Dari Kisah Mereka, Aku Menjaga Ingatan dan Merawat Kenangan | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu

Untuk Arsip Selanjutnya, Sila Klik Tautan Laman www.klipingsastra.com/ID

Dari Kisah Mereka, Aku Menjaga Ingatan dan Merawat Kenangan Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 07:56 Rating: 4,5

Dari Kisah Mereka, Aku Menjaga Ingatan dan Merawat Kenangan

Sebagian di antara kita, nyata, ada yang ingin memusnahkan ingatan. Sebagian lain ada yang berupaya melupakan kenangan. Sebagian lain lagi, ada yang berupaya menjaga ingatan dan merawat kenangan. Aku termasuk sebagian yang menjaga ingatan dan merawat kenangan kita berdua.

“Kau yakin?”

“Ya. Kenapa tidak?”

“Kau sanggup?”

“Aku sanggup. Meski itu perih, meski itu luka sampai sekarang, Dik! Masih menganga.”

Sungguh aku masih ingat saat kita bermain kelereng di situ. Bersama. Saat kaubentuk pedangmu dari gedebog pisang. Kita dan kawankawan bermain sepak tekong sepenuh kebahagiaan, yang entah apakah bisa kita dapatkan lagi kelak. Namun jangankan kelak, sekarang pun sudah tak lagi kudapat.

Lihat sore ini, senja begitu indah. Surya melingsir terbenam ke barat perlahan-lahan. Gunung tampak diselimuti awan yang menguning kemerah-merahan. Air waduk mengombak pelan, bias cahaya memantulkan sinar keemasan.

Aku masih termangu di sini, terduduk, menjublak, diam. Menunggu umpan di kail disambar, harapku setidaknya ikan keting sebesar kepalan tangan.

Oh! Ramai ternyata di sebelah sana. Lihatitu! Mereka bermain sepak bola dengan riang gembira. Seperti kita dahulu ya, saling adu gares sampai meringis kesakitan. Sampai berpeluh mirip kuli panggul di pasar.

“Lo, Mas? Sampean?”

“Tidak. Aku tidak berhalusinasi. Kalau aku berhalusinasi, lantas kenapa kau ada di sini, menemaniku sejak tadi?”

“Tapi, Mas, ini belum saatnya air waduk surut. Bagaimana bisa anak-anak itu bermain sepak bola?”

“Cukup! Mari nikmati senja saja. Diam!”

***
Tiga puluh tahun berlalu. Kita masih dibekap kemiskinan. Tiada beda antara bentuk kandang sapi dan rumah. Reot, kusam, pengap! Janji sekadar janji, bukti tak kunjung terealisasi.

Hasil panen sawah tak lagi limpah ruah. Kerbau-kerbau bajak kurus, karena tak lagi ada persediaan pakan. Warga desa yang kebanyakan bertani memekik dari relung hati paling dalam: lapar! Anak-anak petani desa tercekik kekerasan
kehidupan. Terancam busung lapar.

Mana kesejahteraan yang kaujanjikan itu, Jenderal? Jenderal murah senyum, sungguh katamu waduk bakal menghidupi kami. Bendungan pasti kendalikan banjir, atur irigasi, kuatnya arus air, debit air, hidroelektrisitas atau apalah itu namanya, hasilkan berkilo-kilo Watt tenaga listrik yang akan menerangi sampai ke pelosok desa.

“Omong kosong!”

“Siapa yang kaubilang omong kosong, Le?”

Tiba-tiba saja seorang lelaki paruh baya yang tidak kukenal mengagetkanku. Namun aku merasa tidak asing dengannya. Dia duduk di samping kananku. Aku menoleh, melihat mukanya bersih, penuh keceriaan. Dia tersenyum saat kutatap lamat.

“Ya, siapa yang kaubilang omong kosong itu?” sahut seorang wanita paruh baya di belakangnya. Beberapa orang lain menyusul. Ternyata lelaki paruh baya itu tidak sendirian. Aneh, aku tidak asing dengan wajah mereka. Aku seperti bertemu orang baru dengan wajah lama.

Sejak kapan mereka mendengarkan aku? Bahkan derap langkah mereka pun tak terdengar.

Kini, dermaga kayu ini sudah tidak lagi milik kita berdua. Tidak lagi sepi. Satu demi satu mereka bicara. Berkisah tentang diri mereka masingmasing. Kisah mereka membuatku sakit kepala. Aku pening. Pikiranku dipenuhi bayangan buruk atas nasib nahas mereka.

Joran kuletakkan. Sebat kupegangi kepala, kucengkeram kuat-kuat. Kujambak rambut, dan ya sudah tidak ada cara lain lagi selain berteriak. “Diam!”

Aku menunduk, marah, memelototkan mata, mengembuskan napas tak beraturan. Mereka terdiam. Namun wajah-wajah bersih penuh keceriaan disertai senyum mengembang itu tidak hilang.

“Cukup sudah! Ini untuk kali kesekian kalian mengeroyokku seperti ini. Apa mau kalian?”

***
Sejak ratusan hektare sawah dan perkampungan diubah menjadi waduk, warga terusir. Mereka terusir dari rumah, dari mata pencaharian, dari kehidupan. Dipisahkan jauh dari pusara kerabat, dari ingatan manis, dari kenangan indah masa bocah.

Pakde Miyono, yang saat ini duduk di sebelahku, dulu ketua RT di kampungku. Aku ingat, beliau salah seorang yang keras menolak pembangunan waduk.

“Dahulu, Le, di situ aku punya sepetak tanah.” Pakde Miyono mengacungkan jari telunjuk, menunjuk suatu tempat di tengah waduk.

“Ya, di belakang rumah. Di sebelahnya, di seberang sana itu, hutan jati. Aku, istriku, anakanakku, warga, bersembunyi dari kejaran tentara di dalam hutan jati. Termasuk adikmu kamu juga kan? Kau masih ingat?”

“Ya, Pakde, aku bahkan masih mengenangnya. Di sana tumbuh pohon-pohon jati yang rapat, lebat. Tumbuh pula anak-istrimu yang berbakti, warga desa yang punya hati nurani. Aku ada di antara hidup dan mati warga kita, yang kala itu ditanggung oleh kayu dan ulat-ulat. Tentara di mana-mana. Intel lebih banyak lagi. Siap membedil kapan saja bila kita lengah.”

Le, kauingat pula bapak dan ibumu yang berjuang mati-matian, bertahan di rumah yang tergenang air?”

“Aku kenang itu, Pakde. Sampai mampus! Miris melihat mereka diisolasi dan dibiarkan mati kelaparan. Bejat! Pembunuh! Aku, PakdeÖ.” Aku terisak, tersedu sedan. “Ingin rasanya balas dendam, tumpahkan kebencian. Tapi apa guna?”

“Le, ikhlaslah, sabar. Kami tahu apa yang kaurasakan. Pilu pasti, tapi kami semua juga yakin kau bukan orang yang lemah. Lihat kami! Kami bahagia di sini. Tidakkah kau juga merasa bahagia melihat kami bahagia? Orang tabah disayang Tuhan.”

Kau benar, Pakde. Aku selalu tabah dengan menjaga ingatan dan merawat kenangan tentang kalian semua. Ketahuilah, setiap malam aku selalu bermimpi buruk dan mereka semua kini menganggap aku gila.”

***
Leher agraria tercekik. Para petani hidup miskin di kampung kumuh yang baru. Kampung lama mereka telah jadi waduk yang terasa seperti pekuburan.

Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri darah kental adikku meluber ke tanah, merembes, diserap akar-akar pohon jati, selepas peluru itu menembus dadanya. Dari senapan dari seorang serdadu, yang setiap saat ingat wajahnya aku ingin meludahi!

Aku juga melihat dengan mata kepalaku sendiri seorang pemuda yang tengah memancing, duduk di dermaga kayu waduk di bekas kampungnya, menikmati senja terakhir di dunia.

Dia menceburkan diri, tenggelam bersama orang-orang di sekililingnya. Membawa ingatan yang dia jaga dan kenangan yang dia rawat seutuhnya. (44)

Sukolilo, Minggu Pahing, 24 September 2017

Resza Mustafa, mahasiswa Jurusan Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro Semarang

[1] Disalin dari karya Resza Mustafa
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Suara Merdeka", 3 Juni 2018

0 Response to "Dari Kisah Mereka, Aku Menjaga Ingatan dan Merawat Kenangan"