Ramadhan Malam ~ Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu

Senin, 13 Mei 2019

Ramadhan Malam


RAMADHAN MALAM

Malam
dalam
rakaat
patah-patah
Malam
tengah malam
huruf yang tertatih
lelah
Meniti hening
Allah
Ramadhan 23/1431

MALAM SERIBU BULAN

Unggas diam
Pohon diam
Angin diam
Rumah diam
Kota diam
Istana diam
Nafsu diam
Diam hurufku
Diam ejaku
Diam bibirku
Hati gemuruh memburu
Dingin waktu
Ramadhan 24/1431

MENJADI TANAH

”Aku hanya serabut halus dan lemah
Merayap tak kenal lelah
Dan mencucuk selangkang tanah
Ketika buah membesar ranum dan memerah
Engkau lupa kepada yang berada di bawah”
“Aku berayun-ayun mempertontonkan diri
kepada langit kelihatan anggun dan pon-
gah.
tapi engkau tak tahu, bukan
tangkaiku mengapa begitu tungkai dan lemah.
sejak itu setiap hari aku selalu digoda ke-
jatuhan
menjadi ulat dan cendawan
Kembali menjadi tanah.”
Ramadhan 9/1432

RAMADHAN

panaskan aku
di tungku
perapian ini
biar terbakar
lapar
pupus
haus
menjalar
seluruh pori
panaskan badan
di tungku mengelegak
kobaran api
biar terbakar iman yang
basi biar menjalar jihad yang mati biar
sadar mimpi-mimpi biar kupahat ucapan
jadi roti biar tak mekar
kelakar di kedai kopi biar tak samar amar
di minareh tinggi
Allah, Allah, pemilik ramadhan
panaskan panaskan
kulit
hingga tulang sumsum
kobarkan kobarkan
hingga menjerit
ke milenium
biar pada hari berbangkit
hati sakit
jadi biskuit
campur eskrim
iman kerikit
jadi ranum
sejuk seperti salju
enak untuk diminum
amien

Ramadan 10/1427
*) Damiri Mahmud, lahir di Medan, 1946. Halakah Panggang (2018) satu buku puisinya meraih Anugerah Lima Buku Puisi Pilihan, Hari Puisi Indonesia 2018.

[1] Disalin dari karya Damiri Mahmud
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Kedaulatan Rakyat” Minggu 12 Mei 2019
The post Ramadhan Malam appeared first on Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara.
Share:



Esai dan Opini

Dokumentasi Populer

Ulasan Karya Sastra



Arsip Literasi