Seribu Cahaya di Langit Muram | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu

Minggu, 13 Januari 2019

Seribu Cahaya di Langit Muram


SETELAH memastikan teman-teman satu kamarnya tidur, Zain dan Buyung membuka lemari pakaian. Dua bocah sebelas tahun itu memasukkan pakaian ke dalam ransel. Zain, anak yang berwajah oriental diam sejenak, kemudian menatap Buyung.

“YUNG, sebaiknya kita tidak membawa apa pun selain lampu ini.” Zain mengacungkan untaian lampu hias.
“Memangnya kenapa?” Buyung menghentikan gerak tangannya yang tengah melipat sarung.
“Nanti Pak Ustaz curiga. Bisa gagal lagi kita,” bisikZain.
Setelah memperhatikan keamanan, dua bocah itu mengendap-endap ke luar asrama. Lingkungan asrama memang sedang sepi saat itu, karena sudah hampir tengah malam dan sedang musim liburan. Beberapa siswa dijemput orang tua mereka untuk berlibur bersama keluarga. Penghuni asrama menjadi berkurang. Bahkan hampir tiap hari, ada saja yang pulang.
Buyung dan Zain sudah tidak memiliki orang tua. Mereka dibawa ke yayasan sekolah islami itu sebagai siswa tidak mampu. Setiap musim liburan, mereka tak pernah pulang. Kecuali saat masih ada Daen.
Daen adalah teman mereka yang sama-sama sekolah dan mondok gratis di sana. Daen masih memiliki ibu dan seorang adik perempuan yang masih balita. Kondisi ekonomi keluarga mereka terbilang sulit, sehingga ikut mondok gratis di sana.
Dulu, Buyung dan Zain selalu ikut berlibur ke rumah Daen saat ibunya menjemput. Mereka selalu membujuk pengasuhnya untuk mengizinkan. Mereka berjanji tidak akan menyusahkan Ibu Daen. Di sana, mereka menghabiskan liburan dengan bermain di pantai, dan membantu ibu Daen berjualan.
Setahun kemudian, Daen terpaksa keluar asrama karena harus mengurus ibunya yang sakit. Ia tidak memiliki famili lagi selain adiknya yang masih balita. Pihak asrama mengizinkan Daen pulang walau berat hati. Setelah lama menunggu, Daen tidak kembali dan tidak ada kabar apa pun tentangnya. Hal itu yang membuat Buyung dan Zain rindu pada Daen.
Di belakang asrama, ada pagar dinding yang jebol. Pihak asrama belum merenovasi, karena saat itu kerusakan dinding belum parah, dan jarang terkontrol. Padahal, setiap hari, ada saja siswa usil yang memperbesar lubang itu. Dari lubang yang hanya muat tubuh seorang anak kecil itulah Zain dan Buyung keluar. Mereka bergegas menuju jalan raya, menghentikan truk Cianjur bermuatan jagung tujuan Kota Bogor.
“Yung, aku sudah tidak sabar ingin bertemu Daen. Yung, lampu yang kita buat kemarin tidak ketinggalan, kan?”
Buyung mengacungkan kantong kresek, lalu membuka isinya, dan memperlihatkan lampu-lampu kecil yang dipasang pada kabel panjang. Mereka membuat lampu-lampu itu saat tugas kesenian. Pihak yayasan yang memodali mereka. Setelah diberi nilai, lampu-lampu itu mereka amankan dengan alasan untuk hiasan kamar. Padahal mereka menyimpannya untuk Daen.
Dulu, Daen sering memperhatikan langit malam yang cerah dan lampu-lampu yang menyala di kejauhan dari jendela asrama. Katanya, lampu-lampu itu seperti seribu cahaya yang hinggap di bangunan. Seperti bintang-bintang yang bertebaran di langit hitam. Daen ingin rumahnya yang gelap dan hanya disinari sebuah lampu lima watt di kamar kecil ibunya, bisa seperti langit malam. Meski hitam, tetapi mempunyai seribu cahaya yang berkelip.
“Daen pasti senang,” ucap Zain menatap langit malam.
Truk muatan menurunkan mereka di Kota Bogor saat tengah malam. Dua bocah itu gegas mencari truk lain yang searah dengan tempat tujuan mereka. Setelah tiga kali naik truk gratis, mereka sampai di tempat tujuan ketika pagi menjelang siang.
“Daen! Aku kembali.” Zain berteriak dan berlari menuju permukiman warga yang carut-marut. Di belakang, Buyung mengekor dengan wajah riang. Saat itu matahari mulai terik membakar bumi.
Mereka mencari Daen hingga magrib, tapi tak kunjung bertemu. Sebenarnya, dua bocah itu lupa seperti apa rumah Daen, dan di mana letak pastinya. Mereka nekat mengetuk setiap pintu rumah hanya untuk menanyakan Daen.
Bakda isya, mereka memutuskan mencari Daen ke pantai. Mereka yakin Daen ada di sana. Dulu, saat berlibur, Daen sering mengajak mereka ke pantai untuk melihat langit berbintang, dan lampu-lampu kapal di lautan lepas.
“Daen! Kau di mana? Kami membawakan seribu cahaya untukmu, Daen!” teriak Zain, ke setiap arah.
“Daen! Lihatlah! Aku membawa hadiah untukmu!” Buyung mengacungkan kresek hitam berisi lampu hias buatan mereka.

Debur ombak membelah sunyi. Tidak banyak orang yang berlalu-lalang atau bercengkerama di sekitar mereka. Dua bocah itu terus berteriak mencari Daen yang entah berada di mana. Perut mereka telah meraung-raung ingin diisi. Setelah seharian penuh menaklukan perjalanan, perut mereka hanya diisi roti pemberian orang saat di masjid, ketika salat Subuh.
Dua bocah itu berlari ke arah permukiman. Barangkali Daen berjalan ke sana, berjualan gorengan hangat dan teh manis. Belum sampai mereka ke sana, gulungan ombak tinggi menghantam. Mereka terbawa arus air dan terendam di tempat yang entah berada di mana.

***

SETELAH beberapa menit terombang-ambing air taut, Buyung tersadar. Tubuhnya berada di atas pintu kayu yang rusak. Ia limbung mencari temannya. Air mata mengalir di pipi tirus Buyung. Dadanya berdebar kencang. Ia takut. Takut mati dan takut terpisah dari Zain.
“Zain!”
Tidak ada sahutan selain suara air dan teriakan orang yang lamat memecah sepi. “Zain! Kau di mana?”
Senyap. Anak lelaki itu terdiam, menatap air yang sedikit tenang. Puing-puing kayu mengambang di sekitarnya. Tubuhnya berguncang karena tangis yang sesenggukan. Ia terus merafal nama Zain, dan Daen. Tiba-tiba tangannya menggapai untaian lampu hias buatannya yang hanyutdi hadapan.
“Zain! Kau di mana?” katanya lirih, menatap lampu hias yang dingin dengan mata berkabut.
Dari arah lain, ia mendengar suara Zain memanggilnya. Buyung menoleh ke arah suara itu. Ia melihat Zain terendam air hingga leher. Buyung memanggil temannya, mendayungkan sepasang tangan agar pintu kayu itu melaju ke arah Zain yang berusaha bertahan. Saat itu Zain hampir tenggelam.
“Zain, bertahan. Ayo raih tanganku!”
Tangan dingin bocah itu menggapai tangan buyung. Ia naik ke bongkahan kayu itu. Mereka berbaring di sana, menatap langit yang hitam dan sunyi.
“Yung, lihat!” Zain menujuk ke arah langit. “Aku melihat Daen di sana. Ia tersenyum pada kita. Daen dikelilingi seribu cahaya yang bersayap.” Zain tak berkedip menatap langit. Bulir hangat keluar dari mata sipitnya.
Buyung menatap langit begitu lekat. Ia tidak melihat apa pun selain kemuraman. Ditatapnya kembali Zain yang pucat. Zain yang begitu bahagia menatap langit di mana ada Daen dan seribu cahaya bersayap di sana. Apakah cahaya-cahaya itu adalah malaikat?
“Zain, kau harus bertahan. Kita pasti bisa.”
“Yung, aku menyayangimu dan Daen. Kalian adalah saudaraku. Yung, aku sangat mencintai kalian.” Zain meraih tangan Buyung. Digenggamnya tangan itu dengan erat.
“Aku pun menyayangimu, Zain. Kau dan Daen adalah orang yang paling baik di dunia ini.” Buyung balas menggenggam tangan Zain yang dingin.
“Yung, lihat! Cahaya-cahaya itu mulai mendekat dan hampir menemui kita.”
Buyung mengalihkan kembali tatapan ke langit. Ia tidak melihat cahaya apa pun selain hujan yang mulai menyerbu. Embusan angin meniupkan sepi menyayat di dada Buyung. Ia merasakan sesuatu yang aneh. Ia takut. Takut berpisah dengan Zain. Bocah itu berharap bahwa dirinya sedang bermimpi kini.
“Yung, cahaya itu menyentuhku hangat,” kata Zain, memejamkan mata saat rintik hujan menghujam tubuhnya. Genggaman tangan Zain yang semakin dingin melonggar. Tak ada lagi kata yang diucap Zain. Sebelumnya ia sempat melafal tauhid lalu tersenyum.
Sunyi. Buyung menatap Zain yang tertidur tenang. Matanya mulai hujan seperti langit hitam yang menurunkan renai kesunyian. Ia mengguncang tubuh Zain yang kaku dan dingin. Sunyi. Tidak ada suara apa pun selain isak tangisnya sendiri.
“Zain, jangan pergi. Aku tak ingin kehilanganmu.” Buyung menggenggam erat tangan Zain yang kaku.
Buyung mengalihkan pandangan pada langit hitam. Dari langit itu ada setitik cahaya, bertambah jadi dua, tiga, dan seterusnya hingga ia tak sanggup menghitung. Cahaya-cahaya itu mengeluarkan sayap yang indah. Di antara cahaya-cahaya itu, ia melihat Daen dan Zain tersenyum padanya.
Cahaya-cahaya bersayap itu turun menghampirinya. Tetapi masih terlihat sangat jauh. Buyung tak berkedip menatap ribuan cahaya yang bergerak ke arahnya. Ia telah siap dihujani cahaya itu.
Dari arah lain, ada cahaya bulat yang menyentuh kulitnya. Cahaya itu semakin mendekat. Kemudian ia mendengar teriakan seorang lelaki.
“Ada dua anak kecil di sini!”
Buyung menoleh ke sumber cahaya itu, lalu ia kembali menatap langit dan cahaya-cahaya bersayap yang mulai mendekat. Teriakan dan suara-suara itu masih dapat terdengar sebeium akhirnya menjadi pelan lalu hening. ***

[1] Disalin dari karya Bia R
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Pikiran Rakyat” Minggu 6 Januari 2018
The post Seribu Cahaya di Langit Muram appeared first on Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara.
Share:



Dokumentasi Populer



Arsip Literasi