Toko Bunga Bahagia ~ Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu

Senin, 21 Januari 2019

Toko Bunga Bahagia


Toko Bunga Bahagia

SEORANG perempuan muda, dari arah kiri, melihatmu dengan tatapan iba. Kau benci tatapan semacam itu. Mungkin benar kau sedang bersusah hati, tapi kau tak menginginkan tatapan yang membuatmu merasa seperti gembel di jalanan, apalagi dari seorang perempuan, yang tak kau kenal.

Kau menggaruk ujung besi kursi, agak keras sehingga menimbulkan decit yang mengilukan. Itu kebiasaanmu jika merasa gelisah. Menggaruk-garuk apa pun yang berada di dekatmu. Cara orang menahan geram beraneka ragam, ada yang menggerematakkan gigi dengan mata menyala dan rahang mengeras bak peran antagonis di sinetron, ada yang menonjoki tembok hingga buku jarinya terluka, ada yang menangis di balik selimut, dan banyak lagi kau bisa menelitinya sendiri jika mau. Tapi, kau memilih cara menggaruk. Dan sepertinya itu cara yang tepat sebab tak menimbulkan mudarat bagi sesiapa.
Burung-burung berwarna krem melesat dari gerumbul pohon, melintasi langit. Burung-burung yang tak kau kenal namanya dan memang tak ingin kau kenal namanya. Kau berpikir, dirimu kini sebebas burung-burung itu. Tapi, apa itu kebebasan?
Sebelum pertanyaan yang menerbitkan lampu di atas kepalamu terjawab, perempuan itu, perempuan yang tadi menatapmu dengan iba, mendekat ke kursimu. Ia, sebelumnya berdiri seperti menunggu sesuatu, lalu menempatkan bokongnya yang berbalut rok hitam berukir garis-garis ungu di atas kursi di sampingmu. Kau memindahkan tas kerjamu ke pangkuan, meluaskan tempat untuk perempuan di sebelahmu. Harum lavender menyemerbak.
Mulanya perempuan itu tak mengucapkan apa-apa. Hanya melakukan gerakan-gerakan ringan dengan pandangan linglung. Ia tak lagi menatapmu, tidak dengan tatapan model apa pun. Beberapa saat lamanya ia tetap begitu, tetap bungkam dan kau mulai menduga ia bisu. Saat keyakinanmu akan kebisuannya semakin menguat, ia menoleh, menatapmu dengan tatapan jauh lebih bersahabat ketimbang sebelumnya.
Kini kau bisa melihat wajahnya secara jelas, anak-anak rambut di dahi, rahang, bibir, bentuk hidung, dan lubang hidung ya, pada bagian itu kau mengingat sesuatu. Wajah perempuan itu mengingatkanmu pada teman SMP-mu. Temanmu itu perempuan yang memiliki kebiasaan ganjil: suka mengorek-ngorek hidung ketika mengobrol.
Teman perempuanmu sesungguhnya jelita, tapi kebiasaan mengorek-ngorek hidung agak mengganggumu, meski perkara seremeh mengorek-ngorek hidung, bagimu itu sangatlah mengurangi estetika dirinya.
“Apa kiranya alasan seorang lelaki muda duduk sendirian di kursi taman sore-sore begini?” Suara perempuan itu muncul tiba-tiba seperti televisi yang mendadak menyala dalam volume tinggi.
Kau terhenyak dan melupakan soal teman perempuanmu. Perempuan itu merapikan rambut di sela telinga dengan jemari, mengusap-ngusap mata, seolah ingin tampil lebih cantik ketika berbincang denganmu. Apakah ia tertarik denganku atau memang semua perempuan memiliki kebiasaan begitu bila berhadapan dengan lelaki yang baru ditemuinya, tanyamu, tentu saja tanpa suara.
Setelah tenang, kau menimpalinya.
“Apa kiranya alasan seorang perempuan muda tiba-tiba duduk di sebelah lelaki muda yang sedang duduk sendirian di kursi taman sore-sore begini?”
Kau membalas pertanyaannya dengan pertanyaan baru, serupa serangan balik dalam pertandingan sepak bola.
Perempuan itu mengerdip, bukan kerdipan menggoda, melainkan lebih mirip kerdipan seorang yang kelilipan debu. Ia lalu tertawa, ringan sekali tawanya seperti kapas, lalu ia terbahak, keras sekali bahaknya seperti pantulan batu-batu, lalu ia menutup mulutnya dan meminta maaf.
“Seorang lelaki tak seharusnya membalikkan pertanyaan seorang perempuan. Seorang lelaki seharusnya menjawab. Bertanggung jawab, kau pasti sering dengar kata itu, bukan?”
Tapi, apa hubungannya? Kau ingin mengatakan itu, tapi kemudian sadar itu termasuk ‘membalikkan pertanyaan’, itu bukan jawaban. Kau menatap mata perempuan itu lekat-lekat, mata yang kembali mengingatkanmu pada teman SMP-mu, bola mata lonjong seperti telur yang sempurna. Seusai menyusun kata-kata dalam kepala, kau menjawab, jawaban yang sama yang kau berikan pada seorang lelaki keras kepala berkumis tadi siang di ruangannya yang dingin.
“Aku sudah berusaha bertanggung jawab semampu yang aku bisa.”
Memang itu sebuah jawaban. Namun, sebagaimana bisa dilihat pada ekspresi perempuan di sebelahmu yang menyiratkan ‘kau ngomong apa sih?’, kata-katamu seperti kata-kata yang kau ucapkan pada seseorang yang jauh, yang hanya ada dalam imajinasimu, yang tidak ada di hadapanmu.
“Maaf. Pikiranku sedang tak keruan.”
“Sedang ada masalah?”
“Ya, begitulah. Hidup selalu penuh dengan masalah.”
“Berkaitan dengan pekerjaanmu?”
“Mengapa kau bisa tahu?”
“Kau masih berpakaian rapi, membawa tas kerja, hari masih sore, dan kau bilang pikiranmu sedang tak keruan, memang apa lagi kiranya arti sepaket pertanda itu kalau bukan karena urusan pekerjaan?”
Kau diam tak menimpalinya. Hanya mendengus. Menggaruk besi kursi dengan kuku telunjuk tangan kanan. Burung-burung krem yang tak kau kenal namanya kembali dari langit mengerumuni ranting-ranting pohon. Warna langit mengelabu. Apa pun nama burung itu, mereka pasti burung yang pintar, pikirmu. Petir berdenyar, getarnya sampai merambati kursi yang kau dan perempuan itu duduki.
“Aku juga sedang ada masalah yang kurang lebih sama denganmu. Tapi, aku mampir ke taman ini bukan untuk merutuki nasib. Aku justru ingin merayakannya.”
Mata perempuan itu berbinar, suaranya terdengar lebih lantang dan renyah, menyuntikkan jarum kegembiraan ke dalam pikiranmu. Kau berusaha menyamai sikapnya yang santai, tenang, dan tampak seperti orang yang ke taman sekadar untuk bersenang-senang belaka. Kau berbeda. Kau tidak langsung pulang ke rumah, kau menyempatkan mampir ke taman yang begitu sepi pada sore hari ini untuk mengambil jeda. Untuk menyesali keterburu-buruanmu. Keputusan keliru telah kau buat dan garis hidup berbelok ke arah yang tak pernah kau harapkan.
Tak memedulikan ketakacuhanmu, perempuan itu meneruskan bicaranya.
“Kau tahu, aku mengharapkan momen ini sejak lama. Tapi, aku tak pernah berani berterus terang. Aku khawatir teman-temanku akan menyebutku sombong, tak tahu diuntung, tak bersyukur. Padahal, aku memang sudah tidak nyaman dan memaksakan diri dalam ketidaknyamanan itu tidak enak. Untunglah hari ini momen yang kuharapkan akhirnya tiba.
Kini aku terbebas dari kungkungan ketidaknyamanan, aku bisa bebas memilih apa saja yang aku inginkan. Kau tahu apa yang kuinginkan?”
Perempuan itu kian antusias, tapi kau seperti tengah berada di dunia lain. Kau masih larut dalam ingatan peristiwa siang tadi.
“Hei!”
Kau menoleh dan spontan berujar, “Ya, ada apa?”
“Kau memperhatikan perkataanku, tidak?”
“Ya, kau bilang kini kau bebas.”
“Iya. Kau tahu apa yang kuinginkan?”
“Bahagia?”
“Bukan itu maksudku.”
“Lalu? Banyak uang? Pekerjaan bagus? Pasangan yang baik? Waktu luang?”
“Mendekati itu. Aku ingin mendirikan toko bunga. Kau tahu, mendirikan toko bunga adalah bisnis yang takkan membuatmu bersedih. Jika bunga-bungamu laku, kau akan senang.
Jika bunga-bungamu tak laku, setidaknya kau masih dapat menikmati kemolekan bunga-bunga itu. Bisnis yang membahagiakan, bukan?”
Perempuan itu makin percaya diri, ia berbicara denganmu seperti berbicara dengan orang yang sudah dikenalnya bertahun-tahun. Begitu lepas dan akrab. Kau mencerna kata-katanya beberapa saat, kemudian tercengang. Kau mulai tertarik pada apa yang dikatakannya.
“Luar biasa. Itu ide yang sangat brilian. Sebelumnya kupikir orang-orang yang mendirikan toko bunga adalah orang-orang putus asa, rasanya anggapan itu mesti kuralat. Orang-orang yang mendirikan toko bunga adalah orang paling bahagia! Aku suka idemu.”
Tiba-tiba kau menjadi antusias. Rasanya jarum suntik kegembiraan perempuan itu sudah menusuk dirimu terlalu dalam sehingga kegembiraannya menular kepadamu.
“Untuk itulah aku ke taman ini. Untuk melihat bunga-bunganya. Untuk merayakan hidup. Karena besok aku akan langsung memulai bisnis bahagiaku itu. Ah, betapa bahagianya lepas dari hidup kantoran yang menjenuhkan, dan memasuki kehidupan penuh dengan bunga-bunga tiap harinya.”
Mendengar kata ‘kantor’ mengingatkanmu pada bosmu yang keras kepala, gebrakan tanganmu di meja, pemecatan yang tak terhormat, pandangan teman-teman sekantor yang menyebalkan dan malah terlihat senang dengan nasib buruk yang menimpamu, gedung kantormu yang menjulang angkuh seperti umumnya gedung-gedung perkantoran di sepanjang Ibu Kota.
Kau lekas mengenyahkan ingatan itu. Sekarang, kau menyusun suatu taman berisi bunga-bunga aneka rupa, warna-warni dan menguarkan harum yang menyegarkan dada. Betapa indah dan manisnya.
Kau merogoh saku celanamu. Dompetmu masih cukup tebal. Saldo di rekeningmu juga masih cukup banyak.
Angin menderu kian menusuk. Petir berdenyar lagi.
“Bagaimana jika kita bekerja sama? Aku akan menginvestasikan uangku untuk bisnis bungamu itu.”
“Wah, aku setuju. Aku senang ada orang mau bekerja sama denganku.”
Sebelum hujan turun, kau dan perempuan itu keluar dari taman, mengunjungi kedai kopi tak jauh dari sana. Dua cangkir kopi panas cukuplah.(M-2)

[1] Disalin dari karya  Erwin Setia
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Media Indonesia” Minggu 20 Januari 2019
The post Toko Bunga Bahagia appeared first on Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara.
Share:



Esai dan Opini

Dokumentasi Populer

Ulasan Karya



Arsip Literasi