Sepasang Mata Gagak di Yerusalem | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu

Rabu, 02 Oktober 2019

Sepasang Mata Gagak di Yerusalem


“Di kampus di Amerika apakah ada pemeriksaan seperti ini, Bu?” tanyaku kepada Bu Nancy.

“Tidak ada,” jawabnya sambil menggeleng. Ya, berarti sama dengan di Indonesia, batinku. Aku merasa, mungkin ini perasaanku saja, jika bersama orang Eropa atau Amerika, maksudku jika bareng dengan mereka, dan mereka bilang aku bersama mereka, pemeriksaan jadi terasa lebih lancar dan mudah.

Beberapa kali jika bersama Bu Nancy, Pak Willem, dan Bu Els, sepertinya mudah-mudah saja. Bila sendiri terasa agak sulit, harus membuka resleting tas, memperlihatkan ikat pinggang, sepatu, dan lainnya. Tapi mungkin ini perasaanku saja.

Bu Nancy kadang mencandaiku, “Iya karena takut kamu teroris.”

“Bila beliau berkata demikian, aku tertawa saja. Tampang Indonesia sepertiku mungkin wajar dikira teroris karena banyak teroris Indonesia berwajah Nusantara atau Jawa seperti tampangku ini, contohnya Bahrun Naim, orang Jawa yang jadi teroris dan terkenal di dunia.

Namun, setelah sebulan di sini, dan hampir setiap hari ke kampus, lambat laun pemeriksaan itu terasa biasa bagiku, dan tampaknya para petugas juga mulai mengenaliku. Jadi pemeriksaan makin hari makin terasa mudah.

Kalau mesin pemeriksa berbunyi, paling ditanya: ponselmu, ya? Aku jawab iya. Ikat pinggangmu ya? Aku jawab iya lagi. Jadi kami gampang masuk. Saat aku perlihatkan ikat pinggang, Bu Nancy nyeletuk.

“Nggak diperiksa celanamu?”

“Kalau periksa celana kucopot sekalian saja Bu, tapi itu jadi porno aksi, he…, he…, he….”

Kami langsung tertawa. Lalu Bu Nancy cerita bahwa dia pernah diperiksa sampai digerayangi segala.

“Di mana itu, Bu?”

“Bandara Detroit.”

“Padahal itu masih di Amerika ya, dan Bu Nancy warga negara Amerika?”

“Iya,” katanya sambil mengangguk. Istriku pun cerita bahwa dia juga pernah diperiksa ketat di Bandara Istanbul menuju Tel Aviv, ya sampai digerayangi, barangkali karena dia pakai jilbab. Islamofobia karena kulihat wanita yang lain saat diperiksa lebih mudah dan longgar. Tentu petugasnya adalah wanita. Tapi pada akhirnya juga tidak masalah karena memang tak bawa benda macam-macam.

“Di Amerika pernah ada wanita yang sampai marah-marah karena susunya sampai digerayangi. Akhirnya dia lepaskan saja sekalian baju dan kutangnya sambil menantang petugas dan memperlihatkannya ke publik,” kata Bu Nancy.

Kami tertawa spontan mendengar cerita itu. Tawa lepas di pagi yang kelabu sedikit mengusir rasa dingin yang menggigit tulang. Suhu berkisar 7-8 derajat Celsius di pagi hari di musim dingin ini. Pukul 08.30 kami tiba di kampus Hebrew University of Jerusalem. Setelah ruang pemeriksaan, kami memasuki halaman yang luas dan taman yang hijau membentang. Sebuah patung manusia karya Henry Moore, ada di depan taman, mencolok perhatian. Suara kaok burung gagak terdengar dan kulihat seekor kucing berlompatan di atas bangku-bangku yang masih kosong. Kampus terlihat masih sepi karena liburan semester.

Kulihat seekor burung gagak hinggap di sebuah ranting yang rendah. Aku berlari kecil pelan mendekat. Burung itu diam. Aku melangkah hati-hati karena hanya kira-kira berjarak satu meter dengannya. Dia melompat di atas kotak sampah. Aku makin dekat, kuperhatikan, dia tidak takut sedikit pun. Sepasang matanya yang hitam memancarkan kilatan yang terasa menusuk. Aku menatapnya, dan dia balas menatapku, perasaanku jadi tak biasa. Kujulurkan tangan, dan nyaris kusentuh bulunya, namun dia bergeser menjauh.

Angin dingin kembali menerpa. Burung itu kemudian terbang ke atas dahan Pohon Judas yang mengering. Bila musim dingin berlalu, daun dan bunganya akan bersemi kembali, pasti indah menawan karena warnanya yang merah jambu. Pohon Judas banyak tumbuh di Yerusalem, bersama pinus dan almond.

Angin dingin kembali mengempas, rasanya jaket tebal, baju, kaus dalam, dan celana dobel bisa ditembus jarum-jarum tajamnya dingin udara ini. Aku mengecek cuaca di handphone, suhu turun jadi 3 derajat Celsius, dan akan turun hujan. Wah, aku bisa jadi es, tawaku dalam hati. Angin datang mengembus lebih keras, rasa dingin membuatku berlari mengejar istri dan Bu Nancy yang mulai memasuki kantor. Aku segera membuka pintu. Hangatnya ruangan langsung terasa begitu aku masuk.

Pukul 10 akan ada pembacaan naskah Babad Nitik, dan dilanjutkan seminar. Riset grup yang meneliti literatur Jawa ini sungguh membuatku heran dan termangu. Di saat orang-orang Jawa melupakan naskah atau babad yang bagi mereka kuno dan tidak berharga, di sini kata demi kata dikelupas dan diteliti, tembang, aksara, makna, dan peristiwa dikaji dengan cara sangat mendalam. Pada saat tertentu aku merasa diselubungi oleh perasaan jatuh cinta dengan Jawa lagi, setelah selama ini terasa biasa-biasa saja jadi orang Jawa.

Kampus Hebrew University of Jerusalem menjadi tuan rumah riset grup kali ini, untuk kemudian beberapa tahun mendatang bisa pindah di Osaka University di Jepang, Leiden University di Belanda, University of Michigan di Amerika Serikat, Australian National University di Canberra, atau bisa saja di Indonesia.

***

Sepasang Mata Gagak di YerusalemTaksi kami menyelinap di antara bus yang meniupkan klakson keras. Hari sudah sore. Hari ini kami kelelahan, jadi terpaksa naik taksi. Sejak pagi setelah dari pasar di daerah German Colony, dan berjalan kaki ke Old City/Kota Tua sejauh 2,6 kilometer, kami memasuki sekaligus Gereja Makam Kudus, Dinding Ratapan, dan kompleks Al Aqsa. Naik taksi menjadi penawar kaki yang pegal.

Pak Willem sesungguhnya tak suka naik taksi. Sebagai orang Belanda, dia terbiasa berjalan. Saya kerap juga mengimbangi beliau berjalan kaki bersamanya. Naik taksi sebenarnya untuk ibu-ibu, terutama Bu Nancy yang tulang kakinya agak sakit. Tapi, karena harus menemani ibu-ibu, kami pun ikut naik.

Kami turun di depan Kedai Kopi Bezalel. Di kedai itu, ada kopi Sumatera. Aku memesannya. Namun bagiku terasa kurang pahit, kurang hitam, dan terlalu cokelat. Bu Els meminta tambahan kopi hitam ke pelayan, dan gadis muda pelayan itu mengambilkan secangkir kecil kopi hitam. Kutambahkan setengah cangkir dan sekarang setelah kusesap. Nah, sudah beda. Lebih kuat rasa kopinya, lebih enak.

Ngopi di Kedai Bezalel di tepi trotoar di Jalan Rachel Imenu, Yerusalem, sangat menyenangkan dan mengesankan. Walau dingin menggigit tulang, pemandangan yang sama sekali baru, dan suasananya bikin hati senang. Toko-toko fashion berjajar, tak ada polusi kendaraan karena jarang motor berseliweran layaknya di Tanah Air, dan taman kota yang indah di seberang. Semua sedap dipandang dan tak ada gangguan semacam suara bising kendaraan. Energi dan semangat jadi besar lewat obrolan yang mengasyikkan. Orang-orang berlalu lalang di belakangku, sebagian bawa anjing sambil jalan-jalan.

Di sebelah kedai kopi, ada toko roti bertulisan “Kohler” yang artinya halal bagi umat Yahudi. Banyak lelaki kulihat memakai kippah di kepalanya, semacam peci bulat kecil yang dijepit, sebagai identitas Yahudi. Di Yerusalem, mayoritas orang Yahudi religius. Berbeda dengan Tel Aviv yang sekuler, mungkin terikut aroma kotanya yang metropolitan dan supersibuk. Sedangkan Yerusalem lebih tenang dan “suci”.

Saat ngopi, tak sengaja kulihat di sebelah kedai roti, seekor burung gagak hinggap di atas kotak sampah mematuki remah-remah makanan. Jantungku berdetak kencang saat menyadari dia memandangiku. Matanya yang hitam seakan menghunus batinku. Bukankah itu gagak yang sama yang nyaris kusentuh bulunya di kampus?

Aku merasa dilemparkan ke tempat aneh, merasakan bahwa kejadian ini pernah kualami sebelumnya. Namun, saat terus mengingat kejadiannya, aku benar-benar telah lupa di mana dan kapan itu terjadi. Dan saat kutatap kembali sepasang mata gagak itu, dia masih saja menatapku dengan tatapan yang dingin dan tajam. Bukankah itu gagak yang sama yang bertengger di ranting sebuah pohon pinus di Taman Al Aqsa?

***

Kemarin kami ke Old City. Dari Gerbang Jaffa, kami melalui rute di dalam Kota Tua yang di sisi kanan dan kirinya berderet-deret toko aksesori dan oleh-oleh. Banyak orang berjualan pernak-pernik simbol keagamaan yang mewakili umat Yahudi, Kristen, dan Islam, seperti kayu salib, tasbih, menorah, kaballah, tali-tali merah, kain tallit, dan lainnya. Juga banyak kedai kopi, kurma, dan baju.

Kami melewati Via Dolorosa, di mana Yesus disiksa, diarak, dan disalib oleh orang-orang Yahudi dan Romawi. Syukurlah kami kemudian bisa memasuki Gereja Makam Kudus dan beruntung bisa menyaksikan Gereja Koptik Mesir yang kebetulan jemaatnya sedang melakukan ibadat. Sebagian peziarah terlihat menangis di atas Batu Pengurapan, batu di mana Yesus direbahkan untuk terakhir kalinya sebelum dimakamkan.

Aku dan istri ikut membasuh tangan kami di batu dan mengusapkannya ke wajah. Kami merasa tersentuh dan tersedu. Terdengar dengung ibadat yang syahdu dan khusyuk. Sejenak kami termangu, menyimak ibadat hingga selesai. Setelahnya kami berjalan lagi, melewati pemeriksaan tentara Israel untuk menyaksikan Dinding Ratapan dengan ratusan umat Yahudi yang berdoa di depannya. Mereka menyelipkan secarik kertas berisi doa di sela-sela dinding Bait Suci yang besar dan agung.

Kami jalan lagi, dan setelah melewati gerbang yang dijaga polisi Israel, kami merasa amat emosional saat akhirnya melihat kompleks Al Aqsa. Kulihat mata istri sampai berkaca-kaca. Aku segera mengambil wudu dan salat dua rakaat. Tiba-tiba aku dikagetkan oleh sebuah keranda yang masuk ke dalam masjid. Para pemuda Palestina mengangkat jenazah yang ditutupi kain kafan menuju depan dekat mimbar.

Hari sudah amat sore. Tubuhku kembali menggigil saat keluar masjid dan memakai sepatu di bangku taman Al Quds. Tamannya terbilang menawan dengan air mancur yang pancarannya dipakai untuk berwudu. Banyak pohon pinus menjulang tinggi dan pohon-pohon sejenis almond yang rimbun. Tiba-tiba seekor gagak meluncur ke arahku dengan terbang begitu rendah, lalu hinggap di ranting atas bangku.

Tak sengaja mata kami bersirobok. Sepasang mata gagak itu hitam dan pekat dengan kilatan yang terasa menusuk. Entah kenapa, tanpa sepenuhnya kusadari tubuhku gemetar, dan perasaanku tak biasa saat mata gagak itu terus menatapku. Tatapannya tajam dan menusuk. Dibanding gagak-gagak di Indonesia, gagak di Yerusalem jauh lebih besar, dan sebagian bulunya berwarna biru. Tapi suaranya nyaris sama, kaok, kaoook, kaooookk…. dengan nada yang panjang.

Tak kusadari, iringan jenazah tiba-tiba melintas di belakangku, dan gagak itu lenyap seketika. Aku berusaha mencari dengan mengedarkan pandangan ke segala penjuru, namun benar-benar tak terlihat gagak itu. Langit di atas Al Aqsa terlihat gelap, mendung amat tebal terasa sangat mengancam, hujan badai akan datang.

Benar pula, angin mengempas keras, jauh lebih kencang dan dingin ketimbang biasanya. Pandanganku jadi gelap dan tubuhku limbung.

Saat kubuka mata, aku telah telentang di pelataran Al Quds. Di atas dadaku seekor gagak berdiri dengan tenang. Gagak itu, yang sepasang matanya menatapku tajam. Tatapannya seakan menelanjangi dosa-dosa besarku, mengabarkan tentang percampuran iman, dan pertanggungjawaban. Aku gemetar.

Di atas jambul kepalanya yang hitam, tampak langit yang begitu biru, bersih, dan indah. Di sana, terlihat pucuk bulan sabit yang menawan di atas Kubah Shakhrah Masjid Al Aqsa yang keemasan dan agung.

Tubuhku seperti tak punya daya lagi, tak bisa bergerak sedikit pun. Aku pasrah pada apa pun yang terjadi karena aku telah berada di Tanah Suci. Tanah harapan bagi semua iman dan pendosa. 

Yerusalem, 2019


Han Gagas, pernah tinggal selama dua bulan di Yerusalem. Penulis kumpulan cerpen Catatan Orang Gila (Gramedia Pustaka Utama, 2014) dan novel Orang-orang Gila (Mojok, 2018). –Koran Tempo

The post Sepasang Mata Gagak di Yerusalem appeared first on Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara.

Share:



Dokumentasi Populer



Arsip Literasi