Insomnia ~ Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu

Senin, 29 April 2019

Insomnia


Mama berkata seraya memakai kaca-mata, “Nia, malam ini Mama akan bercerita  mengenai  Pemulung Perasaan.” Mama membuka buku catatan berwarna hitam agak kusam. Sejenak Nia mengeja tulisan yang tertera di sampul buku di genggaman Mama: Diary.


Nia mengangguk. Kedua matanya berbinar-binar, menantikan cerita dari Mama. Nia mengeratkan pelukan pada boneka beruang.

“Pemulung Perasaan akan muncul selepas hujan deras. Ketika udara lembap dan perlahan kabut turun lalu menggumpal bagai permen kapas, Pemulung Perasaan akan menyusuri jalanan basah sembari membawa sebuah wadah berwarna merah berbentuk hati. Dia akan mengambil perasaan yang hanyut di selokan,layu  di  tempat  sampah,  atau  yang  lain. Pemulung itu akan menaruh satu per satu perasaan berbentuk daun waru ke dalam wadah, lalu membawa pulang.”

“Mama, bukankah pemulung itu mengambil barang bekas ya?” tanya Nia memotong cerita.

Mama memandang Nia dengan takjub. Gadis kecil yang berbaring di sampingnya itu kini mulai tumbuh menjadi gadis cerdas dan memiliki rasa ingin tahu yang tinggi. Mama mengulum senyum. Bibir Mama yang senantiasa memerah Fanta menumbuhkan desir bangga di dada Nia; Mama wanita tercantik di dunia.

Mama membenahi poni Nia. Lalu mencubit dengan gemas pipi       tahu bulatnya.

“Nia cerdas,”     ucap Mama.

Nia mengelus-elus pipi     bekas cubitan Mama. Sesekali   Nia memanyunkan bibir. Cemberut.

“Tapi  Nia tahu       tidak perasaan juga termasuk barang  bekas lo?”

Nia menggeleng.

“Jaga perasaan Nia agar tak jadi barang bekas,” ujar Mama sembari menunjuk dada Nia.

Nia bingung mendengar perkataan Mama. Bagi Nia, perkataan Mama seperti soal matematika; sulit sekaligus berbelit-belit. Bikin kepala pusing.

“Nia, Mama akan melanjutkan cerita,” kata Mama menatap lekat wajah Nia. “Jika kamu susah tidur, teruslah pejamkan mata. Apa pun yang terjadi,” lanjut Mama.

“Di bawah cahaya temaram lampu-lampu kota, Pemulung Perasaan akan mengaitkan tali untuk mengikat perasaan satu dengan lain, membentuk sebuah kalung. Pada saat-saat tertentu, perasaan itu akan memperdengarkan kembali kesedihan yang tersimpan; teriakan, tangisan, rintihan. Dengan begitu, Pemulung Perasaan tak merasa bersedih sendirian. Dia pulang dengan perasaan senang.

“Suatu malam yang dingin, seorang wanita menatap kaca jendela yang berembun. Dia membiarkan air matanya jatuh ke dalam secangkir kopi, lalu mengkristal di atas ampas.Wanita itu membuka satu per satu benik kancing dari lubang baju. Memamerkan dada ranum penuh jahitan. Dia menarik benang dari salah satu jahitan, lalu memotong perasaan yang menyembul keluar dari dada. Dia buang perasaan itu sekuat tenaga lewat jendela. Dia beranggapan, tanpa perasaan hidup bakal tenang. Wanita itu membayangkan, Pemulung Perasaan diam-diam mengambil sekaligus merawat perasaan yang dia buang.” 

Nia memejamkan mata seraya mendengarkan cerita. Nia berpura-pura tidur. Nia tak ingin menjadi anak durhaka dengan melanggar perintah Mama.

“Selesai.”

Hening.

Nia menerka cerita yang Mama baca telah tamat. Nia merasakan ada sesuatu yang sedikit basah nan lembut menyentuh kening. Nia sangat ingin membuka mata. Namun Nia terus menahan kelopak mata agar tak terbuka. Sampai-sampai kedua matanya berkedut. Nia merasakan ada embusan hangat di sekitar telinga. Dia merasa agak geli.

“Nia, apakah kamu tahu wanita dalam cerita itu?”

Nia mendengar bisikan. Tak sebegitu jelas. Telinga Nia hanya menangkap kata “tahu”. Nia menyipitkan mata. Seperti mencoba memastikan sesuatu. Samar-samar Nia mendapati Mama mengendap-endap, berjalan bersijingkat keluar, meninggalkan kamar.

“Selamat malam, Nia.”

***

“Jika kamu susah tidur, teruslah pejamkan mata. Apa pun yang terjadi,” kata Nia kepada boneka  beruang  dalam  pelukannya.  Nia menirukan bagaimana Mama mengucapkan kalimat itu kepadanya, sebelum memejamkan mata, setiap malam.

“Kenapa kamu masih membuka mata?” bentak Nia kesal. Nia mencungkil kedua bola mata boneka beruang itu dengan telunjuk jari, lalu menariknya hingga jahitan pada boneka itu menganga lebar. Serat-serat kapuk menyembul keluar. Hati Nia kacau, seperti ketika meletus balon hijau.*

Sejenak Nia menatap langit-langit kamar. Membayangkan ada bintang kecil berjatuhan seperti salju dalam bola kaca. Sayup-sayup Nia mendengar suara aneh. Suara itu selalu terdengar beberapa jam setelah Mama membacakan cerita dan meninggalkan kamar. Terkadang samar-samar Nia juga mendengar ada deru kendaran silih berganti datang dan seperti berhenti tepat di depan rumah. Suara-suara itu begitu mengganggu, sehingga membuat Nia tak bisa tidur. Ada sedikit rasa takut terselip dalam dada. Namun rasa takut itu seketika berubah menjadi rasa penasaran meluap-luap.

Nia berjalan hati-hati keluar dari kamar. Matanya jelalatan. Suara itu makin terdengar jelas ketika Nia sampai di depan kamar Mama yang bersebelahan dengan kamarnya.

Nia mengintip dari celah pintu yang rada terbuka. Nia melihat Mama menggeliat di atas ranjang, seperti ulat bulu. Nia mendengar lenguhan panjang, serupa suara lembu. Mama tampak kesakitan. Nia mempertajam pandangan. Mata Nia menangkap bayangan hitam berlidah panjang melilit dada Mama. Lidah itu menjelajah dada merah jambu Mama, persis seperti ketika Nia menikmati es krim stroberi pada siang yang panas. Bayangan hitam itu memperlihatkan gigi runcing, bak gigi kucing. Gigi itu menancap di bibir Mama, menarik ulur, seakan sedang mengunyah permen karet.

Nia menggigit ujung bibir bawah sampai terasa hendak pecah. Nia ingin menolong Mama. Namun langkahnya tertahan ketika sepasang mata merah menyala melotot kepadanya.     Nia     ketakutan. Tubuhnya gemetar. Nia menutup wajah dengan kedua telapak tangan. Namun mata merah itu masih tampak sedemikian jelas dari celah jari-jari Nia yang tak tertutup rapat. Sejurus kemudian  Nia  lari tunggang-langgang menuju kamarnya. Nia langsung meringkuk        di bawah selimut sembari memeluk boneka beruang besar.

Tiba-tiba Nia teringat pesan Mama.“Jika kamu susah tidur, teruslah pejamkan mata. Apa pun yang terjadi.”

Nia     bangkit     dari     ranjang. Menyingkirkan selimut dan boneka beruang. Nia meraih ransel yang menggantung di dinding. Nia membuka resleting ransel, lalu memungut wadah peralatan sekolah bergambar Hello Kitty. Nia mengacak-acak sebentar isi wadah itu, kemudian mengambil sebilah pemes yang biasa dia gunakan untuk menajamkan pensil. Nia membuka pemes itu hingga terlihat ujung lancip yang agak berkarat.

Nia kembali ke atas ranjang, menarik selimut sampai dada. Nia menaruh boneka beruang di samping kanan. Tak lama berselang Nia mendekatkan pemes yang tergenggam di tangan kanan ke wajah. Nia memejam sembari menggumamkan doa sebelum tidur. Beberapa detik kemudian Nia menusukkan pemes itu bergantian di kedua matanya sampai benar-benar terlelap. (28)

* Kutipan secara bebas dari lagu “Balonku”.

- Dicky Qulyubi Aji, kelahiran Jepara, mahasiswa Sastra Jawa Fakultas Bahasa danSeni Universitas Negeri Semarang (FBS Unnes)

[1] Disalin dari karya Dicky Qulyubi Aji
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Suara Merdeka” edisi Minggu 28 April 2019.
Share:



Dokumentasi Populer



Arsip Literasi