Pohon Pendendam | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu

Untuk Arsip Selanjutnya, Sila Klik Tautan Laman www.klipingsastra.com/ID

Pohon Pendendam Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 13:28 Rating: 4,5

Pohon Pendendam

PADA suatu Senin pagi yang mendung dan sedikit gerah itu, Nul memulai perjalanan terakhirnya. Ia mandi dua kali lebih lama ketimbang biasanya, membiarkan busa sabun di tubuhnya menipis terkikis udara sebelum membilasnya, mengusapkan kondisioner banyak-banyak setelah berkeramas, menyikat gigi menggunakan sikat dan pasta gigi baru, lalu menghanduki dirinya sendiri dengan kelambanan yang luar biasa. Ia memilih baju yang paling bagus dari lemarinya, menyemprotkan parfum di sekujur tubuh - termasuk kakinya yang jenjang, lalu menyisir rambutnya yang menjuntai hingga punggung. Ia menghela napas panjang di depan cermin, menatap pantulan dirinya tajam-tajam, lantas menggumamkan sesuatu yang tidak jelas. Ia menghabiskan lima menit untuk mengikat tali sepatunya sebelum membuka pintu rumah. Ia menggunakan telapak tangan kanannya untuk melindungi matanya ketika keluar rumah meski sinar matahari yang menembus gumpalan mendung tak cukup membuatnya silau. 

Seorang tetangganya tampak berkali-kali memancal pedal starter motor di pinggir jalan. Nul melemparkan senyum simpul begitu ia melewati si tetangga yang mukanya berkilat lantaran keringat. Hari sudah jam delapan pagi. Lazimnya tak ada orang yang berkeliaran di jalanan lingkungan situ. Orang-orang biasanya tengah berada di tempat kerjanya masing-masing, sementara sebagian yang lain - ibu-ibu dan anak-anak balita - berada dalam rumah menonton televisi, dan sebagian yang lain lagi - anak-anak sekolah - berada di ruang kelas untuk menuntut ilmu. Nul mengenal si tetangga sebagai salah seorang mandor pengerukan pasir dan batu yang salah satu lokasi kerjanya berada tak jauh dari lingkungan mereka tinggal. Si mandor memang membutuhkan motor karena pekerjaannya memerlukan mobilitas yang tinggi. Kehadirannya sering dibutuhkan di lokasi-lokasi yang berlainan untuk menangani beberapa hal. Si tetangga tidak menjawab senyuman Nul. Ia malah memaki motornya yang rewel dan tidak kunjung menyala. 

Nul tidak peduli dengan tanggapan si tetangga yang mengabaikan keramahannya. Ia terus berjalan. Tujuannya tidak jauh. Tidak sampai satu kilo. Dulu, setahun yang lalu, itu adalah sebuah hamparan sawah di tepi kali, namun kini telah berubah menjadi tebing dan menjadi salah satu tempat kerja si tetangga yang motornya mogok. Puluhan backhoe dan truk-truk yang berlalu lalang tiap menit di sana sepanjang hari adalah yang mesti bertanggung jawab terhadap perubahan itu. Dan lebih dari itu semua, seorang pengusaha muda dari Surabaya yang memiliki hubungan dekat dengan bupati. Di tubir tebing, berdiri sebatang pohon trembesi tua setinggi sebelas meter dengan daun-daun yang tak lagi bersisa. Pohon tua yang kata orang menunggu mati. Namun tidak matimati. Sebatang pohon yang tampak kesepian dan menderita. Dulu, ia adalah satu dari hamparan banyak pohon yang tumbuh subur di sana, di antara petakpetak sawah dan pinggiran kali. Masa kejayaan pohon-pohon rimbun itu pudar begitu armada pengeruk pasir tiba. Mereka membeli sawah-sawah dan menjadikan para bekas pemiliknya menjadi kuli pengeruk pasir atau pemecah batu, menghabisi pepohonan, dan mengubah hamparan tersebut menjadi lembah gersang dengan kali yang senantiasa berwarna coklat berlumpur. Trembesi tua itu sendiri, konon, sudah berkali-kali berusaha ditumbangkan. Namun gergaji mesin besar yang digunakan senantiasa patah begitu menyentuh kulit kayunya yang keras. Berulang-ulang seperti itu. Lantas seseorang mencoba mengapaknya. Dan kapak itu mental. Setelah sebulan penuh kesia-siaan, mereka mendatangkan tujuh orang pintar yang menyarankan mereka menjalankan ritual-ritual tertentu dengan melibatkan dupa dan tumbal berupa potongan kepala kambing. Tiga hari kemudian, seorang pekerja ditemukan meninggal di sana, terkena pecahan mata gergaji mesin ketika mencoba menebang si pohon tua. Para pekerja mulai ketakutan. Akhirnya, didapati sebuah pemecahan atas persoalan tersebut. “Kita akan terus mengeruknya. Nanti, bila tanah di sekitar pohon itu tumbuh sudah habis, ia pasti mati dengan sendirinya.” 

Pohon itu kini berdiri di tepi tebing. Sebagian akarnya bahkan sudah terlihat menjuntai di sisi tebing. Sepertinya sebentar lagi ia akan menyusul koleganya sesama pohon yang sudah lebih dulu jadi mendiang. 

Nul menempuh jarak yang hanya satu kilo itu dengan langkah pendek dan lambat yang membuatnya menghabiskan waktu lebih dari satu jam. Selain si tetangga yang sibuk menyetarter motor, ia hanya bertemu dengan dua ekor kucing liar yang meringkuk lesu di samping tempat sampah. Ketika ia sudah cukup dekat dengan pohon trembesi tua, ia mendengar derum mesin-mesin berat di bawah tebing. Truk-truk pengangkut pasir dan batu mempunyai jalur tersendiri yang menghubungkan lokasi pengerukan dengan jalan raya provinsi yang aspalnya rusak sehingga ia tidak berpapasan dengan satu pun di antara mereka. Angin berhembus pelan sewaktu Nul sampai di tujuannya, menggerai rambutnya yang masih sedikit berat akibat keramas. 

Nul memandang trembesi tua itu lalu mengusap matanya. Ia mengira ia menangis, padahal tidak. Matanya hanya terasa panas, mungkin akibat debu yang kesasar. Sepanjang ingatan Nul, trembesi tersebut sudah setinggi itu sejak ia masih kecil. Mendung semakin gelap namun derum mesin backhoe dan truk-truk tak berkurang. Ratusan orang bertelanjang dada juga terlihat sibuk di bawah sana. Nul menghela napas panjang, lalu ia melepas sepatunya, menggulung bagian bawah celananya hingga sebatas lutut, menghela napas panjang sekali lagi, lantas mulai memanjat pohon tua tersebut. “Trembesi itu pohon pendendam,” ujar bapaknya dulu, sewaktu Nul masih sepuluh tahun dan ia bermain-main di sekitar pohon itu bersama kawan-kawannya. Bapaknya tidak menjelaskan lebih jauh dengan apa yang ia maksudkan sebagai “pohon pendendam” dan Nul kecil juga tidak bertanya. Nul kecil paham bahwa bapaknya kerap menggunakan istilah semacam itu untuk melarang Nul melakukan sesuatu. Dan Nul, setelah itu, memang tidak pernah lagi pergi ke sekitar pohon trembesi itu bila tidak ada sesuatu yang penting benar yang harus ia lakukan di sana. 

Nul bukanlah orang yang pandai memanjat. Bertahun-tahun lampau, sewaktu ia masih berusia sebelas tahun, ia pernah memanjat pohon kersen setinggi dua meter yang memiliki banyak cabang dan seharusnya gampang dipanjat. Semua kawan sepantarannya bisa memanjat pohon itu tanpa kesulitan. Namun Nul terpeleset pada cabang ketiga dan ia jatuh dengan posisi yang tidak benar hingga tangan kirinya patah dan ia mesti membolos sekolah selama sebulan penuh. Sejak itu, ia tak mau lagi memanjat pohon. Namun kali itu, Nul seolah mendapat keterampilan memanjat secara gaib. Ia bahkan terkejut mendapati betapa kaki-kakinya seolah memiliki daya rekat ajaib yang membuat proses memanjat itu seperti proses berjalan di atas permukaan tanah yang datar. Tangannya bahkan nyaris tak berguna sama sekali. Tak sampai lima menit, ia telah sampai di cabang tertinggi trembesi tua botak tersebut.

Udara gerah hilang entah ke mana di atas puncak trembesi itu. Nul mengedarkan pandangan. Semua terlihat berbeda dari sana. Backhoe dan truk memang masih yang itu. Orang-orang yang hibuk di bawah sana memang juga masih orang yang itu. Namun semua tampak lebih kecil, lebih suram. Tebing terlihat lebih tinggi. Dan di bawah pohon, seekor ular kayu melata di antara sepatu Nul, di atas tanah yang coklat dan keras. Sehelai daun trembesi yang tersisa dan sudah menguning lepas diputil angin. Nul memejamkan mata. 

“Ini hanya kematian,” gumamnya, “hanya kematian.” 

Ia menjatuhkan dirinya. Tubuhnya meluncur dengan kepala di bagian bawah. Sesaat sebelum membentur tanah, ia berteriak. Angin lembut membawa teriakannya ke seantero lembah galian, lalu tebing menggemakannya hingga membuat orang-orang menghentikan aktivitasnya. 

“Ada apa?” 

“Mungkin ada yang bunuh diri lagi.” 

“Perlu kita periksa?” 

“Ayo... ayo...” 

“Sudah tiga kali dalam dua minggu.” 

“Heran... kenapa banyak orang bunuh diri ya?” 

“Kukira bukan orangnya, tapi pohon itu...” ❑- g 


Dadang Ari Murtono, lahir dan tinggal di Mojokerto, Jawa Timur. Bukunya yang sudah terbit antara lain Ludruk Kedua (kumpulan puisi, 2016) dan Samaran (novel, 2018). Saat ini bekerja penuh waktu sebagai penulis dan terlibat dalam kelompok suka jalan.


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Dadang Ari Murtono
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Kedaulatan Rakyat" edisi Minggu, 3 Juni 2018  

0 Response to "Pohon Pendendam"