Mengapa Kamu Takut? | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu

Untuk Arsip Selanjutnya, Sila Klik Tautan Laman www.klipingsastra.com/ID

Mengapa Kamu Takut? Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 08:00 Rating: 4,5

Mengapa Kamu Takut?

SEBELUM mendapat masalah dan saya membawa anak-anak ke kebun pagi itu, paman saya menelepon, mengatakan bahwa Gibran tidak mau berangkat sekolah. Gibran ketakutan. Ketika kurunut, apa yang membuat Gibran takut? Gibran mengambil alih telepon. Dia mulai menceritakan semuanya dengan rasa cemas tak tertahankan.

Gibran takut mereka akan membuli. Akan memeriksa tas Gibran. Akan bilang bahwa Gibran teroris.”

Terus terang saya terkejut mendengarnya.

Yang melintas dalam pikiran saya adalah keadaan yang serupa di alami oleh anak-anak Katolik dan Tionghoa, ketika kasus penistaan agama muncul. Mereka mungkin juga mengalami rasa takut dibuli oleh temannya yang muslim. Rasa takut diejek. Rasa takut dikafirkan. Rasa takut dibunuh pula.

Dan sekarang, yang terjadi sebaliknya. Anak-anak muslim merasakan teror pikiran akibat teror bom di depan gereja.

“Gibran pindah sekolah saja, ya, Om?” Saya belum berkomentar.

“Mengapa Gibran Islam dan teroris itu juga Islam, Om?”

Saya harus mencari cara untuk menjelaskannya. Pasti karena alasan saya, yang kebetulan seorang pendidik, maka paman menghubungi saya.

“Mm, Gibran,” ujar saya memulai, sepelan mungkin. “Gibran punya teman nakal di kelas?”

“Ada, Badu. Dia nakal banget, Om.”

“Sekarang, coba, kalau Badu nakal, lalu menakali teman di luar kelas kalian, misalnya kelas, Gibran kelas apa?”

“Kelas B.”

“Nah, sekarang misalnya Badu menakali anak kelas lain, kelas A misalnya, apa itu berarti semua kelasnya Badu, kelas B nakal? Termasuk juga Gibran?”

“Tidak, Om. Hanya Badu, lho, yang nakal.”

“Nah, sekarang jika nakalnya Badu juga menakali anak sekolah lain, apa itu berarti anakanak sekolah Gibran, dari kelas satu sampai enam, yang memakai seragam sekolah yang sama, juga berarti nakal semua? Termasuk Gibran di dalamnya?”

“Tidak, Om. Tetap Badu yang nakal.”

“Anak pintar. Sekarang dengarkan, begitu juga di dalam Islam, Gibran. Ada anak nakal di dalamnya. Tapi bukan berarti semua orang Islam nakal. Begitu juga orang Kristen. Selama Gibran bukan anak nakal itu, jangan takut, ya. Tunjukkan bahwa Gibran adalah anak yang baik.”

“Tapi, Om, di televisi itu…”

Kamu TakutSaya menyimak sembari menganalisis bagaimana anak-anak ikut menonton berita-berita lintasan kekerasan dalam dunia orang tua. Dia bahkan bisa menggambarkan dengan jelas kekerasan-kekerasan, dan yang membuat saya semakin tersentak, bagaimana dia mengerti, meski sedikit, soal hiruk pikuk politik.

Saya berkata bahwa dia baru kelas tiga, lebih baik bermain dan menekuni apa yang dia suka.

“Paman mengajaknya menonton berita?” tegur saya.

Kemudian saya jelaskan bahwa berita-berita seringkali tidak ditulis untuk batas usia berapa. Yang membahayakan adalah munculnya berita kekerasaan. Konflik yang mengatasnamakan agama. Sementara, anak-anak belum punya daya saring logika yang cukup, akibatnya bisa berbahaya.

“Mereka harusnya main. Main bareng. Dan kita ini, Paman, orang dewasa ini yang mestinya belajar ke mereka. Mudah sekali mereka saling memaafkan satu sama lain. Tapi ini, mereka malah diajak nonton adu dendam orang dewasa.”

Setelah pembicaraan berakhir, saya memutuskan tidak mengajar ke kampus, melainkan ke sekolah dasar yang saya bina. Sekolah ini kami bangun di kaki bukit, di pinggiran kota.

Gedung-gedungnya tidak berbentuk sebagaimana sekolah umumnya.

Saya menginginkan bentuknya ada seperti kapal, pesawat, kereta, angsa, ikan, dan kucing.

Sekolahnya juga tidak memakai seragam. Agar siswa bebas bermain tanpa takut kotor, tanpa takut dibedakan. Saya melibatkan penduduk sebagai guru pertanian, pertukangan, sampai kebijaksanaan hidup.

“Bubarkan! Bubarkan, sekolah teroris!” teriak mereka, ketika saya sampai.

Anak-anak berkumpul ketakutan di sisi kelas. Sebagian dari mereka segera dijemput orang tuanya. Saya bertanya mengapa orang-orang menuduh demikian jahat.

“Ini sekolah di kaki bukit,” ujar seorang dengan pedang. “Menepi, seperti latihan-latihan teroris. Juga gratis. Dana darimana kalau bukan dari teroris luar negeri, hah?!”

“O, begitu. Justru seharusnya sekolah itu di tepi. Jauh dari keriuhan dan isu-isu di kota atau di dalam televisi. Anak-anak harus belajar dengan tenang mengembangkan dirinya. Soal dana, kami punya kolam ikan banyak, lihat. Kami juga membuat kerajinan yang dilatih para pakar sekitar sini. Dan punya usaha lain. Ini sekolah untuk belajar hidup, bukan untuk gengsi. Kami belajar mandiri di sini.”

Tidak punya dalih lain, dia beranjak membawa teman-temannya menjauh dari provokasi, yang mengakibatkan warga ramai.

Mereka bubar dengan motor sambil berteriak promosi ke warga: “Lebih baik sekolah di sana. Ini brosurnya. Ada diskon uang bangunan lima puluh persen untuk pendaftar pertama. Bonus kaos kaki, alat tulis, sepatu, dan bubur kacang ijo tiap hari Senin minggu pertama tiap bulannya. Ayo, ayo! Jangan sampai kehabisan kursi.”

(2018)

Eko Triono, pengajar dan penulis. Buku ceritanya, Agama Apa yang Pantas bagi Pohon-pohon? (Divapress, 2016) pemenang penghargaan Balai Bahasa Yogyakarta kategori sastra Indonesia (2017).

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Eko Triono
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Kedaulatan Rakyat" edisi Minggu, 10 Juni 2018  

0 Response to "Mengapa Kamu Takut?"