Mayat di Atas Bukit ~ Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu

Selasa, 22 Januari 2019

Mayat di Atas Bukit


Istriku belum pulang sejak lima hari lalu. Dan tadi pagi, seorang peladang jagung di atas bukit menemukan seonggok mayat perempuan. Apakah mayat perempuan itu mayat istriku? Aku tidak tahu, sebab aku belum melihatnya dan aku enggan melihatnya. Untuk apa menonton seonggok mayat, pikirku. Lagi pula, kalau itu mayat istriku, aku tak ingin melihatnya. Memangnya suami mana yang mau melihat istrinya ditemukan di atas bukit dan sudah menjadi mayat? Hati kecilku bilang, itu bukan istriku, itu tak mungkin istriku.

Mayat di Atas BukitLalu ke mana istriku? Kenapa dia lima hari tidak pulang? Aku juga tidak tahu. Mungkin dia pergi ke rumah orang tuanya. Bisa juga dia menginap di rumah saudara-saudaranya atau teman-temannya. Akhir-akhir ini aku dan istriku sudah tidak bicara. Bisa dibilang kami sudah pisah ranjang. Kami menikah sudah dua tahun dan kami punya banyak ketidakcocokan. Aku menikahi istriku sebab aku tak mau dibilang bujang lapuk. Begitu juga istriku, dia menikahiku semata untuk menyenangkan orang tuanya saja-yang terus mendesaknya untuk cepat nikah. Dan kami belum dikasih anak. Sedangkan orang tua kami tak henti-henti menagih cucu. Seperti menagih utang. Setiap ketemu selalu saja bertanya, “Apa perut istrimu sudah isi, kapan mau punya momongan, kami suka mimpi gendong cucu…?” dan seterusnya.
Tentu saja kami belum dikasih anak. Sebab, selama dua tahun kami menikah, istriku tak mau kusentuh. Awal-awal, aku mengira dia masih takut. Lalu aku membiarkannya. Lambat laun dalam hitungan bulan, dia masih belum berubah. Dia tak mau kusentuh. Bahkan setelah kudesak, bahwa untuk memenuhi impian orang tua kami: menimang cucu, kami memang harus melakukan itu. Suami-istri memang harus melakukan itu. Semakin aku memaksa istriku, perempuan itu semakin enggan. Setiap kali aku mendekatinya, dia selalu mengelak. Kadang di matanya seperti ada tatapan jijik. Pernah suatu ketika aku memaksanya secara fisik. Dia malah berteriak-teriak seperti orang kesetanan. Dia memekik, katanya aku lelaki bejat pemerkosa. Mana ada suami memperkosa istrinya sendiri, kataku. Lalu dia bilang, dia jijik padaku, dia menyesal sudah menikahiku. Aku pun mengatakan hal yang sama. Dan sejak itu, diam-diam kami saling memusuhi.
Meski hidup di bawah satu atap, kami seperti hidup berjauhan. Dari hari ke hari istriku semakin menyibukkan diri. Tak pernah mempedulikan suaminya. Bahkan menegur pun tidak. Aku sedih sekali. Rasa sedih itu seperti datang dari segala arah. Membuat hari-hariku terasa kosong. Dan perasaan kosong itu membuatku sangat lelah. Dan rasa lelah itu membuatku selalu ingin marah dan berserapah, bahwa isi dunia ini tak lebih dari omong kosong belaka. Termasuk pernikahan kami, perempuan sialan itu juga, termasuk orang tua kami yang tak henti-henti menagih cucu dari kami. Mereka benar-benar gila. Sewaktu kami masih lajang, mereka ribut menyuruh kami menikah. Sesudah kami menikah, mereka ribut lagi minta cucu seperti menagih utang. Barangkali, kalaupun kami sudah dikasih anak, mereka tak akan berhenti. Mungkin mereka juga akan meminta kami untuk mati.
Aku takut menjadi gila gara-gara memikirkan itu semua. Kehidupan rumah tangga yang janggal itu. Kegagalan-kegagalan itu. Kesedihan-kesedihan itu. Kesepian-kesepian itu. Dan sebab itulah kuputuskan untuk mengadopsi anak. Tiga anak sekaligus. Anak adopsiku yang pertama adalah seekor kucing Persia berwarna putih, bulunya lembut dan suka tidur di pangkuanku. Anak adopsi yang kedua adalah sepokok bonsai adenium dalam pot, begitu cantik dan mungil dan tidak banyak bicara. Dan anak adopsiku yang ketiga adalah seekor ikan mas koki gendut dalam stoples akuarium, suka menyanyi dan sangat menggemaskan.
Setelah aku mengadopsi anak-anak, istriku malah mengataiku tidak waras. Sambil melepeh sesuatu dari mulutnya, dia bilang di depan mukaku, dia akan menceraikanku. Aku terbahak-bahak. Mana ada istri menceraikan suami? Lalu dia semakin menjauhiku, dia mulai jarang pulang, dan sepertinya enggan untuk pulang. Maka ketika dia tidak pulang selama lima hari, aku tidak menyebutnya menghilang. Aku hanya menyebutnya belum pulang. Dan sepertinya, memang lebih baik dia tidak pulang. Keberadaannya di rumah juga tak lebih bermanfaat ketimbang benda-benda lain, semisal kursi, sapu, keset, atau sandal.
***
Kabar perempuan yang mati di atas bukit itu kudengar tadi pagi dari seorang tetangga yang kebetulan lewat depan rumah. Kau harus segera melihatnya, barangkali dia istrimu, sarannya. Aku bertanya pada anak pertamaku si kucing Persia, apakah aku memang perlu melihatnya? Kucing itu mengeong, lalu menggoyang-goyangkan pantatnya. Aku melemparnya dengan terompah kloset. Tapi meleset. Anak tak punya adab, kataku. Ditanya baik-baik malah mengejek menggoyang-goyangkan pantat. Anakku yang kedua, bonsai adenium yang pendiam, berbisik padaku, bahwa aku tak perlu melihat mayat itu kalau aku tak ingin melihatnya. Aku mengelus-elus tubuhnya, menciumi bunganya yang merah jambu dan beraroma pahit. Kau memang anakku yang paling pengertian, kataku.
Sementara itu, dari dalam stoples akuariumnya, si bungsu, si mas koki gendut, berkomat-kamit di dalam air, mengeluarkan gelembung udara dari mulutnya. Ia bilang, bahwa papanya pilih kasih, sebab tidak turut meminta pendapatnya. Maka, aku pun mendekatinya dan bertanya padanya, apakah aku memang harus pergi ke bukit untuk melihat mayat itu? Papa memang harus melihatnya, sebelum mayat itu diangkut ke rumah sakit yang ada di kota, kata si bungsu. Kenapa aku harus melihatnya? Tanyaku balik. Karena kau suami yang baik, kau papa yang baik, dan kau harus memastikan kalau semua anggota keluargamu baik-baik saja. Tak ada ruginya pergi melihat-lihat daripada berdiam di rumah dan menjadi gila.
Anak ini juga tak punya adab, pikirku. Mengatai papanya gila. Kuraih stoples berisi air itu, lalu kubanting di lantai. Stoples berkeping jadi beling. Si bungsu gendut malah menari-nari, melompat-lompat. Aku ikut menari bersamanya di lantai. Berputar-putar. Menggelepar-gelepar. Menyenangkan sekali. Kalau tidak ada orang mengetuk-ngetuk pintu, mungkin aku masih akan terus menari bersama si bungsu gendut. Tertawa bersama. Sampai tidak bergerak.
Aku membuka pintu. Beberapa tetangga sudah berkerumun di teras. Sepertinya mayat perempuan yang ditemukan di bukit itu memang istrimu, ujar seonggok ketela pohon yang tiba-tiba menyeruak dari kerumunan. Kau harus melihatnya, kata segelundung pepaya, tepat di depan mukaku. Seekor kalajengking raksasa berdiri dan ikut bersuara, untuk memastikan apakah dia istrimu atau tidak kau harus melihatnya. Seekor kampret beterbangan di udara dan berseru, dia istrimu, aku yakin dia istrimu. Mendadak sebuah pohon mangga tanggung menarik tanganku dan memekik, aku akan mengantarmu ke bukit. Kau harus melihatnya sendiri.

Para tetangga bersekongkol dengan ketela pohon, segelundung pepaya, kalajengking, kampret, pohon mangga, serta aneka tumbuhan dan binatang-binatang lain untuk menggiringku menuju bukit. Di sepanjang jalan, orang-orang, tumbuhan-tumbuhan, binatang-binatang, memandangiku dengan tatapan aneh. Seekor kucing di atas sebuah kursi di teras rumah tetangga mengedipkan matanya padaku lalu menjilati tubuhnya sendiri. Bunga-bunga dalam pot tersenyum, bersorak, seperti memberiku semangat.
Sesampainya di atas bukit, aku terbengong-bengong, sebab bukit itu tidak lagi menjadi bukit, melainkan menjadi pasar. Orang-orang berkerumun sambil menutup hidung. Matahari menjerang tepat di atas kepala. Dan desau angin bermunculan dari daun-daun. Minggir. Minggir. Orang-orang berseru. Kerumunan itu pun tersingkap. Sebuah pita berwarna kuning dipasang memanjang dari pohon ke pohon. Mungkin ada anak kecil sedang ingin bermain di atas bukit, pikirku. Di hadapanku, aku melihat beberapa orang berseragam tengah berebutan menggotong gedebok pisang menuju tandu.
Aku tak bisa menahan tawaku. Orang-orang ini pasti sedang melucu berjemaah. Kasihan sekali orang-orang yang butuh hiburan ini. Gedebok pisang mereka bilang mayat. Pasti kalau ada mayat betulan akan mereka bilang gedebok pisang. Hahaha. Di tengah ledakan tawaku yang tak terbendung itu, aku baru saja ingat, beberapa hari yang lalu akulah yang mencacah-cacah gedebok pisang itu. Lalu membuangnya di atas bukit. Aku tak menyangka, gedebok pisang itu bisa jadi hiburan dahsyat buat mereka.
Aku masih saja tertawa. Sementara orang-orang, tumbuhan-tumbuhan, binatang-binatang, terus saja menatapku dengan tatapan janggal. Mata-mata itu, kini persis seperti butiran kelereng yang sepertinya sangat mengasyikkan kalau dicungkil satu-satu dan dimasukkan dalam botol. Lalu kubawa pulang, dan kuhadiahkan untuk anak-anakku.
Coba kau lihat baik-baik. Bukankah itu istrimu? Pekik orang-orang. Aku menghentikan tawaku dan menatap mata mereka satu per satu sambil berpikir soal kelereng yang berkilapan di dalam botol. Bakal mainan buat anak-anakku di rumah. Tapi sayang sungguh sayang, aku lupa, tidak bawa pisau. Seharusnya aku tadi bawa pisau.
Matahari semakin membara, seperti menjerang kepala. Dan desau angin terus saja bermunculan dari daun-daun. Aku mengamati sekeliling, mencari-cari kayu atau apa pun yang bisa kupakai untuk mencungkil kelereng-kelereng itu dari tempatnya.
Malang, 2018
________________________________________
Mashdar Zainal, lahir di Madiun, Jawa Timur, 5 Juni 1984, suka membaca dan menulis puisi serta prosa. Buku terbarunya adalah Sawitri dan Tujuh Pohon Kelahiran (2018). Kini dia bermukim di Malang.

[1] Disalin dari karya Mashdar Zainal
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Koran Tempo” edisi akhir pekan 19-20 Januari 2019
The post Mayat di Atas Bukit appeared first on Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara.
Share:



Dokumentasi Populer



Arsip Literasi