Tahu Panggilan | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu

Untuk Arsip Selanjutnya, Sila Klik Tautan Laman www.klipingsastra.com/ID

Tahu Panggilan Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 07:30 Rating: 4,5

Tahu Panggilan

PAK Pardi mengusap peluh di wajah dengan serbet kusam yang mengantung di lehernya. Tubuhnya ia sandarkan sepenuhnya ke badan mobil. “Mas, bentar lagi berangkat ya? Ada pesanan dari warung makan Bu Ijah.” Pak Pardi mengangguk lemah.

Lelah belum beres ia selesaikan, tapi ia cukup senang. Daripada tidur tak bangun-bangun sampai anak-anaknya sudah berangkat sekolah. Setelah bangun dengan badan terhuyung dan mata tak ikhlas membuka, ia tak bergegas cuci muka lalu melakukan kegiatan apa pun.

Ia malah nonton televisi atau berjemur di bawah sinar matahari sampai jam 10 pagi. Padahal, kemarin malamnya ia masih begadang, entah main catur bersama warga atau nonton televisi juga. Alhasil, istrinya mogok masak karena ngambek, punya suami kerjanya cuma menghibur diri saja.

Sesekali mobil yang dikendarai Pak Pardi berhenti. Jalanan amat ramai, membuat siang itu macet sekali. Ia heran. Biasanya macet itu ada jadwalnya. Antara pagi dan sore. Pengendara didominasi oleh pekerja dan pelajar. Itulah puncak macet sebenarnya.

Namun, itu tak pasti. Macet bisa terjadi kapan saja oleh sebab apa pun seperti sekarang ini. Mungkin ada kecelakaan atau mobil besar mogok, pikirnya. Lama di mobil pada siang hari yang terik membuat Pak Pardi gerah. Ia mulai mengumpat pada siapa saja yang berani menghalangi jalan besar itu.

Duduk di sebelahnya, Pak Kirman, pemilik pabrik tahu tempat Pak Pardi bekerja. Ia sibuk memencet tombol di ponselnya dan terdengarlah percakapan juragannya dengan orang di seberang sana. Sang juragan menutup ponselnya. Ia memandang ke arah luar. Sejenak ia merasakan gerah seperti yang dialami sopirnya.

“Kemungkinan besok libur dulu. Pemesanan untuk minggu ini berakhir di warung Bu ijah. Kalau ada kabar baik lagi akan kuberitahukan,” ujar Pak Kirman lalu menyandarkan punggungnya ke sandaran jok sambil menutup mata. Pak Pardi menganguk sambil tetap mengerem karena ada mobil sedan berhenti di depannya.

Pak Pardi tidak bisa membayangkan kalau dirinya akan menganggur berhari-hari sampai ada panggilan dari juragannya. Itu sudah biasa ia jalani untuk ukuran sopir distributor tahu pabrik Pak Kirman. Namun, seperti yang sudah-sudah, kali ini ia akan mendapat dampratan dari sang istri karena malas-malasan. Padahal, ia sendiri bingung akan mengerjakan apa.

Pekerjaannya hanya menjadi sopir. Ke depannya, ia berencana menanam sayur-sayuran di sepetak tanah warisan orang tuanya yang lama tak terurus. Bukan cuma untuk memenuhi kebutuhan, tapi ia ingin kegiatan bercocok tanam itu dapat mengisi waktunya menunggu panggilan sekaligus meredam amarah istrinya karena kelihatan bekerja.

Jalanan di depan sudah lancar. Rupanya tadi ada mobil pengangkut barang yang mogok dan menutupi hampir separuh jalan. Pak Pardi mulai tancap gas menerabas mobil lain yang agak lamban. Juragannya masih terjaga dari tidur. “Istrimu masih suka marah-marah?”

Pertanyaan itu mengacaukan konsentrasi Pak Pardi pada jalanan. Ia sudah ingin cepat sampai tujuan agar rasa gerah lenyap. Kalau bukan juragannya yang bertanya, ia sudah marah-marah seperti istrinya karena ingin tahu sekali masalah rumah tangga orang.

Untuk menetralisasi rasa sebalnya, ia cuma berkata, “Sedikit agak mendingan. Asal panggilan tetap rutin, ya bibirnya bakal dibanyaki gincu dan tersenyum di hadapan saya. Hahaha..” Mobil yang di dalamnya terasa gerah cair seketika dengan tawa lebar mereka. Pembicaraan masih berlan jut dengan membahas strategi pemasaran di selingi gurauan.

***
Embusan napasnya membuat kaca mulai berembun. Sepanjang hari, setelah mengurus tanaman ala kadarnya karena memang ia cenderung tak suka berladang, menanti waswas panggilan itu. Matanya tajam menembus kaca mencari bayangan juragannya. Setelah memastikan tak ada yang dapat diharapkan, ia merebahkan diri ke atas kasur.

Saat ia tepergok celingukan di depan kaca, sang istri mulai paham. “Kalau memang nganggur terus pengen kerja, mending gantian aja sama ibu. Bapak yang masak sama ngurus Aditya, aku yang kerja. Kan banyak sekarang ibu-ibu tetangga kerja di pabrik.”

Pak Pardi tak suka kesimpulan itu. Ia tak suka setelah lelah berpergian, pulang-pulang sang istri masih bekerja sampai malam hari. Tak ada yang menyiapkan air hangat untuk kulit tuanya, menyiapkan kopi, dan segala bentuk perhatian lainnya.

Rupanya rasa cemas Pak Pardi terbayar sudah tatkala dirinya sedang mandi terdengar teriakan di depan rumahnya. “Mas, barangnya siap kirim. Berangkat habis Zhuhur ya… Mbak Wati suruh bergincu banyak-banyak.” Mendengar namanya disebut, istri Pak Pardi mengerucut. Agak sedikit malu, tapi senang karena setidaknya sang suami dapat kerjaan. Di dalam kamar mandi, Pak Pardi tampak bersiul-siul.

Sehabis azan Zhuhur, Pak Pardi sudah rapi. Wangi minyak murahannya menguar. Rambut acaknya tersisir rapi ke belakang dan diberi minyak rambut supaya kaku. Padahal, kerjanya saja nanti panas-panasan. Ia bukan cuma jadi sopir, tapi sekaligus pengangkut barang. Menurunkan tahu-tahu di ember besar ke rumah pemesan.

Sudah pasti seluruh tubuhnya pegal semua. Rambutnya juga akan layu, dan minyak tubuhnya akan menguap terkena sinar matahari diganti bau keringat yang tak tertahankan. Namun, ia cukup senang. Karena dengan berdandan rapi itu bukan cuma menjaga penampilan walau sementara, tapi menyenangkan istri.

Sialnya, setelah ia berpenampilan klimis, setibanya di pabrik tahu harus menunggu lama sampai barangnya siap. Ia tak tahu harus berbuat apa untuk memusnahkan kebosanannya. Terik matahari rupanya tampak iri dengan penampilan Pak Pardi hingga disedotnya dalam-dalam kesegarannya.

Ia mulai sebal. Saat itu waktu sudah hampir jam dua. Padahal, kemarin-kemarin tak sampai segitunya. Rasa bosannya tertahan sebentar tatkala sebuah pikup hitam menuju pekarangan pabrik. Pak Karman di dalamnya. Ia sempat melihat anak buahnya yang dandanannya mulai luntur itu.

“Hei mas, bantu angkut barang ini dulu ya. Maaf membuat kau menunggu.” Teriak Pak Kirman pada Pak Pardi. Pak kardi gelagapan, tapi siap. Ia mulai menurunkan satu persatu jerigen yang biasa dibeli juragannya.

Sambil tetap berjalan mengangkut barang itu, Pak pardi mulai bertanya-tanya. “Seminggu yang lalu kayaknya sudah beli banyak to, kok sekarang beli lagi?” Pak Kirman kaget, ia segera celingukan ke sana sini. “Biasalah. Itu tandanya usaha ini semakin sukses.” Pak Pardi tak mau tahu lebih jauh lagi. Pikirannya sudah membayang di setiran mobil.

Sewaktu Pak Pardi masuk pabrik tempat pengolahan tahu, ia berhenti sebentar. Menyaksikan hiruk pikuk anak buah Pak Kirman yang sibuk mengolah tahu. Di atas loyang berapi besar, ada susu kedelai yang diaduk oleh dua pekerja. Sebelumnya, kacang kedelai direndam, setelah itu ditumbuk. Permukaan susu di loyang itu memunculkan busa-busa. Setelah melihat busa itu, dengan sigap dua pekerja tadi mengambil air untuk dimasukkan ke loyang sedikit demi sedikit sampai busa tadi benar-benar hilang. Mereka juga mulai menurunkan suhu kompor.

Loyang itu ada di mana-mana, dengan jumlah penjaga yang sama. Pak Pardi juga melihat beberapa pekerja mulai mencetak tahu berupa persegi yang sudah padat, lalu ditindih dengan pemberat supaya air keluar selama beberapa menit. Setelah tahu dicetak, ditaruhlah ke dalam ember untuk kemudian dipasarkan. Setelah jeriken berdatangan, para pekerja tanpa komando langsung mengambilnya untuk dimasukkan ke dalam loyang besar tadi. Jeriken berwarna putih yang sengaja disamarkan mereknya dengan kertas telah memberi banyak keuntungan bagi Pak Kirman selama Pak Pardi bekerja di sana.

Walau Pak Kirman sendiri mendistribusikannya tak setiap hari, usahanya laku keras. Tak pernah ada yang namanya surut dalam bisnis ini sejak kehadiran jerigen putih itu. Namun, perlu waktu lama barang itu bisa sampai ke tangannya.

“Kau tak keberatan kan bekerja denganku? Ini semua demi menjaga kualitas barang. Supaya tahan lama, kelihatan menawan seperti bibir istrimu, dan laris di pasaran.” Kata Pak Kirman suatu hari.

Dari mencium bau jerigen itu, ia segera disadarkan dengan bahan yang pernah ia temui untuk mengawetkan jenazah. Karena urusan pekerjaan, supaya tak melihat bibir istrinya melebar disebabkan sering memarahinya tak bekerja, ia memilih diam. Sekali diendus pihak berwajib, ia kena imbasnya.

Setelah juragannya selesai dengan urusan bertransaksi, ia segera mengajak Pak Pardi berangkat menuju pemesan. Ada banyak ember yang mengisi mobil pick up itu.

***
Sehabis mengangkat jemuran, lagi-lagi yang dilihatnya dalam rumah adalah suaminya yang melamun di hadapan kaca. Matanya awas melihat manusia yang lewat. Bu wati memakluminya. Itu sudah terhitung lama untuk menunggu sebuah panggilan.

Nasi di meja hanya ditemani lauk seadanya berupa sayuran yang dipetik dari kebun. Bumbu dapur hampir habis. Beras saja cukup dimakan dua hari itu. Ia juga sama-sama resah.

“Apa aku kerja saja ya, Pak? Kan kalau di pabrik lumayan. Ini aku serius lho, Pak,” ucap istrinya ragu-ragu. Pak Pardi terusik, tapi fokus kembali pada targetnya. “Pak,” kata istrinya.

Semakin lama Pardi kian jengkel. “Diam. Kalau mau kerja kenapa gak sekalian jadi TKW aja? Itu gajinya gak cuma lumayan, tapi besar. Itu yang namanya serius meninggalkan suami dan anak. Gak tanggung-tanggung.” Pardi marah besar. Istrinya kaget mendengar ungkapan suaminya yang kelewat batas itu. Ia memilih mundur.

Sudah seminggu sejak pertikaian soal pekerjaan itu, pak Pardi tetap tak diberi kabar. Ia berinisiatif mendatangi pabrik itu. Mungkin kendalanya tak ada bahan yang distok, atau menunggu jeriken itu lagi. Yang terakhir agaknya masuk juga.

Sesampainya di depan pabrik, Pak Pardi kaget melihat garis-garis kuning membentang mengelilingi pabrik itu. Pikirannya kalut. Jika saja ada juragannya, ia akan langsung bertanya kejadian itu. Ia berfirasat buruk akan keadaan pak Kirman. Kebetulan sepi sekali kecuali dua orang tukang ojek yang biasa mangkal di pojokan.

“Mas, ini kok ada garis gini kenapa ya?” salah satu tertarik untuk menjawab.

“Kemarin pabrik ini digerebek polisi, Pak. Gara-gara tahunya dikasih formalin gitu…. Udah lama polisi mengintai kegiatan itu. Kan ngeri ya?” ucapannya segera disambut anggukan oleh temannya. “Mana aku sering makan tahu di situ lagi. Bisa-bisa penyakitan nih.”

“Ngomong-ngomong Mas ini yang sering nyetir mobil pabrik itu kan?” Ia baru tersadar bahwa dirinya ada keterkaitan dengan pabrik itu. Sopirnya seorang tersangka yang sekarang sedang diinterogasi dan wajahnya membelakangi kamera. Ia ikut andil dalam pembuatan tahu itu.

Tanpa menjawab pertanyaan tadi dan berterima kasih, Pak Pardi langsung kabur. Ia tahu apa yang harus dilakukannya. Sesampainya di rumah, menahan napas sejenak, ia menyuruh istri dan anaknya berkemas. “Kita ke Kalimantan sekarang.”

Penulis pernah mengikuti berbagai perlombaan menulis. Saat ini, bersekolah di MAN Salatiga. Akun sosmed saya, Fb ; Thoybah, IG ; Thoybah31

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Thoyibah
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Republika" edisi Minggu 13 Mei 2018

0 Response to "Tahu Panggilan"