Kalesal - Menanak Bingkai Samudera - Sujalam - Bebaskan Saja | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu

Untuk Arsip Selanjutnya, Sila Klik Tautan Laman www.klipingsastra.com/ID

Kalesal - Menanak Bingkai Samudera - Sujalam - Bebaskan Saja Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 21:32 Rating: 4,5

Kalesal - Menanak Bingkai Samudera - Sujalam - Bebaskan Saja

Kalesal

Tak ada kata maaf antara kita
Apakah ini pertanda menuju dewasa?
Cukup ada senyuman
Bahagia dan derita harus disimpan
Malam-malam bersemayam
Menggelar pagi, menunggu ayam berbunyi
Hingga lupa cuitan burung di sela-sela ranting
Menggulung kembali dosa pertama
Melukar lilitan pinta insan-insan
Tapas helai doa nestapa
Sesal tiada putus asa
2018

Menanak Bingkai Samudera

Melepas bujuk dari larinya ombak
Ke sana-kemari terganjal dengki
Batu itu bernama dendam
Tersusun mengeras menjadi karang
Setiap kali air pasang
Mendidihkan ingatan tentang harapan
Menderu deras memecah kegagalan
Tungku api bukan lagi mimpi
Percikannya bukan lagi berani
Jikalau arang telah menjadi abu
Butir-butir itu bernama rindu
Tlah datang kepasrahan diri
Tuk terima kembali samudera hati
2018

Sujalam

Menguning bulir-bulir padi
Menunduk enggan menari
Mengikuti setiap arah menuju tanah
Matahari berlabuh ingin meneduh
Kambing-kambing berebut kandang
Menjejali jalan lurus likuan terjal
Suci ialah keabadian,
Menuju penggembala dalam diri sendiri
2018

Bebaskan Saja

Bebaskan saja dirinya
Biarkan memulai, mencoba, dan mencari sayap untuk
belajar terbang
Bebaskan saja pikirannya
Biarkan berpikir dan memahami yang sedang
diinginkannya
Bebaskan saja ucapannya
Biarkan bersuara senada dengan tingkah dan lelakunya
Hingga dia paham dengan kebebasan dan mulai
merasakan keterbatasan
2017

Titik Mendua

Pejam mata
Segaris warna
Sejumput rasa
Kelam bintik suci
Terang noda kegelapan
Di balik pandangan, menjulang keluar
Tiga garis senyuman, kerutan tentang sapaan
Berhenti di telaga
Bermuara dalam sikap
Bersila tuk mengisap
Kepulangan
Tanpa penerang jalan
Titik bias dari hitam menuju putih
2018


Athif Thitah Amithuhu, lahir di Bantul, 1995. Mahasiswa Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta ini pernah menjadi redaktur buletin sejarah Sanskerta (2013-2015) dan aktif di Pondok Budaya Kaliopak Yogyakarta (2015-2017). Sekarang dia aktif mengajar di Sanggar Pulokadang. (44)
[1] Disalin dari karya Athif Thitah Amithuhu
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Suara Merdeka" Minggu 3 Juni 2018

0 Response to "Kalesal - Menanak Bingkai Samudera - Sujalam - Bebaskan Saja"