Sepucuk Revolver di Bawah Pohon Mapel | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu

Senin, 20 Mei 2019

Sepucuk Revolver di Bawah Pohon Mapel


Charles si Kepala Sipir berkata masa hukuman Russel akan segera berakhir. Dua puluh tahun berlalu nyaris tanpa terasa. Kata “pulang” menjadi sesuatu yang menakutkan. Hukuman yang dijalaninya sudah terlampau lama, hingga ia telanjur nyaman dan tak ingin pulang. Namun peraturan adalah peraturan. Tepat satu minggu kemudian, sebuah surat pernyataan bebas diterima dan itu artinya; bencana.


Tak lama setelah melewati pintu gerbang besi dan keluar meninggalkan halaman penjara, Russel mendapati suasana hatinya semakin rusak oleh deru kendaraan yang berlalu-lalang. Ia menoleh ke sekeliling, berusaha mencari tahu arah mana yang akan dituju. Sebuah bus dengan lambung warna biru berhenti, tepat setelah ia merasa yakin kaleng besar itulah yang akan mengantarnya pulang.
Bus mengambil rute Hamlock Avenue, melewati taman kota berpayung pepohonan rimbun, kompleks pertokoan, pemakaman umum, dan berhenti di pos terakhir kawasan West Side. Russel turun dengan perasaan bingung yang ganjil.

“Apakah kau keberatan jika aku tinggal di sini lebih lama?” begitu kata Russel pada Charles sesaat sebelum ia meninggalkan kamarnya yang bernomor 231.

“Keluarlah dahulu, kemudian pecahkan kepala seseorang, kupastikan kau akan kembali ke kamarmu,” sahut Charles terbahak. Ia memeluk Russel, memberinya ucapan perpisahan penuh basa-basi. “Usahakan jangan kembali ke sini, Bung.”

“Entah, ya,” jawab Russel lesu. “Aku akan merindukan tempat ini.”

Sekarang, Russel sedang berdiri di hadapan sebuah rumah yang samar-samar muncul dalam ingatannya yang rapuh. Dan, ia merasa asing. Perasaan asing itu sebenarnya tak perlu ada. Sebab, tidak banyak yang berubah pada rumah itu-seolah-olah rumah itu telah terperangkap dalam stoples waktu.

Awan mendung mulai menaburkan butiran hujan. Russel tetap berdiri di luar pagar, memperhatikan pohon mapel yang tumbuh di halaman. Bentuknya begitu elok, kerimbunan daunnya mengembang sempurna, persis rok seorang balerina. Daun-daunnya berwarna kekuningan dan tampak tua.

Rasanya aneh sekali, pikir Russel, menyaksikan pohon itu membesar dalam tempo yang sangat singkat. Rasanya baru kemarin ia membuang sepucuk revolver dan menguburnya di sela akarnya. Kali ini, usai ingatan itu muncul, Russel tersenyum. Ia merasa kepulangannya memiliki tujuan.

Revolver di bawah pohon itu harus dicarinya. Ada satu pekerjaan yang belum selesai dengan benda itu. Pria itu lantas memperhatikan rumahnya. Memang tidak ada yang berubah. Hanya pada bagian pintu, catnya terkelupas, tapi warnanya masih tetap sama seperti saat ia terakhir meninggalkannya dua puluh tahun yang lalu.

Ketika Russel sedang asyik memandangi rumah itu dengan penuh minat, dari balik pintu rumah sebelahnya, seorang pemuda keluar. Pemuda itu berpenampilan rapi. Rambutnya hitam dan kulitnya cerah. Ia memakai celana panjang dan kemeja hitam dengan kerah sedikit terbuka, seolah-olah baru pulang kerja.

“Paman Russel?” sapa pemuda berwajah bundar dan klimis itu ragu-ragu.

“Siapa ya?” tanya Russel sambil mendekat. “Apakah aku mengenalmu?”

“Saya Tom,” jawab pemuda itu tersenyum lebar. “Masih ingat?”

Russel ragu untuk sesaat. Tapi ia mencoba menguatkan diri. “Aku merasa canggung,” katanya jujur. “Rasanya aku tak mengenalmu.”

Pemuda itu tersenyum kecil dan menghampiri Russel sambil menenteng dua kerat bir. Orang lain mungkin punya cara lebih mudah untuk membangun sebuah hubungan. Tapi kadang percakapan ringan saja tak cukup. Gores-gores nyata mesti muncul, terlihat dari sikap dingin yang ditunjukkan Russel.

“Kau tampak gugup.” Pemuda itu berkata pelan. “Minumlah dulu.”

“Terima kasih.” Russel menerima tawaran itu dengan malu. Bulu mata panjang itu bergerak-gerak dan setitik sinar tampak di sudut matanya. “Aku tadinya berharap tak ada yang mengenaliku.”

Pemuda bernama Tom itu mengangguk dan menenggak birnya yang mengepulkan uap tipis. “Aku masih 9 tahun saat itu,” sahutnya datar. “Tapi peristiwa itu masih bisa kuingat dengan baik.”

“Aku jahat sekali, kan?” ujar Russel mendesak. “Tidak apa-apa. Kau boleh membenciku. Aku pantas menerimanya. Siapa pun di kota ini boleh membenciku.”

Berusaha mengalihkan percakapan, pemuda itu tertawa pelan. “Tampaknya kau cukup baik mengurus dirimu sendiri,” katanya sambil mendesah kecil. “Orang-orang bilang, penjara federal adalah tempat yang terkutuk.”

Russel tertawa sumbang. “Itu benar. Di sana tempat orang-orang terkutuk. Jangan pernah pergi ke sana, sekalipun untuk berpiknik,” ujarnya sambil menggenggam botol bir pemberian Tom dengan erat. Ia menyukai hawa dingin yang merambat di kulit telapak tangannya.

“Aku paham.” Tom setengah menghormat. “Setidaknya saat ini kau telah selesai membayar hukumanmu.”

“Bisa kau pahami bagaimana rasanya menjadi orang tua yang membunuh anaknya sendiri?”
“Aku minta maaf,” ucap Tom lirih. “Aku mencampuri urusanmu terlalu jauh. Aku hanya berusaha menjadi tetangga yang baik.”

“Tak ada yang perlu dimaafkan,” sahut Russel santai. “Tak ada tempat untuk melarungkan kata maaf selain pada foto-foto yang tergantung di rumah ini.”

“Yah, sepertinya aku harus pergi,” tukas Tom pengertian. “Kau bisa memanggilku jika butuh sesuatu.”

“Tentu saja, Nak,” jawab Russel tersenyum tipis. “Kau memang tetangga yang baik.”

Tom beranjak dan masuk ke rumahnya. Russel berdiri, membuka pintu rumahnya pelan-pelan dengan jemari bergetar hebat. Dua puluh tahun telah membuat rumah itu menjadi istana laba-laba dan hewan-hewan pengerat. Debu dan tahi kucing kering bertumpuk di setiap sudut, menghasilkan aroma asam bercampur apak.

Sambil menutup mulut dan hidung, Russel menuju barisan foto-foto yang berselimut debu tebal di dinding. Pandangan matanya berhenti pada salah satu foto anak kecil yang sedang berdiri di atas lantai dermaga bersama seorang perempuan bergaun merah. Sebuah payung biru melindapi tubuh keduanya.

“Sialan!” gerutunya pelan. Russel menunduk dengan muram. “Aku masih belum bisa memaafkan kalian. Tak akan pernah bisa.”

Russel terlihat seperti jasad purba yang tersimpan di museum. Rambut perak lemas, kumis tikus, bahu kaku, dan raut wajah seperti kulit anggur yang keriput. Bagian dalam kelopak matanya seperti darah beku, alisnya tampak seperti semak belukar. Ia bergerak perlahan dan berusaha sekuat tenaga untuk mencapai ujung dermaga.

Dermaga kecil itu tenang. Laut berwarna emas dalam sepuhan cahaya bulan. Sebuah net voli terkulai turun, seolah menunggu para pemain tiba. Laut bergulung-gulung, kekal, dan tak acuh, bibir tipis ombak berubah menjadi keriting kecil saat mengempas ujung dermaga. Suasana itu melemparkan ingatan Russel pada Bernard dan Carolina.

Sekarang, hampir dua puluh tahun sejak terakhir kali Russel melihat laut. Hampir dua puluh tahun sejak ia terkurung di balik pengapnya dinding penjara. Ia sudah lupa betapa laut bisa membuatnya begitu kecil dan remeh, seakan dirinya hanya partikel yang mengambang di atas permukaan bola mata raksasa yang dapat melihat segala sesuatu.

Sepucuk Revolver di Bawah Pohon MapelPeristiwa itu memang kecil dalam putaran-putaran peristiwa alam semesta. Tapi begitu besar artinya bagi Russel. Dulu, ketika ia pertama kali digelandang seregu polisi yang melemparnya seperti sekantong sampah ke penjara, Russel terbiasa menipu diri sendiri bahwa Tuhan memiliki rencana untuk dirinya-sebuah rencana yang berangsur-angsur tersingkap dan entah bagaimana membenarkan semua hal yang dilakukannya.

Tetapi sekarang, pikiran-pikiran itu membuat Russel jengkel. Ia menuduh bahwa Tuhan mungkin pribadi yang super-sibuk. Tuhan mungkin sedang menghitung ombak dan menamai awan. Tuhan berpikir tentang kepiting batu di Laut Atlantik atau gelembung sabun di Kairo. Tuhan berpikir tentang infeksi bakteri di Peru dan kumbang tahi di Afrika, atau tentang pola aneh cuaca di Lingkar Pasifik. Singkatnya; Tuhan tak pernah punya waktu untuk memikirkan dirinya.

Russel berteriak, teriakan pahit yang berkata, “Aku ini binatang!” Teriakan kesakitan yang ia tujukan pada bulan, bintang, lampu kapal di kejauhan, karang yang dipukuli ombak, kamar penjara yang ia tinggalkan, lorong-lorongnya yang suram, para penjaganya, dan pada Tuhan itu sendiri. Dengan batin yang habis dimamah kekecewaan, Russel berpikir teriakan seperti itu mestinya bisa mendorong ombak kembali ke laut, memutar kembali waktu hingga ia bisa mengelak dari peristiwa-peristiwa yang tidak ia inginkan.

Ia benci pada malam ketika ia menemukan Bernard dan Carolina sedang bergumul mesra. Entah bagaimana, anak itu bisa meniduri ibu tirinya. Pengkhianatan itu tak pernah bisa ia maafkan sekalipun dengan memberi mereka hukuman mati dengan sepucuk revolver-yang usai malam biadab itu, telah ia kubur di bawah pohon mapel. Russel memejamkan mata, berdiri gontai di lantai dermaga, dan berusaha keras mengusir bayang-bayang itu dari kepalanya.

Sekarang revolver itu kembali berada di tangannya, mengarah tepat ke pelipis. Setelah bunyi letusan meredup dan debur ombak menyurut, yang tersisa hanyalah keheningan. Laut masih tetap di sana. Ombak tetap mengumpulkan pasir dan membuyar dengan acak, menimbulkan bunyi tepuk tangan dan gelak tawa-seolah-olah tirai panggung mulai turun, dan drama berakhir dengan bahagia.

Adam Yudhistira, saat ini bermukim di Muara Enim, Sumatera Selatan. Selain aktif menulis cerpen, puisi, dan esai, ia mengelola Taman Baca Masyarakat untuk anak-anak di sekitar tempat tinggalnya. Ia juga aktif di komunitas sastra Pondok Cerita. Buku kumpulan cerpennya, Ocehan Semut Merah dan Bangkai Seekor Tawon (basabasi, 2017).

[1] Disalin dari karya Adam Yudhistira
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Koran Tempo” edisi akhir pekan 18-19 Mei 2019
The post Sepucuk Revolver di Bawah Pohon Mapel appeared first on Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara.
Share:



Dokumentasi Populer



Arsip Literasi