Topeng Arum ~ Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu

Senin, 08 April 2019

Topeng Arum


Keheningan merasuki jiwa Arum, menenteramkannya sejak menempati Sanggar Pawening di tengah alam pedesaan. Ia mengikis batin yang keropos, kehilangan harapan. Ia menikmati keheningan sanggar yang senantiasa mengusiknya untuk mencipta gerakan-gerakan tari. Tak pernah bisa meredakan, ia terusik mencipta tari topeng. Aura magis menggetarkan seluruh lekuk dan persendian tubuh ketika menari topeng. Tetapi ia belum mencapai kesempurnaan gerak ketika mencipta puncak perjalanan karakter tari topeng yang membebaskan keangkaramurkaan. Ia berupaya memperagakan gerak ksatria yang mengalami pertempuran jiwa angkara murka dan jiwa yang memurnikan nafsu duniawi. Ia terus menari untuk mencapai karakter ksatria yang memenangkan ketulusan batin pada akhir pergelaran.

Tak pernah letih Arum berlatih tari topeng. Ia merasa malu atas perangainya; mencari perasaan nyaman di balik topeng. Bukan lantaran wajah itu keriput, menua, dan bergelambir. Ia merasa malu lantaran tak berada di tengah-tengah keluarga: suami, kedua anak perempuan, menantu, dan cucu.
Ia dihantui rasa bersalah tidak mendampingi putri bungsunya, Dewi Laksmi, ketika menikah, mengandung, dan melahirkan anak. Ia kangen berada di antara kehangatan keluarga baru Dewi Laksmi. Ia kehilangan kesempatan menjadi nenek, yang senantisa mengayun-ayun cucu dalam buaian lengannya yang kian kisut. Ia merasakan tanda-tanda ketuaan, rapuh, dan tak percaya diri. Tetapi ia tak mau mengutuki diri sendiri. Ia mencipta tari topeng yang mengisahkan kesunyian seorang ksatria yang meredakan keangkaramurkaan dalam dirinya sendiri. Selalu saja, ia menciptakan tarian dengan pergolakan batin ksatria yang tak menemukan ketenteraman jiwa.

Arum tak peduli bila topeng-topeng yang dikenakan para penari dibeli dari Gani. Topeng-topeng itu pahatan Gani. Topeng-topeng itu memberinya kekuatan untuk menemukan gerakan-gerakan tari baru. Tiap kali mengenakan topeng-topeng pahatan Gani, terasa getaran detak nadinya mengalirkan kisah-kisah tarian yang tak pernah terpikirkan.

Selesai menari, menjalar rasa kangen yang mendesak-desak dalam hati Arum untuk menikmati kehidupan rumah, bersama suami, anak, menantu, dan cucu. Tetapi ia merasa malu. Ia sudah meninggalkan rumah dan menolak kembali. Ia menghabiskan waktu untuk mencipta tari, dan mengulang-ulang gerakan-gerakan itu, hingga larut malam dan merasa tariannya belum sempurna, yang membangkitkan rasa gundah. Ia berharap bisa tidur lelap. Seperti malam-malam sebelumnya, ia tak segera dapat memejamkan mata. Tengah malam gelisah. Mendengar suara walang kecek di pepohonan. Ia berjalan-jalan di sekitar sanggar, bulan merah, dan kelelawar-kelelawar menyergap pepohonan mangga. Bergayutan. Pendapa sepi. Joglo tempat gamelan dan pergelaran tari gelap.
Langkah Arum mencapai pintu gerbang sanggar, dan penjaga malam berkerudung sarung, terlelap di gardu penjagaan. Masih tersisa harum kopi dan rokok kretek yang diisap penjaga malam. Pintu gerbang tak terkunci. Pelan-pelan ia menyelinap, melewati celah pintu gerbang, menghambur ke jalan yang senyap. Tengah malam, sungguh tak lazim, sebagai perempuan yang menua, meninggalkan sanggar, dengan langkah kaki yang tak diketahui arahnya. Ia tak dapat menghentikan arah langkah kakinya. Ia seperti dikuasai kekuatan gaib, yang menuntun untuk terus melangkah dalam cahaya bulan merah. Ia seperti dituntun mantra ñ yang memanggilmanggil dalam ketaksadaran.

Kucing-kucing liar yang mengendap-endap di sekitar sanggar, yang biasanya gaduh meraung-raung melepas berahi, kini mendekam tiada bergerak, hanya memandangi Arum dengan cahaya mata hijau berkilauan. Arum berlalu, menjauh dari sanggar, barulah kemudian kucing-kucing liar itu menimbulkan kegaduhan berahi puncak malam. Arum merasa tersindir perilaku kucing-kucing liar. Apakah aku sedang merindukan kehangatan seorang lelaki?

Arum meneguhkan pendirian: tak pernah mau mengakui tuntutan perasaannya. Terus melangkah. Para peronda mengangguk hormat padanya, dan tak berani menggoda. Arum dikenal orang-orang desa sebagai pemilik Sanggar Pawening yang banyak berderma.

Langkah Arum terus mengarah ke perkampungan dekat perumahan. Tak ada lagi sawah ladang dan suara walang kecek. Tak ada keraguan yang menghambat langkahnya. Rumahrumah mulai rapat, pelataran menyempit. Terdapat dua rumah kayu berdampingan dengan pelataran yang luas. Ia mendekati rumah Gani ñ menatap lekat ke pendapa dengan pintu masih terbentang. Terhampar seperangkat gamelan, dan Arum tak melihat Gani. Ia mendengar suara palu mengetuk-ngetuk gagang tatah. Dari bawah pohon kersen itu ia melihat sosok suaminya, duduk menghadapi meja, dengan topeng yang dipahat. Wajah lelaki itu tampak lebih tua, dengan guratan-guratan lebih tegas, lebih berkeriput. Kumisnya memutih. Tatapan tak bergeser dari topeng yang dipahatnya. Kenapa aku lebih suka mencipta tari topeng?

Menahan diri, Arum mengendalikan dorongan dari dalam batin agar tak mendekati Gani. Ia mengurungkan hasrat membeli semua topeng yang selesai dipahat dan sempurna dicat.

Berhenti memahat, Gani mengangkat muka, memandang sosok bayangan di bawah pohon kersen. Tak terlihat siapa pun, tak tertangkap sosok bayangan di sana. Gani mengisap rokok, menenggak kopi, bimbang sesaat, antara berkeinginan menyelidiki sosok bayangan itu atau membiarkannya berlalu. Hampir saja ia bangkit. Ingin melangkah ke bawah pohon kersen. Dia urungkan. Ia kembali memahat: terpaku pada rautan topeng.

Serupa bayangan yang menghilang, Arum sudah berada di pelataran rumah Dewi Laksmi. Berdiam di bawah pohon kersen, mendengar suara tangis bayi dari balik jendela kamar yang tertutup. Ia mendengar suara Dewi Laksmi yang menenteramkan bayinya. Arum teringat saat malam-malam menyusui bayi mungil Dewi Laksmi dulu, dengan isapan yang kuat, dan ketenteraman setelah menyusui. Tubuh Arum menggigil, menahan diri untuk tidak menghambur ke jendela kamar Dewi Laksmi. Dari suara tangis bayi itu ia tahu, cucu keduanya seorang lelaki.

Termangu di bawah pohon kersen itu, Arum memperturutkan getaran hati, yang tak bisa ditahan, tak bisa dikendalikan. Ia sangat ingin melihat wajah cucu lelakinya. Apakah ia mewarisi ketampanan menantunya?

Arum menjauh dari bawah pohon kersen, ketika mendengar langkah Dewi Laksmi mendekati pendapa, memutar anak kunci, dan pintu terkuak. Dewi Laksmi menggendong bayinya, menghambur ke pelataran, berdiri di bawah pohon kersen. Tangis bayi mereda, bahkan berhenti seketika. Memandangi bulan merah, memandangi kelelawar-kelelawar yang berkelebat di dahan-dahan kersen, menggugurkan buah-buahnya, ranum, terserak.

Sambil mengayun-ayun tubuh bayi lelakinya, Dewi Laksmi sempat menangkap sosok bayangan perempuan setengah baya, dan tak sadar memekik, “Bunda, ini cucu lelakimu!”

Tanpa menoleh, Arum terus melangkah menjauh, serupa bidadari terbang ke kahyangan ñ tak tersentuh tangan manusia, meski itu anaknya sendiri. Ia berharap, suatu saat Bunda, yang kini menjelma bidadari, berkenan menemuinya, meski dengan jalan sembunyi-sembunyi pada malam larut bulan merah. Arum bergegas kembali ke sanggarnya, menyempurnakan tarian topeng yang tengah dia ciptakan.

Dalam kesenyapan joglo itu Arum seperti mendengar tetaluan, gamelan pembuka tari topeng.
Berdirilah ia dengan posisi naga seser, gerakan kuda-kuda dengan kaki dibuka setengah jongkok, kaki kiri ditutupi juntaian kain. Ia serupa kerasukan roh, menari dengan topeng yang menutup wajahnya. Terus ia menari hingga langit samar-samar kemerahan, mencari gerak pembebasan dari gejolak nafsu. Ia masih mengenakan topeng itu meski telah selesai menari. Ia tertidur di lantai joglo sanggar senyap itu, masih mengenakan topeng. Terbangun dari tidur esok pagi ia tidak melepas topeng merah, yang meliarkannya pada gerakan- gerakan ksatria murka. (28)

Pandana Merdeka, Maret 2019
S Prasetyo Utomo, lahir di Yogyakarta, 7 Januari 1961. Doktor ilmu pendidikan bahasa ini menulis cerpen, esai, puisi, novel, dan artikel. Buku cerpennya Bidadari Meniti Pelangi (2005), sedangkan novelnya Tangis Rembulan di Hutan Berkabut (2009), Tarian Dua Wajah (2016), dan Cermin Jiwa (2017). Penerima Anugerah Kebudayaan 2007 dari Departemen Kebudayaan dan Pariwisata, Acarya Sastra 2015 dari Badan Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Prasidatama 2017 dari Balai Bahasa Jawa Tengah.


[1] Disalin dari karya S Prasetyo Utomo
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Suara Merdeka” edisi Minggu 7 April 2019.
The post Topeng Arum appeared first on Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara.
Share:





Esai dan Opini

Dokumentasi Populer

Ulasan Karya



Arsip Literasi