Hujan Paling Dirindukan - Syafaat Hujan dan Altar Peringatan - Sari Murni Bulan Suci - Fragmen Amal - Maidah - Sedia Puisi Sebelum Puasa - Menjamu Tamu Istimewa | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu

Untuk Arsip Selanjutnya, Sila Klik Tautan Laman www.klipingsastra.com/ID

Hujan Paling Dirindukan - Syafaat Hujan dan Altar Peringatan - Sari Murni Bulan Suci - Fragmen Amal - Maidah - Sedia Puisi Sebelum Puasa - Menjamu Tamu Istimewa Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 05:00 Rating: 4,5

Hujan Paling Dirindukan - Syafaat Hujan dan Altar Peringatan - Sari Murni Bulan Suci - Fragmen Amal - Maidah - Sedia Puisi Sebelum Puasa - Menjamu Tamu Istimewa

Hujan Paling Dirindukan

Dengarkan, apa yang terekam pada hujan tengah
malam
dzikir lirih dibisikkan kepada seluruh insan
mengajari ikhlas agar tiada yang mendustai amanat
Tuhan

Simaklah, apa yang disiratkan oleh hujan bulan
Ramadhan
ayat suci ditilawahkan pelan kepada yang beriman
mengajari kasih agar tiada yang membenci perintah
Tuhan

Hujan paling dirindukan insan beriman
adalah hujan bulan Ramadhan
sebanyak permohonan yang disematkan pada ruh
dedaunan.

Syafaat Hujan dan Altar Peringatan

Akulah hujan. Utusan Tuhan. Mengirim pesan damai.
Kabar gembira bagi bumi usai mati. Menandai musim
tanam. Pada biji dan tunas kutumbuhkan. Pada yang
tandus kusuburkan.
Maka berdoalah: “Allaahumma shoyyiban naafi ’an.”

Akulah hujan. Hadirku tak selalu dirindukan. Bila
kemarau aku dicari, bila musimku sendiri aku
dikhianati. Tapi, pada anak-anak keceriaan kuberikan.
Bermain-main denganku tanpa kecemasan.
Maka berdoalah: “Allaahumma shoyyiban naafi ’an.”

Akulah hujan. Pada siapa yang merusak alam, baginya
senjata makan tuan. Bencana akan kukirimkan. Dari
hulu ke hilir kugiring banjir. Longsor menyusulmu
dalam lelap kemalaman.
Maka berdoalah: “Allaahumma shoyyiban naafi ’an.”


Sari Murni Bulan Suci

Aku hanyalah serakan debu lusuh
atau kepingan daun yang diembus angin, jatuh
tuntunlah aku menuju ruang bercahaya paling sufi
yang dihimpun pada pertiga malam bulan suci
maka kudapati meditasi bidadari
dan tujuh belas rakaat shalat Nabi
lalu ajari aku tentang satu huruf saja, alif misalnya
cukup menadaburi jiwa fana
atau satu ayat saja, alif lam mim misalnya
lebih dari menadarusi jiwa hampa

Awalnya aku senihil ruh subuh
Tuhan meniup ke rahim ibuku, tumbuh
antarkan iman pada jannah keabadian
melalui tujuh strata langit pengampunan
bertelekan permata yaqut dan marjan
balasan bagi insan pemulia Ramadhan.

Fragmen Amal

Ada pak tua renta
menempuh perjalanan ke masjid
mencari keteguhan iman
menuju negeri akhirat

Ada pemuda gagah
menempuh perjalanan dunia
menjejak gunung dan lintas negara
namun riak kaki tak menjejak di masjid

Ada bocah sok hebat mencipta pesawat
dari sendal jepit yang dicuri di masjid
tak ada yang menyangka
pemuda congkak itu dulunya
pencuri sendal jepit milik pak tua.

Maidah

Bedug magrib telah ditabuh
kumandang azan menggema
dari seluruh penjuru dunia
alam pun luruh seketika
bertasbihlah kami ke hadirat-Nya

Ya Rabbi ...
Engkau telah mengaruniakan nikmat tak terhingga
seperti surga yang telah Engkau janjikan
kepada orang-orang yang bertakwa
Engkau telah memberikan nikmat berharga
menghidangkan beraneka makanan dan minuman
pada perjamuan sahur dan buka puasa.

Sedia Puisi Sebelum Puasa

Ibadah puasa begitu spesial
tidak sembarang orang mampu meminangnya
panggilan cinta bagi yang beriman saja
pahala rahasia dari Allah Ta’ala
masuk surga lewat pintu-pintu ar-rayyan

Puisi hanyalah pecahan cahaya
dari cahaya awal yang abadi dan mulia
di mana ia lahir tanpa menitah warna
seseorang memungutnya, dan setelahnya
orang-orang merasa tercerahkan

Maka tatkala godaan silih menimpa
tiada salahnya sedia puisi sebelum puasa.

Menjamu Tamu Istimewa

Dari tahun ke tahun, dari hilal ke hilal
pesona tamu ini senantiasa dirindukan

Lewat jendela terbuka
wajah-wajah bocah menyambut ceria
tamu ini tersenyum dan memeluk mereka

Dengan semangat pengharapan
kami menjamu tamu istimewa ini
ia bernama Ramadhan
ia menjanjikan satu kemenangan
kami pun siap perang
memerangi hawa nafsu
pada diri kami masing-masing.





Teguh Wibowo, yang lahir di Trenggalek, 11 September 1990, merupakan peraih anugerah Pena Jatim Award 2017 pada kategori Penulis Puisi Terpuji. Selain puisi, pemilik nama pena ‘Real Teguh’ itu juga aktif menulis resensi, prosa, beberapa artikel, esai, dan opini. Buku teranyarnya ialah Resolusi Semilyar Cahaya (2017) dan Mahabbah Suci (2018)


Rujukan:
[1] Disalin dari karya  Teguh Wibowo
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Media Indonesia" Minggu 3 Juni 2018

0 Response to "Hujan Paling Dirindukan - Syafaat Hujan dan Altar Peringatan - Sari Murni Bulan Suci - Fragmen Amal - Maidah - Sedia Puisi Sebelum Puasa - Menjamu Tamu Istimewa"