Tangan Ibu - Aroma Laut - Jatuhnya Si Bunga Kecil - Subuh - Nyanyian Laron di Bawah Neon | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu

Untuk Arsip Selanjutnya, Sila Klik Tautan Laman www.klipingsastra.com/ID

Tangan Ibu - Aroma Laut - Jatuhnya Si Bunga Kecil - Subuh - Nyanyian Laron di Bawah Neon Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 03:30 Rating: 4,5

Tangan Ibu - Aroma Laut - Jatuhnya Si Bunga Kecil - Subuh - Nyanyian Laron di Bawah Neon

Tangan Ibu

tanganmu berebut dengan waktu
pada warna matahari merah
yang membedaki jalan-jalan
saat ratusan kepompong melepas janji
di penghujung musim hujan,

kepompong tetas, adalah aku
kupu-kupu basah di telapakmu
melamar waktu dengan serangkain baris doa
yang kau bisikkan di malam tua,

apa yang kau pegang, selalu putih
memancar di sela jemarimu
antara kulit tuamu yang berdebu
angin kemarau melukis gambar bulan
untuk sesuatu yang mungkin malam,

kucium tanganmu, serasa tandang di tujuh benua
sampan kecil doamu
lintasi selat, lawan angin berkarat
menepi ke jazirah damai
di mana musim dan ragam puisi
menyatu di tanah yang sepi.

Gapura, 05.18

Aroma Laut

sejak pantaiku kaurampas
aroma laut berpisah dengan lubang hidung
tinggal bau bangkai dan lumpur
mencabik jantung udara
kirimkan serbuk dosa
dari tubuh-tubuh bau getah.

Gaptim, 2018

Jatuhnya Si Bunga Kecil 

kau si kembang kecil
di garis-garis peta dadaku
mencium suhu
dengan nawaitu
dan bibir warna ungu,

kini kau tanggal
meninggalkan pagi yang lengang
dengan lambai yang gagal
dan kata-kata yang terpenggal
menuju kesunyian abadi
dimana tangkai ruhmu tertancap dalam puisi
umpama kendi menyendiri
dalam haribaan petapa putih,

selamat jalan bunga kecilku
yakin kau mengelopak dalam kesunyian
membagi warna kepada yang baka
mengirim wangi kepada yang fana.

Bungduwak, 05.18

Subuh

ada yang mengawini bulan
di seranting kesambi patah,

dingin dan sunyi bukanlah alasan
untuk mengurung diri dalam jam yang mati,

waktu beringsut dari sayap kelelawar
mengapung di bola matamu
sebagai berlian berkilauan,

ada panggilan lembut dari surau-surau
tentang alamat di dusun sajadah
juga tentang takbir yang beriak dari sudut dada.

Gaptim, 2018

Nyanyian Laron di Bawah Neon 

dari rahim tanah--yang mengeram mimpi
kubawa kesunyian ini
rapat di punggung, segaris teluk jantung
terlukis di sepasang sayap
kutebar di sini, menemui nukil tatap mata wanita
gelas dan bibir basah, piring dan mulut menganga.

usah kaupungkas segala luka
dengan pisau-pisau cahaya, dan menarilah
bersamaku
memendam ngilu, membelah waktu
bulan mengeja sinar putih susu
di ranting pohon jambu
subun masih jauh, fajar masih membatu
di sini, kesedihan jadikan abu.

Dik-kodik, 14.05.18

*) A. Warits Rovi, lahir di Sumenep, 20 Juli 1988. Menulis puisi, cerpen, esai, artikel dan naskah drama. Karya-karyanya teranantologi dalam "Bersepeda ke Bulan" puisi pilihan Indo Pos 2014,Ayat-Ayat Selat Sakat (puisi pilihan Riau Pos, 2014), Ketam Ladam Rumah Ingatan (2016), dll. Berdomisili di Dusun Dikkodik, RT 7 RW 2, Desa Gapura Timur Gapura Sumenep 69472.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya A. Warits Rovi
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Kedaulatan Rakyat" edisi Minggu, 20 Mei 2018 

0 Response to "Tangan Ibu - Aroma Laut - Jatuhnya Si Bunga Kecil - Subuh - Nyanyian Laron di Bawah Neon "