Mudik ke Kampung Majikan | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu

Untuk Arsip Selanjutnya, Sila Klik Tautan Laman www.klipingsastra.com/ID

Mudik ke Kampung Majikan Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 08:52 Rating: 4,5

Mudik ke Kampung Majikan

AJAKAN yang tak disangka-sangka itu datang di waktu berbuka puasa, ketika saya tengah mengunyah kurma asli dari Arab yang dibawa Pak Boni dari perjalanan umrah sebulan yang lewat. Kurma yang lebih legit dari yang pernah saya makan selama ini.

“Dil, Lebaran ini ikut sama saya ke kampung, mau?” tanya Pak Boni.

Saya belum sempat menjawab, Pak Boni sudah mengajukan pertanyaan serupa ke Bardam.

“Dam, kamu juga ikut. Mau?”

Bardam bingung hendak menjawab apa. Menoleh ia ke arah saya. Mulutnya masih menggigit bakwan jagung bikinan istri Pak Boni.

“Jangan banyak mikir,” kata Pak Boni.

Saya dan Bardam saling melirik, menimbang ajakan Pak Boni.

“Nggak usah sungkan. Mau, kan?”

“Mmm, mau, Pak,” kami menjawab serempak.

“Oke. Berarti tahun ini kita semua mudik ke kampung saya.”

Buka puasa bersama di meja makan itu berlangsung tanpa dua putri Pak Boni, Selena dan Camila. Keduanya berbuka di luar bersama teman-temannya. Di hari-hari terakhir Ramadan, suasana buka puasa di rumah Pak Boni lebih sering sepi. Pak Boni sendiri juga biasanya baru pulang dari kantor selepas Isya. Namun, hari ini tak seperti biasanya, Pak Boni pulang lebih cepat.

“Bilang sama anak-anak, kita mudik naik mobil,” kata Pak Boni kepada istrinya.

“Lho, kok naik mobil, Pa?” protes Bu Boni.

“Sekali-sekali naik mobil-lah kita.”

“Ya, tapi anak-anak mana mau.”

“Mau. Siapa bilang nggak mau. Mereka kan belum pernah merasakan perjalanan darat lintas Sumatra.”

Bu Boni tak membantah. Sambil mengunyah kolak pisang, dia bolak-balik menatap saya dan Bardam serta suaminya. Tak lama, dia beranjak dari kursinya, pergi shalat Maghrib.

Pak Boni masih makan nasi, dan mempersilakan kami makan.

“Mau shalat dulu, Pak,” saya minta izin.

“Ya, Pak. Saya juga,” Bardam mengikuti.

Pak Boni tinggal sendiri di meja makan, menyuap nasinya dengan tangan sambil mengangkat kaki kanannya ke atas kursi. Di kamar basuh, sambil berwudhu, saya berbisik-bisik kepada Bardam.

“Dam, kampung Pak Boni di Medan, kan?”

“Iya, Pak,” kata Bardam.

“Kamu pernah diajak ke sana sebelumnya?”

“Baru kali ini.”

Memang, saya dan Bardam sama-sama belum lama bekerja untuk Pak Boni. Bardam direkrut setahun yang lalu sebagai sopir pribadi Pak Boni. Menurut Bardam, Pak Boni merekrutnya lantaran belum begitu mahir menyetir, meskipun kepadanya, Pak Boni beralasan butuh sopir karena penglihatannya agak rabun. Sedangkan, saya sendiri baru enam bulan diperkerjakan sebagai penjaga rumah sekaligus tukang kebun. Tugas saya, kecuali memasak dan mencuci dan berbelanja kebutuhan rumah, adalah memastikan rumah dan halaman nya aman dan bersih.

Bagi saya, ajakan Pak Boni tak masalah. Sebab, saya memang tak punya kampung halaman—lebih tepatnya, tak punya sanak saudara dan keluarga—untuk dikunjungi di hari Lebaran. Semua keluarga saya; istri, empat anak, orang tua, sepupu, meninggal dunia dihempas Tsunami Aceh tahun 2004 silam. Saya kebetulan selamat lantaran saat itu berada di Medan. Setelah musibah itu, saya tak pernah lagi pulang, merantau ke Jakarta, bekerja apa saja yang saya bisa untuk meneruskan hidup. Sebelum bekerja di rumah Pak Boni, saya lama bekerja di bengkel, kurang lebih sepuluh tahun. Terakhir saya menjadi sopir pribadi seorang dosen, dan berhenti ketika anak si dosen mahir menyetir dan menggantikan peran saya mengantarkan bapaknya.

Lain halnya dengan Bardam. Ia sebenarnya masih punya keluarga. Namun, anak muda 23 tahun itu tak mau pulang. Ia telanjur sakit hati pada orang tuanya yang telah membuangnya ketika ia dilahirkan karena rupanya yang amat buruk. Ia kemudian dibesarkan di panti asuhan, dan kabur saat usianya 14 tahun. Dengan demikian, ajakan Pak Boni juga tak masalah baginya. Malahan, ia sangat senang karena dapat merasakan pengalaman pertamanya ke Sumatra.

***
KAMI langsung berangkat keesokan harinya. Hari itu H-4 Lebaran. Diperkirakan, kami akan tiba di Medan pada H-1. Pak Boni, Bu Boni, dan dua putrinya, masing-masing sibuk mempersiapkan diri. Saya dan Bardam menunggu di mobil. Bardam menyetir mobil putih, saya mobil hitam.

“Lho, kenapa dua-dua mobilnya dibawa, Pa?” protes Bu Boni.

“Ya, biar kita nyaman. Perjalanan kita, kan, jauh. Jadi, kalau mau tidur di mobil, lebih enak. Biar nggak himpit-himpitan,” kata Pak Boni, sambil senyam-senyum.

“Iya, Ma, iya, Ma,” anak-anak Pak Boni setuju dengan Papanya.

“Tuh, kan? Anak-anak aja maunya dua mobil,” Pak Boni merasa sudah mengalahkan istrinya. Tiga berbanding satu. Bu Boni tak menyanggah lagi.

Kami pun siap berangkat. Saya berdua dengan Pak Boni di mobil hitam. Bu Boni, Selena, dan Camila, di mobil putih bersama Bardam. Kami beriringan sepanjang perjalanan. Pak Boni memperingatkan kami untuk tetap menjaga jarak.

Sepanjang jalan, saya lihat Pak Boni begitu semringah. Beberapa kali saya lihat ia memandang lepas ke luar jendela sambil senyum-senyum sendiri. Kemacetan arus mudik dan rasa lapar karena berpuasa, tidak mengusiknya sama sekali. Sepanjang jalan, kecuali saat tertidur, mulutnya tak henti-hentinya bicara, bercerita hal-hal yang ia ketahui atau pernah ia alami.

“Kau tahu apa artinya mudik?”

“Pulang ke kampung halaman, Pak.”

“Bukan, bukan itu maksud saya. Maksud saya, untuk apa orang-orang mudik?”

“Ya, untuk bertemu keluarga, melepas rindu, Pak.”

“Ya, tapi bukan cuma itu.”

“Lalu, apa lagi, Pak?”

“Kau akan tahu nanti. Sudah lama sekali rasanya saya tidak pulang. Keluarga saya pasti sudah menunggu,” ucap Pak Boni.

“Lebaran tahun lalu bapak tidak pulang?”

“Tidak. Sudah tiga tahun saya Lebaran tidak pulang.”

Beberapa kali kami berhenti untuk shalat, atau singgah di warung makan ketika jam sahur dan berbuka. Selena dan Camila asyik berfoto-foto tiap kali turun singgah. Pak Boni dan Bu Boni tak ketinggalan dilibatkan juga. Sedangkan, saya dan Bardam lebih banyak memanfaatkan waktu singgah untuk beristirahat.

Pada malam ketiga perjalanan, kami tiba di Kabupaten Mandailing Natal, wilayah pertama Sumatra Utara yang kami capai setelah melewati Pasaman, wilayah Sumatra Barat. Pukul 22.00, kami singgah untuk beristirahat. Pukul 02.00, ketika jalanan masih sepi, kami melanjutkan perjalanan. Hari itu kami tancap gas karena mengejar waktu tiba di rumah orang tua Pak Boni saat berbuka puasa.

***
AKHIRNYA kami sampai juga meski terlambat dari waktu berbuka. Orang tua Pak Boni menyambut kedatangan anak dan ke luarganya dengan riang gembira. Makanan sudah disajikannya di atas meja.

Rumah orang tua Pak Boni tak seperti yang kami bayangkan. Rumahnya sangat kusam, tua, dan jelek, jauh dibanding rumah Pak Boni di Jakarta. Yang menempati hanya ibu Pak Boni dan adik bungsu perempuan satu-satunya, seorang gadis tua berumur 40 tahun. Dari percakapan di meja makan itu diketahui, Pak Boni adalah anak keempat dari lima bersaudara. Abang-abang Pak Boni semuanya tinggal di kampung, tak jauh dari rumah orang tuanya, bekerja sebagai petani dan buruh bangunan. Hanya Pak Boni yang berada di perantauan dan terbilang sukses.

Keesokan harinya, selepas shalat Id, saudara-saudara Pak Boni datang untuk sungkeman. Semuanya pada berkumpul. Karena bukan bagian dari keluarga, saya dan Bardam memilih duduk di teras rumah.

Dari balik jendela yang tersingkap, kami melihat bahwa Pak Boni benar-benar menjadi primadona dalam perkumpulan itu. Tak henti-hentinya saudara-saudaranya memuji-muji beliau. Tak ketinggalan, tetangga dan kerabat-kerabat Pak Boni yang juga berdatangan, menyanjung ke suksesan beliau.

“Enak ya, Bon, sudah mapan hidupmu sekarang,” ucap seorang kerabat Pak Boni, yang dari caranya bicara, sepertinya kawan masa kecil Pak Boni.

“Iya, mobilnya dua pula!” sahut tetangga sebelah rumah yang juga datang.

“Ya, pakai sopir lagi,” timpal yang lain.

“Bilang sama Om Boni, kapan-kapan kita diajak jalan-jalan naik mobil,” ucap yang lain lagi, mengajari anaknya yang umurnya kira-kira sebaya dengan Selena dan Camila.

Pak Boni senyam-senyum sambil mengunyah kue Lebaran dengan sangat lambat. Istrinya tampak gelisah dan lebih banyak menunduk. Sementara, anak-anaknya yang masih polos, asyik bermain dengan sepupu-sepupunya.

“Jadi, ini tujuan Pak Boni ngajak kita sampai bawa dua mobil segala?” bisik Bardam ke telinga saya, di sela-sela suasana riuh kumpul-kumpul itu.

Saya mengangkat bahu, tak tahu mau bilang apa.


Abul Muamar lahir di Perbaungan, Serdangbedagai. Menulis esai dan cerpen.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Abul Muamar
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Republika" edisi Minggu, 10 Juni 2018  

0 Response to "Mudik ke Kampung Majikan"