Musim Politik ~ Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu

Rabu, 29 Mei 2019

Musim Politik


Sepanjang tepi kali dari Sagan ke Bulaksumur, anak-anak lelaki yang telah berhasil mendapatkan banyak ikan, melangkah ke utara sembari meneriakkan yel.

pring reketeg
gunung gamping ambrol!
dasar ati mantep
nyoblos marhen jempol!
jempolé…

Dari dalam rumah, orang-orang tua maupun muda mengacungkan jempol.

“Hidup marhen!” Kata mereka.

“Hidup marhen!” Sahut anak-anak kecil itu.

Terlihat baliho besar bergambar banteng menyeruduk di atas gerbang kampung. Orang-orang yang baru saja mendirikannya melihat gerombolan kanak-kanak itu melewati mereka.

Hoi! Ngirik ya? Dapat banyak?”

Seseorang menengok bekas kaleng biskuit Amerika yang dipeluk anak paling kecil. Tentu saja anak paling kecil selalu bertugas membawa kaleng itu. Anak-anak berbadan terbesar memimpin di depan, memegang irik ke bawah semak-semak di tepi kali, menjejak-jejak semak agar ikan-ikan di bawahnya menghindar dan dijebak irik itu.

“Kok banyak cethul-nya?”

“Terbawa saja Mas, itu banyak wader-nya, malah ada kuthuk dan lele juga.”

Orang itu memastikan lagi.

“Wah, iya, malah ada welut juga,” katanya, tapi terus mengacungkan jempol, yang semula dikira anak-anak memuji mereka, meski ternyata bukan.

“Hayo! Marhen apa?”

Serentak disambut.

“Jempoooollll!”

Disambung dengan yel yang sudah dihayati anak-anak itu dengan penuh semangat

………………
jempolé jempol gajah
gajahé gajah abuh
abuhé dientup tawon
tawone tawon endas
endasé endas banteng
banténgé banteng édan
édané ditutuk palu
palu ariiiiiiiit
pé-ka-i ayo i
iwak babi ayo bi …..
Lantas orang itu mengepalkan tangan meski yel itu belum usai.
“Ganyang pé-ka-i!”
Yang langsung saja bersambut.
“Ganyang pé-ka-i!”
“Hidup marhen!”
“Hidup marhen!”
***
Anak yang paling kecil masih mengulang-ulang yel itu dengan suara rendah ke dalam rumah, sambil membawa kaleng bekas susu bubuk berisi cethul lima ekor. Hasil perburuan mereka memang dibagi, dan sebagai anak terkecil ia mendapat ikan dengan kasta terendah.

Ia masih menggumamkan yel pelan-pelan setelah menggabungkan cethul-nya ke bak air di samping sumur. Sudah ada sejumlah ikan yang lain di situ, hasil perburuannya setiap hari selama libur sekolah. Liburan yang telah diperpanjang, karena sebagian guru tidak boleh mengajar lagi. Sebagian bahkan sejak lama tidak pernah muncul, setelah dijemput menjelang dini hari.

Dengan tubuh menggelantung di bibir bak, anak itu melihat ikan-ikan berenang di dasarnya. Kakinya berayun dan diperhatikannya segala pergerakan ikan-ikan itu. Ia berdendang pelan.

Njer-geeeeeenjer….

“Heh! Sudah dibilang jangan nyanyi itu lagi!”

Terdengar suara di belakangnya.

“Bisa bikin celaka kita semua.”

Ia meloncat turun. Ibunya muncul membawa ember dan menurunkan tali sumur yang embernya hitam.

“Teman-teman juga …”

Ibunya berbisik.

“Hus! Sumur ini dibagi dua dengan tetangga, hati-hati, mereka bisa dengar suaramu kalau nyanyi, banyak keluarga celaka karena nyanyian itu. Jangan main-main!”

“Pak Narto kan baik, Bu.”

Ibunya menghentikan ember yang meluncur itu sebentar. Berbisik lagi.

“Ssstt! Dengar ya, jangan bicara apa pun ke sebelah,” katanya, “malah jangan bicara apa pun kepada siapa pun. Sekarang ini kita tidak tahu, siapa yang benar-benar baik.”

Talinya lantas dilepaskan lagi. Terdengar suara ember menyentuh permukaan air. Suaranya bergema di dalam sumur.

Anak itu memandang ibunya yang mulai menimba.

“Bu, apa betul Bapak diciduk?”

Ibunya tertegun, tapi tetap terus menimba.

“Siapa yang bilang?”

“Teman-teman.”

Hanya terdengar suara helaan napas.

“Betul Bu?”

Suara roda timba berderit-derit.

“Bapakmu di luar negeri. Berapa kali aku mesti bilang?”

Ember sampai ke atas. Di balik tembok tetangganya menahan napas. Terdengar suara air dipindahkan ke ember lain.

“Kamu dan ikanmu menguasai bak ini,” kata Ibu, “aku harus mengangkut air untuk mandi ke dalam.”
Anak itu tahu ibunya mengalihkan pembicaraan, tetapi ia tidak mendesak lagi.

Ia menyenandungkan nyanyian itu lagi setelah ibunya pergi. Kali ini hanya nadanya.

Namun di balik tembok seseorang mengepalkan tangan, dengan ungkapan wajah seperti berhasil menangkap lalat.

***
Suatu sore dari arah Gawang Lorek di Bulaksumur melalui bulevar Dalan Alus mengalir pawai kampanye pemilihan umum. Sejak siang hari terus-menerus orang meneriakkan yel, dan berhojah sembari mengganyang partai terlarang.

Ia ingin menonton pawai itu. Namun sejumlah anak mencegat di depan Rumah Sakit Panti Rapih. Baju mereka tak terkancing, kadang karena memang tidak ada kancingnya, dan ada juga yang tak berbaju. Bau tubuh mereka seperti tidak mengenal sabun. Ia sendiri kalau mandi hanya menggunakan sabun cuci cap tangan bersalaman.

Mereka mengikuti dari belakang ketika ia melangkah terus.

“He, anak pe-ka-i!”

Ia tidak menggubris. Teringat apa kata ibunya ketika dijemput sejumlah petugas pada suatu siang. Ibunya berbisik di telinga saat diperbolehkan menciumnya.

“Jangan nakal ya, jadilah anak baik, jaga adikmu.”

Umurnya 7 tahun, adik perempuannya 5 tahun.

“Karena bapakmu yang ke luar negeri belum juga pulang, ibumu mesti bekerja di tempat yang jauh, supaya bisa menghidupi kamu dan adikmu,” kata seorang ibu tua yang disebut-sebut sebagai saudara-jauh, tetapi tidak pernah dikenalnya.

Di rumah ibu itulah, di Blimbingsari, ia sekarang tinggal bersama adiknya, tidak jauh dari Terban, tempat tinggalnya yang sudah ditempati keluarga lain.

Anak ibu itu sudah besar, dan setiap hari mengacungkan tinju sebelum keluar rumah.
“Marhen menang!” Katanya.

“Marhen menang!” Ia pun mengacungkan tinjunya.

Merasa dirinya termasuk marhen, entah apa itu artinya, ia tidak takut kepada gerombolan anak-anak tak berbaju maupun jika berbaju belum tentu berkancing itu. Apalagi dari arah depan muncul kawan-kawannya mencari ikan, yang kali ini sebagian berselempangkan layang-layang

“He, pé-ka-i semua kalian! Beraninya sama anak kecil!”

Anak-anak yang mencegatnya segera bubar berlarian, karena di antara gerombolan anak-anak yang menyerbu ini terdapat anak-anak yang berbadan lebih besar.

“Dasar pengecut!”

Tapi anak-anak yang berlarian itu pun menyahut.

“Ke sini kalau berani!” Sebagai usaha memancing ke dekat tempat tinggal mereka.

Namun bagi anak-anak pun siasat ini terlalu mudah dibaca.

Anak yang badannya terbesar merangkulnya.

“Jangan takut,” katanya.

Gerombolan anak-anak yang selalu mengembara bersama ini, ngirik ikan sepanjang sungai dari Bulaksumur ke selatan sampai Sagan dan ke utara melewati Bong sampai Selokan Mataram. Mereka tahu belaka apa yang telah dialami kawan terkecil itu.

Pawai kampanye tiba-tiba saja mendekat dengan yelnya yang rampak.

………….
bintang sabiiiiiiit
masyumi ayo mi
minakjinggo ayo nggo
nggodok tela ayo la
landa gendeng ayo ndeng
dengkul jaran ayo ran
ranté kapal ayo pal
palu ariiiiiittttt….

Anak-anak itu mengikuti pawai sampai perempatan Kotabaru, ikut merayakannya dengan bersemangat.

“Marhen menaaaa-ng! Marhen menaaaa-ng!”

***
Suatu malam, ketika terbangun, anak ibu tua itu dilihatnya mematikan radio. Bersama adiknya, ia tidur di atas tikar di ruang tengah, karena memang tidak ada kamar lain. Ibu tua itu menampung anak-anak lain yang orangtuanya diciduk. Jadi kamar-kamar lain sudah penuh. Di ruang tengah itulah terletak radio Grundig yang besar.

“Hhhh….” Terdengar anak ibu itu mendesah.

“Ibu bilang juga apa,” kata ibunya, “politik itu ada musimnya, tidak ada partai yang bisa jaya selama-lamanya. Ingat saja nasib bapakmu.”

“Tapi Golkar ini partai saja bukan Bu, kok bisa menang?”

Meski memejamkan mata dan tengkurap di tikar, anak itu memasang telinganya.

“Namanya zaman sudah berubah, Gus, sekarang musimnya bukan musim partai,” jawab ibu tua itu, sambil mengembuskan asap rokok klobot cap Siluman.

Catatan:
Pring reketeg = bambu gemeretak
dasar ati mantep = dasar hatinya mantap
Marhaen = maskot Soekarno yang diasosiasikan sebagai Partai Nasional Indonesia.
Ngirik = cara mencari ikan menggunakan irik, yang bentuknya seperti kalo, alat masak untuk menyaring santan.Abuh = bengkak
dientup tawon = disengat lebah
tawon endas = jenis lebah yang besar
edan = gila
Palu Arit = simbol Partai Komunis Indonesia
iwak = ikan atau daging
Bintang Sabit = lambang Partai Masyumi
Minakjinggo = nama Raja Blambangan dalam legenda Damar Wulan
nggodok tela = merebus ketela
landa gendeng = Belanda gila
dengkul jaran = lutut kuda
rante = rantai


Golongan Karya, baru resmi menjadi partai seusai Reformasi 1998


Seno Gumira Ajidarma, lahir di Boston, Amerika Serikat, 19 Juni 1958. Kini menjabat sebagai Rektor Institut Kesenian Jakarta (IKJ). Seno jadi lebih dikenal setelah menulis trilogi karyanya tentang Timor Timur, yakni Saksi Mata (kumpulan cerpen), Jazz, Parfum, dan Insiden (novel), serta Ketika Jurnalisme Dibungkam, Sastra Harus Bicara (kumpulan esai). Pada 2014, dia meluncurkan blog bernama PanaJournal – http://www. panajournal.com tentang human interest stories bersama sejumlah wartawan dan profesional di bidang komunikasi.

Ayu Andiani Putri, lahir di Banjarnegara, 11 April 1996. Menempuh pendidikan Program Studi Seni Rupa Studio Seni Gratis Institut Teknologi Bandung (ITB). Ia kini mengajar di kursus gambar Villa Merah program intensif SNMPTN dan SBMPTN Bandung. Tahun 2014 terlibat penuh dalam penyelenggaraan Pasar Seni ITB. Ayu adalah pemilik dan desainer “N/A” hijab premium printed Bandung.

[1] Disalin dari karya Seno Gumira Ajidarma
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Kompas” Minggu 26 Mei 2019
The post Musim Politik appeared first on Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara.
Share:



Esai dan Opini

Dokumentasi Populer

Ulasan Karya Sastra



Arsip Literasi