Paras Kegaiban ~ Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu

Senin, 17 Juni 2019

Paras Kegaiban


AKU memahami, berada di dalam rumah kegaiban bukanlah hal yang mudah di terima oleh akal. Apalagi jika tidak pernah menginginkannya, tetapi dipaksa untuk berada di sana. Keimanan terhadap hal-hal yang gaib menjadi jalan utama untuk terus meyakini bahwa dunia dan semesta bukanlah apa yang terlihat oleh mata saja, namun ada yang hidup dan bergerak di luar apa yang diketahui sebelumnya. Lalu bagaimana jika apa yang terlihat oleh orang lain, bukanlah hal yang sama seperti yang terlihat oleh mata kita? Aku bukanlah orang yang saleh. Hari-hariku hanya kuhabiskan dengan duduk melihat langit dan menyapanya dengan salam sejahtera agar dia mau menjawabnya sesekali sambil membukakan dirinya serta menampakkan apa yang berada di dalamnya.


Pagi dan senja adalah waktu yang tak pernah aku lewatkan untuk bersama dengannya. Namun suara angin yang menggerakkan daun-daun. Desir dan geliat embun. Kabut yang mengkristalkan dirinya, tasbih batu-batu dan jerit cinta burung-burung kepada pemiliknya, selalu menjadi teman setia. Mereka ada yang menemani. Tapi siapa yang peduli. Saat detak jantungku mengalun dengan cepat, aku merapatkan diri, bernyanyi dan mendendangkan segenap salam dan doa agar utuh dan patuh. Mereka menjadi ruang yang membawaku tenang di dalam kebaikan.

Ya, doa-doalah yang membuatku membuka diri pada ketenangan. Sengaja aku buka hatiku untuk menerima nama yang banyak dikatakan orang sebagai ketenangan. Betapa tidak, bila belum pernah memilikinya maka apa yang disebut tentram dan bahagia tak pernah hadir dalam hidupku. Maka aku sungguh-sungguh berdoa dan berupaya untuk terus menerus mengakrabi doa-doa.

“Doa hadirlah utuh pada diriku, agar bisa kudendangkan dengan harapan untuk terwujud tanpa halangan.” Bisikku pelan pada senja yang mulai menyapa. Aku sengaja mengajaknya berbicara agar apa yang aku kenali menjadi lebih akrab lagi.

Begitulah memang caraku untuk menjadikan doa sebagai sahabat gaib, mungkin berbeda dengan cara-cara teman lainnya yang menempatkan doa sebagai harapan dan jalan keluar dari semua permasalahan yang dihadapi. Doa adalah tenaga gaib, paras kegaiban yang akan menjadi pendaran cahaya dengan ledakan warna-warni. Bila sudah terlihat oleh mata warna-warnanya, maka dunia tampak indah tanpa cela. Semua akan mempesona. Hanya yang sudah akrab dengan doalah yang mampu melihat dengan kecantikan utamanya.

Aku tidak berniat sombong dengan menampakkan diri yang seakan sudah akrab dengan doa-doa. Sudah menjadi bagian dari hidup doa. Bagiku doa adalah makhluk yang hidup dan bernyawa. Tumbuh dengan kesadaran dan kepatuhan yang tidak bisa disingkirkan. Maka layak untuk diakrabi, dikenali dan menjadi sahabat karib. Sengaja aku menceritakan tentangnya agar aku tidak bisa memisahkan diri darinya. Hidupku adalah doa. Nafas, detakan jantung, pandangan mata, langkah kaki, gerak tanganku dan aliran darahku, semua adalah doa. Bila aku tidur, dia yang menjaga. Bila aku yang terjaga, dialah yang menemaniku dengan pejaman matanya. Begitulah, hari-hariku terjalani dengan kegembiraan yang tak pernah padam. Aku menjalani hidup dengan tujuan yang menyala. Cahaya kebaikan. Sengaja aku menjadikannya agung di hidupku, agar aku tak pernah malu, untuk bergerak, belajar, meminta bimbingan dari yang memiliki dunia dan segala isinya. Aku tak sungkan bertanya sesuatu yang telah terlewati olehku. Maka bila sebuah peristiwa terjadi dan terulang lagi, aku tak akan menjadi galau dan kacau. Semua dinikmati dan dijalani sebagai cara pengabdian dan penghambaan kepada Tuhan. Namun, akhir- akhir ini, aku merasakan keterkejutan, ketika seseorang tiba-tiba menghadangku di jalan dan menarik tanganku ketepian. Aku terkejut, apalagi dengan cara yang kasar. Aku menengok ke sekeliling, ke kanan dan ke kiri untuk meminta pertolongan. Yang lebih aneh lagi mulutku menjadi kaku. Suaraku hilang ditelan keterkejutan. Untuk mengatakan apa maksudnya saja, aku tak bisa.

“Kurangajar!” suaraku tak terdengar hanya mataku yang memandang wajahnya dengan sedikit geram. Aku mencoba menghempaskan pegangan tangannya. Mencoba menarik lebih kuat tanganku sendiri. T api apa yang terjadi. Aku melihat sebuah wajah yang tak asing bagiku sendiri. Wajah yang begitu akrab dan dekat. Wajah yang memandangku tanpa merasa berdosa. Wajah yang memunculkan ekspresi wajar dan seadanya. Wajah itu, wajahku sendiri. Bagaimana mungkin aku menjadi dua. Ya Tuhan. Aku menjadi dua! Bisikku pada hati yang entah sudah berdegub dengan dentuman berapa ratus kali? Sejak kapan Engkau membelahku dan menjadikannya dua hingga aku tak pernah menyadarinya? Tuhan sejak kapan Engkau menjadikan aku dua dan bertolak belakang satu dengan lainnya.

Paras Kegaiban“Aku malu! Aku malu! Aku malu T uhan, aku tidak mau!” aku mencoba menolak dengan berteriak. T etapi tetap tidak terdengar suara dari mulutku. Hanya bisu. Aku melakukan perlawanan sebisaku. Seluruh daya, aku keluarkan untuk menghempaskan diriku. Menghindarinya, menjauhinya agar aku tak berhadapan dengan wajahnya. Namun wajahnya semakin dekat. Hidung, mata, pipi, kening dan bibir, nyaris bersentuhan denganku. Apa yang sebenarnya terjadi. Aku berlari menjauhi. Diapun masih menggenggam tanganku bahkan mencengkeramnya semakin kuat. Kemanapun aku pergi, dia mengikuti. Ah, deguban dada yang tak pernah aku alami sekecang ini, kembali hidup.

Aku tak mau bersama dengan wajah yang membuatku penuh dosa.

“Pergiiii!” teriakku sekali lagi.

“Jangan mengikutiku. Pergilah bersama orang-orang yang menyukaimu dan mau menerimamu. Aku tak suka, kau menguntitku! Apalagi mencampuri urusanku! Pergiii! Jangan menggangguku!” kata-kataku menjadi suara yang tak bisa diucapkan.

Wajah yang sama. Pandangan mata yang tajam. Bibir tanpa senyum. Yang terbaca hanya duka dan airmata. Bila melihatnya berdiri di depanku dengan wajah yang seperti itu. Aku seperti dilemparkan pada waktu-waktu yang tidak kuinginkan. Waktu yang berisi tentang kisah duka yang diramu dari untaian peristiwa yang memuakkan. Me – nyedihkan dan melahap semua kegembiraan. Hidupku adalah kebijaksanaan. Perjalanan yang menggunakan desir, ombak dan dentuman bahagia. Aku ingin bahagia. Kau ingin melawannya?

Jika aku dihadapkan terus menerus dengan wajahmu, kapan aku merasakan kebahagiaan? Baiklah, awalnya aku memang tidak tahu bila kau ingin menggangguku, tapi sekarang aku tahu dan tak takut kalau kau menggangguku, aku sudah menyiapkan diriku untuk melawanmu. Ayo kita berhadapan, dan berperang. Aku mengimani, Tuhan sudah menyiapkan aku menjadi pemenang. Dengan nyala dan paras kegaiban doa-doa, aku menyiapkan diriku menjadi sahabat karibnya. Doa. Kebaikan dan cahaya. Akan menyala dengan dentuman yang terdengar dengan kelembutan dan keindahan yang tumbuh di dalam jiwa.

“Ayo kita tabuh genta! Meskipun wajahmu sama denganku, kita adalah musuh utama! berperang dan bunyikan genderang. Paras kegaiban, oh paras kegaiban. Aku tak takut kehilangan!” q – g

#2019

[1] Disalin dari karya Evi Idawati
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Kedaulatan Rakyat” edisi Minggu 16 Juni 2019
The post Paras Kegaiban appeared first on Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara.
Share:



Dokumentasi Populer



Arsip Literasi