Pemakaman Baru | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu

Kamis, 18 Juli 2019

Pemakaman Baru


“Ibumu telah mati.”

“Ya.”

“Kita harus segera menguburnya.”

“Aku tak punya uang.”

“Tapi kau masih punya potongan harga untuk penguburan ibumu.”

“Kau tidak dengar apa yang aku katakan? Aku tak punya uang. Biarlah dia diam di sini barang semalam atau dua malam. Sebaiknya kau cepat pergi.”

Pria tua itu lantas pergi tanpa sepatah kata pun. Pintu menjadi lampiasan amarahnya. Anak muda itu bergeming. Matanya tertuju ke televisi, tetapi pikiran melayang entah ke mana.

Rusman bangkit dari sofa buluk setelah beberapa jam melamun. Dia ingin minum. Ketika hendak ke dapur, dia melewati kamar ibunya. Berhenti dia di depan pintu, memandang sang ibu yang terbujur kaku, tanpa ekspresi. Lantas dia pergi mengambil gelas. Bunyi air yang Rusman tuang memecah keheningan. Jam sudah lama mati. Burung peliharaan bapaknya mati. Ikan mati. Semua mati. Hanya tersisa dia dan televisi. Bapaknya sudah mati seminggu lalu. Untuk itu dia mendapatkan potongan harga jika ingin menguburkan ibunya. Potongan setengah harga diberikan apabila ada anggota keluarga lain mati dan belum genap 40 hari.

Semenjak ada pemakaman berbayar di kampung ini, banyak orang mati. Hewan-hewan pun mati. Ada dua jenis kuburan di pemakaman itu; untuk manusia dan hewan. Biaya untuk kuburan hewan lebih murah karena ukuran hewan jauh lebih kecil.

Mau tidak mau warga kampung harus menguburkan anggota keluarganya karena lahan pemakaman umum sudah dibeli pengusaha kondang. Kuburan lama digusur. Jika ingin memindahkan kuburan ke tempat baru pun ada biaya tambahan yang harus dikeluarkan anggota keluarga yang masih hidup.
Pemakaman hewan belum terlalu banyak diminati warga kampung. Jika ada hewan mati, mereka memilih membiarkan hingga membusuk. Pemakaman hewan hanya diminati orang-orang dari luar kampung. Biasanya kucing atau anjing. Selebihnya, pemakaman itu masih kosong.

Lain dari pemakaman manusia. Setelah pembukaan dan pemasaran yang gila-gilaan soal pemakaman itu, banyak peminat. Orang pertama yang mati adalah sesepuh kampung. Takmir masjid yang sudah tua. Entah apa yang membuat dia mati. Kata saksi, yang tak dikenal siapa, dia terpeleset ketika hendak mengambil air wudu. Padahal, lantai tempat wudu tak pernah licin. Setelah salat subuh, sesepuh itu selalu menyikatnya. Setiap hari. Selama bertahun-tahun. Namun warga memilih bergeming dan setuju perkataan saksi. Karena desas-desus terdengar, apabila ada yang membicarakan orang mati, dialah yang bakal mati selanjutnya.

Sesepuh itu akhirnya dikuburkan di pemakaman baru. Uang penguburan sebagian diambil dari kas masjid dan sebagian dari sumbangan warga. Tak ada keluarga yang ditinggalkan. Sejak muda, sesepuh itu memang tinggal di masjid. Tak punya istri, tak punya anak.

***
Rusman terjaga dari lelap. Tengah malam. Ada yang menggedor pintu rumahnya.
“Aku sudah bilang, aku tak punya uang.”

“Kau punya televisi sebagai jaminan. Sisanya bisa kaubayar nanti.”

“Tidak! Aku tidak mau.”

“Kau harus mengubur ibumu. Jangan sampai dia membusuk!” Nada suara pria tua itu menegang.
“Silakan jika kau mau mengubur ibuku. Tapi aku tidak akan bayar sepersen pun,” bentak Rusman sembari menutup pintu dengan kuat.

“Jika kau tak mau mengubur ibumu, aku akan….” Pria itu tiba-tiba bergeming.

“Akan apa?”

Tak ada suara menyambut. Hanya langkah kaki yang makin jauh dan hilang termakan kabut.

***
Pemakaman Baru“Dia masih bersikeras untuk tidak menguburkan ibunya, Pak.”

“Kau sudah mengancam akan membunuhnya?”

“Tak sampai hati aku melakukan. Dia anak cerdas. Dia tak layak mati, Pak.”

“Persetan dengan cerdas! Kaubunuh dia atau kau yang kubunuh untuk menutupi pendapatan bulan ini.”

Telepon mati.

Dua hari berlalu. Bau mayat sudah tercium. Rusman masih tetap pada pendirian; tak mau menyerahkan ibunya ke perusahaan pemakaman. “Persetan!” pikirnya. “Aku bisa melakukan sendiri.” Hari ini dia ingin mengubur ibunya di halaman belakang. Sempit memang. Namun tak apalah. Bau tak sedap agak menganggunya. Dia ambil cangkul, lalu mengeruk tanah belakang. Setelah merasa cukup, dia pergi ke kamar ibunya. Menyeret dan memasukkan jasad ibunya ke dalam liang. Tak ada proses pemandian atau lain-lain. Tak ada kain kafan. Hanya ibunya dan pakain terakhir yang digunakan.

Tak ada satu pun warga tahu ibunya telah mati. Ketika ditanya, Rusman menjawab Ibu pergi ke kampung, menengok orang tuanya. Yang tahu kematian ibunya hanyalah dia dan Pak Rudi, pria tua yang selalu mengganggu Rusman. Rudi, setelah diancam, mencari cara agar tidak dibunuh atasannya. Ketika kembali mendatangi Rusman, Rudi tidak dapat lagi berbuat apa-apa melihat Rusman, dengan pakaian penuh tanah, sedang istirahat di depan rumah. Rudi tahu Rusman telah mengubur ibunya. Itulah yang ditakutkan Rudi, mengingat dia tahu persis Rusman memang memiliki tanah lebih di belakang rumah.

“Kau telah menyulitkanku, Anak Muda.”

“Aku sudah mengatakan berkali-ulang padamu, aku tak punya uang.” Sambut Rusman dengan nada datar.

“Kau sudah main-main dengan perusahaan kami, Nak. Hati-hati.”

“Apa? Kau mengancamku? Seminggu lalu kau membunuh Bapak, dua hari lalu kau membunuh Ibu. Sekarang kau mau membunuhku? Jika itu terjadi, aku yakin warga tidak akan tinggal diam dan kau serta perusahaanmu itu akan dicari polisi.”

Rudi diam. Persis seperti yang dia pikirkan. Rusman memang anak yang cemerlang. Tidak pantas anak secerdik itu mati sia-sia. Rudi pergi kembali dengan tangan hampa.

Rudi bingung. Tidak ada tanda-tanda kematian dalam waktu dekat ini. Kematian yang terlalu mengada-ada dapat memicu kemarahan warga. Namun jika dia tidak segera dapat pengganti ibu Rusman, pekerjaan dia terancam. Bahkan nyawa sebagai taruhan.

“Dasar bos gila!” hardik dia dalam hati.

Memang kenapa jika satu bulan saja tidak mencapai target? Keuntungan memang sedikit berkurang, tetapi tidak akan membuat perusahaan menjadi pincang. “Sinting!”

Ketika Rudi sedang berjalan sambil berpikir bagaimana cara menutupi penjualan makam bulan ini, dari arah berlawanan ada seorang perempuan paruh baya setengah berlari. Rudi terkejut. Dia menghentikan perempuan itu dan bertanya apa yang sedang terjadi.

“Anak Pak Kuno!”

“Kenapa dia?”

“Mati!”

Seketika senyum simpul muncul di ujung bibir Rudi. Dia tidak bisa menyembunyikan perasaan senang.

“Mengapa kau tersenyum?”

“Oh, tidak. Tak mengapa. Apa sebab dia meninggal?”

“Kecelakaan. Aku ingin memberi tahu Pak Kuno dan istrinya.”

“Baiklah. Hati-hati, Bu.”

Perempuan itu berlalu. Rudi semringah.

Akhirnya Rudi bisa bernapas lega. Segera dia melapor ke kantor tentang kematian anak Pak Kuno. Setelah semua laporan selesai, dia datang ke rumah Pak Kuno. Di sana sudah ada wakil pihak yang menabrak. Tampaknya orang yang menabrak sedang diperiksa polisi. Mayat tak terlihat. Mungkin di rumah sakit, pikir Rudi.

Dengan dalih menawarkan pemakaman, Rudi dapat mendengar semua percakapan kedua pihak. Semua biaya pemakaman akan ditanggung penabrak. Keluarga Pak Kuno juga mendapat an santunan yang pantas.

“Persetan siapa yang membayar. Yang penting target bulan ini tercapai,” pikir Rudi.

Setelah semua selesai, dia pulang dengan hati riang. Malam ini, Rudi akan tidur nyenyak. Hanya ada satu hal terselubung lagi yang harus dia selesaikan. “Biar besok sajalah, hari-hari akhir ini aku terlalu banyak pikiran.”

Matahari menyongsong dari ufuk timur. Rudi siap berangkat. Berangkat ke rumah Rusman. Dengan gagah dan sambil bersiul, dia berjalan bak baru mendapat hadiah umrah. Rumahnya dari rumah Rusman terbilang jauh. Namun karena sedang semringah, enteng saja dia menempuh jarak itu.
“Ada apa lagi kau ke sini?”

“Tenang, Rusman. Aku ingin bicara denganmu.”

“Aku sudah bilang berkali-kali, aku tak punya uang. Biarkan ibuku mati dan membusuk di rumah ini. Aku tak akan memindahkan.”

“Tidak. Ini tak ada sangkut-pautnya dengan pemakaman ibumu.”

“Lalu?”

“Kau tidak punya uang kan?”

***
Rusman keluar pintu kamar. Menghela napas dan menuju ke ruang depan. Ada anak kecil sedang menggambar entah apa.

“Ibumu telah mati.”

“Ya.”

“Kita harus segera mengubur.”

“Aku tak punya uang.” (28)

Bandar Lampung, 27 Juni 2019: 17.25

Chandra Buana, alumnus Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi Univesitas Negeri Semarang. Penyuka dan penulis cerpen dari Bandar Lampung itu kini bekerja dan tinggal di Bogor – Suara Merdeka

The post Pemakaman Baru appeared first on Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara.
Share:



Dokumentasi Populer



Arsip Literasi