Lelaki yang Menggenggam Belati ~ Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu

Selasa, 02 Juli 2019

Lelaki yang Menggenggam Belati


TELAH datang di kota ini seorang lelaki yang menggenggam belati. Sementara, angin masih saja mendayu. Segar dan dingin, menyegarkan semua yang tersentuh. Dan, lelaki itu baru saja tiba dengan menumpang kereta malam. Masih pula ia rasakan semilir angin yang menggerus badannya sampai dingin. Sementara, pagi telah berjingkat, menari-nari bersama liukan cahaya matahari. Di kota ini, ya, mencari siapakah dia di sini? Adakah kenalan lama?

Namun, di matanya begitu jelas terpancar kemilau cahaya penuh dengan dendam. Dendam yang lama membara, berkobar-kobar, di dadanya. Kini ia seakan langkahkan kaki dengan mantap. Menerjang belantara kota, mobil-mobil yang memadat. Menyeret tubuhnya dengan kaki yang lunglai di bahu jalan, sambil menggenggam belati. Terkadang, belati itu berkilauan diterpa cahaya, mengilap, seperti siap menebas leher siapa saja. Barangkali, peristiwa ini akan menjadi berita besar, yang dipublikasikan koran-koran daerah. Yang jelas, kerjaan polisi akan pula bertambah banyak. Tetapi, itu baru kemungkinan pertama. Dan keadaan ini akan diperburuk apabila ia benar-benar melakoni dendamnya itu. Tampak pula, pakaiannya lusuh dan berdebu. Sepertinya, ia memang sudah tak berganti baju berbulan-bulan. Segaris warna cokelat yang terlihat begitu pudar, sudah lama melekat di situ.

Hari bergegas cepat, menukik begitu panik. Detik-detik jam sekuat lalat terbang, merayapi langit yang mulai kelabu. Siang atau malam, apakah pernah ada bedanya?

Sejenak, ia menahan napas. Memandang kota yang selalu ramai, lalu-lalang kendaraan bagai ilalang. Semrawut. Sumpek, berdatangan tiada henti. Singgah dari suatu tempat ke tempat lain. Membawa orang-orang baru yang tak pernah dikenal sebelumnya. Ia akan berusaha memahami karakter orang lewat wajahnya. Meski, terkadang pula disadarinya wajah bisa menipu. Dengan segera kita menilai orang dari wajahnya saja, tidakkah hal-hal begitu itu tidak adil?

***
Hari pertama, ia masih berdiri di sini, menggenggam belati. Barangkali, ia sudah siap menghadapi semuanya. Lalu, dilihatnya dengan saksama kota ini. Kerlipan cahaya di mana-mana, malam hari yang menawan, berpendaran. Membawanya rebah ke masa lalu:

“Tangkap! Tangkap orang itu!!!” seru seseorang dalam kerumunan pasar.

“Siapa?”

“Orang yang berjaket hitam itu!”

“Kenapa?” seru yang lain. “Pencuri!!” Maka berhamburanlah massa dari segala arah, “Pencuri! Kejar!! Tangkap sampai dapat!!!”

Ia masih terengah-engah, napasnya terasa terlalu pendek kali ini. Langkah kakinya semakin jauh, semakin lemah. Sesaat kemudian, ia merasakan sekelebat tangan merogoh jaket. “Kena, lu!!” Ia terjerembap mencium badan jalan. Tak lama, dari segala arah ia mendengar derap langkah, barisan kaki yang mendekat. Bug-bug-bug. Badannya ngilu, perih. Dihujani pukulan dan tendangan. Di sela bunyi pukulan itu, ia masih berusaha menahan dengan tangan. Juga suara, “Bukan, bukan saya!” “Bohong! Mana ada maling yang mengaku! Kalau mengaku, penjara pasti penuh!” Mendarat lagi berpuluh pukulan, berpuluh sepakan kaki, pentungan besi, juga kayu. Gedebag-gedebug. Amis darah. Ia hanya bisa pasrah. Mengucurlah darah kental di wajah yang lebam, membiru. Samar-samar masih terdengar suara, “Sudah, bakar saja! Ya, bakar!” Beberapa orang ada yang sudah mengambil bensin, siap untuk menyiram tubuh lelaki itu.

Untunglah, ada beberapa petugas yang melerai. Terkadang petugas-petugas itu panik juga melihat massa semacam itu. Baginya, petugas itu adalah dewa penyelamat meskipun datangnya begitu terlambat. “Tenang. Tenang, Pak! Kita selesaikan lewat jalur hukum yang berlaku,” salah seorang petugas berkata sekadar meredam aksi. Dan, ia, lelaki itu berdoa, berterima kasih pada Tuhan. Tapi, mengapa ia hanya mengingat Tuhan pada saat kematian telah begitu dekat? Atau mengapa pula ia harus mengingat Tuhan di kala sedang tertimpa malang dan bencana? Tapi tidak pada waktu senang dan bahagia? Meski demikian, ia merasa begitu lega. Samar-samar, petugas itu pun membawanya ke kantor polisi.

“Jadi, kamu pencuri dompet ini?”

“Tidak! Tidak, Pak!!”

“Tapi, buktinya dompet ini ada di tangan kamu? Masih mau mangkir?”

“Sebenarnya, sayalah yang ingin menolong bapak ini waktu dicopet. Tetapi, sialnya, malah saya sendiri yang diteriaki maling,” lelaki itu melafalkan kata dengan terbata-bata. Mulutnya masih gemetar dan menelan darah yang terasa amat asin di pangkal lidahnya. Entah kenapa, meski sehabis interogasi itu para petugas manut-manut. Namun, tetap saja ia yang dituduh mencuri. Begitulah, pengadilan kemudian menetapkan hukuman penjara selama dua tahun.

Ah, betapa kecewanya ia. Kecewa yang terus terendam hingga sekian lama. Bukan ia yang berbuat, tapi kok ia yang mesti menjalani hukumannya?

Sejak itu, ia merasa betapa hukum hanya bisa dikenakan bagi orang kecil semacam dirinya. Orang kecil, yang meskipun bukan dirinya yang bersalah, namun ganjaran pahitnya ia yang terima. Namun, untuk orang besar? Ah, sudahlah!

Angin berputar-putar,

menenggelamkan kenangan pahit. Angin menyerap keasingan. Hening. Menerbangkan debu-debu sampai berkilometer jauhnya. Dua tahun bukanlah waktu yang singkat. Selama 2 x 365 hari, ia mendekam di balik jeruji besi yang dingin. Dengan makanan seadanya. 730 hari yang dijalaninya bersama sekian puluh orang bermasalah. Makan nasi jagung yang hampir basi di atas piring karatan. Apabila jam makan tiba, terkadang para petugas menendangkan kaleng piring karatan itu lewat jeruji besi. Ya, untunglah ia masih bisa bertahan hidup sampai sekarang. Dua tahun adalah rentang jarak yang cukup lama, tanpa kenalan atau keluarga yang menjenguk. Sebab, dirinya dianggap aib. Putaran waktu yang terasa panjang. Tidur setiap malam, dengan puluhan nyamuk yang haus akan darah di atas lantai dingin. Ah, ia tak lagi sanggup mengingatnya!

**
Kini, ia telah lewati dua tahun itu. Dengan bekal uang pas-pasan, ia kembali ke kota ini. Setelah semalaman terkantuk menikmati perjalanan kereta api ekonomi yang berbau apak. Maka, ia putuskan untuk mengembalikan harga dirinya yang lama tercerai berai. Seakan ingin menuntut haknya sebagai warga negara terhadap kota yang pernah ditinggalkannya, kota yang pernah memenjarakannya. Tak sebegitu lama, ia membuat sketsa. Mengendus-ngendus bagai seekor kucing mengenali ikan.

Menelusup di antara celah-celah sempit kota ini. Di gang-gang yang begitu jorok dan lembap.

Ia masih saja menggenggam belati, juga sebuah dendam. Mencari-cari harga dirinya, yang sekian lama terkoyak. Tampak, begitu berkilauan dan keyakinan yang terpancar di matanya itu begitu ngeri terlihat. Ia susuri masa lalunya, ia masih hafal lekuk wajah pencopet yang sebenarnya. Ia begitu mengingat dengan tegas wajah pencopet yang dulu mengakibatkannya mesti menelan kenyataan pahit. Dengan muka bengkak, tak kunjung sembuh, ia seret kakinya, ia seret dendamnya…

**
Lelaki yang Menggenggam BelatiIa telah lama mengintai pencopet itu, membiarkan tangan sang pencopet yang begitu lihai mengambil apa saja. Entah dompet, perhiasan, juga barang belanjaan. Kini, digenggamnya belati erat-erat, menahan segalanya di dada. Kerja pencopet begitu cepat selesai. Rapi dan sempurna. Senja meluruh, semakin jauh. Tinggal cahaya jingga yang barangkali tak akan lama segera pudar. Dan, bayangan malam akan perlahan mendekati langit, menjemput cahaya jingga yang hampir sekarat itu. Memeluk kota dengan warna gelap, kehitaman yang nyata.

Sebentar lagi, kegelapan itu akan lamat-lamat terganti dengan cahaya byar-pet. Merkuri lampuan yang berkemilau, menyedot daya listrik yang terus berpijaran. Ia intai pencopet itu, terus diikutinya. Langkah yang diseret begitu tergesa. Memasuki gang-gang sempit kota ini. Malam yang membuka ruas gelap. Malam yang menantang, menyulap rahasia. Ketika warna gelap bergandengan, berdiam di cakrawala. Malam yang mengingatkan lelaki itu pada suatu tempat, di masa lalu. Ketika dirinya dipukuli massa, hanya karena tuduhan yang tidak benar.

Perlahan tapi pasti. Ia gulung langkahnya… mendekat… mendekat dan mulai menikam dengan satu gerakan. Si pencopet terbelalak, berucaplah lelaki yang membawa belati itu, “Karma! Semua harus ada balasannya. Satu biji mata untuk satu biji mata, satu tangan, untuk satu tangan,” muncratlah darah. Anyir. Lelaki itu menikamkan belati beringas. Seakan ingin menuntaskan emosi lamanya. Ia begitu kalap, tubuhnya terasa sinting, tak henti-hentinya. Sampai tubuhnya berkeringat, hingga ia merasa begitu lelah. Lelaki itu tersenyum, entah untuk siapa. Namun, yang jelas, ia begitu lega saat ini. Dan tak ada seorang pun yang tahu. Tak ada seorang pun yang tahu…

Malam menyeruak, kota masih terus berbisingan. Lelaki itu masih saja mengenggam belati, ada raut kemenangan yang tampak di sana. Tak perlu lagi ia bersihkan darah itu. Toh, tak ada seorang pun yang tahu. Bergegas ia melompat pergi, masih menyimpan belati. Belati yang masih berlumur darah.

**
Esoknya, dalam sebuah surat kabar lokal, tertulis sebuah berita berjudul: “Ditemukan Mayat, Tak Ada Jejak Pembunuhnya.”

Nun, jauh di sana, lelaki itu bersiul sambil melipat surat kabar. Di hadapannya tergeletak sebilah belati dengan darah yang telah kering…
2018-2019

(in memoriam Hamsad Rangkuti)
ALEXANDER ROBERT NAINGGOLAN
Lahir di Jakarta. Bekerja sebagai staf Unit Pelaksana Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP) Kecamatan Menteng, Kota Adm Jakarta Pusat. Bukunya yang telah terbit, antara lain, Kitab Kemungkinan (2012) dan Silsilah Kata (2016).

[1] Disalin dari karya Alexander Robert Nainggolan
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Jawa Pos” edisi Minggu 30 Juni 2019
The post Lelaki yang Menggenggam Belati appeared first on Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara.
Share:



Dokumentasi Populer



Arsip Literasi