HPnya sebentar lalu menyimpannya di saku baju. 

“Ibu,  Adin berangkat. Hari ini ada tugas kuliah ke luar, mungkin menginap.” Pamit adin pada Ibunya lewat WhatsApp. 

“Hati-hati, nak.” Jawab Ibu Adin.  Adin pun menjawab, “ya,” lewat HP juga. Hari sudah berjalan sekian tahun tanpa terasa mereka sudah dewasa dan berkeluarga. Ayah-Ibu mereka kini sudah tak bekerja lagi dan tinggal di rumah saja. Sesekali mereka menyibukkan diri de- ngan berbagai tanaman bunga di halaman rumah yang sudah dipenuhi dengan batako. Mereka menanam bunga-bunga  didalam  pot-pot  yang  diletakkan  di  lantai batako atau digantungkan dipinggir -pinggir atap rumah yang diberi paku. 

Lama sekali ibu menggantungkan anggrek yang habis dibersihkan daun-daun keringnya. Beberapa kali ibu mencoba menaruhnya di paku yang ditancapkan diplafon  agar  anggreknya  bisa  menggantung,  tapi  gagal. Akhirnya ibu menyerah dan meletakkan pot anggrek di- dekat dinding rumah bersama adenium dan lidah mertua.  Ketika  ayah  pulang  dari  tetangga  sebelah,  Ibu menyuruhnya  memindahkan  anggrek  ke  gantungan plafon. 

Selain Ibu,  Ayah pun gemar menanam tanaman terutama  kaktus.  Beberapa  macam  kaktus  bertengger dipot-pot kecil. Sebelum senja benar-benar sempurna, ayah selalu mendagir media yang menutupi kaktus. Sesekali  Ayah menyiramnya dengan sedikit air , karena kaktus memang tidak banyak membutuhkan air seperti anggrek atau mawar yang mesti disiram pagi dan sore.    

Senja  sudah  menanjak  pergi,  ketika   Ayah-Ibu menyelesaikan bertamannya. Sebuah kabar tertulis di layar WhatsApp dan Ibu membacanya. 

“Ibu, malam ini  Adin dalam perjalanan ke rumah bersama anak-anak.” Kata  Adin. W ajah Ibu pun sum- ringah membaca pesan itu, tapi kemudian Ibu tertegun sejenak membayangkan cucu-cucunya yang tak pernah berhenti kejar-kejaran atau asyik bermain dengan gadgetnya. Mereka seakan tak mempedulikan kerinduan nenek-kakeknya yang ingin juga bercanda. Wajah Ibu pun bersungut membayangkan itu. Ibu merasa tersisih dari mereka yang hanya menyapa ketika datang dan pulang, selebihnya mereka sibuk dengan permainannya sendiri tanpa mempedulikan nenek-kakeknya.    

“Ibu, bu,” kata  Ayah mengagetkan lamunan Ibu. “Apa pesan  Adin?” kata  Ayah kepada Ibu yang masih terbawa dengan lamunannya. 

“Kenapa Ibu melamun?” kata  Ayah kembali pada Ibu. 

“Iya,  Yah. Ini baru mau saya balas WhatsApp Adin.” 

“Apa pesan  Adin?” tanya  Ayah mengulangi pertanyaannya. 

“Sebentar , Yah. Ibu jawab WhatsApp  Adin dulu ya.” Kata Ibu sambil  jari tangannya menari diatas layar HP touchscreen. Baru kemudian Ibu menjelaskan kepada Ayah, kalau  Adin malam ini sedang dalam perjalanan ke rumah.  Ayah pun terlihat senang mendengarnya, tapi sebentar kemudian diam. Lama  Ayah terdiam. Entah apa  yang  dipikirkannya.  Mungkin  seperti  apa  yang dipikirkan Ibu.  Ayah membayangkan betapa senangnya anak cucunya datang mengunjunginya. Tapi juga sedih, karena  mereka  datang  pun  asyik  dengan  gadgetnya sendiri-sendiri. Padahal,  Ayah ingin bermain berceng- krama dengan mereka.  

Senja sudah hampir terlewat, malam mulai merangsek masuk dari celah-celah jendela dan  menanjak semakin jauh menenggelamkan pikiran Ayah-Ibu yang menunggu kedatangan anak-cucunya. T api yang ditung- gu belum juga datang. Ayah-Ibu pun terlelap dalam guratan cahaya bulan.  ❑-g 

Yogyakarta, 2018

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Ulfatin Ch
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Kedaulatan Rakyat" edisi Minggu, 29 April 2018 

0 Response to "Senja di Zaman Now"