Lelaki Tua Bermata Seputih Susu ~ Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu

Senin, 11 Februari 2019

Lelaki Tua Bermata Seputih Susu



Bagaimanapun dia sudah menganggap lelaki tua tak itu dikenal sebagai orang tuanya. Bukan tanpa alasan Rose memiliki perasaan itu. Dia, lelaki tua buta itu, satu-satunya manusia hidup di dunia ini yang masih mau, benar-benar mau, mendengar segala keluh-kesah Rose. Berbeda dari puluhan lelaki yang menjadi teman tidurnya setiap malam, yang sekadar mau mendengar keluhkesah Rose, lalu menjadi lebih perhatian, tentu dengan imbalan servis plus-plus dari perempuan itu.

Lelaki itu berbeda. Lelaki tua buta itu sangat berbeda. Dia pendengar yang baik, penasihat ulung, dan mampu melihat takdir seseorang. Seperti soal kematian.
Rose terkadang heran jika berbicara dengan lelaki tua itu. Dia percaya lelaki tua itu mampu melihat takdir seseorang. Keheranan Rose bukan tanpa alasan. Dia memercayai penglihatan takdir seorang lelaki tua buta, yang bermata putih, seputih susu. Namun dari sanalah Rose sering kali menemukan hal-hal ajaib. Seperti awan selembut kapas berwarna merah muda, puluhan laron berwarna biru mengelilingi keremangan lampu jalan, kilat cahaya oranye di tubuh kunangkunang. Baginya, mata seputih susu itu mata yang ajaib, mata yang mampu menerjemahkan sedih menjadi bahagia.
Rose tidak pernah kesulitan menemukan lelaki tua itu. Ketika dia pulang kerja, lelaki tua itu pasti duduk di sebuah bangku panjang taman kota. Rose dan temantemannya terbiasa mangkal tidak jauh dari sana. Di jembatan, tak jauh dari taman, di bawah keremangan lampu jalan, Rose dan beberapa teman berjejer di sepanjang trotoar jalan, menjajakan diri.
Selanjutnya, jika mendapatkan pelanggan, mereka tak perlu repot-repot mencari hotel. Di belakang taman kota itu berjejer beberapa hotel mewah. Kalaupun pelanggan agak pelit, Rose dan teman-teman akan membawa ke losmen di seberang sungai yang terbelah jembatan.
Semua mengenal dia; lelaki tua buta itu penjual koran. Sebelum pagi lahir, tongkat kayu akan menuntun lelaki tua itu ke perempatan Kedai Starcoffe. Itulah kafe mewah yang jadi andalan orang kantoran untuk obral obrolan perihal kepedihan kehidupan. Lalu jika malam telah berangkat kerja, lelaki tua itu akan duduk di salah satu bangku taman kota sambil memainkan harmonika, kemudian bersenandung bersama malam.
“Kematian itu begitu unik, Nak. Dia berbau manis seperti cokelat. Namun ada sedikit anyir di pangkal. Sangat nikmat disertai sedikit bumbu kepedihan.”
“Ha-ha-ha… Memang ada ya cokelat rasa anyir darah, Kek?”
“Lalu warnanya….”
“Putih kelam, mendekati abuabu kan, Kek?”
“Iya! Benar, Nak. Memiliki ekor di pangkal yang terhubung dengan tubuh jasmaninya.”
Sudah berulang kali lelaki tua itu bercerita soal warna kematian. Putih kelam mendekati abu-abu dan memiliki ekor di pangkal yang terhubung dengan tubuh jasmaninya. Seperti itulah lelaki tua itu mengilustrasikan kematian, sambil meraba-raba pegangan tongkat kayunya yang berbentuk kepala naga. Mata putihnya akan berkeliling setiap kali dia berbicara. Ke kiri, kanan, kiri, dan kanan.
“Lihatlah, Nak…. Di lampu jalan dekat jembatan itu, sekumpulan laron berwarna biru. Sangat indah. Mereka selalu datang dalam kelahiran yang bahagia, meski Tuhan memberikan hidup hanya sekejap. Lihatlah…, betapa hidup harus dirayakan dengan sukacita. Kesedihan hanyalah debu yang sangat kecil di samudra kehidupan manusia. Berbahagialah, Nak, kau masih diberi hidup.”
“Mana ada laron berwarna biru, Kek?” Rose tersenyum dan seketika air matanya malam itu berhenti.
Lelaki tua itu memiliki sepasang mata putih yang indah, sangat murni, tak ada noda sama sekali.
“Wa-ha-ha-haÖ, kau tak akan paham, Nak. Penglihatanku mampu menangkap warna kehidupan semua makhluk. Dan warna kehidupanmuÖ.”
“Kuning cerah dengan kelopak mata ekspresif. Penuh kebohongan pada banyak orang, tetapi tidak padamu kan, Kek?”
“Iya, Nak.” Lelaki tua itu tersenyum.
Rose mengingat betul apa yang pernah dia sampaikan ketika kali pertama mereka bertemu.
Malam yang muram mengantar Rose menyusuri trotoar jalan. Hari itu ada yang berbeda. Dia begitu rindu pada lelaki tua buta itu. Sebelum berangkat kerja, sambil membawa sekotak makanan, dia berniat mengunjungi lelaki tua itu. Namun bukanlah sambutan baik yang dia terima. Lelaki tua itu malah menyuruh dia pulang.
“Alangkah baik kau pulang saja, Nak. Kau tak seharusnya bekerja malam ini,” ucap lelaki tua itu sebelum Rose duduk di bangku yang ia duduki.
Rose hanya tersenyum, lalu memberikan sekotak makanan dari rumah, kemudian beranjak pergi. Namun ketika perempuan itu hendak beranjak pergi, lelaki tua itu menahan tangannya.
“Pulanglah, Nak. Aku melihat kematian menggantung di atas kepalamu. Dia berwarna cokelat pekat.” Lelaki tua itu menggenggam tangan Rose begitu kuat.
“Bukankah pernah kukatakan, Kek, hidup dan matiku adalah suratan takdir? Ingatkah kau dengan pesanmu, Kek, hidup harus dirayakan dengan sukacita. Kesedihan hanyalah debu kecil di samudra kehidupan manusia,” ucap Rose sambil perlahan melepas genggaman tangan lelaki tua itu.
Matanya masih berkeliling, ke kiri, kanan, kiri, dan kanan. Ada yang tertahan di bibir yang membuat Rose tak tega meninggalkannya malam itu. Namun dia harus tetap berangkat kerja untuk menyambung hidup.
Malam yang kelam bagi lelaki tua buta itu. Sebuah malam yang tak dia inginkan, juga bagi Rose. Sebelum malam memuncak, suara sirine polisi berkejaran di telinga. Beberapa kali terdengar teriakan perempuan. Namun dari sekian teriakan, ada sebuah suara yang dia hafal, suara yang kerap kali terngiang- ngiang pada malam panjangnya.
Memori lelaki tua itu merekam jelas: di atas jembatan, di bawah kemerangan lampu jalan, Rose dan beberapa teman yang mangkal terciduk Satpol PP. Perempuan malang itu tak sempat melarikan diri. Tubuh indahnya dengan cepat dipaksa masuk ke atas mobil. Ada beberapa luka legam di wajahnya.
Tanpa sadar, mata putih lelaki tua itu meneteskan air mata. Tangannya masih tetap merabaraba ujung tongkat. Dia tak bisa apa-apa. Dia hanyalah loper koran tua buta dan lemah tak berdaya. Berkali-kali lelaki tua itu berusaha menutup mata sambil memalingkan muka. Namun tetap, mata seputih susu itu tetap merekam. Ingatannya tetap melihat dengan gamblang: Rose dan beberapa teman diangkut paksa dari jalanan. Beberapa di antara mereka menerima tamparan.

***
Malam ketiga, sejak Rose diangkut paksa, lelaki tua itu masih tetap berada di bangku taman. Di sebelahnya ada sebungkus makanan. Mata putihnya berkeliling, ke kiri, kanan, kiri, dan kanan. Sangat sepi. Sesekali ada beberapa pasangan muda-mudi berlalulalang. Namun hingga malam ketiga, tidak dia temukan kabar dari perempuan itu.

Pada satu waktu, pada kesepian dia malam itu, lelaki tua itu menoleh pada seorang perempuan yang berjalan menunduk melewatinya. “Nak, kemari, mendekatlah. Aku melihat kebahagiaan menggantung di atas kepalamu,” ucap lelaki tua itu. (28)

Surakarta, 23 Mei 2018
Sapta Arif Nur Wahyudin, aktif di GMB-Indonesia dan baru saja menjadi juara I Sayembara Sastra Bunga Tunjung Biru kategori cerita pendek.

[1] Disalin dari karya Sapta Arif Nur Wahyudin
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Suara Merdeka” edisi Minggu 10 Februari 2019.
The post Lelaki Tua Bermata Seputih Susu appeared first on Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara.
Share:



Dokumentasi Populer



Arsip Literasi