Mengingat Randu - Sebatang Pensil - Cemara Gunung | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu

Untuk Arsip Selanjutnya, Sila Klik Tautan Laman www.klipingsastra.com/ID

Mengingat Randu - Sebatang Pensil - Cemara Gunung Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 01:30 Rating: 4,5

Mengingat Randu - Sebatang Pensil - Cemara Gunung

Mengingat Randu

Tubuhmu yang luput kupeluk,
menyangga bakal bantal-bantal kapuk.
Tubuhmu yang rawan, bertahan
di sisi bantaran. Tubuhmu yang menjadi
sarang jin penunggu yang gaib:

hantu bagi anak-anak yang pulang
setelah petang, hantu bagiku yang
tekenang-kenang.

Tapi di musim bediding,
tak ada yang sanggup berpaling.
Sebab ritus Agustus yang misterius,
telah menumbuhkan rindu yang pulang
ke bunga-bunga:

bunga-bunga merah muda,
bungamu yang mendekatkan jarak
antara rumah dan cinta.

Maka terberkatilah anak-anak
yang berani pulang
ke arah cinta.

Pagesangan, 20 Maret 2017

Sebatang Pensil

Sebatang pensil. Hadiah dari teman.
Ditinggal jauh ke negeri asal.

Huruf-huruf tak terjangkau.
Waktu terlampu jauh.

Hilang daya tempuh.

Mataram, 27 Maret 2017

Cemara Gunung

Aku menggapai tubuhmu,
tak sampai.
Tubuhmu menjulang, memandang
jauh ke wajah gunung.

Aku menggapai, deraimu
yang jauh jatuh,
ke hatiku.

Aku memandang, tubuhmu
yang nyaris abu:
daun-daun semu.

Pagesangan, 2 Maret 2017

*) Tjak S. Parlan, Lahir di Banyuwangi, 10 November 1975. Menulis puisi dan cerpen. Kumpulan cerpen pertamanya, Kota yang Berumur Panjang, (Basabasi, 2017). Tinggal di Mataram-Nusa Tenggara Barat.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Tjak S Parlan
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Kedaulatan Rakyat" edisi Minggu, 10 Juni 2018 

0 Response to "Mengingat Randu - Sebatang Pensil - Cemara Gunung"