Pamitan pada Masjid 99 Kubah | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu

Jumat, 12 Juli 2019

Pamitan pada Masjid 99 Kubah


Kebutuhan hidup pernah memaksaku beralih menempuh tol langit dengan pesawat. Harus ontime sebagai orang sibuk. Hingga pesawat terus melangit mengurusi nasibnya sendiri yang tersisih dari persaingan pasar akibat uluran tangan manja para penumpang. Terpaksa, banderol tarif harus berani dijebol dari pelanggan yang selama ini bergerombol. Belum siap diimbangi, pelanggan pun bubar mencari jalur yang bersahabat.

Kini, kapal laut menjadi pilihan satu-satunya. Walau, di pelosok Ramadhan seperti ini kenangan traumatis pernah melelehkan bola mata ketika melewati jalur laut. Pasalnya, kendaraan ini paling bebas mempermainkan waktu sampai Ramadhan berpesta perpisahan disambut takbiran. Tetapi, tak ada kata menyerah demi mudik lebaran.

Memang sudah menjadi kebiasaan di keluarga kecil kami. Mudik lebaran menjadi momen andalan mencurahkan segala rasa, cerita bahkan karsa menuju harapan. Di sinilah impian keluarga kecil paling berkesan karena jatuh bangun perantauan dirasakan bersama sejak kecil. Selalu saja ada cerita seru ketika berkumpul seperti ini.

Aku merasa menjadi bagian penting karena tak satu pun dari keluarga kecil ini yang tak bisa berbagi cerita. Jadi, sila turahim lebaran menjadi curahan kenangan yang menjadi penyedap suasana. Bahkan, tidak jarang ada sisi lain dari pengalaman tanah seberang yang unik, lucu, dan kocak. Hanya di masa lebaranlah waktu leluasa untuk menyegarkan segala kenangan manis itu. Makanya, pesan nestapa ibu bila ada pertanda terlambat mudik, “Ibu tak butuh oleh-oleh, yang penting kamu bisa pulang berkumpul dengan keluarga”.

Ibu dan ayah memang tak pernah kehabisan bahan cerita lebaran karena sejak usia belasan tahun telah merantau. Luar biasa karena keluarga turut diboyong ke mana-mana. Bahkan, aku dan saudara yang lain, Dewi dan Arlan dilahirkan di tanah seberang. Seorang dosen bahasa ketika aku kuliah di kampus ungu Umar Bakri menggeleng kepala mengetahui riwayatku. B kan karena heran, Justru dia menganggap itu suatu kerugian karena kehilangan bahasa ibu dan bahasa rantau sekaligus. Buktinya, hanya cerita tanah seberang yang tersisa.

Demikian halnya, tanah seberang yang di maksud, pemukiman transmigran. Jadi, wajarlah pergaulan pada wajah perantau juga yang terjadi. Hanya catatan pergulatan para pendatang menyerap saripati tanah seberang. Aku mencurigai rindu mudik ini asalnya dari sana. Ketika cerita tentangnya disematkan pada kumpul bersama mengawali pagi dengan sarapan. Karena itu, sarapan lebih seru walau aroma lebaran telah surut.

Terkadang Dewi, adikku melirik tetangga dengan maksud membandingkan dengan keluarga kecil ini. Tampaknya hanya kita yang paling riuh membongkar keheningan pagi. Mereka orang-orang kompleks perumahan tak banyak cerita langsung menggeber mobilnya menembus suasana lebaran. Sedangkan, kita ke sana kemari masih meributkan kendaraan lebaran. “Pinjamlah, sewalah, pokoknya yang penting sila turahim, inilah susahnya kalau tak punya mobil,” keluh ayah sambil merenungi masa-masa pensiun.

Musim lebaran seperti ini mesti punya mobil sebab menyambut mudik hingga silturahim lebaran akan kerepotan. Tidak mudah menjemput si anak rantau ke bandara atau pelabuhan kalau tak menggunakan kendaraan memadai sebab oleh-oleh nya sejibun bagai hasil kebun. Ditambah jarak menuju rumah menembus dua batas kota ke cil yang dipenuhi kendaraan padat merayap.

Sebenarnya pikiran ayah yang demikian telah tersulut sejak lebaran lalu. Lambat laun, pemikiran itu telah menjelma menjadi semacam penyesalan. Sia-sia banting tulang jauh-jauh hingga puluhan tahun, tetapi kembali ke kampung tanpa perubahan. Bilakah bulir-bulir keringat menjadi permata? Apa perlu diaduk bersama air mata lagi? Beruntung ayah masih ingat kampung halaman. Kawan-kawan seperjuangannya telah hanyut dalam arus pensiun dan dihabisi usia lanjut di kampung orang. Mereka yang masih ingat tanah tumpah darahnya akan menepi dan banting setir mengamankan hari tua.
Karena itulah, ayah segera memutuskan kembali ke kampung, selagi tenaga masih tersisa. Walaupun, sebenarnya sudah terlambat karena baru merajut harapan demi tempat berteduh di hari tua. Padahal, masamasa ayah masih bugar, tempat tinggal bahkan yang lebih memadai dari ini pun mudah dimiliki karena tanah-tanah baru bagi pegawai aktif telah tersedia dengan jaminan. Sudah tak dapat kuhitung setiap ayah memasuki tempat baru pasti tersedia dengan rumah baru yang tidak lumutan seperti ini. Kala itu, jaminan ayah di peran tauan layaknya tuan tanah yang bebas melepas dan memiliki tanah demi pendidikan anak-anaknya. Wajarlah keluarga turut diboyong ke perantauan.

Pada akhirnya, kompleks perumahan yang nyaris mangkrak inilah menjadi pilihan. Kalau bukan sekarang, entah kapan lagi, pikir Ayahku. Tempat ini menjadi pilihan karena dinilai lebih bijak di garis tak berpihak. Tak dekat dengan keluarga Ayah, demikian pula Ibu. Bisa saja berdampingan hidup dekat dengan keluarga besar karena tanah warisan masih ada, tetapi hari tua harapannya hidup tenang, jauh dari keri butan. Rasa malu pun dipertaruhkan karena orang yang pernah merantau mestinya berpikir lapang.

Mungkin ayah dan ibu pun memilih tempat itu agar tetap menumbuhkan benih-benih kerinduan. Karena ada mutiara kata para perantau: jagalah jarak dengan keluarga bila engkau ingin merasakan apa arti merindu.

Berusaha aku membesarkan harapan ayah. Biarlah masa-masa pensiun ini dicurahkan untuk menata keluarga kecil nan bahagia. Seperti niat awal untuk kembali ke tanah tumpah darah: rindu pulang kampung. Rerata cita-cita perantau seperti itu. Hari ini giliran aku, Dewi, dan Arlan yang mewarisi jejak ayah serta ibu menyulam napas kehidupan di negeri orang. Mungkin inilah satu-satunya warisan ayah yang masih kujalani.


Pamitan pada Masjid 99 KubahTak terasa, kini sudah hari lebaran yang keempat. Aku, ayah, ibu serta keluarga yang lain masih gelisah menanti kendaraan silaturahim. Pagi buta, keluarga merapat untuk turut serta. Jam dinding dan jam tangan sudah ditengok berkali-kali hendak memastikan mesin jam yang putus atau empunya mobil mabuk kue lebaran hingga tergelincir menembus batas waktu. Ayah dan ibu masih saja asyik bercerita untuk menghibur rasa jenuh. Episode demi episode cerita telah dilalui, tetapi mobil tak kunjung tiba.

Bila pemesanan gagal, berarti ini pembatalan yang ketiga. “Biar banyak uang, kalau mobil yang dipesan tidak ada, sama saja bohong,” lagi ayah menggerutu. “Mobil yang dipesan, sudah didahului orang lain, memang musim lebaran seperti ini, sang peminjam mesti berhubungan langsung dengan empunya mobil, bila tak ingin di telikung oleh orang lain karena tibalah masanya berlomba memesan kendaraan demi silaturahim,” pungkasku lebih menjelaskan.

Di penghujung lebaran ini kembali akan kutatap kampung dari jauh sembari melambaikan tangan dengan ucapan selamat tinggal. Koper dan oleh-oleh lebaran telah siap diboyong menuju arena pertarungan sebelas bulan. Kali ini kompetisi semakin keras karena melibatkan para perantau dari negeri asing. Mereka telah siap menggusur siapa pun yang dinilai tak siap bersaing. Makanya, tanah seberang tampak tak bertepi karena diserbu pencari kerja dari segala penjuru. Pagar pembatas harus rela diterobos untuk memaksa negeri berlari. Bahasa dan cerita tidaklah penting, lebih utama mampu bekerja sesuai dengan bulir keringat yang dihitung.

Si Bungsu, Arlan sudah siap dengan kopernya. Dia termasuk perantau debutan yang diancam oleh waktu. Bersama kawannya belajar menyusuri tol langit lewat pesawat yang suntuk di ujung waktu. Kasihan, sebagai kawan yang baru, Arlan tergantung padanya. Padahal, sikapnya yang pongah hasil dari kompetisi yang keras. Paras lebaran pun tak tampak padanya. Aku menduga dia menjadi orang asing pertama di kampungnya.

Satu per satu saudara telah kembali ke tanah rantau. Tak terkecuali saudara perempuanku, Dewi. Hanya aku yang kembali melewati jalur laut, melintasi Masjid 99 kubah sebagai ikon baru kota Phinisi. Seolah hanya aku yang pamitan padanya. Sembari berjanji: semoga lebaran ke depan aku masih dapat mengenal dan menghitung kubah itu dalam wiridku walaupun terpaut jarak.

Tiba-tiba ponselku bergetar. Seperti biasa Ibu menanyakan kabar perjalananku. Aku terkejut mendengar kabar tentang Ayah yang turut pula mengangkat koper untuk merantau. Bukankah tidak sebaiknya dia meluruskan niat menjalani masa pensiun di kampung. Mungkin Ayah bosan dengan cerita di rumah itu sehingga bermaksud membongkarnya. Kalau demikian halnya, aku lebih kasihan pada Ibu yang ditinggal sendiri.


Musafir Kelana. Pemilik hobi membaca dan melukis ini lahir di Atari Jaya, Sultra. Pembimbing Komunitas Puisi Santri OLSN (Olimpiade Literasi Siswa Nasional) Al Binaa Islamic Boarding School, Bekasi. Cerpennya pernah diterbitkan di harian Papua: Mudik pada Alam dan Taring-Taring Malaria. Puisi Republika: Pena Tua. – Republika

The post Pamitan pada Masjid 99 Kubah appeared first on Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara.
Share:



Dokumentasi Populer



Arsip Literasi