TOP ARCHIEVES

Koran Republika

Kumpulan Puisi

Kedaulatan Rakyat

Monday, 31 December 2018

Karangan Bunga

Seharusnya Sabtu pagi itu menjadi hari yang cerah dan tenang bagi Helene. Pukul sembilan ia akan membuka toko dan menata karangan-karangan bunga sesuai rangkaian ciamik hasil kreasi tangannya.

Lalu, ia akan membikin segelas teh lemon yang ditambahi sedikit gula – entah mengapa ia paling tidak bisa menghabiskan teh tawar sejak kecil – meletakkannya di salah satu meja di dalam toko. Tak perlu ada tambahan biskuit atau kudapan ringan untuk menemani ritual minum teh paginya. Ia tak ingin tubuhnya menjadi gembrot. Meski tak mungkin lagi jatuh cinta dan atau bercinta, Helene tetap ingin menjaga tubuhnya tetap ramping.

Namun, dering telepon pagi itu membuyarkan segala rutinitas akhir pekan yang cerah dan menyenangkan. Seseorang di seberang sana memesan karangan bunga untuk kematian. Gangguan semacam ini tak pernah menjadi masalah bagi Helene karena untuk itulah ia membuka toko bunganya; menyediakan bunga baik untuk kegembiraan seperti pernikahan, pesta ulang tahun, lamaran, dan juga untuk berita duka seperti barusan.

“Baik, satu karangan bunga untuk...” Helene mencatat setiap pesanan dengan teliti. Ia membacakannya sekali lagi untuk memastikan. Ada perasaan aneh saat ia menyebut, “Tulip dan white acacia untuk hand bouquet.”

“Itulah satu-satunya pesan yang aneh yang diminta oleh mendiang suamiku,” suara di seberang menjelaskan, seolah-olah bisa merasakan ketidakmengertian Helene.

“Oh ya, baiklah,” jawab Helene. Ia tak pernah menolak setiap jenis dan rangkaian bunga apa pun yang diminta pelanggannya. Pelanggan adalah raja, ya kaan...?!

Namun, keanehan kali ini bukanlah tentang hand bouquet untuk seseorang yang sudah mati. Tapi, lebih pada jenis bunga yang dipilih; tulip dan white acacia. Mantan suami Helene yang telah bercerai dengannya belasan tahun yang lalu sangat menyukai jenis bunga tersebut.

Helene memeriksa nama dan alamat tujuan. Namanya persis seperti nama mantan suaminya. Ah, paling hanya kebetulan, perempuan paruh baya itu mencoba berpikiran positif dan tak ambil pusing. Ia segera menyiapkan pesanan dibantu salah seorang pegawainya. Saat karangan bunga sudah jadi, ia memutuskan untuk mengantarnya langsung ke alamat. Tak menggunakan jasa antar yang telah menjadi langganan mereka seperti biasanya.

“Hanya karangan bunga kecil,” katanya beralasan. “Aku juga ingin berkeliling sambil melemaskan kaki. Kau jaga toko baik-baik, ya.”

Pegawai toko bunga milik Helene mengangguk dan segera masuk kembali.

Helene mengantarkan karangan bunga ke alamat pemesan. Selepas berpisah dengan mantan suaminya, P-J, ia tak lagi mengikuti kabar laki-laki itu. Sempat ia diberi tahu oleh seorang kawan bahwa laki-laki itu menikah lagi. Tapi, menikah dengan siapa, kemudian tinggal di mana, dan apakah akhirnya laki-laki itu mau punya anak atau tidak, Helene tak peduli dan tak mau tahu.

***
Tiba di alamat tujuan, Helene segera menurunkan rangkaian bunga dan menatanya sesuai dengan petunjuk Maria, seorang istri yang sedang berduka. Perempuan itu mengenakan gaun berwarna hitam dengan kalung mutiara – entah asli atau sekadar tiruan – sederhana. Tampangnya terlihat sedih, matanya sembab bekas menangis.

“Anda membawakan hand bouquet tulip dan white acacia itu?” tanya Maria.
Helene menyerahkan bungkusan kertas cokelat berisi rangkaian bunga pesanan. Maria menerimanya sembari menghela napas. “Pilihan yang aneh, bukan? Lagian, untuk apa, sih, kau sudah mati tapi masih menenteng-nenteng buket bunga meski cuma diletakkan di dalam peti?”

Helene tak menjawab. Ia hanya mengamati Maria yang melangkah pelan-pelan ke arah peti. Maria terlihat begitu muda dan rapuh. Bibirnya mungil dan berwarna merah muda. Kulitnya putih pucat agak kemerahan.

Sosok laki-laki itu terbaring tenang di dalam peti. Seperti sedang tertidur pulas dengan kedua telapak tangan diletakkan tepat di tengah. Helene melongok. Meski sudah banyak berubah ia masih bisa mengenali; ya, itu P-J, mantan suaminya.

Maria menghenyakkan buket bunga ke dalam peti begitu saja. Tatapannya letih dan setengah jengkel. “Akhirnya mati juga. Dasar laki-laki bangkotan.”

Helene menoleh saat jemari Maria menyentuh lengannya. “Kau masih tampak cantik, Ma’am. Dan, aku juga mengerti kenapa akhirnya kau memilih berpisah dengan....” perempuan yang sedang dalam pakaian berduka itu menunjuk ke dalam peti menggunakan dagu, “Mantan suamimu.”

Helene memerhatikan lagi paras pucat nan dingin yang sedang terbaring di dalam peti. Laki-laki yang kerap berkata dan berperilaku kasar. Dan, tak pernah menganggap memiliki anak dalam sebuah perkawinan adalah ide yang menarik. Helene merasa pernikahannya sudah tak sehat manakala mereka kerap cekcok. Pertamanya, mereka bertengkar mengenai prinsip hidup yang tak lagi sepaham. Berikutnya, mereka bertengkar mengenai hal-hal sepele yang sebenarnya tak patut untuk dijadikan sumber masalah.

Maria menyentuh lengan Helene sekali lagi. Tatapannya seperti tertarik, namun hanya sekejap. Ia segera berlalu untuk menyambut tamu-tamu yang berdatangan. Helene mengamati sosok PJ yang terbujur kaku sekali lagi sebelum kemudian pamit.

***
Seharusnya Selasa pagi itu menjadi hari yang cerah dan tenang bagi Helene. Pukul sembilan ia akan membuka toko dan menata karangan-karangan bunga dengan rangkaian ciamik hasil kreasi tangannya. Lalu, ia akan membikin secangkir teh lemon yang ditambahi sedikit gula – entah mengapa ia paling tidak bisa menghabiskan teh tawar sejak masih kecil. Tak perlu ada tambahan biskuit atau kudapan ringan sebagai teman minum teh. Helene tak suka lingkar pinggangnya bertambah sekian inci.

Bel di pintu berkelinting ketika Helene baru saja meletakkan nampan teh hangat untuk ia nikmati sendiri. Pegawai yang bekerja di toko segera menyambut dan menanyakan keperluan pelanggan yang baru datang.

“Aku ingin bertemu bu Helene. Apa ia ada?”

Helene mengenali suara Maria. Senyum Maria segera mengembang ketika melihat si pemilik toko ternyata berada di ruang yang sama. Perempuan itu semestinya masih dalam masa berduka tapi ia mengenakan pakaian warna cerah.

Helene menyilakan Maria duduk dan ngeteh bersama. Pelayan toko mengambilkan satu cangkir kosong. Maria lebih senang teh tawar. Ia menyeruput perlahan, tampak begitu menikmati tehnya.
“P-J benar-benar laki-laki kasar, ya,” katanya saat meletakkan cangkir tehnya.

Helene tak kaget dengan kenyataan bahwa mantan suaminya adalah laki-laki tak berperilaku halus. Ia hanya kaget dengan kehadiran Maria dan kalimat pembuka obrolan mereka.

“Ia tak pernah setuju kami punya anak.” Maria memain-mainkan cangkir tehnya. “Saat aku berkeras ingin punya anak, ia menyebut nama Anda dan mengatakan banyak hal yang buruk.”

“Oh,” tanggap Helene pendek. Ia sudah tak ada perasaan dan takkan ambil pusing dengan segala perkataan mendiang P-J.

“Aku penasaran dengan Anda. Aku mencari tahu dan senang mendapati bahwa Anda juga menyukai bunga – bahkan punya toko bunga,” kata Maria. “Aku jadi menyangsikan perkataan P-J tentang Anda yang katanya perempuan berhati keras dan dingin. Seseorang yang menyukai bunga tentunya berhati lembut, kan?”

Helene hanya mengangkat bahu. Ia tak mengiyakan atau menolak karena bibirnya sedang sibuk menyeruput minuman.

“Aku sering mengamati Anda. Aku juga sering membayangkan betapa harum tubuh Anda, Ma’am Helene. Harum wewangian bunga-bungaan. Aku penasaran bagaimana rasanya tidur dalam pelukan Anda.” Maria menghela napas. “P-J tak lagi tidur memelukku sejak aku berkeras ingin punya anak darinya.”

“Ia memang tak pernah menyukai ide tentang memiliki anak,” kata Helene.

“Sejak melihatmu kupikir ide memiliki anak itu tak lagi penting.” Maria mengikih malu. “Suatu malam P-J tersedak makanannya. Aku membiarkannya selama beberapa saat. Ia jatuh pingsan dan barulah aku menghubungi dokter keluarga kami. Nyawa P-J tak bisa diselamatkan. Aku berpura-pura menangis begitu sedih. Keesokan pagi, aku menghubungi Anda. Kupesan karangan bunga kematian dan hand bouquet berisi jenis kembang yang aneh.”

Maria mencondongkan tubuhnya mendekat ke arah Helene. “Aku hanya berbekal googling saat mencari nama bunga itu; tulip dan white acacia. Semua kulakukan supaya aku bisa bertemu dan bertegur sapa dengan Anda, Ma’am.” Wajah Maria memerah.

Helene tak yakin P-J tak pernah menyebut jenis bunga kesukaannya pada Maria. Apa yang diceritakan Maria barusan mengindikasikan dua hal; gadis itu berbohong atau hanya sedang mengarang-ngarang untuk diceritakan saat bertandang ke toko bunga dan bertemu dengan pemiliknya.

Maria kembali tersenyum malu. “Kuberanikan diri datang ke mari. Anda benar-benar cantik.”
Helene merasakan wajahnya menghangat. Ia ingin bangkit untuk mengaca dan memeriksa apakah wajahnya menjadi kemerahan – tapi ia menahan diri.

“Aku penasaran....,” sorot mata Maria berubah. “Apakah Anda... juga... terasa wangi... saat ku... cium....”

Helene diam sejenak sebelum kemudian ia tertawa. Maria menatap bingung.

“Wangi bukan rasa, Sayang. Wangi adalah aroma,” jelas Helene.

Gadis muda berambut merah keriting itu menyadari kesalahannya. Ia mengikih malu. “Maaf. Beginilah kalau seorang janda yang masih dalam masa berkabung malah keluyuran.” Ia kemudian berpamitan.

“Terima kasih atas waktunya, Ma’am. Kuharap kau tak keberatan bila aku mampir lagi kapan-kapan.”
Helene tersenyum. Ia bangkit hendak mengantar Maria ke pintu. “Mampirlah kapan pun kau mau.”
Maria yang sudah berdiri tiba-tiba berbalik. Kedua tangannya merengkuh bahu Helene. Bibirnya yang merah muda dan kenyal mengecup bibir Helene. Mereka berciuman, lidah mereka bersentuhan, begitu ringan, begitu tanpa paksaan.

Maria menarik kepalanya ke belakang dengan lembut. “Anda terasa manis, Ma’am. Ada sedikit kecut... Anda mencampur lemon dalam teh Anda, ya kan? Aku suka.”

Wajah Helene kembali meruap hangat.

Maria kembali berpamitan. “Au revoir.”

Bel di pintu toko berkelinting. “Au revoir,” balas Helene lirih. Jari tangannya menelusuri bibirnya, merasakan kembali betapa lembut ciuman Maria di sana.

Desi Puspitasari, kini tinggal di Yogyakarta. Sebagai cerpenis, cerpen-cerpennya telah dipublikasikan oleh beberapa media lokal dan nasional. Sementara sebagai novelis, lebih dari 10 buku karyanya telah diterbitkan. Tiga tahun terakhir, karya tulisnya juga merambah ke naskah-lakon, di antaranya adalah "Toilet Blues" (2018), "Sekar Murka" (2017), dan "Menjaring Malaikat" (2016) yang merupakan adaptasi dari cerpen karya Danarto; "Mereka Toh Tidak Mungkin Menjaring Malaikat".

Edi Sunaryo, pelukis dan pegrafis tinggal di Yogyakarta. Dosen Seni Murni di Fakultas Seni Rupa ISI Yogyakarta dan Pascasarjana ISI Surakarta. Sangat giat mengikuti berbagai pameran di tingkat nasional dan internasional.


[1] Disalin dari karya Desi Puspitasari
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Kompas" Minggu 30 Desember 2018
 
Copyright © 2010- | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
About | Sitemap | Kid-Stories | Ethnic | Esay | Review | Short-Stories | Home