Sujiwa Minggat | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu

Untuk Arsip Selanjutnya, Sila Klik Tautan Laman www.klipingsastra.com/ID

Sujiwa Minggat Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 14:00 Rating: 4,5

Sujiwa Minggat

DEN Reksa Winangun, guru sekolah dasar di desa Kebon Dalem. Sebagai guru, ia sangat dihormati. Ia juga dikenal sebagai seorang yang sangat disiplin dan berpenampilan rapi.

Ajining diri seka lathi, ajining raga seka busana. Ia percaya pepatah Jawa yang mengajarkan betapa penting sopan santun dalam bertingkah laku dan bicara. Juga tentang kerapian berbusana. Baju putih lengan panjang selalu ia masukkan dalam celana warna hitam. Sepatu tersemir bersih. Tas kulit warna coklat ia gantungkan pada palang sepeda bermerek. Rambutnya telah memutih, mengingatkan tokoh Sayuti Melik ppada zaman Soekarno.

Tiap pagi Den Reksa berangkat mengajar. Ia kayuh sepedanya melewati jalan-jalan desa. Pemandangan indah di kiri kanan jalan. Sawah membentang luas dengan bulir-bulir padi yang menguning. Sejauh mata memandang tampak hamparan luas seperti karpet menyelimuti sawah-sawah pada petani.

"Umar Bakri, Umar Bakri, pegawai negeri. Umar Bakri, Umar Bakri, empat puluh tahun mengabdi, jadi guru jujur berbakti memang makan hati." Lagu karya Iwan Fals di tahun 80-an, cocok dengan karakter Den Reksa dalam kesehariannya.

Sebagai guru, Den Reksa ingin anak-anaknya menjadi pegawai. ia tidak ingin anak-anaknya kelak tidak sekolah dan tinggal di desa sebagai pengggarap sawah. Maka anak-anak ia sekolahkan di kota dan tinggal di asrama. "Anak-anakku harus sekolah, lulus, dan bisa menjadi pegawai!" gumamnya.

"Anak kita yang pertama, Sujiwa telah menjadi pegawai pemerintahan di kota. Semoga adik-adiknya akan menyusul mengikuti jejak sepertinya kakaknya, ya Bu!" kata Den Raksa kepada istrinya Lastri dengan bangga. Lastri lulusan SMK jurusan boga itu mengiyakan dan ikut bangga terhadap anak pertamanya.

Sudah setahun Sujiwa bekerja sebagai pegawai di pemerintahan kabupaten. Bagi keluarga Den Reksa, anak-anak bisa bersekolah dan bekerja adalah kebanggaan. Anaknya bisa menjadi pegawai negeri akan menambah nilai dan derajat bagi keluarga besarnya. Tunggak jarak mrajak tunggak jati mati, menjadi pegangan sekaligus peringatan dalam hidup. Orang berketurunan ningrat harus bisa berjuang mencapai cita-citanya dan sukses dalam hidupnya. Jangan malah mati, kalah dengan tunggak jarak mranjak. Itu telah menjadi prinsip Den Reksa yang selalu memacu tekadnya dalam hidup di masyarakat.

***
AKHIR-AKHIR ini Sujiwa selalu berada di rumah. Sebulan, dua bulan, tiga bulan, Den Reksa menahan diri. Tapi ketika Sujiwa sudah empat bulan tinggal di rumah, Den Reksa tidak kuat menahan perasaan. Dari isterinya ia telah mendengar bahwa Sujiwa telah keluar dari pekerjaannya di kota. Sujiwa telah memutuskan lebih suka mengolah sawah di desa daripada menjadi pegawai di kota. Di desa ia telah bergaul akrab dengan pemuda-pemuda sekitar. Bahkan ia telah menjadi staf keamanan dan sering bertugas di kantor kelurahan.

Den Reksa merasa gagal dalam mendidik. Anak pertamanya pulang ke dewa menjadi pengangguran, tidak seperti harapannya. Perasaannya gemas, jengkel, marah, mendera dirinya dari hari ke hari.

Menjelang malam, di ruang tamu Den Reksa memanggil Sujiwa. Mereka duduk berhadap-hadapan di kursi rotan dengan suasana tegang.

"Tahu kenapa Bapak panggil?"

"Tidak tahu!"

"Beberapa bulan ini kamu bertani menggarap sawah. Itu sawah siapa?"

"Milik Bapak!"

"Hasil sawah kampu pakai untuk siapa?"

"Untuk saya, Pak! Akan saya pakai untuk melanjutkan kuliah!"

"Adikmu banyak, masih perlu biaya. Kalau hasil sawah hhanya untuk kamu, adik-adikmu makan apa?"

"Makan dari hasil sawah lain yang Bapak garap. Lagipula Bapak kan masih punya gaji tiap bulan sebagai guru?"

"Dulu kamu sudah jadi pegawai di kota. Bapak bangga. Kenapa keluar dan pulang ke desa? Kamu menjadi penganggur di desa apa tidak malu?"

"Kan saya membantu pekerjaan Bapak!"

"Lalu ilmumu selama sekolah di kota untuk apa?"

"Ya untuk menambah ilmu pengetahuan, Pak!"

"Apa? Hanya untuk menambah pengetahuan? Kamu tidak punya cita-cita dalam hidup! Adikmu banyak, masih perlu contoh dari kakaknya, kamulah yang harus menjadi panutan bagi adik-adikmu!"

"Nasib orang kan beda-beda Pak. Saya lebih suka menggarap sawah. Ya semoga adik-adik ada yang berhasil menjadi pegawai seperti harapan Bapak!"

"Kamu Bapak sekolahkan, sudah menjadi pegawai malah pulang jadi penganggur?"

"Saya bantu Bapak, saya tidak menganggur! Apa salah saya kalau saya memilih jadi petani di desa?" tanya Sujiwa.

Kali ini Sujiwa berdiri. Seperti hendak menantang ayahnya yang sok kuasa. Sujiwa tidak suka interogasi yang dilakukan ayahnya. Den Reksa merasa anaknya tidak mengerti sopan santun. Ia pun berdiri, dengan suara keras ia katakan harapan dan nasihatnya.

"Kalau itu tanah sawah milik kamu sendiri, tidak ada yang salah. Yang menjadi masalah sawah Bapak tidak banyak. Tidak cukup untuk dibagi ke seluruh anak-anak. Itu sebabnya Bapak berharap kamu dan adik-adikmu bisa sukses sekolah, sukses bekerja sebagai pegawai atau karyawan swasta atau negeri!" Den Reksa mengambil napas sangat dalam. Ia menahan emosinya yang hampir tak terkendali. Melihat Sujiwo diam, Den Reksa melanjutkan nasihatnya.

"Diberi tahu baik-baik tidak paham! Kamu salah besar! Tidak mendidik masyarakat. Apa kata tetangga dan orang-orang desa tentang kamu?"

"Tidak tahu Pak! Kenapa Bapak lebih memikirkan mereka daripada saya anak Bapak sendiri?"

"Orang-orang desa bercerita di mana-mana. Baik di sawah, di kali pancuran selatan desa, di jalan-jalan, bahkan di rumah-rumah!"

"Apa yang mereka ributkan?" tanya Sujiwa masih bersuara tinggi karena ia merasa tidak melakukan kesalahan. 

"Mereka saling bercerita, lihat anak Den Reksa, Mas Sujiwa itu. Sudah sekolah di kota, sudah lulus, bahkan sudah menjadi pegawai. Akhirnya pulang ke desa hanya jadi tukang cari rumput. Untuk apa sekolah tinggi-tinggi menghabiskan biaya, jual sapi, jual kambing, malah jual sawah segala! Kalau akhirnya pulang ke desa jadi tukang cari rumput seperti kita, percuma sekolah tinggi-tinggi!"

"Biar saja mereka bicara jelek tentang saya tidak usah dipikir!"

"Tidak usah dipikir bagaimana?" tanya Den Reksa dengan suara meninggi. Kali ini ia tidak kuat lagi menahan emosi.

"Minggaaattt...! Mulai besok pagi kamu tidak boleh lagi tinggal di rumah ini. Kamu anak sulung tapi tidak bisa dijadikan contoh adik-adikmu! Juga tidak bisa jadi teladan untuk masyarakat di desa ini!"

Den Reksa masuk kamar. Ia membanting pintu! Mukanya muram. Hatinya panas menahan amarah!

"Punya anak sudah menjadi pegawai, malah pulang ke desa jadi penganggur. Sedih saya!" gumamnya di hadapan isteri dalam pembaringan.

"Mbok tidak usah marah. Tidak usah dipikir dalam. Kita berdoa saja supaya Sujiwa lekas dapat pekerjaan lagi, jadi pegawai seperti ayahnya," kata Lastri menghibur.

"Apa? Tidak usah marah? Kamu itu selalu membela anak. Kapan anak bisa sukses kalau salah didiamkan saja?" Den Reksa bersuara keras di kamarnya. Sujiwa dan adik-adiknya yang telah masuk kamar masing-masing masih bisa mendengarkan keributan ayah dan ibunya. Anak-anak terdiam di kamar. Suara orangtuanya menghantui mereka malam itu.

"Beberapa tahun lalu, ketika Sujiwa mendapat tugas sebagai pegawai di perkebunan pedalaman Kalimantan Barat, kamu larang ia berangkat. Kamu peluk, kamu tangisi. Ia pun membatalkan keberangkatannya!"

"Lha waktu itu Kalimantan kan masih gawat, Mas. Masih berhutan lebat! Aku khawatir anak kita jadi mangsa binantang buas!"

"Itu menurut kamu! Pikiranmu pendek. Tidak punya cita-cita!"

"Diberi saran baik-baik malah bentak-bentak. Marah sama anak, marah sama isteri. Semua dianggap salah, hanya Mas sendiri yang benar!" Lastri tidak bisa menerima sikap suaminya yang kaku.

Sujiwa yang berada di kamarnya, malam itu bisa mendengar apa yang dikatakan ayah dan ibunya. Ia gelisah, tidak bisa tidur sepanjang malam. Lalu ia keluar dan duduk di lincak ruang depan. Rumah joglo dengan sinar temaram lampu gantung, tak lagi menyapa ramah. Angin yang berhembus pun, malam itu terasa lebih kencang dari biasa, "Saya harus cari kerja!" gumamnya. Tangannya mengepal keras. Giginya bergemelutuk menahan perasaannya yang gelisah.

***
SUBUH Lastri bangun tidur yang pertama. Seperti biasa ia tengok satu-satu pintu kamar anaknya sambil membangunkan mereka. Dengan langkah agak berat ia menuju kamar Sujiwa. Namun yang terdengar oleh seisi rumah teriakan Lastri yang histeris, "Paaak... Sujiwa tidak ada di kamaaar!"


Yogya, 2 Februari 2018

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Rafael Priyono Mintodihardjo
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Minggu Pagi" edisi Minggu, 6 Mei 2018 

0 Response to "Sujiwa Minggat"