Nawang Wulan dalam Pelukan ~ Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu

Jumat, 22 Maret 2019

Nawang Wulan dalam Pelukan



Kereta tiba. Aku melangkah malas ke dalam ular besi. Mencari kursi di gerbong yang masih kosong. Langit mulai menua. Mendung menambah sepuh cuaca. Gerimis mulai berjatuhan di luar jendela. Bayangan kamu berkelebatan di dalam kaca jendela kereta yang kusam karena jarang dibersihkan.

Kereta mulai bergerak maju. Memburu ruang dan waktu yang bersekutu. Aku ajak mereka bersekutu, untuk mencari-cari kamu yang menghilang tiba-tiba karena putus asa.
Hujan menderas di luar jendela. Bayangan kamu perlahan memudar. Luntur dihajar air langit. Rumah-rumah penduduk yang bersolek dengan cahaya lampu tak lagi terlihat cantik. Suara gesekan roda kereta dan ayunan gerbong berebut dan berdesakan menggedor-gedor gendang telinga.
Ini adalah tahun ketiga aku pulang pergi saban akhir bulan naik kereta. Menemui istri yang kutitipkan dengan berbekal setia.
Tahun pertama pernikahan bagiku sulit. Apalagi akses ke rumah kamu jauh. Aku harus melewati puluhan kilometer dengan perjalanan panjang untuk menjengukmu. Tapi yang tak kuinginkan terjadi.
Setelah 36 perjumpaan singkat, malapetaka itu datang. Kamu enggan ikut aku banting tulang di ibu kota dan memilih bertahan di kampung halaman sejak ijab kabul. Kukira biasa. Awalnya. Tapi, kecurigaan itu semakin nyata. Tanpa kabar aku memutuskan pulang lebih awal. Tidak seperti jadwal bulanan.

Kenapa tidak beri kabar jika mau pulang,” katamu sembari gelagapan ketika melihatku sudah berdiri di depan kamar.

Kenapa?” tanyaku singkat. Mencoba menerka alasan yang keluar dari bibirmu yang jarang aku kecup.

“Karena aku putus asa,” jawabmu singkat.
Tubuhku kaku. Aku yang biasanya tidak peduli dengan ucapan orang kini seperti orang gila yang punya alamnya sendiri. Sejak itu aku putuskan untuk berpisah dunia denganmu. Beruntung belum ada malaikat kecil dalam kehidupan aneh yang kita jalani selama 1.095 hari.

***
Dua tahun sudah aku menggelandang di ibu kota. Nebeng tidur dan numpang makan di rumah kerabat. Satu ketika, ada seorang guru mengaji yang menawarkan tempat berteduh. “Setidaknya sampai kamu punya rumah,” kata dia.
Abah, begitu aku memanggilnya dan orang-orang di lingkungan rumahnya. Ia peranakan Arab Betawi. Disegani karena pandai mengaji. Abah tidak punya pesantren. Hanya langgar kecil tempatnya sehari-hari menghadiahkan ilmu yang diwarisinya dari ayahanda.
“Nak, kamu mau menikah dengan kemenakan Abah?” tanya Abah tiba-tiba di suatu sore jelang berbuka puasa Senin-Kamis. Aku tidak bisa menolak. Pernikahan pun digelar. Hanum nama kemenakan Abah. Cantik layaknya perempuan keturunan Timur Tengah. Kerudung merah yang tidak sempurna menutupi wajah tirusnya. Sayangnya belum tumbuh cinta di hatiku yang hampir mati meski ijab kabul sudah digelar.
Setelah tujuh bulan bersama, baru aku tahu jika Hanum ternyata primadona di kampung. Tak sedikit pemuda kampungnya yang berebut memiliki pesona Hanum. “Kamu beruntung bisa menikahi Hanum,” kata pengojek sepeda yang kutumpangi saat berangkat kerja.
Kukulum senyum. Ah, apa aku benar-benar beruntung, tanyaku kepada hati.
Tiga tahun aku menyulam rumah tangga. Tapi buah hati yang kunanti tidak kunjung tiba. Tak ada tanda-tanda dari Hanum. Sampai suatu ketika seorang kemenakanku berkunjung ke rumahku yang sederhana. “Paman kenapa murung?” tanya dia menerka.
“Paman ingin punya anak, punya keturunan. Tapi bibi kamu belum hamil-hamil.”
“Sabar, Paman. Mungkin belum waktunya.”
Obrolan ringan yang didengar Hanum itu ternyata berdampak besar. Sejak itu perangai Hanum berubah. Ia sering marah tak jelas.
Melayani sehari-hari seperti sekadar membuatkan kopi pun tak pernah lagi dilakukannya. Perubahan perangainya membuatku bingung. Sampai satu hari aku menemui satu lembar obat berwarna merah muda dari dalam tasnya. Ukurannya lebih kecil dari kancing baju anak sekolah. Pil KB.
Rupanya selama ini dia sengaja minum pil tersebut agar tidak hamil setiap kali berhubungan. Dan yang lebih menyakitkan, aku baru tahu ternyata dia tidak menginginkanku jadi suaminya.
Dia menudingku ingin menikah lagi. Di hadapan keluarganya dan Abah, ia memaksa aku menjatuhkan talak. Alasannya sederhana, aku ingin menikah lagi karena Hanum tidak bisa memberikan keturunan.
Batinku hendak berontak, tapi aku tahan. Kegagalan lagi-lagi berada di depan mata. Rapat keluarga itu pun berakhir ricuh. Tapi hanya Hanum saja yang ricuh. Abah tetap bijak. Ia juga baru tahu kemenakannya ternyata diam-diam sudah punya kekasih sebelum menikah denganku.
Dulu Hanum menerima pinangan Abah karena rasa segan. Tapi Hanum tidak menyangka akan dinikahkan dengan pria asing yang tidak pernah ia kenal sebelumnya.
“Semua keputusan ada di tanganmu, Nak,” ucap Abah bijak. “Putuskan yang menurutmu baik. Shalat istikharah bila perlu.”
Beberapa bulan sebelum peristiwa Malari meledak, aku putuskan untuk melepas Hanum.
***
Cinta kini bagiku hanya legenda. Seperti cerita Sangkuriang yang menendang perahu lalu menjelma menjadi gunung. Atau seperti kisah Jaka Tarub yang berhasil menikahi bidadari, setelah melakukan perbuatan tak terpuji.
Mengintip bidadari mandi di air terjun tempat pelangi mendaratkan ekornya. Mengintip gadis manusia mandi saja sudah terkutuk, apalagi dia yang mengintip lalu menyita selendang bidadari. Mahluk suci dari kahyangan. Parah sekali kelakuan Jaka Tarub itu.
Imajinasi di kepalaku menerka-nerka seberapa cantik wajah Dewi Nawang Wulan yang membuat Jaka Tarub kehilangan akal sehat. Bentuk wajahnya, mata, hidung, bibir, lalu mahkota di atas rambutnya. Terlebih bentuk tubuhnya. Mungkin lebih aduhai dari Diana Nasution, penyanyi yang sedang digandrungi pria seantero Indonesia.
Ku susun baik-baik sketsa wajah Dewi Nawang Wulan yang kata orang-orang amat sangat teramat cantik. Ketika goresan sketsa itu hampir rampung, bahuku tersenggol secara tak sengaja. Lamunanku buyar. Aku saat itu duduk di pinggir bangku kereta menuju Jakarta. Tidak dekat jendela. Dan yang menyenggol bahuku tersenyum.
“Maaf,” katanya singkat. “Bangku aku di sini. Boleh aku duduk di dekat jendela.”
Detik itu aku seperti tahu bagaimana rasanya Malin Kundang menjadi batu saat dikutuk ibunya. Kaku. Sketsa dalam kepalaku kini berbicara. Sketsa bidadari yang kugambar dalam imajinasi kini hidup dan berdiri anggun di hadapanku. Sketsa Dewi Nawang Wulan. Bidadari itu bukan di kahyangan, tapi di dalam kereta.
“Silakan,” kataku sembari berdiri memberi ruang untuknya.
Kursi kereta yang kutumpangi kali ini seperti menjelma menjadi tumpukan bebatuan. Di ujung kanan dan kiri berbagai jenis pepohonan rimbun bergelantungan. Sementara di ujung lintasan mataku ada seorang bidadari yang sedang asyik duduk bermain di bawah guyuran air terjun. Dia sendirian, tidak ditemani enam saudaranya yang lain.
Ternyata begini sensasi jadi Jaka Tarub. Diam-diam menikmati kecantikan Dewi Nawang Wulan yang mungkin saat masih cetak biru di surga saja sudah cantik. Teramat cantik. Rasanya menyesal pernah mengutuki Jaka Tarub, pemuda dalam legenda yang aku cap berengsek karena mengintip bidadari mandi.
Kini aku seolah menjadi Jaka Tarub. Aku menjadi pengintip. Ekor mataku berkali-kali menoleh ke wajah gadis yang duduk anggun memakai gaun putih berkerah dengan salur garis hitam tipis. Kulitnya putih. Wajahnya membulat. Pipinya gembil. Hidungnya mungil, dan ia membiarkan rambut sebahu terurai. Bibir tipisnya terus mengatup. Hingga aku memberanikan diri memulai pembicaraan.
“Kenalkan, aku Nursi,” kataku dengan gesture percaya diri sembari menyodorkan tangan.
Dia menoleh. Gerakan kepalanya yang perlahan semakin membuatnya kian gemulai. Wajahnya kaku tanpa senyum. Tapi ia tetap cantik.
Mati aku. Dia tidak membalas uluran tanganku, batinku berbisik.
Tiga detik yang mematikan itu berubah, saat otot bibirnya tertarik hingga membuat pipi gembilnya semakin kenyal. Sepertinya. “Sarah,” ujar dia sembari mengulurkan tangan.
Pembicaraan pun mengalir. Tak hanya wajahnya yang teduh, sikapnya juga ramah. Kami berbicara banyak. Dari pembicaraan itu mencerminkan kecerdasan pikirannya. Cantik, ramah, cerdas. Aku jadi membayangkan Dewi Nawang Wulan yang saban hari menemani Jaka Tarub.
Empat setengah jam perjalanan di dalam kereta kami lahap dengan perbincangan tanpa jeda. Hingga kereta bergebong tua memasuki stasiun legenda, Jatinegara.
“Boleh aku tahu alamat rumahmu?” kususun kalimat tanya itu hati-hati. Perlahan-lahan, agar jangan sampai permintaan gilaku tertolak mentah-mentah.
“Jatinegara, dekat Pasar Mester,” ucap Sarah sembari mencoretkan alamat lengkap di selembar kertas bekas dan memberikannya kepadaku. Kuraih dan kusimpan di kantong jaket.
“Kamu dijemput siapa?” tanyaku ketika kami berdiri di dekat pintu keluar stasiun.
Sarah tidak menjawab dengan kata-kata. Telunjuknya menunjuk seseorang berpakaian militer. Perwira menengah sepertinya.
“Mas,” teriaknya sembari melambaikan tangan. Sebelum pergi, Sarah pamit ke padaku. Kami bersalaman, lalu ia melayang ringan seperti angin musim semi.
Aku kembali menjadi Malin Kundang. Mematung. Di ujung sana kulihat Sarah memeluk pria itu. Sarah mencium tangannya. Takzim. Tak hanya sekali, tapi dua kali. Punggung tangan lalu telapaknya. Pria itu kemudian menghujani pipi Sarah dengan ciuman. Tanpa malu di depan banyak orang. Harapanku hilang sudah. Pupus. Kisah Jaka Tarub memang hanya legenda.
***
Satu pekan sudah aku berpisah dengan Dewi Nawang Wulan yang turun dari kereta. Bau harum minyak wanginya masih tersisa di ujung hidungku. Aku berkencan dengan ingatan. Setangkup rindu merambat pelan merambat ke dalam dada. Setidaknya matahari lebih paham cara berpamitan. Membiarkan pengagumnya menikmati keindahannya perlahan-lahan di batas perpisahan. Ah mengapa aku ini. Aku jatuh cinta kepada perempuan yang hanya kutemui empat setengah jam di atas kereta. Gilanya perempuan itu memiliki pasangan. Entah kekasih, atau mungkin suami.
Adakah pekerjaan yang paling puitis selain berlari mengejar-ngejar rindu? Jawabnya ada, yaitu mengingat lesung pipi saat Sarah tersenyum. Aku raba kantong jaket katun biru dongker yang selalu kupakai ketika berpergian. Jemari tanganku menemukan sesuatu. Selembar kertas bekas. Kubuka, lalu untaian huruf-huruf membentuk sebuah kata yang bersalin menjadi kalimat, lalu menjelma menjadi alamat. Alamat rumah. Rumah Sarah.
Kini aku kembali merasakan girangnya menjadi Jaka Tarub. Kertas itu bagaikan selendang Dewi Nawang Wulan yang disimpan Jaka Tarub diam-diam. Kertas itu bagai minyak kesturi yang disuntikkan ke dalam lampu minyak yang nyala apinya hampir padam. Api harapan.
Batinku berperang. Tetap simpan alamat itu, atau buang ke dalam Sungai Ciliwung yang kini ada di hadapannya. Sarah sudah berpasangan. Tapi tak ada yang tidak mungkin di dunia ini. Kemungkinan selalu ada, meski sangat kecil peluangnya. Aku harus memastikan siapa pria itu.
Nekat, kupacu sepeda kumbang pinjaman dari kakakku. Alamat yang ditulis Sarah tidak jauh dari tempat aku kini berdiri. Hari Ahad. Semoga Sarah ada di rumah, gumamku sembari berharap.
Sepeda kumbang merek Gazelle itu kukayuh perlahan. Pasar Mester terlewati. Aku hafal betul jalan itu karena saban hari aku melewati untuk pergi ke kantor. Setelah perempatan jalan, aku belokkan sepeda ke kanan. Lalu gang ketiga atau keempat setelah perempatan itu adalah gang rumah Sarah. Aku menerka-nerka. Akhirnya ketemu.
Kereta angin buatan Belanda aku parkir di depan rumah Sarah. Rumah sederhana. Pagar besi beralur tombak, kokoh membentengi rumah dengan atap asbes. Jam tangan otomatis merek Titus di pergelanganku berhenti di angka empat. Sudah sore. Tapi belum terlalu petang untuk bertamu, pikirku.
“Assalamualaikum… Permisi,” kataku di depan pintu pagar. Kuulangi sampai dua kali. Seperkian menit kemudian, pria bertubuh tegap keluar dari dalam rumah yang pintunya tidak tertutup. Pria dengan wajah yang sama saat menjemput Sarah di Stasiun Jatinegara. Gagah, layaknya tubuh tentara. Wajahnya seperti aktor Abdul Hamid Arief.
“Mau cari siapa, Mas?” suara baritonnya membuat lamunanku buyar. Pria itu berjalan mendekat ke pagar. Kini kami berdiri berhadapan dan hanya dibatasi pintu besi.
“Oh maaf, Pak. Saya Nursi. Saya mencari Sarah. Boleh saya bertemu?” tanya saya dengan hati-hati. Sedikit terbata.
Raut wajah pria itu berubah. Ia kaget. Sudah barang tentu. Itu semua terlihat dari alis matanya yang naik dan kulit keningnya yang mengkerut. Mungkin ia berpikir, siapa laki-laki yang nekat dan berani-beraninya mendatangi istri seorang tentara ke rumah. Tapi ia membukakan pintu pagar yang ternyata tidak terkunci. Aku dipersilakan masuk.
“Temannya Sarah? Silakan masuk. Saya Yatmo,” kata dia sembari menjabat tanganku. Genggamannya keras.
Baru tiga langkah aku menginjak pekarangan rumah itu, dua anak kecil yang kutaksir berusia enam dan sembilan tahun menghampiri pria itu. “Panggil ibu kalian, suruh buatkan minum. Ada tamu,” katanya. Perintah pria itu membuat dadaku berdekup. Mati aku.
Dua anak kecil itu menggeret tangan seorang perempuan dari dalam ruang tengah. Sarah keluar dari dalam ruangan yang tersekat lemari pajangan berbahan kayu. Sarah sore itu memakai blus warna biru di bawah lutut. Ayu. Wajahnya beringsut terkejut saat mengetahui siapa tamu yang datang. Tapi tak lama ia tersenyum.
“Kamu. Nur..Nursi.”
Bersamaan dengan itu, seseorang di belakang Sarah yang membawa dua buang cangkir putih susu di atas nampan datang dengan tersenyum.

Penulis adalah wartawan Republika. Bisa dihubungi lewat akun Instagram: @kartaraharjaucu.

[1] Disalin dari karya Karta Raharja Ucu
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Republika” edisi Minggu 17 Maret 2019
The post Nawang Wulan dalam Pelukan appeared first on Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara.
Share:



Dokumentasi Populer



Arsip Literasi