Cangkir Malam Seribu Bulan | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu

Untuk Arsip Selanjutnya, Sila Klik Tautan Laman www.klipingsastra.com/ID

Cangkir Malam Seribu Bulan Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 21:00 Rating: 4,5

Cangkir Malam Seribu Bulan

SIANG Ramadan di jalan kampung yang lengang dan berdebu itu pecah oleh lengking sebuah ngeong. Suara rem berdecit dan seekor kucing terlempar, nyaris terjerembap ke dalam parit. Hanya selang beberapa detik, motor tersebut melaju kembali tanpa memedulikan korbannya yang bersimbah darah dan tampak ringkih. 

Menyaksikan itu, Hesan tak mampu berdiam saja. Ia lekaslekas menghampiri satwa malang itu. Bulu putih kucing betina itu berbercak merah. Hanya dengan mendengar rintihannya, Hesan seakan-akan dapat merasakan penderitaan kucing itu; suara hewan yang terluka. Kucing itu sama sekali tidak dapat menggerakkan tubuh. Kakinya cedera. 

Hesan yakin Ustaz Dulkarnin bakal memarahinya. Pukul segini semestinya ia telah sampai di musala, menyimak kajian. Tetapi ia tak mungkin meninggalkan dan membiarkan kucing itu sekarat. Ia pikir menolong binatang jauh lebih penting ketimbang duduk manis sambil menyimak ceramah Ustaz Dulkarnin. Ia teringat pesan Ustaz Salim—gurunya yang lain—bahwa manusia harus mencintai semua makhluk di bumi: pohon, hewan, tanah, air, udara…. 

Lagi pula Hesan sudah terbiasa dimarahi Ustaz Dulkarnin. Remaja kelas menengah pertama itu seringkali merasa tidak cocok dengan pendapat-pendapat Ustaz Dulkarnin yang keras dan kaku. Ia lebih senang mendengarkan nasihat-nasihat Ustaz Salim yang dinilainya lebih masuk akal. 

Entah mengapa Ustaz Salim jarang ke musala. Barangkali ia ingin menghidari konfl ik dengan Ustaz Dulkarnin yang juga kerap bersilang pendapat dengannya. Hesan menyayangkan Ustaz Salim jarang hadir ke musala. Ia hanya perihatin melihat teman-temannya dicekoki ajaran-ajaran Ustaz Dulkarnin yang baginya sungguh absurd. 

Dibersihkannya darah kucing itu dengan air hangat. Hewan itu pasrah di tangan Hesan. Kakikakinya yang lecet dan lunglai dibebat dengan kasa. Ia kini meringkuk di sebuah keranjang Musa yang tergeletak di pojok teras. Bagaimanapun juga Hesan harus segera melangkah ke musala meski tak tega meninggalkan kucing itu merana sendiri. Dengan matanya yang lebar dan hijau, binatang itu seperti mengucapkan terima kasih. Lalu Hesan menamainya Luka, sebab kedua matanya menyimpan lara. 

*** 
AZAN asar hampir berkumandang dan kajian nyaris selesai ketika Hesan sampai di musala. 

“Mungkin kamu sudah mengerti apa itu Lailatul Qadar sehingga merasa tak perlu menghadiri kajian ini,” tukas Ustaz Dulkarnin setelah menjawab salam dari Hesan. 

Bocah itu ingin sekali menjelaskan apa yang telah terjadi, tetapi ia pikir itu sama sekali tidak berguna. Ustaz Dulkarnin akan punya beragam alasan supaya ia tetap berada di posisi yang salah. 

“Jelaskan kepada kami apa itu Malam Seribu Bulan,” lanjut Ustaz Dulkarnin dengan nada menguji. 

Mulutnya hampir membaca surah ke-97 untuk menjawab pertanyaan Ustaz Dulkarnin, tetapi ia teringat penjelasan Ustaz Salim tentang Lailatul Qadar. 

“Malam kemuliaan yang kita peroleh pada malam-malam ganjil selama sepuluh hari terakhir bulan Ramadan.” 

“Bagaimana cara mendapatkannya?” 

“Dengan mengerjakan perbuatan perbuatan baik.” 

“Seperti apa?” 

“Belajar, mengerjakan PR, atau—“  

“Setop!” Ustaz Dulkarnin menahan gelak. 

Hesan tahu, jawaban terakhir bukanlah yang diharapkan gurunya. Tetapi menurut Ustaz Salim, Tuhan tak pernah membedabedakan amal baik. 

“Sebagai kompensasi keterlambatan, nanti malam, setelah tadarus bersama, kamu akan tetap membaca Alquran hingga bunyi kentongan sahur pertama terdengar.” Dan Hesan tahu kentongan pertama paling tidak berbunyi sekitar pukul dua dini hari. Tetapi ia rela menanggung hukuman itu. 

Kenyataannya, setelah tadarus bersama, teman-temannya tidak langsung pulang. Ustaz Dulkarnin mengumpulkan mereka, termasuk dirinya. Ustaz Dulkarnin berencana menyita makanan yang dijual di warung Bik Hamna yang buka pada siang hari. 

“Kita telah masuk hari ketujuh puasa, tetapi warung itu tetap saja buka. Besok, waktu duha, kita tutup paksa warung itu. Kita rampas semua makanan yang dijual di sana.” 

Warung itu setiap hari Hesan lewati. Di bulan Ramadan, ia hanya melihat sopir-sopir truk pengangkut garam yang nangkring di warung itu. Lalu ia merasa gundah membayangkan wajah sedih Bik Hamna, seorang janda tua yang hidup sebatangkara, jika seluruh dagangannya disita. Ia harus memperingatkan Bik Hamna tentang rencana Ustaz Dulkarnin. 

Hesan berdusta perutnya mulas. Ia izin pulang sebentar dan berjanji akan kembali. Setelah agak jauh dari musala, ia berpaling ke arah warung Bik Hamna yang sekaligus menjadi tempat tinggal perempuan itu. Hesan merasa seperti Yudas, berkhianat kepada Isa, berkhianat kepada sang guru. Tetapi ia tak ingin bernasib seperti Yudas: mati tersalib karena ulahnya sendiri. Senjata makan tuan. 

Ketika Hesan sampai dengan napas tersengal, perempuan uzur itu tengah merajang bawang. 

“Bik, besok Ustaz Dulkarnin dan teman-teman akan merampas semua makanan di warung ini.” Suaranya patah-patah. “Jadi, berhentilah memasak.” 

Perempuan itu berhenti merajang bawang. Matanya berkaca-kaca. Hesan tahu, Bik Hamna adalah orang yang irit bicara. Tanpa berucap sepatah kata, Hesan dapat menangkap kesedihan di raut perempuan itu. Hari ini Hesan telah menjadi saksi dua wajah yang diliputi duka: mata Bik Hamna dan mata Luka. 

Setelah itu Hesan tak sanggup lagi berhadapan dengan perempuan rapuh itu. Ia harus segera mencari solusi agar Bik Hamna tetap bisa mencari nafkah, sebab bisa jadi razia Ustaz Dulkarnin dilakukan saban hari. 

Musala telah sepi ketika Hesan tiba. Ia akan tetap menjalankan hukuman itu meski tak diawasi. Ia tak mau berbohong untuk kali kedua. Kali ini ia tahu bahwa Ustaz Dulkarnin tengah menguji kejujurannya. 

Sebenarnya musala itu adalah rumah yang diwakafkan Hj. Fatma— orang paling kaya di desa itu yang gemar berpakaian glamor dan membagikan derma—sehingga ruang-ruang di dalamnya masih serupa rumah pada umumnya. Ada teras, kamar mandi, bekas ruang tamu, bekas kamar tidur, dan bekas dapur. Tempat salat utama merupakan bekas ruang tamu. Di bekas kamar tidur—yang merupakan tempat salat jamaah perempuan—Hesan bersandar di dinding dan mulai membaca Alquran. Suasana senyap lamalama membuatnya terkantukkantuk dan akhirnya terlelap sambil memangku Alquran dalam keadaan terbuka. 

*** 
SEMESTINYA ia terbangun karena kentongan sahur, tetapi ia baru sadar dari tidurnya lantaran suara yang memanggi-mangil namanya. 

“Hesan Basri… Hesan Basri… Hesan Basri….” 

Ia pikir Hj. Fatma memanggilnya, tetapi suara itu terlampau lembut. Bukan seperti suara berat Hj. Fatma. Lagi pula tak ada orang di desa ini yang memanggilnya dengan nama lengkap. Satu-satunya orang yang menyapanya dengan nama “Hesan Basri” hanya ibunya, ketika sedang kesal kepadanya. 

Ia bangkit. Seluruh ruangan gelap, tetapi masih ada seberkas cahaya yang menembus jendela dan kaca. Ia tak tahu siapa yang memadamkan lampu musala. Tiba-tiba terdengar derit gerbang pagar, lalu suara pintu musala yang digeser. 

Entah kenapa bocah itu menjadi takut setengah mati. Ia hendak keluar dari pintu belakang, tetapi sayang, gerendelnya digembok. Ia terperangkap dalam kepanikan. Bulu kuduknya meremang. 

“Hesan….” Suara itu terdengar magis dan purba. 

Masuklah sosok perempuan berpakaian putih panjang ke dalam ruangan itu. Setengah berjalan. Seperti melayang. Rambutnya kelabu panjang lurus sepinggang. Tubuh perempuan itu ramping, agak berpendar, tetapi tak sampai menerangi ruangan. 

Hesan terjengkang, bersandar di dinding. Keringatnya mengucur deras. Ia tak bisa lari ke mana pun. Persendiannya seakan-akan lumpuh. Sosok perempuan itu telah berdiri di hadapannya. 

“Siapa kamu?” ucap Hesan dengan terbata. 

Tetapi sosok itu hanya menjawab, “Aku.” 

Lalu perempuan itu berlutut. Kini jaraknya hanya sebatas anak panah. Hesan dapat melihat dengan jelas wajah sosok itu. Sejuk seperti embun. Bening. Ilahiah. 

Dan mata itu…. begitu lebar. Hijau air danau. Tiba-tiba Hesan merasa damai memandang mata itu. Bagai telaga yang tenang. Ingin sekali ia tenggelam di kedalamannya. Ia merasa begitu akrab dengan mata itu. Ia ingat sesuatu. Itu mata Luka. Mata kucing itu. 

Sosok itu meletakkan sebuah cangkir putih kosong—yang sejak tadi digenggam kedua tangannya— di lantai, di hadapan Hesan. 

“Kau telah meneguk habis Lailatul Qadar sebelum waktunya,” pungkasnya. 

Hesan tak mengerti dan sosok itu berdiri kembali, beranjak meninggalkan Hesan yang masih diliputi teka-teki. Siapa sosok itu. Hesan mengejarnya dengan tertatih. Sosok itu melangkah cepat, menuju timur, ke arah bintang kejora. 

Hesan menahan kedua kakinya. Ia teringat Luka. Tiba-tiba ia merindukan kucing itu. Menyibak dini hari yang dingin, Hesan berputar balik ke arah rumahnya; urung menyusul sosok rahasia yang baru saja mengganggu pikirannya. 

Ia mendapati keranjang Musa dalam keadaan kosong. Tak mungkin Luka pergi. Kaki-kakinya lumpuh. Baru tadi siang ia memungut kucing itu, kini raib entah ke mana. Lalu rindu itu kian jadi dan air matanya mengalir deras. 

Pamekasan, 13 Juni 2016 

Royyan Julian bergiat di Universitas Madura dan Sivitas Kotheka. Novelnya Tanjung Kemarau (Grasindo) terbit pada 2017.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Royyan Julian
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Media Indonesia" edisi Minggu, 3 Juni 2018

0 Response to "Cangkir Malam Seribu Bulan"