TOP ARCHIEVES

Koran Republika

Kumpulan Puisi

Kedaulatan Rakyat

Friday, 1 February 2019

Kita Hanya Membaca Hujan

Kita Hanya Membaca Hujan

Telah kulihat rinai aksara langit berguguran
Di tangga malam tanpa sebuah pegangan
Udara basah diam-diam mengumpulkan embun
Berhimpun di permukaan kaca
Bingkai foto, televisi, meja marmer, keramik
Dari mata jendela memerah serabut kilat
Membelah keheningan di antara kita
Nyaris tak bergerak dan tak bersuara
รณ Kita hanya membaca hujan
Membunyikan kata-kata dalam bening air,
Meresapi dingin angin mencemaskan,
Di balik dinding kesedihan,
Aroma sungai menggapai,
Menyentuh daging pipi puisi
Jiwa cinta meledak lalu tergeletak,
Di atas tanah yang basah, di bawah
Jejatuhan gerimis reda,
Malam terbaca demikian syahdu,
Lebih indah dari benderang bulan

Jam dinding menegur, jarumnya gugur

Kita tak berkedip memandang bendul jendela
Ke sana senyum matahari rekah

Dengan tetes kata yang kauucap
Kuteguk air pengertian pada tiap-tiap warna kelabu
Sama sekali kata-kata basah kuyup

Begitu sering titik air turun tanpa sempat kita baca
Terkantuk-kantuk mata melihat susunan huruf
Setelah secangkir teh panas mengusir beku
Juga selimut tebal

Apa kau punya gagasan setelah hujan berakhir
Tepat pada nomor halaman terakhir

Sebaiknya kita melihat taman bunga. Itu lebih membahagiakan

Indramayu, 2018

Bermain Puisi

Sesekali kau mengajakku bermain puisi
Memilih diksi, melambungkan imajinasi, ke alam fiksi
Kata-kata diterbangkan bagai layang-layang
Menyentuh awan kapas dan gumpal majas
Di balik pagar keterusterangan
Dalam ukiran bentuk larik dan bait
Kita mengadu sajak dan bahkan kehendak
Menuruni tangga senja berwarna jingga
Melayang menyentuh permukaan air
Seperti elang laut menyambar ikan-ikan kecil
Berlompatan idiom berenang mendedah riang gelombang
Umpama udang menggelepar mengejar ombak

Kita telah di batas titik mula puisi
Melewati pendahuluan dan isi buku
Membaca begitu panjang perjalanan kata-kata
Lebih tua dari usia sastra bahkan bahasa
Ketika sejarah puisi dituliskan
Penyair dan pemuisi telah lebih dulu ada
Ia menciptakan suatu permainan indah
Sususan kata dalam irama, matra, rima, dan lainnya
Jiwa dan cintalah yang memainkannya
Menegur kecongkakan lisan
Melembutkan kerasnya jiwa
Menghaluskan budi bahasa

Kita akan selalu bermain puisi. Sekalipun matahari dan bulan
Dimangsa laparnya gerhana cinta luka

Indramayu, 2018

Surga dalam Versi Lain

Orang-orang berebut mendapatkan surga
Memanjat batang pohon iman
Memetik tangkai buah-buah ketaatan
Manis digigit legit
Tapi aku memilih surga dalam versi lain
Surga yang ditulis dalam kitab puisi
Berisi ayat-ayat dan surat-surat sastra
Murni dari mata hati
Tabah seperti matahari

Di situ sungainya mengalir kata-kata
Diteduhi rimbun pohon berbuah makna
Aku meneguk air bahasa
Menghidu wangi bunga cinta
Menempuh lautan kebun asmara
Jejeran pohon apel merah
Adalah bait puisi
Seribu kemah bidadari
Menciptakan daya imajinasi

Surgaku berlarik-larik seperti lapis pelangi
Tempat langkah-langkah penyair bersyair
Juga panggung pemuisi berpuisi
Menjadi milik bersama
Memang, surgaku mengenal musim
Sebentar-sebentar angin mengumpulkan daun bahagia
Sesekali mencerai-beraikan ranting menjatuhkan
Manik-manik permata

Indramayu, 2018

Faris Al Faisal lahir dan tinggal di Desa Parean Girang, Kecamatan Kandanghaur, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat. Bergiat di Dewan Kesenian Indramayu (DKI) dan Forum Masyarakat Sastra Indramayu (Formasi). Novelanya Bunga Narsis Mazaya (2017), antologi puisi Bunga Kata (2017) dan Dari Lubuk Cimanuk ke Muara Kerinduan ke Laut Impian (2018), kumpulan cerpen Bunga Rampai Senja di Taman Tjimanoek (2017), novelet Bingkai Perjalanan (2018).


[1] Disalin dari karya Faris Al Faisal
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Suara Merdeka” edisi Minggu 27 Januari 2019.

The post Kita Hanya Membaca Hujan appeared first on Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara.

 
Copyright © 2010- | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
About | Sitemap | Kid-Stories | Ethnic | Esay | Review | Short-Stories | Home