Pertanyaan Kiai Sadrach ~ Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu

Senin, 08 April 2019

Pertanyaan Kiai Sadrach


Dari dalam rumahnya, Sadrach membuka pintu depan. Di sana didapati Sukiran, salah satu pemuda yang menjadi anggota jemaatnya. Sukiran membawa sebuah surat yang akhirnya diberikan kepada Sadrach. Usai menyerahkan surat, Sukiran langsung permisi pergi. Sadrach memperhatikan kop surat tersebut, bertulisan: N. G. Z. V – Kepengurusan Gereja. Dibawanya surat itu menuju bangku teras.

Sementara pada saat itu senja tampak sempurna oleh warna jingga yang tergambar di awan sebelah barat. Setelah Sadrach duduk di bangku tersebut, dia membuka surat itu dan mulai membacanya. Pandangan matanya langsung berfokus pada inti dari isi surat.

Jika yang Tuan Sadrach lakukan tidak sesuai dengan apa yang selama ini kami dengar, anggap saja surat ini sebagai sapaan kami. Tapi, jika apa yang Tuan lakukan ternyata sesuai dengan apa yang mereka tuduhkan kepada Tuan, jadikan surat ini sebagai peringatan bahwa apa yang Tuan kerjakan akan membahayakan, selain terhadap ajaran Kristen, juga terhadap pemerintahan Belanda.

Tuduhan pertama mereka terhadap Tuan, perihal kekuasaan dan kepemimpinan Tuan telah dianggap melampaui batas kekristenan yang benar, sehingga hal itu bertentangan dengan prinsip Calvinisme. Tuduhan berikutnya karena pengaruh Tuan pada pengikut-pengikut Tuan begitu besar dianggap sebagai usaha untuk menandingi pemerintahan Belanda.

Oleh karena itu, untuk menguji bahwa Tuan terlepas dari tuduhan-tuduhan tersebut, kami sarankan kepada Tuan dan jemaat Tuan berlindung pada kepengurusan Gereja Negara. Demikian surat ini, semoga dapat menjadikan periksa. Terima kasih.

Sadrach ingin tahu siapa penulis surat tersebut. Dia memperhatikan bagian bawah surat sebelah kanan, di sana tertera sebuah nama, Bieger.

Usai membaca surat itu, Sadrach termangu. Pandangan matanya lurus ke depan seakan dia sedang mencari batas cakrawala yang hilang tertutup beberapa rumah penduduk, dan pohon-pohon tinggi yang tumbuh di depan rumahnya. Warna jingga di awan sebelah barat mulai meredup.
Sekilas wajah Sadrach yang semula terlihat cerah berubah masygul, senada dengan perubahan warna awan barat itu. Sebuah warna kemuraman, dan itu menjadi sesuatu yang tidak biasa pada dirinya.
Tanpa Sadrach sadari, dari balik pohon kedondong yang ada di pinggir jalan depan rumahnya, Sukiran memperhatikan. Rupanya anak muda itu tidak benar-benar pergi dari rumah Sadrach. Dia berhenti tepat di balik pohon kedondong itu. Pada saat Sukiran tahu wajah tuannya bermuram durja. Sukiran memberanikan diri kembali mendekatinya. Pikir Sukiran, siapa tahu tuannya sedang memerlukan bantuan.

“Maaf, Kiai. Saya memberanikan diri kembali ke sini. Saya melihat Kiai sedang bersedih. Mungkin Kiai memerlukan bantuan?” tanya anak muda itu.

“Eh, kamu Sukiran,” sahut Sadrach sedikit kaget.

“Saya Kiai.”

“Apakah kamu akan berhenti berjuang jika sekarang ini aku mati?”

“Saya tidak mengerti maksud Kiai.”

“Ada yang tidak suka dengan kita. Dan celakanya mereka sama-sama murid Gusti.”

“Bukankah sesungguhnya itu hanya perasaan iri, Kiai?”

“Ah, kamu ada-ada saja”

“Saya sungguh-sungguh, Kiai.”

Sadrach diam sejenak. Pandangan matanya kembali mengarah ke depan. Warna jingga di awan mulai memudar disaput gelap. Malam memang benar-benar segera datang.

“Kamu benar,” kata Sadrach kemudian.

“Maaf, Kiai,” sahut Sukiran.

“Kamu mungkin benar.”

“Perihal apa, Kiai?”

“Tentang iri yang kamu katakan tadi.”

Lalu Sadrach berbicara banyak kepada Sukiran, bahkan dengan sengaja Sadrach akhirnya menitip pesan kepada Sukiran agar menyampaikan kepada jemaat untuk tetap bersatu jika nanti ada sesuatu yang menimpa dirinya saat memenuhi panggilan tersebut. Malam itu juga Sadrach berangkat menemui pengurus Gereja N. G. Z. V ditemani Sukiran sampai di perbatasan wilayah. Sesampainya di kantor itu, Sadrach langsung menemui Bieger di ruang kerjanya. Di ruang itu terjadi perbincangan serius di antara mereka.

“Kamu tahu maksud surat saya?” tanya Bieger.

“Saya kurang paham,” jawab Sadrach.

“Apa kamu ingin memisahkan diri dari gereja ini?”

“Saya tidak pernah punya keinginan seperti itu.”

Bieger tampak seperti tidak sabar saat mendengar jawaban Sadrach atas pertanyaan-pertanyaan yang dia ajukan. Lalu dia menjelaskan langsung pada intinya, apakah Sadrach bersedia memercayakan jemaatnya kepada kepengurusan gereja di N. G. Z. V yang dipegang dirinya. Sadrach menanggapi pemikiran itu dengan penjelasan bahwa keputusan para jemaat dalam mengikuti dirinya bukan atas dasar paksaan. Mereka melakukan itu dengan sukarela dan inisiatif mereka sendiri.

“Jadi kamu menolaknya?” tanya Bieger.

“Anda tidak mengerti yang saya maksud rupanya,” sahut Sadrach.

“Lalu maksudmu apa?!” tanya Bieger dengan nada meninggi.

“Begini saja, jika Anda bisa mengajak mereka, saya ikhlas dan rela.”

“Kamu menantangku?”

“Anda sendiri yang mengatakan, bukan saya.”

“Saya bisa membuatmu dipenjara!”

“Jika Anda memang ingin melakukan itu, lakukanlah.”

Mendengar Sadrach mengatakan begitu, Bieger langsung berlalu meninggalkan ruangan itu dengan wajah merah. Rupanya Bieger menuju ruang lain yang ada di kantor itu. Di sana dia menulis sebuah surat. Begitu surat itu selesai ditulis, dia menemui seseorang di samping gedung kantor. “Cepat, antar surat ini pada alamat tersebut!” perintah Bieger kepada orang itu.

Serdadu utusan dari Residen Bagelan datang ke kantor N. G. Z. V. Mereka membawa sepucuk surat yang akan disampaikan kepada Sadrach, yang nantinya Sadrach menamai surat itu sebagai Surat dari Barat. Ketika Sadrach menerima kedatangan serdadu itu, dia merasa heran, mengapa mereka tahu saat itu dirinya berada di kantor N. G. Z. V. Meski begitu, Sadrach tidak terlalu memedulikan. Setelah surat dari residen diterima, dia langsung membacanya di hadapan para serdadu itu.
Sadrach langsung membaca bagian inti surat tersebut. Dalam surat itu, mereka mengatakan bahwa menurut pengamatan dan analisis yang mereka lakukan, termasuk perihal peningkatan jumlah jemaat Sadrach yang tidak seperti pada umumnya, mereka mencurigai bahwa kegiatan jemaat itu tidak melulu membahas masalah keimanan belaka. Intinya, Sadrach dianggap sebagai ancaman politik W. Ligtvoet, Residen Bagelan, wakil dari pemerintahan Belanda di wilayah itu.

Atas dasar anggapan tersebut, mereka tidak ingin kecolongan, lalu memberi tugas kepada para serdadu untuk menangkap dirinya. Sadrach benar-benar ditangkap. Selama tiga bulan Sadrach akhirnya ditahan. Di dalam penjara, Sadrach diberi tugas sebagai tukang bersih-bersih di sekitar lingkungan penjara. Alat yang sering dipakai untuk menjalankan tugasnya itu salah satunya adalah sapu. Dari kisah itulah Sadrach menemukan makna dari simbol sapu dan lidi.

Untuk selanjutnya, karena mereka tidak menemukan cukup bukti untuk mengajukan ke pengadilan, akhirnya Sadrach dibebaskan dengan keputusan Gubernur Jenderal yang tertanggal 1 Juli 1882. Justru karena tidak ada protes dari Sadrach dalam menjalani hukuman itu, dan pihak Belanda tidak menemukan apa yang membuatnya risau, akhirnya mereka menjadi takut jika kisah itu justru akan membuat pengikut Sadrach semakin banyak.

Saat Sadrach keluar dari penjara, tak sedikit pun dia merasa takut. Dia langsung melakukan tugasnya lagi. Ajaran yang dia sampaikan memakai simbol-simbol. Hal itu bukan terletak pada bagaimana ajarannya, tetapi lebih pada konsep yang digunakan untuk menyampaikan ajaran itu. Simbol yang sering dipakai Sadrach adalah simbol-simbol yang sebenarnya telah hidup dan berlaku di masyarakat Jawa. Simbol yang saat itu sedang populer adalah simbol lidi dan sapu. Sadrach membagikan sebuah lidi kepada masing-masing pribadi yang terbagi dalam 80 kelompok jemaat. Dari sana dia memberikan pandangan kepada mereka, jika semua lidi yang dia bagikan kepada seluruh jemaat itu disatukan, lidi-lidi itu akan terikat satu dengan yang lain menjadi sapu yang kuat. Dalam keimanan mereka, sapu diibaratkan sebagai pribadi Yesus.

Di suatu sore, usai acara ibadah, terjadi obrolan antara Sadrach dan para jemaatnya. Salah satu obrolan itu mengenai simbol lidi dan sapu. Intinya, mereka menanyakan apakah simbol lidi dan sapu yang Sadrach kemukakan hanya untuk menggambarkan pribadi jemaat dan pribadi Yesus. Sadrach langsung tersenyum tetapi tidak menjawab pertanyaan tersebut. Dia justru memberi sebuah pertanyaan balik kepada mereka. “Jika ada bangsa lain yang ingin merebut kedaulatan wilayah Tanah Air kita ini, apakah kalian akan diam saja?” Mendengar pertanyaan itu, memang tidak ada jemaat yang menjawabnya, tetapi sebagian besar dari mereka terlihat mengangguk-anggukkan kepala. ●

________________________________________
Yuditeha menulis puisi dan cerita. Kumpulan cerpen terbarunya Cara Jitu Menjadi Munafik (Stiletto, 2018). Novel karyanya antara lain Tjap (Basabasi, 2018) dan Tiga Langkah Mati (Penerbit Buku Kompas, 2019). Novelnya, Imaji Biru, meraih juara pertama Lomba Novel Jejak Publisher (2018). Aktif di Sastra Alit Surakarta dan pendiri Kamar Kata Karanganyar.

[1] Disalin dari karya Yuditeha
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Koran Tempo” edisi akhir pekan 6-7 April 2019.
The post Pertanyaan Kiai Sadrach appeared first on Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara.
Share:





Esai dan Opini

Dokumentasi Populer

Ulasan Karya



Arsip Literasi