Tasbih Kupu-Kupu Pengarang | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu

Untuk Arsip Selanjutnya, Sila Klik Tautan Laman www.klipingsastra.com/ID

Tasbih Kupu-Kupu Pengarang Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 22:34 Rating: 4,5

Tasbih Kupu-Kupu Pengarang

SEORANG pengarang sudah merasakan tanda-tanda kematiannya semakin dekat. Namun, ia hanya ingin mati di pangkuan mantan pacarnya. Dalam benaknya, mati dalam keadaan seperti itu alangkah indahnya.

“Mati di bulan Ramadhan itu bagus sekali. Tapi caranya itu tidak etis,” kata teman-temannya.

“Aku merasakan jatuh cinta yang pertama kalinya pada dia. Ketika aku tidak ditakdirkan Tuhan menikah dengan dia, aku ikhlas. Aku pun memilih hidup sendiri. Tapi, aku ingin sekali mati di pangkuannya. Itu permintaanku yang terakhir pada Tuhan. Cukup itu saja. Bukan soal etis dan tidak.”

“Istigfar… istigfar…istigfar. Kalau ia sudah menikah, kau bisa dibunuh suaminya!”

Pengarang itu malah terbahak.

***
UNTUK mewujudkan keinginannya, pengarang berambut panjang dan kurus itu ingin berubah jadi kupu-kupu. Dalam pikirnya, dengan dua sayapnya itu, ia bisa terbang mencari dan menemui mantan pacarnya itu.

Ia yakin keinginanya itu akan dikabulkan Tuhan. Apalagi ini bulan suci Ramadhan. Di bulan penuh berkah ini, Allah pasti mengambulkan permintan hamba-hambanya. Makanya di penghujung Ramadhan ini, diantara malam seribu bulan, ia terus meningkatkan ibadahnya sekuat tenaga.

Dan setelah puluhan kali merayu Tuhan dengan merapalkan doa-doa yang khusyuk, kini di sepertiga malam kira-kira pukul satu dini hari, ia semakin kencang berzikir dengan biji-biji tasbih sambil memohon dirinya berubah menjadi kupu-kupu.

Malam semakin malam. Hening semakin hening. Dingin semakin dingin. Pengarang itu merasakan dari punggungnya tumbuh dua sayap. Gerakannya lembut dan pelan seperti sekuntum bunga yang baru merekah.

Pada dua sayapnya itu terdapat bintik-bintik hitam, merah, kuning, hijau, dan orange. Warna-warni di sayapnya itu begitu indah. Tubuh pengarang itu berubah juga seperti tubuh kupu-kupu.

Perlahan-lahan ia mengepakkan sayapnya terbang keluar rumah melalui lubang jendela. Ia menatap rumahnya dengan mata sendu dan jiwa pilu, karena akan ditinggalkan dalam waktu lama, bahkan bisa selama-lamanya.

Setelah terbang begitu jauh di udara, dilihatnya sebuah rumah mungil dan halamannya ditumbuhi pohon-pohon rindang serta berbagai jenis bunga yang bermekaran. Ia merasakan bukan main harumnya bunga-bunga itu, tercium hingga ke langit.

“Mungkinkah itu rumah mantan pacarku? Bukankah dulu ia senang sekali menanam dan merawat bunga-bunga?”

Dengan segera, ia arahkan sayapnya ke rumah itu. Lalu hinggap pada bunga mawar yang baru mekar. Namun di rumah itu hanya ada seorang kakek yang sedang duduk di teras rumah. Melamun. Sendiri. Ditemani segelas kopi panas.

Pengarang itu kecewa sekali dan terbang kembali. Melewati hutan, gunung, dan laut. Ia masih punya harapan bisa bertemu dengan mantan pacarnya dan kemudian mati di pangkuannya.

Sejak dulu cintanya pada mantan pacarnya tidak pernah berubah. Sayangnya, perempuan itu meninggalkan dirinya tanpa pamit kepadanya.

Mengenang kembali pada masa lalunya, pengarang itu merasa terpukul. Sambil terbang di udara, ia menahan jerit rindu, merasakan kehilangan yang begitu dalam.

***
ENTAH sudah berapa lama pengarang itu menjadi kupu-kupu. Terbang ke sana ke mari di angkasa. Hinggap dari pohon ke pohon, dari bunga yang satu ke bunga yang lain. Namun perempuan yang dicarinya belum juga ditemukan.

“Maaf, kau tahu di mana mantan pacarku?” Ia bertanya kepada beberapa kupu-kupu yang lewat di udara.

Kupu-kupu yang lewat itu tertawa-tawa.

Setelah menempuh perjalanan panjang, ia kelelahan dan istirahat di ranting pohon jambu yang putik-putik buahnya sudah mulai bermunculan. Pohon itu tumbuh di depan rumah panggung. Entah milik siapa.

Di ranting pohon jambu itu, ia memikirkan nasib dirinya yang lara dan luka. Ia lelah dan frustasi. Ia ingin kembali jadi manusia dan kembali ke rumahnya. Walau rumahnya sepi. Tak ada istri, tak ada anak-anak.

Tiba-tiba ranting pohon bergoyang-goyang ditiup angin sore. Dalam samar, di teras rumah panggung itu dilihatnya seorang anak kecil bermain-main dengan kucing kesayangannya yang lucu dan jinak. Tak lama muncul sesosok perempuan dari pintu rumah dan ikut bermain-main bersama anak kecil dan kucingnya.

Ditatapnya wajah perempuan itu lekat-lekat sambil mengernyitkan dahi. Wajah perempuan itu sendu dan dihiasi garis-garis ketuaan. Ia kenal betul perempuan itu, seperti wajah yang dikenalinya 20 tahun lampau. Dada pengarang itu berdeburan seperti ombak di lautan.

Perempuan itu menyuruh anak kecil itu masuk ke dalam rumah. Tak lupa, anak itu membawa serta kucingnya dan dipeluk di dadanya. Perempuan itu kemudian melihat-lihat putik-putik buah jambu.

“Aih.. ini benar-benar mantan pacarku…,” kata kupu-kupu itu.

Ia gembira hingga rasa lelah di tubuhnya mendadak hilang.

Dulu, ketika ia bertemu perempuan itu di kelas 1 SMA, seperti kena sihir. Sekarang pun sihir itu masih dirasakannya begitu kuat.

“Assalamu’alaikum…,” sapanya agak terbata.

Perempuan itu terhenyak. Ia melihat ke kiri dan ke kanan. Heran. Tak ada siapa-siapa, kecuali ada kupu-kupu hinggap di ranting pohon jambu. Sayapnya besar sekali seperti kupu-kupu di hutan Bantimurung.

“Wa’alaikumsalam…” jawab perempuan itu sambil menekan rasa takut.

Dilihatnya kupu-kupu bersayap besar mengepak-ngepakan sayapnya dan berjingkat-jingkat seperti kegirangan. Perempuan itu penasaran, lalu mendekati kupu-kupu itu.

“Kupu-kupu.. kau gagah sekali… kau bisa bicara?”

Perempuan itu takjub campur bingung. Selama hidupnya, baru kali ini ada kupu-kupu yang bisa bicara seperti manusia. Lebih heran lagi, suaranya mirip seseorang yang pernah dikenalnya 20 tahun lalu.

“Kau masih mengenalku?”

Sejenak, pikiran perempuan itu mengembara pada kenangan masa lalunya. Wajahnya berubah sumringah. “Dari suaramu, aku kenal sekali.”

“Aku pengarang yang kau tinggalkan dulu…”

Perempuan itu merunduk. Kalimat itu betul-betul menusuk hatinya. Tapi perempuan itu mencoba menguasi perasaannya, lalu mendekat dan mencium kupu-kupu itu. Sayap kupu-kupu itu bergetar.

“Kau dari dulu selalu punya imajinasi yang aneh-aneh. Tapi mengapa kau menemuiku dengan cara seperti ini?”

Kupu-kupu itu diam.

“Kalau aku tahu caranya berubah, aku pun ingin jadi kupu-kupu sepertimu,” kata perempuan itu sambil mengusap lembut sayap kupu-kupu itu.

“Cukup aku saja seperti ini. Setelah ini, aku akan meninggalkan dunia dengan tenang, di pangkuanmu.”

Seketika bola mata perempuan itu berawan. Ia kemudian berlari kecil masuk ke dalam rumah dengan hati sedih, sedangkan kupu-kupu terbang mengikuti perempuan itu masuk ke dalam rumah.

Perempuan itu duduk di kursi sofa.

Kupu-kupu terbang rendah dan hinggap di pangkuan perempuan itu.

“Dari mana kau tahu akan segera mati?”

“Usiaku sudah tua, rambutku sudah beruban, mataku sudah mulai kabur, tulang-tulangku sudah merapuh, tenagaku makin lemah. Bukankah itu tanda-tanda kematian yang diberikan Tuhan? Kalau Tuhan mengizinkan dan engkau pun rela, aku ingin mati di pangkuanmu.”

Perempuan itu menarik nafas berat, ada air hujan di matanya yang mengalir ke pipinya.

“Mengapa kau datang hanya ingin mengabarkan kematian kepadaku?”

Ditanya seperti itu, lidah kupu-kupu itu kelu sekali. Ia tak bisa menahan kesedihannya juga. Air mata mereka berjatuhan.

“Kau tidak tahu aku sedang berkabung. Suami dan dua anakku baru kemarin meninggal dalam kecelakaan lalu lintas. Kini aku hidup bersama cucuku. Dan kini kau datang mengabarkan kematian pula kepadaku. Oh, Tuhan,” kata perempuan itu sambil sesenggukan.

Perempuan itu menjerit sambil menutup wajahnya. Suaranya parau dan menyayat.

Kupu-kupu kebingungan. Ia berusaha menenangkan perempuan itu dengan cara berterbangan di atas kepala perempuan itu sambil membacakan sajak yang dikarangnya dulu.



Masih kuingat kularungkan cinta 
di sungai ini

Ketika engkau pergi diantara 
tangis hujan

Kenangan itu sudah melewati abad-abad 
hari

Di bantarannya kuratapi akar, pohon, 
daun, rumput mati

Aku bersujud kepada pemilik semesta 
alam

Sebab sungai kering dan hanya ada batu-
batu di dalamnya

Mendengar puisi itu, perempuan itu malah semakin sedih, karena dengan puisi itulah ia menerima cintanya pengarang. Perempuan itu masih menutup matanya dengan kedua telapak tangannya sambil menundukkan kepalanya ke pahanya. Air matanya merembes ke sela-sela lengannya. Deras.

Kupu-kupu semakin bingung. Namun ia terus berterbangan di antara punggung dan kepala perempuan itu, hingga akhirnya ia hinggap di atas meja. Menatap perempuan yang merunduk dan menangis.

***
Anak kecil yang sedang bermain di dalam kamar mendengar neneknya menangis. Ia berlari kecil sambil membawa kucing kesayangannya, ia mendekati neneknya, meletakan kucing di atas meja, dan memeluk ibunya erat-erat.

Perempuan itu memeluk cucunya lebih erat, sedangkan kupu-kupu terbang rendah di depan perempuan dan cucunya. Ia gembira sekali melihat dua anak manusia itu berpelukan.

Seekor kucing kaget melihat kupu-kupu terbang rendah. Naluri membunuhnya menjadi liar, dan dengan cepat diterkam dan digigitnya kupu-kupu itu, lalu dibawa kabur ke balik pintu kamar. Perempuan itu kaget lalu mengejar kucing bersama cucunya. Namun dilihatnya kupu-kupu itu sudah tergeletak. Dua sayapnya robek dan patah.

Mati.

Diambilnya kupu-kupu itu dan diletakan di pangkuannya. Perempuan itu menangis, air matanya yang deras jatuh ke tubuh kupu-kupu yang terkoyak.

***
Malam semakin malam. Hening semakin hening. Dingin semakin dingin. Tiba-tiba tasbih di tangan pengarang itu basah dan jatuh dari tangannya.  ❑


Budi Sabarudin seorang cerpenis. Karya-karyanya dimuat di koran lokal dan nasional. Penggagas Gerakan Sastra STISNU (GSS) Nusantara Tangerang. Selain menulis cerpen, juga aktif sebagai pendongeng keliling dengan nama Budi Euy sekaligus sedang menjalankan program “Sedekah Dongeng Keliling Nusantara”. Kini tinggal di Taman Royal 3, Jalan Akasia 3, AX1 No 8, Cipondoh, Kota Tangerang.


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Budi Sabarudin
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Republika" edisi Minggu, 3 Juni 2018  

0 Response to "Tasbih Kupu-Kupu Pengarang"