Kematian | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu

Senin, 13 Mei 2019

Kematian


DIA duduk dalam sebuah musala kecil yang bertiang bambu di atas sebuah bukit yang sunyi. Udara malam menyengat atis, sementara kepalanya tunduk menekur dan mulutnya tak berhenti mengguman istigfar . Memohon ampun pada tuhannya. Allah yang menciptakannya dan bersemayam di atas ëarasy setelah lapis ke tujuh langit yang diciptakan. Hampir selama tiga jam yang dipenuhi emosi yang seperti badai memporakporandakan jiwanya, ia mengenang kematian anak menantunya di tangannya sendiri. Dalam pertobatannya dan penyesalan yang panjang, dengan suara seperti rentetan mantera yang pedih, dalam upayanya mencari rasa damai, otaknya tak kuasa melepas bayangan mata anak menantunya yang menatapnya menjelang ajal dalam tikaman keris bertuah. Ia juga melihat anak putrinya yang menjerit dan merintihkan nama suaminya.

Sebulan telah lewat, ketika Amangkurat II, rajanya, memberinya perintah yang tak bisa ditolak, membunuh semua orang yang dianggap menyimpan bara bahaya bagi kedudukannya sebagai penguasa. Perintah raja, bagaikan perintah Tuhannya Ibrahim untuk menyembelih putranya Ismail. Ia tak mampu menolak. Bukan karena takut menggigil dalam ancaman senjata pada dadanya ñtapi perintah raja adalah perintah tuhan. Dia lebih takut pada pencipta alam semesta yang memberikan amanah pada rajanya agar ditaati, meskipun ia membawa badai duka nan nestapa. Semua perintah itu dilaksanakannya dengan tuntas, disertai rasa perih di hatinya.

Ketika pada akhirnya berhadapan dengan suami dari anak perempuannya, malam itu, dia mengatakan dengan berat hati apa yang diperintahkan raja untuknya. Anak muda dengan kulit cokelat dan rambut ikal, bermata tajam itu menyambut dengan tawa yang menggema pada dinding-dinding ruang, memantulkan rasa atis dan pedih dalam jiwanya. Sementara anak perempuannya kaget dan mengintip pucat dari balik pintu kamar . Raja, katanya, tak saja mewarisi darah yang congkak, tapi juga kegilaan yang gelisah melewati waktu-waktu tidurnya dengan prasangka yang menggoncang kedamaian setiap warganya sendiri setelah pemberontakan Trunojoyo.

Tapi, semua orang mesti memahami semua itu sebagai kewajaran yang harus diterima sebagai nasib. Setidaknya demikian agama mengajarkan kesabaran atas nasib buruk yang menimpa. Anak muda itu, suami yang dicintai anaknya, tunduk terdiam dalam balutan yang ragu, antara menerima dan menolak takdir kematian yang menunggu. Tubuhnya kaku menahan takdir yang menimpanya, gemetar karena mencoba melawan.

“Bukankah saya seharusnya mene ima jabatan sebagai senopati agung?"

“Tidak, anakku, kau harus meneri ma takdirmu yang lebih baik. Sebagai seorang syuhada”

Dia katakan dengan ketenangan yang seperti angkasa yang gelap, tentang takdir langit yang tak akan bisa dilawan. Bahwa kematian adalah hak Tuhan. Bahwa kematian juga bukan berarti kematian. Karena kehidupan adalah meliputi seluruh alam semesta yang material dan alam lain yang diberitakan dalam kitab suci.

“Sesungguhnya, anakku, kita hanya mematuhi perintah Allah, bukan raja kita”

Tetapi dalam kesunyian yang bisu, pada malam-malam yang nestapa, dalam tangis anak perempuannya yang pilu, dalam waktu yang berjarak, setelah peristiwa tragis itu ñrasa sesalnya tiba-tiba lahir dan membuatnya ragu sendiri atas kebenaran semua tafsirnya. Dia mengutuk dirinya sendiri. Memohon maaf pada anaknya dan bertobat pada Tuhannya. Malam itu pula, di dalam musala di atas sebuah bukit, ketika para utusan kerajaan datang padanya ñdia menerimanya sebagai tamu maut yang akan mengan – tarnya pada penebusan. Dengan demikian, dia tunaikan takdirnya. q -e

*) Ranang Aji SP, Cerita Pendeknya diterbitkan pelbagai media cetak dan digital. Menerbitkan Buku Kumpulan Cerita Pendek Serigala yang Berzikir Di Ahir Waktu (Nyala, 2018), Buku Kumpulan Puisi Fang (2011) dan Kumpulan Puisi Bersama Titik Perlawanan: Masih Kau Melawan (Lestra, 2012). Novelnya berlatar sejarah Perjalanan Cinta Di Tanah Jawa dan Kekasih Bayangan menunggu proses terbit.


[1] Disalin dari karya Ranang Aji SP
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Kedaulatan Rakyat” Minggu 12 Mei 2019
The post Kematian appeared first on Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara.
Share:



Dokumentasi Populer



Arsip Literasi