Lelaki Penjilat Tulang yang Membawa Setangkai Mawar ~ Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu

Senin, 15 April 2019

Lelaki Penjilat Tulang yang Membawa Setangkai Mawar


LELAKI tua yang membungkuk itu selalu mengais-ngais tempat sampah dengan tongkat kayu yang ia pegang. Jika ia mendapatkan tulang, tangan keriputnya yang gemetar, tak jijik memungut tulang itu dan dimasukkan ke dalam buntalan kain lusuh yang digendongnya.

Ia akan pindah dari satu tempat sampah ke tempat sampah yang lain, masih dengan seok kaki telanjang yang tertatih lirih, napasnya tersengal, naik-turun hingga menimbulkan suara yang bagai menderit, dari wajahnya yang pucat, kentara sekali jika lelaki tua itu sangat sesak, hingga kadang mengharuskannya istirahat, duduk bersandar apa pun yang bisa ia sandari, lalu mengeluarkan sepotong tulang dari buntalan kain yang digendongnya itu, saat itulah matanya baru tampak binar, kerut kulit wajahnya sedikit kencang dan sesungging senyum purba terlukis di bibir tuanya yang hitam, tepat di depan gigi tunggal yang tinggal separuh, lalu ia menjilat tulang itu dengan ekpresi yang begitu  nikmat, bagai bocah menjilat es krim stik.

Berkali-kali ia membolak-balik tulang itu hingga air liurnya leleh, menderas ke baju atau sarungnya yang kumal. Pada saat tertentu, ia kadang menggigit-gigit pelan bagian ujung tulang hinggal menimbulkan suara patahan, dan sekitar 1 menit dari jilatan pertama, barulah ia merasa puas dan membuang tulang itu seraya menghidu setangkai mawar.

Selain punya kebiasaan menjilat tulang, ia juga biasa membawa setangkai mawar yang diselipkan di ikat pinggang kain kumal yang melingkari perutnya. Bunga itulah yang akan membuat tubuh lelaki itu tetap harum meski kerap bersentuhan dengan tulang-tulang. Ia akan mencium bunga mawar itu setiap selesai menjilat tulang. Diciumnya dengan khusyuk sambil memejam mata dalam waktu yang agak lama, seolah ada kekuatan yang diserap dari bunga itu. Setelah dirasa cukup, barulah ia menyelipkan kembali setangkai mawar itu ke ikat pinggangnya. Kabarnya, bunga itu adalah bunga abadi, para tetua bahkan menyatakan kesaksiannya bahwa sejak dulu setangkai bunga yang terselip di ikat pinggang lelaki itu tetap bunga itu: mawar kuning, dengan tiga helai daun, satu yang paling atas agak kecil dan memincuk panjang.

Orang-orang Dusun Bungduwak mengenal lelaki tua itu dengan nama Ki Tawi. Ia tinggal di lereng bukit Rongkorong, di rumah bambu reot yang di sekelilingnya ditumbuhi rumput dan semak. Anehnya, rumah bambu yang ia tempati meski sudah reot sejak dahulu, hingga saat ini tak pernah roboh.

Tak seorang pun yang tahu berapa umur Ki Tawi saat ini. Orang-orang di dusun Bungduwak mulai sejak kecil memang mengenal Ki Tawi sudah tua begitu, tubuhnya membungkuk dan hidup dengan menjilat tulang dan membawa setangkai mawar. Bahkan Ki Said, salah seorang sesepuh di dusun itu pun mengaku jika sejak kecil ia melihat Ki Tawi memang sudah tua membungkuk dan rajin menjilat tulang.

Ia kesohor karena selain punya kebiasaan unik, juga punya kebiasaan membantu mengobati orang sakit. Setiap ada yang hendak memberinya makan dan uang, ia akan menolak dengan santun beserta senyum purbanya yang dipincuk lembut oleh sepasang bibirnya yang kerap gemetar. Bahkan meski makanan itu berupa tulang, ia juga menolak dengan sopan.

***
HANYA beberapa detik setelah cekat tangan Ki Tawi mengipaskan setangkai mawarnya ke wajah si sakit, orang-orang di ruangan itu terlihat semringah. Harum mawar menguar di udara, dua di antara orang-orang itu menangis haru sambil memeluk seorang lelaki kurus yang wajahnya masih pucat di antara gerai rambutnya yang awut. Tapi berbicara dengan jelas, matanya berbinar, ia mengaku kepada keluarganya jika dirinya sudah sembuh. Sebentar-sebentar ia menggerakkan sebagian tubunya. Kadang juga memainkan intonasi suaranya. Lalu tersenyum dan berpelukan. Satu sama lain, di antara keluarga itu saling melepas pandang, seolah bertukar gurat kebahagiaan atas kesembuhan salah satu keluarganya.

Ki Tawi yang duduk di sampingnya merasa lega. Ia melepas napas pajang seraya menganggukkan kepala, setangkai mawar yang sedari tadi ia pegang, kembali diselipkan ke ikat pinggangnya. Tangannya yang keriput alih memungut sepotong tulang dari buntalan kain yang digendongnya. Lidahnya yang merah basah, menjilat-jilat tulang itu sampai putih bersih. Menggigit-gigit pelan hingga menimbulkan suara patahan samar. Mata orang-orang yang ada dalam ruangan itu tertuju kepada Ki Tawi, pandangannya erat bagai terikat, tak kedip bagai terpaku, berakhir saat Ki Tawi membuang tulang itu keluar jendela.

“Terima kasih, Ki. Telah membantu menyembuhkan saya,” kata si sakit dengan nada rendah dan sedikit gemetar.

“Iya, Nak. Saya hanya perantara, Allah yang menyembuhkanmu,” sahut Ki Tawi berbuntut batuk.
“Mungkin bunga mawar dan tulang-tulangmu itu yang juga jadi perantara, Ki,” sambung salah seorang keluarganya.

“Mawar dan tulang sebenarnya simbol kehidupan,” Ki Tawi mengelus setangkai mawarnya.
“Apa maknanya itu, Ki?”

“Mawar itu indah dan harum, itu artinya manusia harus indah, berakhlak mulia, dan harum, bermanfaat bagi orang lain. Tulang itu kuat dan putih, artinya manusia harus tangguh dan hatinya bersih.”

“O. Jadi begitu maksudnya, Ki?”

“Iya. Pada hakikatnya hati manusia sama seperi tulang, ia rawan kotor. Harus selalu dan selalu dibersihkan. Itulah sebabnya aku setiap waktu selalu menjilat tulang. Sesungguhnya agar aku ingat untuk membersihkan hati, hingga putih dan bersih,” ungkap Ki Tawi sambil memperbaiki posisi buntalan kain yang ia gendong. Orang-orang yang ada di ruangan itu mengangguk paham dan saling tatap.

***
APARAT desa beberapa kali melindungi Ki Tawi dari ancaman warga. Meski Ki Tawi cukup tenang unntuk langsung menghadapi warga, tapi aparat desa khawatir lelaki tua itu jadi bulan-bulanan massa. Kebaikan yang selama ini Ki Tawi lakukan dengan penuh pengorbanan, oleh sebagian warga malah dibalas dengan kejahatan. Sesuai dengan apa yang selama ini Ki Tawi bayangkan, bahwa di dunia ini sebenarnya tempat yang tidak aman, maut dan kejahatan senantiasa mengancam, mestinya orang-orang tidak mencintai dunia.

Sebagian warga terus menuduh Ki Tawi tukang sihir dan mereka mengancam untuk membunuhnya.
Di dalam kamar sunyi, yang disediakan oleh aparat desa, Ki Tawi hanya duduk termangu dan sesekali meneteskan air mata. Beberapa saat ia mendekat ke jendela, mengamati apa yang terjadi di luar, lalu kembali lagi, duduk di tubir ranjang kayu dengan sepasang kaki menggantung. Ia mengelus pelan setangkai mawar miliknya dan atau kadang menjilat-jilat tulang.

Air matanya terus membutir turuti keriput pipinya yang dipenuhi garis-garis lengkung, ia menangis bukan karena takut kepada ancaman warga, tapi dirinya merasa berdosa karena tak bisa lagi membantu menyembuhkan warga yang sakit.

***
PADA hari yang oleh aparat dirasa aman, Ki Tawi diperbolehkan pulang oleh aparat desa untuk sekadar mengunjungi rumahnya sesaat.

Beberapa saat kemudian, ratusan warga berkumpul mengepung rumah itu, masing-masing memegang senjata tajam dan ikatan janur kering untuk membakar rumah itu. Semuanya berwajah beringas dengan sorot mata yang tajam memisau.

“Mari kita lenyapkan kakek sihir ini beserta rumahnya,” teriak salah seorang warga seraya mengacungkan parang.

“Kita bakar saja agar tubuhnya jadi sate.”

“Hahaha….”

“Apa kalian setuju kalau kita bakar?”

“Setujuuu!” jawab warga serentak.

Tiba-tiba saja api memercik dari sebuah korek dan melalap janur kering yang diikat menyerupai sapu. Beberapa orang menyiramkan bensin ke rumah itu, dan tak seberapa lama, api-api itu menjalar liar di beberapa ikat janur lain yang dipegang warga. Ikat-ikat janur kering bermahkota api itu kemudian dilempar ke rumah reot itu beramai-ramai. Ada yang bersarang di atap, di lantai, di gedek dan di daun pintu.

Beberapa saat kemudian, terhidu harum mawar yang menusuk dari kobaran api itu, harum yang begitu lembut dan membuat hidung merasa nyaman menghidunya dalam waktu lama. Warga saling bertatap menyimpan tanya, antara bahagia dan cemas. Lalu dari langit berjatuhan tulang-tulang putih lurus menimpa kobaran api itu. Warga semakin cemas dan takjub. Mereka mundur beberapa langkah. Dan setelah hujan tulang itu purna memadam kobaran api, kecemasan dan rasa takjub warga memuncak. Ternyata rumah reot itu masih sepeti sedia kala, tak ada bekas lalap api sedikit pun. Harum mawar semakin menuba udara. Kemudian daun pintu pelan didorong dari dalam hingga terbuka.

“Ada apa ini? Mengapa kalian berkumpul di sini?” tanya Ki Tawi dengan raut yang heran. Warga bergeming. Tak ada yang bersuara. Berdebar ketakutan.

“Mari hiasi hidup ini dengan prasangka baik. Saling menolong. Jangan saling menuduh tanpa dasar yang pasti,” tambahnya seraya mengangkat pelan buntalan kain berisi tulang ke bahunya dan menyelipkan setangkai mawar yang sedari tadi ia pasang ke ikat pinggangnya. (e)


Rumah Ibel, 24.12.18
* A Warits Rovi: lahir di Sumenep Madura 20 Juli 1988. Guru bahasa Indonesia MTs Al-Huda II Gapura. Berdomisili di Jalan Raya Batang-Batang PP Al-Huda Gapura Timur Gapura Sumenep Madura.

[1] Disalin dari karya A Warits Rovi
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Minggu Pagi” edisi Minggu 14 April 2019.
The post Lelaki Penjilat Tulang yang Membawa Setangkai Mawar appeared first on Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara.
Share:



Dokumentasi Populer



Arsip Literasi