Berburu Malam Seribu Bulan ~ Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu

Sabtu, 11 Mei 2019

Berburu Malam Seribu Bulan


MALAM seribu bulan. Membayangkannya sungguh indah bukan buatan. Langit malam dipenuhi bermacam purnama yang terang benderang. Bulatan-bulatan cahaya yang banyak jumlahnya di atas langit dipandangi dari bumi dengan pancaran cahaya keindahannya. Seindah malam dengan seribu bola lampu tanglung bahkan lebih indah lagi.

“Wah, malam seribu bulan, indah sekali! Langit akan dipenuhi bulan,” gumam Anwar dalam hati saat mendengarkan ceramah ustaz Halim di sebuah musala.

Tausiyah ustaz Halim selanjutnya tak lagi disimak dengan baik oleh Anwar. Bocah berpeci putih, mengenakan baju koko yang juga berwarna putih dan sarung kotak-kotak berwarna cokelat itu masih juga membayangkan tentang malam seribu bulan pada malam bulan Ramadan. Namun, samar-samar ia masih mengingat perkataan penceramah yang tengah mendapat giliran kultum tiap salat tarawih di mushala dekat rumahnya itu, bila malam seribu bulan yang dikenal dengan nama lalilatul qadar itu hanya akan terjadi pada malam-malam ganjil pada akhir bulan Ramadan.

“Berarti besok malam adalah malam ke-21,” pikir Anwar yang tertarik untuk berburu malam seribu bulan. Memang setiap kali Ramadan datang, bocah itu belum pernah berburu lailatul qadar. Tahun ini ia bertekad untuk membidiknya.

Hari itu Anwar berpuasa dengan angan-angannya bertemu dengan malam kemuliaan itu. Di kamarnya seharian sudah ia tidur hanya untuk membekali diri agar mampu begadang sampai waktu subuh. Lantaran niatnya untuk tidur seharian, Anwar terlewat untuk shalat Zhuhur dan Ashar karena saat terbangun sudah waktu berbuka puasa. Itu pun karena ibunya mendapatkannya di kamar setelah terlebih dahulu sibuk mencari-cari dan bertanya ke sana kemari.

Malam ke-21 seusai salat tarawih. Anwar memepersiapkan diri untuk berjaga kalau-kalau malam ini akan terjadi malam seribu bulan. Ia sudah menyediakan obat nyamuk lotion untuk menghindari isap nyamuk-nyamuk nakal. Sepanjang malam ia menengadah ke atas langit dari beranda rumahnya. Hanya tampak bulan tunggal berbentuk seperti sesisir pisang cavendish. Namun, angin malam yang sepoi-sepoi menidurkannya di kursi panjang yang terbuat dari rotan buatan pengrajin rotan Cirebon. Saat terbangun ia terheran-heran, tahu-tahu ia sudah berada di kamarnya di atas pembaringannya.
“Ayahmu yang membopong masuk ke kamar,” tutur ibu Anwar sambil mempersiapkan makan sahur.
Seusai shalat Subuh dan mendengarkan kultum subuh, orang-orang belum beranjak dari mushala karena di luar gerimis. Anwar duduk-duduk mendengarkan orang-orang berdebat perihal malam seribu bulan.

“Bukan, sepertinya semalam bukan malam seribu bulan. Pagi ini langit mendung dan turun hujan. Bukannya kalau semalam lailatul qadar udara dan suasana pagi ini akan terasa tenang.”

Dalam hati Anwar girang karena semalam bukan malam istimewa turunnya Alquran. Ia masih memiliki kesempatan untuk bertemu dengannya.

Malam ke-23 seusai salat tarawih. Anwar masih juga berjaga di serambi rumahnya. Berkali-kali ayah dan ibunya menegur agar ia masuk ke dalam kamarnya.

“Ia Anwar dengar, sebentar lagi,” jawabnya. Kemudian, ia masuk ke dalam rumah, bukan untuk tidur, tapi guna menyeduh kopi agar matanya tahan melek.

Dalam hati Anwar heran, mengapa ayah ibunya tidak berburu malam seribu bulan. Ah, mungkin ayah dan ibu sudah pernah bersua dengan malam turunnya malaikat Jibril ke bumi.

Tetapi kembali, Anwar terlelap di kursi panjang setelah lelah mendongak ke atas langit berkali-kali dan bulan masih juga sendiri dengan bentuk lengkungnya makin runcing macam celurit. Ia baru terjaga setelah mendengar ayahnya membangunkannya untuk makan sahur.

“Kamu tidur di luar lagi? Ayo bangun kita santap sahur dulu.”

Pulang dari mushala, tak terdengar orang-orang bedebat tentang lailatul qadar. Anwar kecewa karena merasa ia tertinggal kesempatan untuk menyaksikan malam keselamatan itu. Namun, saat pagi tiba, ia teringat sesuatu selain ciri udara dan suasana pagi yang tenang juga malam seribu bulan ditandai matahari terbit hingga tinggi tanpa sinar bak nampan.

“Pagi ini matahari sudah panas sekali! Kurasa semalam belum datang seribu bulan.”

Berburu Malam Seribu BulanMalam ke-25 juga malam ke-27. Anwar tidak tidur di rumah, melainkan sengaja berburu malam seribu bulan di mushala bersama jamaah lain. Tampak ustaz Halim berada di tengah-tengah orang-orang yang sedang beribadah iktikaf. Karena malu baru bermalam di tempatnya salat tarawih, Anwar berpura-pura tiduran namun terlelap jua. Bocah yang masih duduk di bangku sekolah dasar kelas III itu masih terlalu kecil untuk tak tidur semalaman.
Anwar kembali kecewa karena dua kali di malam ganjil itu ia ketiduran melulu. Namun, ia masih tersenyum karena mendengar orang-orang masih juga berburu malam seribu bulan pada malam ganjil berikutnya.

“Berarti belum juga bulan menjadi seribu.”

Malam ke-29. Anwar yang tengah bersila dan merapal zikir terkejut ketika punggungnya ditepuk oleh seseorang. Ia menengokkan kepalanya lalu menghadapnya.

“Oh, ustaz Halim. Mari silakan ustaz,” sembari mempersilakannya duduk bersama.

“Nak Anwar putranya bapak Salim, kan?”

“Betul ustaz.”

“Beberapa malam ini saya sering lihat nak Anwar tidur di mushala ini, apa ayahmu tidak mencari-cari?”

“Saya sudah izin ustaz.”

“Oh, bagus,” ucapnya sambil manggut-manggut.

“Ustaz saya ingin bertanya,“ ucap Anwar kemudian berhenti untuk menyusun kata-kata, “beberapa malam ganjil ini saya berburu lailatul qadar seperti ceramah ustaz Halim.”

“Wah, bagus itu nak Anwar, terus?”

“Saya selalu tertidur sebelum melihat malam seribu bulan. Apakah bulannya sejumlah seribu? Saya tengok bulannya tetap satu bahkan makin berganti malam-malam ganjil bentuk bulannya makin kecil dan hilang.”

“Aih,“ ustaz Halim tergelak, “nak Anwar ada-ada saja. Bukannya malam seribu bulan itu bulannya berjumlah seribu, melainkan keistimewaannya melebihi seribu bulan. Seribu bulan kalau dihitung kurang lebih 83 tahunan.”

“He he he, saya yang keliru.”

“Lailatul qadar adalah rahmat dari Allah untuk umat Nabi Muhammad SAW yang usianya tak sampai seratus tahun sehingga tidak dapat untuk beribadah selama seribu bulan. Oleh karena itu, diberilah kedatangannya di setiap bulan Ramadan pada malam-malam ganjil yang selalu dirahasiakan kapan kehadirannya agar umat Islam berlomba-lomba mendapatkan malam seribu bulan itu dengan beribadah supaya memperoleh ampunan Allah.”

“Anwar manggut-manggut lalu tersenyum. “Berarti malam ini masih ada kesempatan untuk mendapatkan malam seribu bulan itu?”

“Insya Allah, Nak Anwar.”

Malam itu Anwar kembali terlelap, tapi dalam tidurnya ia bermimpi diperlihatkan malam seribu bulan. Saat di bangunkan sahur, ia bergegas menemui ustaz Halim.

“Saya bermimpi bertemu malam seribu bulan.”

“Subhanallah, mimpi yang indah.”

Pagi itu hari terasa begitu menyejukan dan matahari bersinar keperakan sebagaimana cahaya rembulan.
Indramayu, 2017
FARIS AL FAISAL
lahir dan tinggal Indramayu, Jawa Barat, Indonesia. Bergiat di Dewan Kesenian Indramayu (DKI) dan Forum Masyarakat Sastra Indramayu (FORMASI). Menulis fiksi dan nonfiksi. Karya fiksinya adalah novel Bunga Narsis Mazaya Publishing House (2017), Antologi Puisi Bunga Kata Karyapedia Publisher (2017), Kumpulan Cerpen Bunga Rampai Senja di Taman Tjimanoek Karyapedia Publisher (2017), Novelet Bingkai Perjalanan LovRinz Publishing (2018), dan Antologi Puisi Dari Lubuk Cimanuk Ke Muara Kerinduan Ke Laut Impian Rumah Pustaka (2018). Sedangkan, karya nonfiksinya, yaitu Mengenal Rancang Bangun Rumah Adat di Indonesia Penerbit Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (2017). Puisi, cerma, cernak, cerpen, dan resensinya tersiar berbagai media cetak dan online. Tulisan lainnya terhimpun dalam antologi puisi dan cerpen bersama.


[1] Disalin dari karya Faris Al Faisal
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Republika” edisi Minggu 5 Mei 2019

The post Berburu Malam Seribu Bulan appeared first on Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara.
Share:



Esai dan Opini

Dokumentasi Populer

Ulasan Karya Sastra



Arsip Literasi